Showing posts with label Portfolio. Show all posts
Showing posts with label Portfolio. Show all posts

Thursday, January 30, 2014

Indeks Pefindo 25 Ditargetkan Tumbuh 15%




neraca.co.id, Selasa, 28/01/2014

NERACA

Jakarta – Tahun ini, Lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengincar pertumbuhan indeksnya yaitu Pefindo 25 dapat tumbuh 12%-15% atau diharapkan dapat tumbuh seiring kenaikan target pertumbuhan IHSG.

Analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto mengungkapkan, sepanjang tahun 2013 lalu, kinerja indeks Pefindo 25 mengalami penurunan sangat drastis dari pada indeks-indeks lainnya yang ada di bursa. Pada tahun lalu posisi Indeks Pefindo25 tercatat di level 358.5 atau anjlok 23,7% jika dibanding posisi akhir tahun 2012 di level 469.9,”Pergerakan indeks Pefindo 25 turun dibandingkan indeks lain di 2013 karena memang saham-saham di indeks ini karakternya tampak turun cukup dalam presentasenya. Namun, kami optimis pada 2014 IHSG akan bagus dan indeks kita juga akan ikut bagus dan melebihi indeks lainnya”, ungkapnya di Jakarta, Senin (27/1).

Secara historikal, kegiatan pemilu selalu memberi dampak positif bagi indeks. Kendati pada 2013 lalu, indeks Pefindo mengalami penurunan yang paling anjlok dari indeks lainnya, namun dia yakin tahun Pemilu 2014 akan membantu indeks Pefindo 25 kembali naik.

Berdasarkan data Pefindo, IHSG tercatat turun sebanyak 0,99% ke level 4274,2 dibandingkan tahun sebelumnya yakni 4316,7. Indeks LQ 45 menurun sebanyak 3,25% dari 735,0 ke level 711,4 sepanjang tahun lalu. Sementara Kompas 100 mengalami penurunan sebanyak 3,83% dari 946,3 ke level 910,1.

SMI Infra 18 dan Bisnis 27 masing-masing menurun 1,55% dan 1,86%. Sedangkan Infobank 15 dan MNC 36 masing-masing mengalami penurunan sebesar 2,38% dan 0,48%. Hanya indeks Sri Kehati yang mencatat kenaikan 0,94%, dari level 231,1 pada 2012 ke level 233,3 hingga akhir 2013.

Lebih rinci analis Pefindo lainnya, Achmad Kurniawan Sudjatmiko menjelaskan, saham emiten yang tercatat di indeks Pefindo 25 sensitif terhadap sentimen negatif pasar selama 2013. Meski begitu, dia cukup yakin investor tetap dapat menjadikan Pefindo 25 sebagai acuan alternatif untuk melakukan investasi.

Dalam kurun waktu dari 2010 hingga 2012, indeks Pefindo 25 memiliki return hingga 40%. Namun, senada dengan Guntur, dia mengakui bahwa pada 2013 kemarin, saham Pefindo 25 turun karena memang saham-saham yang masuk kategori Pefindo 25 bukanlah saham-saham yang nilainya mahal.

Saham emiten yang menempati indeks Pefindo 25 terdiri dari perusahaan kecil dan menengah yang diseleksi dengan kriteria tertentu. Adapun proses seleksi saham Indeks Pefindo 25, aset tidak melebihi Rp5 triliun, tingkat pengembalian modal sekurang-kurangnya sama dengan rata-rata ROE seluruh emiten, memperoleh opini akuntan berupa wajar tanpa pengecualian, dan telah tercatat di bursa sekurang-kurangnya 6 bulan.

Sementara sisanya dilihat berdasarkan likuiditas seperti volume transaksi, frekuensi transaksi, nilai transaksi, jumlah hari perdagangan, dan jumlah floating share. Adapun saham baru yang masuk pada periode 1 Februari 2014-31 Juli 2014 adalah PT Bisi International Tbk, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk, PT Nippon Indosari Corporindo Tbk, PT Sarana Mediatama Metropolitan Tbk, PT Surya Citra Media Tbk, PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (nurul)

Tuesday, February 2, 2010

Investasi dan Portofolio: Berinvestasi dengan Nyaman dan Aman

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 25 Januari 2010




Tidak sedikit orang yang merasa takut untuk menginvestasikan sebagian kekayaannya. Hal ini terutama biasanya disebabkan oleh ketidakpahaman tentang berbagai hal fundamental mengenai investasi itu sendiri. Terlebih banyak berita yang mengungkapkan sisi negatif dari dunia investasi. Seperti penipuan oleh beberapa lembaga pengelolaan dana masyarakat yang berkedok investasi, yang mengiming-imingi tingkat pengembalian tinggi dalam waktu cepat.

Sebagian orang beranggapan bahwa mereka telah melakukan investasi walau sebenarnya hanya menabung. Ada perbedaan antara keduanya. Menabung sesungguhnya lebih kepada penundaan penggunaan uang saat ini untuk digunakan di masa depan. Sedangkan investasi memiliki tujuan untuk menghasilkan peningkatan kesejahteraan dengan mengakumulasikan kekayaan yang dimiliki investor. Bahasa lainnya adalah bagaimana membuat uang bekerja bagi kita dan kemudian menghasilkan pendapatan sesuai yang diharapkan berdasarkan risiko yang ditanggung.


Pemilihan Aset Investasi


Pemahaman akan klasifikasi aset-aset investasi akan berguna bagi investor dalam pemilihan aset-aset investasinya. Klasifikasi aset investasi biasanya didasarkan pada profil risiko dan potensial return (imbal hasil) suatu aset. Tabel 1 memberikan contoh-contoh aset investasi beserta profil risk-return aset tersebut.



Tabel 1. Profil Risk-Return Aset Investasi

Sumber: Modifikasi dari Sembel dan Sugiarto (2009), CAPITAL PRICE



Beberapa hal yang sebaiknya juga diperhatikan oleh investor sebelum melakukan pemilihan aset dan kemudian melakukan investasi adalah:

  1. Tetapkan tujuan investasi dan horison waktu investasi. Tujuan investasi menjadi dasar semua kegiatan investasi yang dilakukan.
  2. Menentukan tingkat toleransi risiko. Sebaiknya toleransi risiko disesuaikan dengan kondisi investor, seperti umur dan horison waktu investasi.
  3. Mempersiapkan dana investasi. Dana investasi sebaiknya dana yang memang telah dialokasikan khusus, sehingga tidak mengganggu dana untuk alokasi pemenuhan kebutuhan pengeluaran, seperti biaya sekolah dan dana emergensi.
  4. Penilaian diri atas pemahaman tentang dunia investasi . Ini mengikuti Bapak Warren Buffet, yaitu berinvestasilah pada sesuatu yang memang dipahami.
  5. Kemampuan dalam akses informasi. Dunia investasi adalah dunia yang sangat dinamis, dimana akses informasi yang memadai akan menjadi penting dalam pemantauan perkembangan aset-aset investasi.

Pembentukan Portofolio


Dalam berinvestasi sangat disarankan bagi investor untuk membentuk portofolio. Portofolio adalah kumpulan aset-aset yang telah didiversifikasi dengan bermacam klasifikasi aset. Diversifikasi akan mereduksi risiko naik-turunnya nilai keseluruhan investasi secara berlebihan (risiko berlebihan), namun tetap memiliki potensial return yang memadai.


Sebagai ilustrasi, misalnya seorang investor berumur 30 tahun dan masih aktif bekerja di bidang teknik perminyakan yang memiliki dana untuk diinvestasikan sebesar Rp 1 Milyar. Namun, di luar dana tersebut dia telah mempersiapkan dana cadangan untuk kondisi emergensi sebesar 6 kali dari rata-rata pengeluaran satu bulannya. Tujuan investasinya adalah pertumbuhan kekayaan dalam jangka panjang, dengan tingkat toleransi risiko yang moderat.


Setelah melalui berbagai pertimbangan, investor tersebut membentuk portofolionya. Pilihan portofolionya adalah 10% dialokasikan ke reksadana pasar uang, 20% ke reksadana terproteksi, 10% ke reksadana pendapatan tetap, 10% ke reksadana campuran, 10% ke exchange traded fund (ETF) saham, 20% ke properti, 10% ke saham perusahan lapis kedua di BEI, serta 7,5% reksadana saham internasional, dan 2,5% ke emas. Investasi emasi biasanya disarankan sebagai sarana lindung nilai (hedging) terhadap inflasi dalam jangka panjang, dan dianjurkan tidak melebihi 2,5% dari porsi portofolio.


Dengan demikian investor tersebut telah melakukan diversifikasi risiko aset-aset investasinya, namun tetap mempertimbangkan tujuan investasinya. Tentunya ini hanya merupakan ilustrasi, bagi setiap investor akan menjadi berbeda-beda kasusnya.


Efek Diversifikasi: Studi Kasus Saham


Efek diversifikasi pada portofolio terlihat jelas digambarkan oleh Gambar 1. Pada gambar tersebut disandingkan profil risk-return satu saham emiten (PTBA) dengan IHSG dari tahun 2004 hingga 2008 (dihitung secara tahunan).


IHSG adalah portofolio saham pasar yang terdiri dari berbagai emiten yang listing di BEI. Tingkat risiko (volatilitas) portofolio pasar menjadi jauh lebih kecil dibandingkan satu saham. Namun demikian, tingkat rerata pengembalian IHSG cukup memuaskan dengan kisaran 20%-60%.


Saham PTBA memang terlihat memberikan return yang besar, namun tingkat volatitas harga sahamnya juga besar. Tentunya tidak semua orang dapat nyaman dengan fluktuasi risk-return yang cukup besar.



Gambar 1. Perbandingan Risk-Return Saham PTBA dengan IHSG
Sumber data: Capital Market Trends, CAPITAL PRICE



Perbandingan keduanya menjadi cukup ekstrim, karena satu saham dibandingkan terhadap portofolio yang terdiri dari ratusan saham. Intinya adalah investasi dengan portofolio memberikan peluang lebih besar bagi investor untuk berinvestasi dengan nyaman dan aman, serta imbal hasil yang memadai.


Berapa banyak aset investasi dan bagaimana alokasi aset yang perlu dilakukan, hal ini kembali lagi kepada tujuan investasi dan profil setiap investor. Salam Investasi!



Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel