Showing posts with label Valuation. Show all posts
Showing posts with label Valuation. Show all posts

Thursday, April 29, 2010

Kerangka Memaksimalkan Nilai Perusahaan

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 15 April 2010



Metrik yang umum digunakan dalam menilai suatu perusahaan adalah enterprise value (EV). Pemahaman akan EV akan membantu perusahaan dalam menjaga dan meningkatkan nilai perusahaannya, terlebih EV dengan perspektif jangka panjang dan sustainability suatu bisnis.

Menurut Horie dan Kim (2009), definisi EV berdasarkan akuntansi dengan definisi sempit adalah jumlah nilai ekuitas dan nilai hutang perusahaan. Sedangkan definisi luasnya termasuk intangible assets, yang diantaranya adalah leasehold, goodwill, dan trademark right.

Definisi EV dari sisi investor berbeda dengan definisi akuntansi. Bagi investor EV adalah business value perusahaan, atau nilai jual/beli perusahaan yang telah memperhitungkan nilai aset, hutang, dan ekuitas perusahaan. Sedangkan intangible assets yang dilihat oleh investor biasanya adalah kualitas bisnis perusahaan dan kualitas manajemennya, apakah berpihak pada long-term value creation.



Gambar 1. Enterprise Value dari Sisi Investor vs Enterprise Value Terminologi Akuntansi

Sumber: Horie dan Kim (2009), NRI Papers No. 148, November 1, 2009



Maksimalisasi EV sebaiknya menjadi tujuan perusahaan dalam menjalankan operasional bisnisnya. Ada tiga hal utama yang dapat dilakukan perusahaan untuk dapat mencapainya sebagaimana berikut ini.

Kesehatan Jangka Panjang Perusahaan

Kesehatan perusahaan berhubungan dengan kemampuan perusahaan untuk mempertahankan operasionalnya saat ini dan memanfaatkan semaksimal mungkin potensi pertumbuhan di masa yang akan datang. Oleh karenanya, perusahaan diharapkan memiliki kemampuan dalam memperjelas perbedaan antara kinerja jangka pendek dengan kesehatan perusahaan. Bisa saja saat ini kinerja perusahaan sangat baik, namun kemampuan perusahaan untuk mengidentifikasi area-area pertumbuhan baru dan mengejar potensi pertumbuhan tersebut sangat lemah.

Terdapat beberapa komponen generik suatu perusahaan yang disebut perusahaan sehat, yaitu: 1) strategi yang baik, 2) produktif, 3) aset yang terjaga dengan baik, 4) produk, jasa, dan proses yang inovatif, 5) reputasi yang baik di mata customer, regulator, pemerintah, dan pemangku kepentingan yang lain, dan 6) kemampuan untuk menarik minat, menjaga, dan membangun bakat-bakat yang berkualitas (Davis, 2005).

ESG (Environmental, Social, dan Governance)

Saat ini perusahaan mengalami tekanan yang tinggi dari berbagai pihak untuk semakin memperhatikan isu lingkungan (environmental), sosial (social), dan tata kelola perusahaan (governance). Bonini, Koller, dan Mirvis (2009) mengungkapkan bahwa terdapat hubungan yang jelas antara tujuan keuangan keuangan perusahaan dengan reputasinya dalam ESG yang memenuhi kebutuhan komunitas, dan melebihi persyaratan peraturan dan norma industri yang berlaku. Lebih lanjut mereka mengatakan, program ESG yang dilakukan perusahaan dapat menciptakan nilai bagi dirinya dengan mendukung pertumbuhan, peningkatan return on capital, pengurangan risiko, atau meningkatkan kualitas manajemen.

Pentingnya perusahaan melakukan program-program ESG dilandasi oleh dibutuhkannya legitimasi masyarakat oleh perusahaan didalam area operasionalnya. Dengan demikian perusahaan dapat memiliki kemampuan survival dalam jangka panjang dan kemudian tujuan shareholder value creation menjadi dapat lebih difokuskan. Bagi masyarakat, kehadiran perusahaan juga sangat penting, karena perusahaan dapat memberikan keuntungan, seperti tersedianya produk dan jasa yang dibutuhkan, terciptanya lapangan pekerjaan, dan lainnya. Reciprocal relationship (hubungan timbal balik) seperti ini menjadi landasan “kontrak bisnis” antara perusahaan dan masyarakat.

Komunikasi dan Keterbukaan terhadap Pemegang Saham

Komunikasi dan keterbukaan terhadap pemegang saham menjadi sangat penting dalam proses value creation perusahaan. Investor membutuhkan kejelasan bagaimana bisnis perusahaan bekerja menciptakan nilai dan kejujuran manajemen perusahaan dalam menilai kinerjanya sendiri. Lingkungan saat ini jauh lebih menuntut transparansi perusahaan. Demikian pula investor lebih menghargai perusahaan dengan transparansi yang memadai. Investor lebih menghargai perusahaan yang memberikan diskusi manajemen yang fair dan berimbang sehingga dapat memberikan gambaran tentang kualitas tim manajemen dan bagaimana potensial future value creation.

Menurut Palter dan Rehm (2009) semakin transparannya data keuangan dan operasional, pengukuran kinerja yang jujur, dan panduan tentang metrik yang digunakan eksekutif dalam menjalankan perusahaan akan membantu investor untuk membangun opini yang terinformasi tentang potensial value creation, kualitas manajemen, dan profil risiko bisnis perusahaan. Lebih lanjut, mereka mengatakan, dalam prosesnya manajemen akan memperoleh feedback yang berharga dari investor, misalnya tentang pertumbuhan perusahaan dan kinerja perusahaan relatif terhadap pesaingnya.


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel




Wednesday, February 25, 2009

Siklus Pasar: Antara Ekspektasi dan Nilai



Sepanjang tahun 2006-2007 Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat dikategorikan berada dalam bull market. Istilah bull market menggambarkan tingginya ekspektasi dan kepercayaan investor terhadap kinerja masa depan sehingga terjadi peningkatan harga-harga sekuritas. Kemudian pada tahun 2008/2009 terjadi perubahan siklus pasar, harga-harga saham di BEI mengalami penurunan tajam, BEI dapat dikategorikan berada dalam bear market. Istilah bear market menggambarkan terjadinya penurunan harga-harga sekuritas secara terus menerus, meluasnya pesimisme investor dan sentimen negatif di dalam pasar. Dalam bear market, kerugian lebih dalam diantisipasi dengan melakukan penjualan sekuritas, sehingga harga-harga sekuritas terus menerus menurun. Kondisi bear market saat ini yang juga terjadi di seluruh pasar keuangan dunia dengan penyebab utamanya adalah krisis subprime mortgage (krisis yang dipicu oleh surat utang yang berbasis perumahan bagi nasabah berisiko tinggi) di Amerika Serikat.

Growth Stock vs Value Stock

Pembagian karakteristik saham paling umum terbagi dalam dua kategori, yaitu growth stock dan value stock. Yang dimaksud dengan growth stock adalah saham dengan pertumbuhan pendapatannya melebihi rata-rata pasar, juga memiliki price-earnings ratio (PER, rasio antara harga saham dengan pendapatan) dan price-to-book ratio (PBV, rasio antara harga saham dengan nilai buku) melebihi rata-rata pasar. Sedangkan value stock adalah saham yang dipersepsikan memiliki pendapatan dan memberikan dividen yang stabil, juga memiliki PER dan PBV yang rendah. Seringkali value stock didefinisikan sebagai saham yang memiliki harga di bawah harga wajarnya (undervalued).

Pada saat bull market yang sering mendapat perhatian investor adalah saham-saham dalam kategori growth stock, karena dapat memberikan tingkat keuntungan investasi yang tinggi. Saham-saham dalam value stock seringkali diabaikan karena dianggap kurang menguntungkan, juga dipersepsikan membosankan untuk investasi dalam masa-masa peningkatan harga saham. Biasanya peningkatan harga saham value stock dalam bull market lebih rendah dibanding
kan growth stock sehingga menjadi tidak menarik bagi investor. Namun ketika bear market tiba, saham-saham dalam kategori value stock kembali menjadi perhatian investor, sementara saham-saham growth stock biasanya mengalami kejatuhan harga di atas rata-rata pasar.

Dutch Disease

Perhitungan nilai wajar (valuation) saham pada kondisi bull market seringkali keluar dari metode-metode umumnya. Contohnya seperti pada saat dotcom bubble tahun 2000 di Amerika, perusahaan dotcom yang baru saja dibentuk dapat memiliki nilai yang sangat tinggi, walaupun sebenarnya pendapatan perusahaan tersebut belum stabil bahkan belum ada. Adanya ekspektasi yang berlebihan terhadap masa depan perusahaan-perusahaan dotcom memancing untuk terbentuknya banyak sekali perusahaan yang bergerak pada industri yang sama, supply dan demand menjadi tidak seimbang.

Membandingkan dengan kondisi BEI tahun 2006-2007, kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) banyak didorong oleh peningkatan harga saham-saham sektor komoditas. Pasar memberikan ekspektasi yang tinggi pada sektor tersebut, namun tidak seimbang terhadap sektor lainnya. Dengan kondisi tersebut, jadi teringat dengan istilah Dutch disease, yang pertama kali dipopulerkan oleh majalah The Economist pada tahun 1977. Ducth disease adalah suatu kondisi yang menggambarkan hubungan antara terjadinya booming sektor sumber daya alam, sehingga memberikan revenue yang besar di sektor tersebut, namun di sisi lain sektor manufaktur menjadi kurang kompetitif. Terjadinya kenaikan harga-harga komoditas sumber daya alam yang tajam juga dapat termasuk dalam terminologi Dutch disease. Negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah-ruah akan memperoleh pemasukan dalam valuta asing yang sangat banyak, sehingga menyebabkan penguatan mata uang negara tersebut. Paling tidak ada dua efek utama dengan terjadinya Dustch disease, yaitu: 1) terjadinya penurunan daya saing harga di sektor manufaktur, dan 2) terjadinya peningkatan import.

Booming sektor komoditas yang terjadi dapat dikatakan didorong oleh peningkatan harga minyak dunia dan kemudian juga diikuti oleh komoditas yang lain. Bagi Indonesia membawa implikasi terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas yang memberikan beban berat pada sektor manufaktur. Hasil kenaikan BBM dan bahan bakar gas membawa inflasi yang menjadi double digit yang semula prediksi inflasi tahun 2008 hanya di sekitar 6,5%. Dengan kondisi ini banyak industri di Indonesia mengalami kesulitan bahkan mengalami penurunan daya saing yang cukup tajam.

Terindikasi pula terjadi ekspektasi berlebihan tentang peluang pertumbuhan di masa depan beberapa perusahaan di BEI, terutama sektor komoditas, sehingga investor menilai harga-harga saham menjadi terlalu tinggi. Misalnya pada kasus BUMI (PT Bumi Resources), pada saat harga tertingginya dapat mencapai lebih dari Rp 8500, saat ini hanya di kisaran Rp 500, atau terjadi penurunan nilai lebih dari 90%.