Friday, August 12, 2011

Krisis dan Diversifikasi Ekonomi



Beberapa hari belakangan ini suasana perkonomian dan finansial kita sedang dalam gonjang ganjing kembali. Hal utama yang membuat hal ini terjadi adalah terjadinya krisis di Amerika. Krisis ini dinamakan KRISIS AAA, karena krisis ini dipicu oleh penurunan peringkat kredit hutang Amerika dari AAA menjadi AA+ oleh Standard & Poor. Penurunan peringkat kredit ini memberikan sinyal terjadinya penurunan kemampuan pembayaran hutang oleh Amerika. Ketidakpercayaan ini kemudian menyebar ke pasar finansial global dan memberikan efek yang besar bagi pasar finansial. Kondisi ini dilihat karena Amerika telah menggunakan hutang yang terlalu besar dalam menggerakkan ekonominya, dan saat ini negara tersebut mengalami pelemahan dalam membayar hutang-hutang yang sedang dan akan jatuh tempo. Belum lama sebelumnya negara-negara di Eropa yang mengalami krisis. Krisis di Eropa dipicu terutama oleh terjadinya defisit anggaran yang besar dalam neraca negara mereka. Negara-negara seperti Yunani, Irlandia, Portugal, dan Itali mengalami dampak krisis yang luar biasa bagi perekonomian mereka.

Salah satu kacamata analisis yang dapat digunakan dalam melihat kondisi ini adalah melihat dari sisi diversifikasi ekonomi yang telah dilakukan oleh negara-negara selama ini. Diversifikasi ekonomi ini dilihat dari sudut pandang yang luas. Dari sisi ekspor, investasi, industry, sumber pembiayaan, tenaga kerja, teknologi, dan pengetahuan (Shediac, dkk; 2011). Apabila suatu negara mampu melakukan diversifikasi yang sangat luas di semua area, maka kejatuhan suatu area dalam ekonomi tidak akan menggoyang negara tersebut, seperti yang saat ini terjadi. Tetapi yang terjadi di dunia ini, tidak ada satu pun negara yang memiliki tingkat diversifikasi yang sangat lengkap, walaupun ada beberapa negara yang cukup baik melakukan pengelolaan diversifikasinya.

Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan didukung terutama oleh perusahaan konglomerasi, di Irlandia terutama didorong oleh besarnya investasi luar negeri, dan di China dimotori oleh ekspor yang luar biasa besarnya. Tiap-tiap negara memiliki kecenderungan untuk kuat di area-area tertentu yang akan menjadi pendorong utama perekonomian negara tersebut. Oleh karenanya menjadi penting bagi tiap-tiap pemerintah suatu negara untuk mencari kekuatan lain yang menjadi penyeimbang atas area-area yang telah selama ini menjadi pendukung utama perekonomiannya. Bukan suatu pekerjaan yang mudah memang, namun beberapa tahun belakangan ini krisis terjadi dalam waktu yang tidak jauh. Tahun-tahun belakangan ini perkembangan perekonomian dunia bergerak dari satu krisis ke krisis lainnya.

Suatu perekonomian yang memiliki tingkat diversifikasi yang memadai dipercaya memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dalam jangka panjang, namun demikian juga kestabilan ekonomi yang lebih terjaga, sehingga dapat menunjang investasi swasta di negara tersebut. Pemerintah suatu negara perlu memberikan focus pada strategi jangka panjang dan komitmen politik yang berkelanjutan.


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto

Friday, August 5, 2011

AS dan Penurunan Peringkat Kredit




Dunia keuangan baru-baru ini mendapatkan kejutan yang luar biasa. Pada bulan Juli tahun ini, perusahaan pemeringkat Moody memberikan peringatan akan adanya kemungkinan penurunan credit rating Amerika Serikat disebabkan oleh kekhawatiran akan default¬-nya pemerintah AS. Kemungkinan default itu terjadi karena bisa terjadinya pemerintah AS gagal bayar hutang-hutang luar negeri yang akan segera jatuh tempo pada tanggal 2 Agustus 2011, yang disebabkan oleh masih masih dibatasinya plafon utang yang ada saat ini.

AS yang selama ini menjadi tolok ukur keuangan dunia saat ini kondisinya sangat mengkhawatirkan. Rasio hutang terhadap PDB-nya telah mencapai hamper 100 persen atau senilai USD 23 miliar. AS telah mengalami defisit dalam fiscal telah sejak lama, dan ekonominya ditunjang oleh hutang yang besar-besaran. Sebagai salah satu solusi atas kondisi saat ini yang ada, Pemerintah Obama mengajukan rencana untuk pemangkasan defisit negara selama 10 tahun. Hal yang akan dilakukan adalah peningkatan limit hutang hingga menjadi USD 14,3 triliun dan akan ditambahkan sedikitnya USD 2,1 triliun. Selain itu pengurangan defisit negara juga dilakukan dengan target yang akan dicapai sebesar USD 2,4 triliun selama 10 tahun ke depan. Dengan pengurangan defisit diharapkan akan berkontribusi posotif bagi pertumbuhan ekonomi AS dan penciptaan lapangan kerja baru.

Berbagai ekonom mengatakan bahwa AS akan kembali mengalami resesi baru. Setelah pemerintah AS menggenjot pemulihan ekonomi sejak 2 tahun lalu, diperkirakan pertumbuhan ekonomi AS akan melemah. Salah satu dasar yang menjadi pelemahan ekonomi ini adalah tidak adanya penopang pertumbuhan ekonomi yang kuat, dengan demikian akan terjadi potensi pelemahan pertumbuhan ekonomi. Saat ini ekonomi AS mengalami pelemahan konsumsi disebabkan oleh sebagian besar konsumen sedang berfokus untuk lepas dari ketergantungan dari hutang. Demikian pula produsen-produsen manufaktur di AS tidak dapat menambah produksi karena lemahnya permintaan.

Salah satu isu utama yang juga hingga saat ini masih berat adalah masih tingginya level pengangguran yang diperkirakan masih mencapai 9,2% pada Juli 2011, walau telah terjadi penyerapan tenaga kerja sebesar 1,77 juta hingga bulan Juni 2011 dari 8,75 juta orang yang kehilangan pekerjaan akibat krisis 2008.

Berbagai kalangan sangat mengharapkan pemerintah AS dapat menyelesaikan berbagai masalah perekonomian dan keuangan yang dihadapinya. Peran AS dalam hal ini US Treasury dalam pasar global sangatlah besar. Ketidakpastian isu hutang AS berpotensi besar dalam melemahkan stabilitas finansial dan dapat menghambat pemulihan ekonomi dunia. Kritik tajam dilontarkan China dan Rusia sebagai pemegang US Treasury terbesar, terutama terkait dengan bagaimana pola penopangan ekonomi AS dan risikonya akan dapat berdampak pada skala global yang sangat luas.

Dengan kondisi yang berkembang saat ini, perusahaan-perusahaan rating memberikan peringatan yang sangat keras terhadap pemerintah AS. AS telah memegang rating AAA telah hampir seratus tahun sejak 1917, dan pada tahun ini kredibilitasnya dipertanyakan. Hingga saat ini, Standard & Poor, Moody’s, dan Fitch masih memberikan rating AAA namun mempertanyakan kemampuan AS untuk mempertahankan dalam jangka panjang. Sedangkan di lain pihak, perusahaan rating China, Dagong Global Credit Rating telah mengumumkan penurunan credit rating AS dari A+ menjadi A. Mereka mempertanyakan kemampuan pemerintah AS untuk membayar hutang-hutangnya, dan hal ini tentunya menjadi “tamparan” keras bagi pemerintah AS.


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto

Monday, August 1, 2011

Memenangkan Persaingan Bisnis dengan Kerangka VRIO



Dari waktu ke waktu, dari jaman ke jaman persaingan bisnis semakin ketat. Teknologi terbaru akan ditemukan pada tiap tahunnya, dan semakin lama semakin cepat. Oleh karenanya tidak heran bila teknologi menempatkan diri sebagai salah satu faktor utama pendorong semakin ketatnya persaingan bisnis. Belum lagi derasnya laju globalisasi dan kecepatan informasi yang semakin lama semakin mendekati “kecepatan cahaya”. Bila dahulu untuk berkomunikasi begitu sulitnya, saat ini dengan adanya messenger yang terinstal dalam telepon genggam kita, informasi dapat mengalir dengan derasnya dan dalam waktu yang sangat cepat.

Tantangan bisnis saat ini jauh lebih besar dar waktu-waktu sebelumnya. Namun, seperti kata-kata orang bijak, setiap jaman memiliki caranya sendiri untuk dapat “bertahan hidup”. Akan ada banyak metode maupun konsep baru yang dilahirkan dari para pelaku dan pemikir bisnis di tiap jamannya. Salah satu kerangka bisnis yang diperkenalkan oleh Jay Barney (2007) adalah kerangka VRIO. VRIO adalah kependekan dari valueble, rare, imperfectly imitable, dan organizationally aligned.

Konsep VRIO oleh Barney didasari pada teori resource based view of the firm, yaitu sudut pandang melihat perbedaan berdasarkan resource (sumber daya) yang dimilikinya. Dua premis utama yang dipegang oleh sudut pandang ini adalah: 1) setiap perusahaan memiliki sumber daya yang unik, dan 2) sumber daya tersebut tidak dapat dengan mudah dipindahkan. Manajemen yang mampu mengelola dengan sangat baik sumber daya yang dimiliki perusahaan akan memberikan perbedaan dengan perusahaan lain. Perbedaan menjadi salah satu hal utama dalam survival tiap perusahaan.



Gambar 1. VRIO dan Kinerja Relatif Perusahaan



Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan olehnya, Barney menyimpulkan bahwa karakteristik kemampuan (characteristics of capabilities) yang penting bagi perusahaan adalah VRIO. Value, sebagai karakteristik kemampuan perusahaan berbicara tentang apakah kemampuan perusahaan memiliki value. Dalam bahasa lainnya dapat diungkapkan dengan apakah kemampuan perusahaan dapat menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, kemampuan perusahaan dapat membuat beban biaya menjadi semakin rendah, atau bahkan kombinasi antara keduanya. Bila konsep value Barney dihubungkan dengan konsep value based management, maka menjadi penting bagi perusahaan untuk mencermati dan mengelola hal-hal yang menjadi revenue drivers dan cost drivers dalam bisnis yang dijalankan oleh perusahaan.

Rare, sebagai karakteristik kemampuan perusahaan menyentuh tentang apakah kemampuan perusahaan jarang atau bahkan tidak dimiliki oleh perusahaan lainnya. Dengan kondisi seperti ini perusahaan dapat menguasai pasar di area yang dikuasainya. Penguasaan pasar dalam hal ini pun tidak perlu menjadi monopolistik, tetapi kemampuan perusahaan kemampuan perusahaan sulit ditemui di tempat-tempat lain dan tidak dapat diperoleh dengan mudahnya. Walaupun tidak harus perusahaan menjadi pelayan di niche market (pasar ceruk), tetapi perusahaan-perusahaan yang melayani niche market biasanya memiliki karakter seperti ini.

Imperfectly imitable, adalah sifat dari karakteristik kemampuan perusahaan yang tidak dapat ditiru oleh perusahaan pesaing dengan sempurna. Maksudnya adalah kemampuan perusahaan tidak dapat direplikasi kecuali dengan suatu upaya yang luar biasa besar sehingga dapat menyebabkan pengeluaran yang begitu besarnya, atau bahkan dapat membuat suatu “goncangan” bagi bisnis yang saat ini berjalan di perusahaan yang ingin mereplikasinya. Demikian pula dimaksudkan bahwa kemampuan perusahaan menjadi tidak dapat tergantikan (tersubstitusi) secara sempurna. Dengan demikian, perusahaan telah menciptakan suatu barrier to entry yang sulit ditembus oleh pesaing lainnya dengan menciptakan rules of the game yang hanya dapat dimainkan olehnya.

Organization aligned, berbicara tentang bagaimana karakteristik organisasi perusahaan menjadi sangat penting dalam bisnis. Apakah perusahaan membangun insentif, struktur, dan budaya organisasi yang saling aligned sehingga mampu memberikan dukungan bagi orang-orang yang berada di dalamnya untuk mengeksploitasi sumberdaya yang ada, dan bahkan mampu menciptakan kemampuan-kemampuan baru yang selama ini belum ada. Bisa jadi apa yang menjadi karakter utama dalam organisasi suatu perusahaan adalah sesuatu yang akan memberikan keunggulan kompetitif yang luar biasa sehingga menjadi barrier to entry yang tidak dapat dengan jelas teramati oleh perusahaan-perusahaan pesaing, karena letak keunggulannya terletak di dalam organisasinya, ada pada orang-orang yang terlibat didalamnya.

Bagi mereka-mereka yang berkutat dalam dunia bisnis, semoga dapat menggunakan kerangka VRIO yang dikembangkan oleh Barney. Empat pilar yang menjadi landasan kerangka ini sepertinya akan sangat powerful bila dijalankan dengan sungguh-sungguh.


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto





Friday, June 25, 2010

Prinsip Investasi dan Strategi Barbell

Tulisan ini dipublikasikan pada Majalah Lifestyle Asuransi ACA, edisi bulan Juni 2010




Berinvestasi memerlukan prinsip-prinsip yang perlu dipegang teguh oleh investor. Berbagai penelitian terhadap investor-investor sukses, semua dari mereka selalu memegang teguh prinsipnya. Setidaknya ada tiga prinsip mendasar dalam investasi yang sangat penting untuk menjadi landasan dalam cara berpikir dan bertindak. Pertama, capital preservation atau perlindungan terhadap modal, yaitu mempertahankan apa yang telah dimiliki. Prinsip ini sangat mendasar bagi seluruh aktivitas investasi.

Seperti yang dikatakan oleh Warren Buffet: “jangan pernah kehilangan uang”. Jika kita kehilangan 50% modal, maka kita perlu mendapatkan return 100% jika ingin kembali ke modal awal. Sesuatu yang lebih sulit dilakukan. Dengan perlindungan terhadap modal yang menjadi utama, tujuan pertumbuhan aset investasi memiliki dasar yang lebih kokoh.

Kedua, mengelola risiko secara aktif. Risiko bersifat kontektual. Risiko berkaitan dengan pengetahuan, pemahaman, pengalaman, dan kompetensi (Mark Tier, 2004). Oleh karenanya investor perlu melakukan pembelajaran secara bertahap dan terus menerus sehingga dapat mempertajam kompetensi di bidangnya masing-masing. Apa yang dilakukan pembalap F1 akan tampak sangat berisiko bagi kebanyakan orang, tetapi bagi Michael Schumacher risikonya menjadi sangat rendah karena telah membangun kompetensi yang tidak dimiliki orang lain.

Ketiga, membangun model investasi yang disesuaikan profil dan karakternya. Setiap investor memiliki tujuan, kepribadian, pengetahuan, pengalaman,dan kompetensi yang berbeda-beda. Dengan prinsip ini kita dapat memahami kenapa ada investor yang lebih senang berinvestasi pada aset tertentu, lebih konservatif, namun ada juga yang terlihat agresif.

Strategi Barbell

Salah satu strategi investasi yang dapat digunakan oleh investor adalah strategi investasi barbell. Strategi ini sebenarnya lebih cocok bagi mereka yang masih aktif bekerja dan tidak memiliki keahlian yang memadai dalam investasi. Sesuai dengan namanya, barbell, investasi ini memiliki dua portofolio, kiri dan kanan. Portofolio kiri berisi aset-aset yang terdiversifikasi dengan luas, misalnya reksadana, ETF (exchange traded fund), atau investasi yang menjadi indeks sebagai basisnya. Portofolio kanan berisi aset-aset yang memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi, seperti saham lapis kedua, venture capital, dan investasi pada bisnis.


Gambar 1. Strategi Investasi Barbell
Sumber: Lucas (2006)


Strategi ini akan semakin bekerja dengan baik apabila didukung poros penopangnya, yaitu secara disiplin melakukan investasi yang rutin setiap waktunya. Keseimbangan antara portofolio kiri dan kanan disesuaikan tidak hanya dengan nilai uangnya tetapi juga usaha yang dilakukan. Pada portofolio kiri, karena sifatnya terdiversifikasi luas, maka akan tidak memerlukan perhatian lebih banyak dibandingkan portofolio kanan. Oleh karenanya, portofolio kiri biasanya memiliki bobot nilai uang yang lebih tinggi dibandingkan portofolio kanan. Namun, tentunya hal ini tergantung karakteristik investor dan peluang yang ada. Dengan demikian, waktu/momentum juga menjadi pertimbangan dalam alokasi aset pada strategi barbell.

Strategi barbell memberikan insight bahwa dengan melakukan investasi yang rutin, Anda telah melakukan perlindungan terhadap uang yang dimiliki dari penggunanaan yang kurang tepat. Anda yang sedang bekerja dan mengabdi pada bidang lain di luar investasi, dapat memfokuskan energi pada bidang kompetensi Anda, namun tetap memiliki peluang dalam pertumbuhan kekayaan yang memadai.

Apapun strategi yang digunakan, sebaiknya Anda mengimplementasikan ketiga prinsip investasi yang telah dijelaskan sebelumnya dengan sungguh-sungguh. Keberhasilan investasi akan berpeluang semakin besar apabila terjadi keselarasan antara prinsip, strategi, dan implementasi secara disiplin. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk: Besarnya Pengaruh Harga Bahan Baku

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 24 Mei 2010




PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk didirikan pada tahun 1972. Perusahaan memiliki ruang lingkup kegiatan usaha meliputi produksi dan perdagangan pakan ternak, peralatan peternakan dan pengolahan daging ayam serta penyertaan saham pada perusahaan lain. Saat ini, sebesar 55,45% kepemilikan saham perusahaan dimiliki oleh PT Central Agromina, sedangkan sisanya dimiliki oleh publik. Perusahaan masih merupakan bagian dari grup Charoen yang dikendalikan oleh keluarga Jiaravanon dari Thailand.

Dapat dikatakan bahwa perusahaan terutama bergerak dalam industri pakan ternak. Hal ini dapat terlihat dari 75% pendapatan perusahaan dikontribusi dari usaha pakan ternak, terutama pakan ternak unggas. Pakan ternak memiliki kontribusi hingga mencapai sekitar 70% dari total biaya produksi peternakan. Peternakan unggas menyerap sekitar 83% dari produksi pakan ternak, sedangkan sisanya diserap oleh peternakan babi, sapi perah, akuakultur, dan peternakan lainnya.

Industri pakan ternak adalah industri yang didominasi oleh perusahaan dengan modal asing. Beberapa perusahaan besar yang bermain dalam industri ini adalah Charoen Pokphand, Japfa Comfeed, Sierad Produce, CJ Feed, Gold Coin, dan Sentra Profeed. Diperkirakan kapasitas produksi pakan ternak saat ini sekitar 14-15 juta ton per tahun, namun daya serap industri peternakan terhadap pakan ternak diperkirakan hanya sekitar 8-9 juta ton per tahun.

Salah satu permasalah utama yang dihadapi oleh industri pakan ternak adalah kebutuhan bahan baku yang masih perlu diimpor terutama untuk bahan baku jangung, bungkil kedelai, tepung tulang & daging, serta tepung daging unggas. Kontribusi nilai bahan baku dapat mencapai 60% dari biaya produksi pakan ternak. Jagung sebagai bahan baku porsinya dalam pakan ternak dapat mencapai sekitar 50%. Selain itu, anacaman virus flu burung juga masih menghantui para peternak, sehingga dapat mengancam industri pakan ternak.

Bisnis dan Keuangan

Tiga sumber pendapat utama perusahaan adalah dari segmen bisnis pakan ternak, anak ayam usia sehari, dan ayam olahan. Masing-masing memberikan kontribusi pendapatan pada kisaran 75%, 15% dan 8%. Fasilitas produksi pakan ternak perusahaan tersebar di berbagai kota, yaitu: Medan, Lampung, Tangerang, Semarang, Sidoarjo dan Makasar. Sedangkan fasilitas produksi anak ayam usia sehari tersebar di berbagai pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Segmen bisnis ayam olahan perusahaan juga terus berkembang sejak dibangun pada tahun 2000, dan meningkat dari tahun ke tahun terutama sejak tahun 2006.

Pendapatan perusahaan bertumbuh secara konsisten setiap tahunnya. Rerata pertumbuhan per tahun (CAGR) perusahaan dalam periode 2003-2009 mencapai sekitar 20,58%. Pada tahun 2003 pendapatan perusahaan berada di nilai Rp 4,30 triliun, sedangkan pada 2009 telah menjelma menjadi Rp 14,56 triliun. Pertumbuhan pendapatan juga diikuti dengan pertumbuhan harga pokok produksi (COGS) dengan tingkat yang hampir sama.

Rerata COGS beberapa tahun terakhir berada di kisaran 85% terhadap penjualan, namun pada tahun 2009 perusahaan mampu mencatatkan hanya sebesar 80,29%. Penurunan COGS didorong oleh menurunnya bahan utama pakan ternak pada tahun 2009, terutama harga jagung. Tahun 2009, perusahaan diuntungkan selain harga bahan baku tetapi juga oleh penurunan nilai tukar dollar terhadap rupiah, dua faktor yang signifikan dalam memberikan pengaruh pada laba perusahaan.




Sejak tahun 2004 nilai rasio hutang terhadap aset (DAR) perusahaan berada di kisaran 73%-76%. Dengan hasil uang kas dari keuntungan operasional pada tahun 2009 yang cukup banyak, perusahaan menurunkan beban hutangnya, sehingga DAR perusahaan menjadi hanya sekitar 45%. Sementara itu, rasio laba terhadap ekuitas (ROE) perusahaan mencapai di kisaran 17%-20% sejak tahun 2006. Demikian pula rasio laba terhadap modal yang diinvestasikan (ROIC) juga meningkat sejak tahun 2006, dan berada di kisaran 5%-8% hingga tahun 2008. Pada tahun 2009, ROE perusahaan melonjak tajam hingga mencapai lebih dari 50%, demikian pula terjadi peningkatan pada ROIC perusahaan.

Kinerja Saham

Harga saham perusahaan memiliki nilai risiko pasar (beta) di bawah satu, saat ini beta perusahaan berada di kisaran 0,8-1,0. Rasio harga saham perusahaan dibandingkan dengan IHSG menunjukkan tren penurunan sejak bulan April 2003 dan meningkat kembali ketika memasuki bulan-bulan akhir tahun 2007. Harga tertinggi penutupan saham perusahaan dicapai pada penutupan bulan April 2010.

Peningkatan tajam harga saham perusahaan saham perusahaan mulai terjadi pada pertengahan tahun 2007 dan kemudian mengalami penurunan pada saat krisis 2008. Seiring dengan pulihnya pasar saham peningkatan saham perusahaan juga terjadi pada tahun 2009 dan diteruskan hingga kuartal pertama 2010. Namun, peningkatan kali ini cukup mengejutkan, dengan harga tertinggi 2010 dibandingkan harga tertinggi 2007/2008 mencapai sekitar 2,5 kali. Pada saat ini PER perusahaan berkisar antara 5-6 kali, masih cukup rendah dibanding historis yang pernah terjadi pada tahun 2008. Namun demikian, PBV perusahaan telah berada pada kisaran yang tinggi berdasarkan historis yang pernah ada, yaitu antara 2,8-3,4. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel

PT Bakrieland Development Tbk: Dibawah Kendali Perusahaan Investasi

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 10 Mei 2010




PT Bakrieland Development Tbk merupakan salah satu perusahaan properti yang berada dalam Kelompok Usaha Bakrie. Bidang usaha perusahaan terutama dalam bidang properti dan infrastruktur yang terkait dengan properti. Dalam bidang usaha properti, perusahaan memfokuskan pada tiga area, yaitu: city property, landed residential, dan hotel & resort. Sedangkan dalam bidang usaha infrastruktur, perusahaan beroperasi dalam area jalan tol dan pengelolaan & distribusi air.

Pemegang saham perusahaan terbesar (24,38%) adalah Avenue Luxembourg Sarl sebuah perusahaan investasi yang merupakan bagian dari Avenue Capital Group, New York. Pemegang saham terbesar kedua adalah PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR), dengan kepemilikan sebesar 11,19%, yang juga merupakan sebuah perusahaan investasi.

Kinerja Keuangan

Rerata pertumbuhan pendapatan perusahaan sejak tahun 2003 hingga tahun 2009 mencapai sebesar 74,03%. Pendapatan perusahaan pada tahun 2003 hanya sebesar Rp 38,12 miliar, kemudian pada tahun 2009 mencapai Rp 1,059 triliun. Pertumbuhan pendapatan perusahaan juga dibarengi dengan pertumbuhan aset dan ekuitasnya. Pada tahun 2003, aset dan ekuitas perusahaan masing-masing sebesar Rp 683,96 miliar dan Rp 477,11 miliar. Pada tahun 2009, aset dan ekuitas perusahaan telah menjelma menjadi masing-masing Rp 11,593 triliun dan Rp 4,642 triliun. Dengan CAGR untuk aset sebesar 60,27% dan ekuitas sebesar 46,11%.




Pertumbuhan ekuitas tertinggi terjadi pada tahun 2005 dan 2007, dengan masing-masing pertumbuhan sebesar 132% dan 213%. Peningkatan ekuitas ini sebagian besar disebabkan oleh aksi perusahaan yang melakukan penawaran saham umum terbatas pada tahun 2005 dan 2007. Sementara itu rasio hutang perusahaan yang diwakili oleh debt-to-asset ratio (DAR) mulai meningkat pada tahun 2008 hingga mencapai 45,92%. Kemudian meningkat kembali pada tahun 2009 hingga mencapai 59,95%. Peningkatan ini terjadi disebabkan perusahaan mengeluarkan Obligasi I dengan nilai dasar sebesar Rp 500 miliar (2008) dan Sukuk Ijarah I dengan nilai dasar sebesar Rp 150 miliar (2009).

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba usaha perusahaan terus mengalami peningkatan secara nominal maupun persentase terhadap penjualan. Pada tahun 2003 laba usaha perusahaan hanya sebesar Rp 657 juta, sedangkan pada tahun 2009 mencapai lebih dari Rp 331 miliar. Sedangkan marjin laba usaha perusahaan (OPM) juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 OPM perusahaan hanya sebesar 1,72%, sedangkan pada tahun 2009 perusahaan mampu mencatatkan OPM sebesar 31,29%.

Sementara itu, laba bersih perusahaan juga cenderung meningkat secara nominal, walaupun cukup berfluktuatif dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 202 miliar, sedangkan tahun 2009 hanya sebesar Rp 132 miliar. Marjin laba bersih perusahaan sejak tahun 2004 berfluktuasi antara 17%-26%, namun pada tahun 2009 hanya sebesar 12,49%. Di lain pihak, return on equity (ROE) perusahaan berada di kisaran 3%-8%, dan pada tahun 2009 ROE perusahaan hanya sebesar 2,85%.

Berfluktuasinya laba bersih perusahaan banyak disebabkan oleh akun penghasilan lain-lain perusahaan di luar penghasilan operasionalnya, seperti: 1) penghasilan bunga, 2) amortisasi selisih lebih nilai wajar terhadap harga perolehan anak perusahaan, 3) laba atas penjualan investasi anak perusahaan, 4) laba selisih kurs, dan 5) laba penjualan/penghapusan aset tetap. Pada tahun 2009, masing-masing akun tersebut memiliki nilai sebesar Rp 23,94 miliar, Rp 10,47 miliar, Rp 4,06 miliar, Rp 4,55 miliar, minus Rp 5,32 miliar, dan minus Rp 6,79 miliar.

Pada tahun 2009 perusahaan berhasil menyelesaikan beberapa pembangunan di beberapa kota, yaitu: Bakrie Tower dan Lifestyle Center di Rasuna Episentrum, Hotel Pullman Bali Legian Nirwana, dan jalan tol Kanci-Pejagan. Dengan diselesaikannya ruas tol Kanci-Pejadan pada bulan Desember 2009, perusahaan memiliki harapan bahwa ruas tol ini akan memberikan pendapatan yang berkelanjutan. Terlebih nilai investasi yang digelontorkan mencapai sekitar Rp 2,2 triliun.

Kinerja Saham

Harga saham penutupan perusahaan tertinggi pernah mencapai Rp 660 per lembar saham pada akhir Februari 2008. Secara umum, perbandingan rerata return terhadap volatilitas harga saham perusahaan relatif dibawah IHSG, baik untuk pasar sedang mengalami tren kenaikan harga maupun penurunan harga. Perbandingan harga saham perusahaan terhadap IHSG memiliki nilai tertinggi sepanjang periode Februari 2004 hingga Agustus 2005, dan kemudian tidak pernah mencapai kembali walaupun pada saat terjadi kenaikan kembali pada bulan Agustus 2008 hingga Maret 2009.

Risiko pasar (beta) perusahaan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2007, beta saham perusahaan berada di kisaran 1,6 – 1,9. Sementara itu persepsi pasar terhadap current performance sejak tahun 2005 berada di bawah rerata perusahaan lainnya, demikian pula untuk future growth opportunity perusahaan secara umum. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk : Mengejar Pendapatan Berkelanjutan

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 3 Mei 2010




PT Kawasan Industri Jababeka Tbk merupakan perusahaan swasta pertama yang memperoleh izin untuk membangun suatu kawasan industri di Indonesia pada tahun 1989. Demikian pula merupakan perusahaan pengembang kawasan industri yang pertama kali menjadi perusahaan publik pada tahun 1994. Segmen bisnis perusahaan hingga saat ini terbagi dalam lima area, yaitu: 1) kawasan industri, 2) kawasan perumahan, 3) kawasan komersial, 4) infrastruktur, dan 5) golf.

Sebagian besar bisnis perusahaan terpusat di kawasan Jababeka, Cikarang. Beberapa bisnis perusahaan yang berada di luar Cikarang adalah kawasan industri Cilegon, Borobudur International Golf and Country Club di Magelang, dan perkantoran Menara Batavia di Jakarta.

Pada kawasan industri perusahaan menyediakan kavling industri dan pabrik siap pakai bagi perusahaan berskala kecil hinggal perusahaan multinasional berskala besar. Pada kawasan perumahan perusahaan menawarkan rumah dengan konsep kluster serta kondominium. Pada kawasan komersial perusahaan menyediakan ruko, ruang perkantoran, area komersial, dan kelab eksekutif. Sedangkan dalam bisnis infrastruktur perusahaan memberikan pelayanan pengelolaan air bersih, pengelolaan limbah, serta manajemen kawasan.

Kinerja Keuangan

Pendapatan perusahaan mengalami peningkatan pesat pada tahun 2005 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan pendapatan tercatat sebesar Rp 567,4 miliar, tertinggi sepanjang berdirinya perusahaan. Hal ini didorong oleh keberhasilan dalam usaha pemasaran kawasan industri di Cilegon untuk pertama kalinya. Namun, pada tahun-tahun berikutnya pendapatan perusahaan tidak dapat melebihi tahun 2005, dan berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 392,6 miliar.




Laba usaha perusahaan pada tahun 2009 tercatat sebesar Rp 46,8 miliar, menurun cukup tinggi dibandingkan tahun 2008 yang mencapai Rp 107,2 miliar. Perusahaan membukukan laba bersih pada tahun 2009 sebesar Rp 16,4 miliar, sedangkan pada tahun 2008 perusahaan membukukan rugi bersih sebesar Rp 62,4 miliar. Kerugian ini disebabkan oleh adanya rugi dari selisih kurs sebesar Rp 144,6 miliar dan pembayaran bunga pinjaman sebesar Rp 94,9 miliar. Laba perusahaan pada tahun 2009 terutama dibantu oleh adanya laba dari selisih kurs sebesar Rp 105,1 miliar, sebab pada tahun ini perusahaan masih melakukan pembayaran bunga pinjaman yang tinggi sebesar Rp 114,5 miliar dan terjadinya penuruan pendapatan sekitar 15% dari tahun sebelumnya.

Besarnya biaya bunga yang ditanggung oleh perusahaan terutama berasal dari pinjaman bridging loan facility yang digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik. Sementara itu nilai hutang perusahaan kembali meningkat pada tahun 2007 hingga 2009, setelah mengalami tren penurunan sejak tahun 2003 hingga 2006. Pada tahun 2009 nilai debt-to-assets ratio (DAR) perusahaan mencapai senilai 49,70%, meningkat cukup tinggi dibandingkan tahun 2006 yang hanya sebesar 14,98%. Peningkatan hutang perusahaan terkait dengan pendanaan bagi pembangunan berbagai proyek pengembangan yang sedang dilakukan perusahaan.

Pendapatan perusahaan untuk segmen kawasan industri dan perumahan pada tahun 2009 mengalami penurunan cukup tinggi, yaitu antara 30% – 60% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren stagnan dan kecenderungan penurunan pendapatan dari bisnis kawasan industri dan perumahan mendorong perusahaan untuk melakukan inovasi seperti melakukan pembangunan pembangkit listrik, dry port, movie land, dan medical city. Dalam hal ini dapat dikatakan perusahaan sedang berupaya menciptakan blue ocean bagi bisnisnya serta semakin mengintegrasikan produk dan jasanya.

Saat ini perusahaan memfokuskan diri untuk meningkatkan recurring revenue dengan lebih mengembangkan bisnis dengan produk dan jasa yang dibutuhkan secara berkelanjutan oleh pelanggannya. Data menunjukkan bahwa tiga segmen pendapatan perusahaan yaitu, jasa dan pemeliharaan, penyewaan ruang kantor dan ruko, dan golf terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di lain pihak, bisnis pembangkit listrik perusahaan telah menghasilkan pendapatan pada tahun 2009 mencapai 5,87% dari total pendapatan, walaupun masih mengalami kerugian.

Kinerja Saham

Pada tahun 2005 – 2008, nilai risiko pasar (beta) perusahaan cukup tinggi, yaitu antara 1,4 – 1,8. Pada tanggal 24 September 2007 saham perusahaan mencapai harga tertinggi dengan harga penutupan sebesar Rp 285 per lembar saham. Pada akhir November 2008 hingga awal April 2009, harga saham perusahaan stagnan di level Rp 50 per lembar saham. Harga saham perusahaan relatif terhadap IHSG mengalami tren penurunan sejak bulan November 2007. Fluktuasi harga saham perusahaan cukup tinggi dan berada di kisaran 50% hingga 80% dalam ukuran deviasi standar yang disetahunkan.

Sedangkan tingkat return saham perusahaan cukup lumayan terutama antara tahun 2004 hingga 2007 dan tahun 2009, dengan rerata return yang disetahunkan dapat berada di atas 50%. Sementara itu, persepsi pasar tentang current performance dan future growth opportunity masih di bawah rata-rata perusahaan lainnya. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel