Showing posts with label Bank. Show all posts
Showing posts with label Bank. Show all posts

Friday, December 23, 2011

Hedging Valuta Asing Jangka Panjang: Harapan Baru Bagi Kestabilan Pasar Valuta Asing






Salah satu faktor yang dapat mengguncang pasar keuangan Indonesia adalah fluktuasi valuta asing dan kondisi pasar untuk valuta asing yang tidak kondusif. Tentu masih segar dalam ingatan kita bagaimana kondisi keuangan Indonesia dan negara-negara di Asia mengalami krisis yang sangat dalam yang disebabkan valuta asing. Bank Indonesia sebagai bank sentral selalu berusaha untuk mengendalikan tingkat fluktuasi yang wajar yang dapat mendukung dunia bisnis dan perekonomian dengan melakukan intervensi pasar apabila diperlukan. Namun demikian, hal tersebut memiliki risiko untuk menguras cadangan devisa Indonesia. Hingga Oktober 2011 cadangan devisa Indoensia telah mencapai US$ 114,0 juta, sedangkan pada tahun 2009 dan 2010 baru mencapai USD 66,1 juta dan US$ 96 juta. Tentunya cadangan devisa ini perlu dipertahankan dan ditingkatkan sebagai salah satu syarat untuk menjaga kestabilan ekonomi.


Gambar 1. Dana Pihak Ketiga dalam Valuta Asing di Bank Umum


Sebagai usaha untuk memperdalam pasar keuangan untuk valuta asing, Bank Indonesia saat ini sedang mengkaji untuk mengembangkan produk lindung nilai (hedging) terhadap valuta asing yang bersifat jangka panjang oleh perbankan. Sebagaimana saat ini dunia sedang dalam kondisi krisis keuangan global dan Indonesia mau tidak mau juga terkena imbasnya, pendalamanan pasar keuangan valuta asing akan sangat membantu ketahanan Indonesia terhadap krisis. Apabila produk hedging valuta asing jangka panjang dioperasikan oleh perbankan Indonesia, maka peran Bank Indonesia untuk melakukan pengendalian pasar keuangan valuta asing tidak lagi cenderung sendirian tetapi secara tidak langsung terbantukan oleh produk tersebut. Produk hedging valuta asing jangka panjang memungkinkan valuta asing terutama dari para eksportir dan foreign investment dapat lebih lama berada di Indonesia. Pasar keuangan valuta asing saat ini masih dangkal dan cukup ketat disebabkan oleh hedging valuta asing yang ada hanya berjangka pendek, yaitu untuk 1-2 bulan. Dengan hedging yang lebih panjang diharapkan para nasabah dapat lebih terlindungi dari risiko nilai tukar mata uang (currency risk).


Gambar 2. Realisasi Investasi (Asing dan Domestik) dan Pertumbuhan Ekonomi


Salah satu perkembangan yang menggembirakan bagi perekonomian Indonesia adalah telah masuknya peringkat hutang Indonesia ke dalam investment grade dengan peringkat BBB- yang diberikan oleh Fitch Rating pada tanggal 15 Desember 2011. Masuknya Indonesia ke dalam investment grade akan mengundang foreign investment yang lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, dengan telah berlakunya Peraturan Bank Indonesia (PBI) Penerimaan Devisa Hasil Ekspor dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri yang secara efektif akan dimulai pada Januari 2012, maka diperkirakan jumlah devisa yang mengendap di perbankan nasional akan mengalami peningkatan tajam. Sementara itu, nilai investasi asing yang diperkirakan masuk pada tahun 2012 adalah sebesar Rp 206,8 triliun (estimasi pemerintah) hingga mencapai Rp 210,6 triliun (estimasi LIPI). Investasi asing yang telah masuk hingga 9M2011 adalah sebesar Rp 129 triliun atau terjadi kenaikan sekitar 16% dibandingkan tahun sebelumnya. Tahun 2011 sendiri diestimasi investasi asing akan mencapai Rp 170,2 triliun.

Oleh karenanya menjadi sangat penting untuk dilakukan pengelolaan valuta asing yang bijak yang kemudian dapat memberikan efek pada kestabilan nilai mata uang Rupiah terhadap mata uang asing yang akan mendukung bagi dunia bisnis dan perekonomian Indonesia secara umum. Semoga rencana hedging valuta asing jangka panjang yang digagas Bank Indonesia dapat terealisasi dalam waktu dekat, tetapi tentunya dengan pengelolaan risiko yang maksimal dan tidak adanya celah untuk digunakan sebagai spekulasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Friday, July 17, 2009

Kinerja Jangka Panjang Emiten dI BEI



Selama sepuluh tahun sejak krisis multidimensi 1998, pasar saham Indonesia mengalami perkembangan yang menarik untuk dicermati. Setelah mencapai titik terendah di 255 pada Bulan September 1998, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik secara pesat ke level tertinggi 2830 (intrahari mencapai tertinggi 2838) pada minggu kedua Januari 2008. Krisis finansial global memaksa koreksi IHSG ke level terendah di tahun 2008, yaitu 1111, sebelum akhirnya kembali ke level 1355 di akhir tahun 2008. Jadi sejak level terendahnya di tahun 1998, IHSG telah bertumbuh (Compound Annual Growth Rate) sebesar 17,9% per tahun.

Pasar modal, khususnya pasar saham telah menjadi lahan investasi yang tidak bisa diabaikan. Total nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) saat IHSG pada akhir tahun 2008 telah mencapai sekitar 25% dari Produk Domestik Brutto (PDB) Indonesia di tahun 2008. Bahkan, saat IHSG mencapai titik tertinggi di bulan Januari 2008, nilai kapitalisasi pasar saham BEI telah mencapai sekitar Rp 2000 trilyun (sudah sempat melampaui total dana pihak ketiga yang ada di perbankan Indonesia).

Volatilitas jangka pendek dari harga saham di bursa efek kembali mengingatkan investor untuk berpikir jangka panjang dalam berinvestasi saham. Untuk mendukung keputusan investasi jangka panjang, diperlukan informasi komprehensif tentang kinerja jangka panjang dari emiten di BEI. Dalam konteks ini, Majalah Investor telah berkontribusi signifikan dengan melakukan penilaian tahunan terhadap emiten-emiten di BEI (100 Emiten Terbaik), dan hasilnya dipublikasikan tiap tahun dalam edisi 100 Emiten Terbaik.

Aktivitas penilaian kinerja tahunan 100 Emiten terbaik dari Majalah Investor sejalan dengan riset kami (CAPITAL MARKET Trends 2008/2009) di CAPITAL PRICE. Analisis dalam tulisan ini sebagian besar disarikan dari hasil riset tersebut, yang pada intinya berisi analisis terhadap kinerja finansial (laporan keuangan dan pergerakan harga saham di bursa saham) jangka panjang 82 emiten yang mewakili sektor non keuangan di BEI selama periode 2002-2008.

Pertumbuhan Tahunan Aset dan Ekuitas

Pertumbuhan aset dan ekuitas dari gabungan sampel 82 perusahaan setiap tahun dan perbandingannya dengan pertumbuhan sales ditunjukkan oleh Gambar 1. Sepanjang tahun 2003-2007 pertumbuhan total ekuitas konsisten lebih tinggi dibandingkan total aset, walaupun pada tahun 2006 dan 2007 pertumbuhan keduanya cenderung seimbang.

Pada tahun 2004 terjadi kesenjangan (gap) yang cukup besar antara pertumbuhan total aset dan pertumbuhan total ekuitas yang dapat dijadikan spotlight tersendiri. Terjadinya kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan sales yang signifikan, mencapai hampir 25% year-on-year (yoy). Kesenjangan pertumbuhan total ekuitas tersebut mulai berkurang pada tahun 2005, seiring dengan menurunnya pertumbuhan sales. Sejak tahun 2003 hingga tahun 2005 pertumbuhan sales komposit perusahaan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total aset, namun kemudian pada tahun 2006 dan 2007 pertumbuhan sales lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total aset. Sedangkan pertumbuhan sales komposit perusahaan cenderung lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total ekuitas, kecuali pada tahun 2006.

Pada tahun 2007 pertumbuhan total aset, total ekuitas dan sales mencapai kinerja tertingginya, yaitu pada kisaran 25%. IHSG juga mencatatkan rekor tertinggi pada tahun 2007 hingga mencapai level 2.745,8; dengan pertumbuhan nilai transaksi 58,9% yoy.

Pertumbuhan Ekuitas vs Pertumbuhan Aset

Analisis hubungan pertumbuhan ekuitas terhadap pertumbuhan aset akan dibahas lebih rinci terutama terkait dengan pola hubungan jangka panjang. Seperti yang ditampilkan pada Gambar 2, terlihat adanya pola hubungan antara pertumbuhan total ekuitas dengan total aset. Tanpa memperhitungkan tahun 2005, pertumbuhan total ekuitas memiliki hubungan yang tidak linier tetapi cenderung kuadratik dengan pertumbuhan total aset. Garis hubungan antara keduanya dapat digunakan untuk mendeteksi hadirnya anomali pada tahun tertentu relatif terhadap tahun lainnya dalam periode pengamatan.

Keberadaan tahun 2005 di luar dari garis hubungan tersebut (Gambar 2) menunjukkan kepada para investor dan pengambil keputusan finansial adanya anomali pada tahun tersebut. Seperti yang diketahui, pada tahun 2005 terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak dan peningkatan inflasi yang tinggi sehingga memberikan tekanan yang besar pada pertumbuhan perusahaan. Ini salah satu temuan penting bagi investor jangka panjang.


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 1. Pertumbuhan Tahunan Aset dan Ekuitas Komposit 82 Perusahaan dan Perbandingannya dengan Pertumbuhan Tahunan Penjualan


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 2. Hubungan antara Pertumbuhan Total Ekuitas dengan Pertumbuhan Total Aset


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 3. Hubungan antara Pertumbuhan Total Aset dengan Pertumbuhan Penjualan


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 4. Hubungan antara Pertumbuhan Total Ekuitas dengan Pertumbuhan Penjualan


Pertumbuhan Aset vs Pertumbuhan Penjualan


Pada Gambar 3 ditunjukkan hubungan antara pertumbuhan total aset dan pertumbuhan sales. Tanpa memperhitungkan tahun 2006 dan 2007, pertumbuhan total aset memiliki hubungan yang linier positif terhadap pertumbuhan sales, dengan pertumbuhan sales lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total aset. Secara rata-rata (tanpa tahun 2006 dan 2007) rasio antara pertumbuhan sales dengan pertumbuhan aset berada di nilai 2,30. Artinya, jika total aset tumbuh 1%, maka sales tumbuh 2,30%, atau sebaliknya. Pada tahun 2006 dan 2007 pertumbuhan sales menjadi lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total aset.

Seperti yang terlihat pada Gambar 1, pada tahun 2006 terjadi penurunan pertumbuhan sales yang cukup tajam, dibandingkan dua tahun sebelumnya. Sedangkan pada tahun 2007 pertumbuhan sales mencapai yang tertinggi di antara periode pengamatan, demikian pula terjadinya keseimbangan antara pertumbuhan total aset, total ekuitas, dan sales. Dapat disimpulkan bahwa tahun 2007 adalah tahun terbaik dalam kinerja perusahaan terutama jika dilihat dari sisi pertumbuhannya.

Pertumbuhan Ekuitas vs Pertumbuhan Penjualan

Hubungan antara pertumbuhan total ekuitas dengan pertumbuhan sales juga berbentuk kuadratik seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4. Tahun 2007 ternyata terletak di daerah puncak garis parabola hubungan antara pertumbuhan total ekuitas dan pertumbuhan sales. Sedikit mengupas kondisi pasar, tahun 2007 dapat dikatakan sebagai flying high-nya IHSG yang mencapai rekor tertinggi pada level 2.745,90, dan year-on-year return hingga mencapai 52,1%. Tampaknya ada hubungan antara letak tahun 2007 di puncak garis parabola pada Gambar 4 dan sangat baiknya kinerja pasar pada saat itu. Riset lanjutan terhadap data ini mengungkapkan gambaran bahwa tahun 2007 juga terjadi ekspektasi yang berlebihan terhadap prospek pertumbuhan masa depan perusahaan-perusahaan.

Situasi tersebut sangat pas bila dihubungkan dengan konsekuensi logisnya yang menjadi kenyataan, yaitu pada tahun 2008 terjadi penurunan besar-besaran kinerja pasar perusahaan-perusahaan, dan menciptakan kerugian yang luar biasa bagi para investor.

Sektor Finansial

Kinerja bank umum di Indonesia berdasarkan pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga), kredit, dan NII (net interest income) ternyata menunjukkan pola yang hampir sama dengan kinerja komposit 82 emiten yang dianalisis oleh CAPITAL PRICE, yaitu dengan kinerja pertumbuhan sales dan profit komposit perusahaan, terutama bila dibandingkan antara pertumbuhan NII bank umum dengan pertumbuhan net income komposit perusahaan. NII bank umum pada tahun 2003 dan 2005 mengalami pertumbuhan yang negatif, demikian pula pertumbuhan net income komposit perusahaan. Pada tahun 2004 pertumbuhan NII bank umum mencapai nilai tertinggi, demikian pula pertumbuhan net income komposit perusahaan. Namun pada tahun 2007 NII bank umum mengalami penurunan pertumbuhan, sebaliknya net income komposit perusahaan mengalami lonjakan pertumbuhan. Kondisi ini memberikan gambaran kinerja sektor perbankan pada tahun 2007 tidak mengikuti kinerja sektor non finansial yang cemerlang.

Pada tahun 2006 terjadi penurunan pertumbuhan DPK dan penurunan pertumbuhan kredit yang disalurkan bank-bank, dan sepertinya memberikan dampak pada turunnya kinerja pertumbuhan perusahaan-perusahaan pada tahun 2006. Kemudian pada tahun 2007 terjadi peningkatan pertumbuhan DPK dan pertumbuhan kredit bank-bank, dan membawa dampak pada membaiknya kinerja pertumbuhan perusahaan-perusahaan.

Sementara itu total aset keseluruhan perusahaan pembiayaan sepanjang tahun 2006 dan 2007 juga terus bertumbuh, yaitu sebesar 12,81% dan 16,87%. Laba tahun berjalan perusahaan pembiayaan mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2006 (-10,04%), walau kemudian pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan positif sebesar 39,79%.

Menarik untuk juga dicermati adalah adanya perubahan portofolio investasi yang dikelola oleh dana pensiun. Pada tahun 2002 porsi portofolio investasi dana pensiun hingga hampir 70% dialokasikan ke dalam deposito, sisanya diinvestasikan ke dalam obligasi korporasi. Sejak diterbitkannya obligasi pemerintah (surat utang negara), porsi deposito semakin menurun. Pada tahun 2003 porsi deposito menjadi sekitar 56%, setelah itu sejak tahun 2004 berada di kisaran 30%. Seiring dengan penurunan porsi deposito, porsi obligasi korporasi dan obligasi pemerintah juga semakin meningkat, hingga masing-masing mencapai di atas 20%. Fenomena pergeseran alokasi investasi tersebut kembali mendukung trend semakin meningkatnya peran pasar modal sebagai wadah investasi bagi para investor.


Sumber: Bank Indonesia

Gambar 5. Pertumbuhan Tahunan Dana Pihak Ketiga, Kredit, dan Net Interest Income Bank Umum


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 6. Pertumbuhan Tahunan Penjualan dan Profitabilitas Komposit 82 Perusahaan


Penutup

Peralihan tahun 2008/2009 ditandai dengan memburuknya dampak krisis finansial dunia. BEI, sebagai bagian dari sistem pasar finansial yang semakin mengglobal, tidak imun terhadap krisis tersebut. Berdasarkan hasil riset yang telah dipaparkan dalam tulisan ini, koreksi 2008 memang perlu terjadi untuk mengembalikan BEI ke trajektori normal jangka panjangnya. Oleh karena itu, kami yakin bahwa prospek jangka panjang investasi saham di BEI akan kembali ke level normalnya, yaitu memberikan rata-rata return tahunan yang normal sebesar 15%-20%. Selamat berinvestasi saham di BEI dengan menggunakan horison investasi jangka panjang.


Oleh:
Roy Sembel, Guntur Tri Hariyanto, dan Perdana Wahyu Santosa

Wednesday, October 22, 2008

Ayo ke Bank?

Anda pernah melihat logo ini?






Kemungkinan besar Anda pernah melihatnya. Entah di bank, ATM, spanduk di jalan raya, mobil-mobil khusus, iklan di televisi atau tempat lain. Logo ini terkait dengan pencanangan gerakan edukasi nasabah bank oleh Bank Indonesia, secara resmi dicanangkan pada hari Minggu, 27 Januari 2008 di Lapangan Monumen Nasional[1]. Paling tidak ada dua tujuan atas digagasnya gerakan ini, yaitu (berdasarkan penjelasan Deputi Gubernur BI, Muliaman Hadad)[2]: 1) terciptanya masyarakat yang mampu mengelola keuangan dengan bijaksana sehingga meningkatkan kualitas hidup, 2) meningkatkan minat maupun pemahaman masyarakat pada produk dan jasa perbankan.

Sebelum membahas lebih lanjut, mari sejenak kita perhatikan topik permasalahan yang paling sering diungkap terkait dengan bank, yaitu tabungan. Bunga tabungan secara rata-rata yang diberikan oleh bank-bank terhadap nasabahnya berada di sekitar 2-4% per tahun. Nilai bunga ini belum mampu untuk menutupi inflasi yang secara rata-rata di Indonesia berkisar lebih dari 5% per tahun. Sehingga banyak orang yang berpikiran nilai uang yang ditabung justru semakin menurun daya belinya. Keberatan lainnya yang cukup banyak dibicarakan[3] adalah tingkat potongan yang dilakukan oleh bank terhadap dana tabungan masyarakat yang sering disebut biaya administrasi. Biaya administrasi nilainya bervariasi setiap bank, secara umum berada di sekitar Rp. 5.000 - Rp. 10.000 tiap bulan, jika disetahunkan nilainya menjadi Rp. 60.000 - Rp. 120.00. Walaupun tingkat biaya adminitrasi ini dapat ditutup dengan saldo minimal tertentu, namun bagi kebanyakan masyarakat Indonesia masih dirasakan cukup berat. Lebih-lebih saat ini masyarakat dibebani oleh kenaikan BBM dan menggilanya inflasi secara global.

Terkait dengan potongan biaya administrasi, bahkan Bank Indonesia dalam brosur kampanye Ayo ke Bank menuliskan[4]: "Jaga saldo tabungan Anda agar bunga yang diperoleh setiap bulanya lebih besar dari biaya administrasi bulanan sehingga tabungan anda tidak berkurang". Sudah menjadi rahasia umum bahwa bank menjadikan biaya administrasi tabungan sebagai fee-based income atau pendapatan bank yang bukan dari bunga. Persepsi yang timbul pada banyak masyarkat adalah tabungan di bank cenderung ditujukan bagi masyarakat dengan tingkat penghasilan tertentu, namun tidak berpihak pada masyarakat pada pengahasilan yang rendah, yang secara statistik merupakan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Memang kita tidak bisa hanya melihat tabungan dari tingkat bunga dan potongan biaya administrasi, namun juga fungsinya. Berbagai hal kemudahan telah diciptakan menjadi kesatuan dalam tabungan tersebut, seperti untuk pembayaran berbagai tagihan rutin rumah tangga, transfer uang, transaksi bisnis, dan lain sebagainya. Terlebih saat ini layanan tabungan telah dilengkapi dengan ATM 24 jam dan tersebar di banyak tempat, SMS banking, mobile banking, internet banking, phone banking dan call center. Dengan berbagai fitur-fitur yang telah dikembangkan tabungan mampu memberikan kemudahan bagi penggunanya.

Selain tabungan, yang juga paling sering menjadi isu tentang bank di masyarakat adalah sulitnya memperoleh kredit, terutama bagi usaha kecil dan menengah. Berita terbaru terkait dengan hal ini adalah ketika sejumlah petani mengeluh kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla tentang penerapan sistem pengambilan kredit di bank yang terkadang dinilai mempersulit para petani[5]. Persepsi yang timbul secara umum adalah banyaknya aturan yang memberatkan masyarakat ketika hendak mengambil kredit, dan masyarakat merasa bank-banak hanya memberikan pinjaman kepada pebisnis besar. Kasus lainnya yang cukup menarik dan masih hangat adalah masih enggannya bank-bank di Bireuen untuk memberikan kredit usaha rakyat (KUR) yang telah diprogramkan oleh pemerintah, yang diungkapkan oleh Ir. Bustami Hamid, Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Hortikultura Bireuen[6].

Demikian pula jika menengok kembali tulisan Prof. Mubiyarto yang berjudul "Mengapa Bank Sulit Memberdayakan Ekonomi Rakyat?", diterbitkan pada tahun 2004 di Jurnal Ekonomi Rakyat.[7] Ilustrasi yang menarik diungkapkan oleh Prof. Mubyarto adalah permohonan pinjaman Yulius Seran seorang penyandang cacat yang menjadi pedangan "rupa-rupa", hanya disetujui setengah dari permintaannya, walaupun Yulius adalah orang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya. Demikian pula Prof. Mubyarto memberikan ilustrasi tentang keengganan 2 bank yang ada di Melak (daerah yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi) memberikan kredit kepada pengusaha-pengusaha, dengan ditunjukkannya data tidak seimbangnya peningkatan dana masyarakat yang disimpan dengan jumlah kredit yang diberikan.

Dari penjabaran tentang tabungan dan kredit tersebut, sebenarnya dapat mewakili fenomena yang timbul di masyarakat terkait dengan penggunaan produk dan jasa bank. Paling tidak, dari gambaran tersebut tercermin masih adanya gap yang cukup besar antara dunia perbankan dan masyarakat. Kiranya tujuan program Ayo ke Bank yang digagas Bank Indonesia menjadi sangat relevan.

Bank perlu mengedukasi masyarakat agar melek finansial

Bagi masyarakat dengan penghasilan tinggi, permasalahan melek finansial mungkin tidak terlalu besar. Namun sebaliknya, untuk masyarakat dengan penghasilan rendah, melek finansial menjadi permasalahan yang serius. Dari ilustrasi sebelumnya juga telah tergambarkan, seringkali yang mengalami permasalahan atas produk dan jasa perbankan adalah masyarakat dengan penghasilan rendah.

Dibandingkan dengan masyarakat berpenghasilan tinggi, masyarakat penghasilan rendah seringkali kurang memperoleh informasi yang relevan tentang akses terhadap bank dan kesempatan-kesempatan yang dapat dimanfaatkan demi membangun kesejahteraan keuangan. Ketika beralih kepada institusi keuangan lainnya, yang dihadapi adalah biaya yang lebih tinggi atas jasa yang diperoleh, seperti lembaga ijon yang terkenal digolongan petani di Indonesia.

Berikut ini disajikan data-data dari berbagai negara, mengapa melek finansial menjadi sangat penting[8]:

  • Sebuah survei di Australia menemukan 50% responden tidak dapat mengintepretasikan rekening bank.
  • Sebuah survei di Australia menemukan 30% dari siswa kelas 9 dan 26% siswa kelas 10 tidak dapat menghitung harga termurah saat berbelanja.
  • Sebuah survei di Inggris menemukan bahwa konsumen tidak aktif mencari informasi finansial. Informasi yang mereka terima diperoleh secara kebetulan, misalnya dengan mengambil brosur di bank atau berbicara dengan pegawai di bank.
  • Sebuah survei di Canada menemukan bahwa responden merasa memilih investasi yang tepat itu lebih stress daripada pergi ke dokter gigi.
  • Sebuah survei di Amerika menemukan 4 dari 10 karyawan tidak menabung untuk masa pension.

Melek finansial pada dasarnya adalah memahami uang, bank, kredit, investasi dan bagaimana menggunaka aset-aset keuangan untuk menciptakan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup. Melek finansial menjadi skill wajib yang harus dimiliki oleh setiap rumah tangga. Dengan kemampuan melek finansial rumah tangga dapat mengelola anggaran rumah tangga, membuat perencanaan tabungan, mengelola hutang, dan membuat keputusan investasi strategis yang baik. Dengan demikian rumah tangga memiliki keseimbangan dalam persepektif keuangan jangka pendek dan jangka panjang.

Edukasi melek keuangan dapat dilakukan dengan pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh bank terhadap masyarakat yang masih belum melek finansial. Pelatihan-pelatihan dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan organisasi-organisasi yang ada dalam masyarakat, badan-badan pemerintah yang seringkali terlibat dalam pendidikan masyarkat baik formal maupun non-formal, dan perusahaan-perusahaan tempat masyarakat bekerja.

Agar tingkat keberhasilan yang diperoleh baik, maka pelatihan yang diberikan harus memperhatikan budaya dan kebutuhan masyarakat. Dalam mendisain kurikulum perlu menjawab kebutuhan mendasar masyarakat tentang skill finansial yang perlu dimiliki, demikian pula penyesuaian dengan budaya yang ada, sehingga tidak terjadi pertentangan antara tujuan pelatihan dengan budaya masyarakat.

Bank perlu memberikan pelayanan yang terjangkau dan rutin pada masyarakat berpenghasilan rendah

Masyarakat berpenghasilan rendah merupakan masyarakat dengan jumlah yang sangat besar dan memiliki potensi yang besar juga bagi bank. Masyarakat berpengasilan rendah seringkali tidak terjamah oleh bank, sehingga menjadi tergantung pada jasa keuangan yang terdekat mereka temui dari lokasi aktivitasnya. Apresiasi yang tinggi perlu diberikan pada bank-bank yang mau mendekatkan diri pada masyarakat penghasilan rendah seperti yang telah dilakukan oleh Bank Rakyat Indonesia sejak lama dengan membuka banyak cabang di berbagai pelosok daerah di nusantara, demikian pula pengembangan kredit mikro yang dilakukan Bank Danamon, dan salah satu contoh yang cukup unik adalah layanan kas terapung di Kalimantan Selatan oleh Bank BNI.

Untuk dapat menjamah masyarakat yang jauh lebih luas bank-bank dapat melakukan partnership dengan lembaga-lembaga yang berkembang di masyarakat yang dapat dipercaya. Layanan bank selain terjangkau letaknya juga perlu dilakukan secara terus-menerus, sehingga masyarakat memiliki akses yang mudah bagi kebutuhan keuangannya. Gerakan proaktif bank juga perlu ditingkatkan, misalnya dengan mencontoh pada keberhasilan Grameen Bank yang dimotori oleh peraih Nobel Muhammad Yunus, dengan mendatangi masyarakat berpenghasilan rendah dan memberikan pendidikan dan solusi finansial mereka.

Kondisi selama ini yang terjadi adalah masyarakat kurang mengetahui dan mengikuti inovasi pengembangan produk dan jasa perbankan, oleh karenanya perlu direncanakan suatu kegiatan-kegiatan yang aktif bagi bank untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Tentunya perlu juga keaktifan masyarakat untuk mengenali dan menggunakan produk dan jasa perbankan untuk kepentingan kesejahteraannya. Namun, sekali lagi, masyarakat yang aktif biasanya berhubungan linier dengan kecerdasannya. Oleh karenanya, mencerdaskan masyarakat secara finansial menjadi sangat penting bagi perkembangan perbankan itu sendiri dan perkembangan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Keterbukaan informasi, kejujuran pelayanan bank, dan melibatkan masyarakat secara aktif menjadi kunci utama bagi keberhasilan program "Ayo ke Bank".

Jadi, Ayo ke Bank agar semakin sejahtera dan meningkatnya kualitas hidup!.



[1] www.ayokebank.com, "Ayo ke Bank", Agar Masyarakat Melek Keuangan, tertanggal 29 Januari 2008.

[2] www.okezone.com, 2008, BI Canangkan "Ayo ke Bank", tertanggal 22 Januari 2008.

[3] Dapat diperhatikan pada koran-koran terutama pada kolom surat pembaca, atau pun dapat dilihat pada forum-forum di internet.

[4] www.bi.go.or.id, dapat dilihat pada bagian ‘EDUKASI PERBANKAN' dengan judul "Ayo ke Bank: Mengenal Tabungan"

[5] www.kompas.com, Petani Sulsel: Pak Wapres, Ambil Kredit Bank kok Sulit?, tertanggal 9 Agustus 2008.

[6] www.serambionlinenews.com, Kredit Masih Sulit Diperoleh di Bireuen, tertanggal 30 Juni 2008.

[7] www.ekonomirakyat.org

[8] www.youngbizindonesia.com