Showing posts with label Company Analysis. Show all posts
Showing posts with label Company Analysis. Show all posts

Friday, February 20, 2015

Insiden Salah Obat



Kita cukup dikagetkan dengan insiden salah obat yang terjadi di RS Siloam, sebuah rumah sakit ternama dan memiliki pengelolaan yang modern. Dikabarkan bahwa obat anestesi yang diberikan memiliki kandungan yang berbeda dengan sampul obat. Sebuah kejadian yang kemudian mengguncang dunia farmasi di Indonesia.

Kejadian ini akan berdampak besar bagi produsen obat terkait, yang kebetulan adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), sebuah perusahaan yang memiliki pengalaman panjang di industri farmasi. Kabar terakhir dari pemeriksaan yang dilakukan oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) terdapat indikasi tertukarnya obat dengan kemasannya dalam proses produksi. 

Untuk keperluan pemeriksaan, BPOM telah menghentikan izin edar dan proses fasilitas produksi obat yang terkait. Oleh karenanya, KLBF memiliki potensi kerugian finansial dari penarikan obat dan penghentian proses fasilitas produksi, selain juga kerugian dari sisi reputasi perusahaan. Kerugian terakhir diperkirakan akan berdampak jauh lebih besar kepada KLBF, terlebih apabila nanti dalam pemeriksaannya terdapat bukti bahwa KLBF tidak memenuhi kaidah produksi obat yang baik.

Di lain pihak, insiden ini juga akan memberikan pengaruh negatif bagi RS Siloam (SILO) rumah sakit tempat insiden terjadi. Meskipun memang pihak SILO mengatakan bahwa proses pemberian obat telah melalui standar operasi prosedur (SOP) yang berlaku, namun masih terdapat potensi bahwa SILO memiliki kelalaian dalam proses memproleh dan memberikan obat kepada pasien. 

Dalam jangka pendek, kemungkinan akan ada dampak penurunan jumlah pasien yang datang ke SILO sebagai dampak dari pemberitaan yang luas di media massa, namun sepertinya hal ini hanya sementara.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kejadian tersebut di atas? Menurut saya, kejadian tersebut dapat saja membuka mata kita bahwa terdapat banyak area yang perlu dibenahi dalam industri farmasi dan rumah sakit kita. Insiden yang baru saja terjadi, hanya merupakan serpihan kecil dari berbagai insiden yang pernah terjadi di kedua industri tersebut.

Bukan rahasia umum lagi bahwa terdapat pasar senilai triliunan rupiah untuk pasar farmasi gelap. Demikian pula terdapat praktik ilegal maupun pengelolaan rumah sakit yang hanya mengejar untung, tanpa peduli kualitas layanan dan rasa kemanusiaan. 

Semoga kita bisa selalu dengan rendah hati mengambil hikmah dalam setiap kejadian. Salah satu hal yang terlintas dalam pemikiran saya adalah mulai diimplementasikannya manajemen risiko yang komprehensif di industri farmasi dan rumah sakit. Dengan demikian diharapkan dapat mengurangi peluang dan dampak terjadinya suatu insiden. Tentunya implementasi akan berdampak positif bagi perusahaan, industri, dan masyarakat luas pengguna jasa.

Thursday, January 22, 2015

Pefindo proyeksikan prospek Catur Sentosa positif



ekbis.sindonews.com,  Dana Aditiasari
Senin,  24 Maret 2014  −  15:47 WIB


Sindonews.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan bahwa PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) sebagai perusahaan distribusi dan logistik serta ritel modern bahan bangunan pada tahun ini memiliki prospek positif didukung tetap tumbuhnya industri properti.

Analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto menilai, meski industri properti pada tahun ini menghadapi kompetisi ketat, di mana pertumbuhannya diperkirakan hanya sekitar 10 persen, namun kondisi tersebut hanya bersifat sementara.

"Pertumbuhan industri properti akan kembali rebound, terutama mengingat bahwa backlog perumahan di Indonesia diperkirakan mencapai 15 juta unit tahun ini," kata dia dalam risetnya, Senin (24/3/2014).

Sejalan dengan prospek industri properti itu, dia memperkirakan permintaan cat dan ubin keramik akan melemah. Kendati demikian, permintaan masih berpeluang naik didukung perekonomian Indonesia yang terus tumbuh.

Di samping itu, kegiatan pemilihan umum (pemilu) diharapkan mampu menopang penjualan barang konsumen. Berdasarkan survei Bank Indoensia (BI), konsumsi rumah tangga pada kuartal IV tahun lalu tetap kuat, dengan indeks penjualan ritel naik 27 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya di tengah tingginya inflasi. Sementara penjualan ritel modern nasional diperkirakan juga meningkat sekitar 10 persen menjadi Rp163 triliun.

Meningkatnya jumlah penduduk usia muda dengan kelas menengah, yang diperkirakan akan tumbuh 10 persen setiap tahunnya secara rata-rata hingga 2016 akan mendorong belanja konsumen lebih cepat. Pada saat yang sama, pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur, seperti jalan, bandara, pelabuhan, rel kereta, pembangkit listrik dan lainnya, sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, begitu juga pertumbuhan CSAP.

"Bisnis perusahaan telah menunjukkan perkembangan yang baik dan kami optimis untuk prospek CSAP ke depannya," ujar dia.

Pada kuartal III/2013 di tengah banyaknya tantangan ekonomi, pertumbuhan pendapatan CSAP sebesar 28 persen melebihi perkiraan Pefindo. Melihat capaian itu, Pefindo merevisi target pendapatan untuk CSAP pada tahun ini menjadi Rp7,8 triliun, meningkat dibanding proyeksi pendapatan akhir tahun lalu senilai Rp6,41 triliun.

Adapun, laba bersih tahun ini diprediksi bisa mencapai Rp132 miliar atau meningkat 32 persen dibanding proyeksi akhir tahun lalu senilai Rp100 miliar. Sementara target harga saham CSAP berada di kisaran Rp396-464 per saham.


(rna)

Kinerja Menurun, GDST Disarankan Dagang Baja di Dalam Negeri




economy.okezone.com, Petrus Paulus Lelyemin

JAKARTA - PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) tercatat menurun kinerja ekspornya pada tahun 2013. Penjualan ekspor GDST 2013 tercatat turun 89 persen year on year (yoy) setelah penurunan tahun 2012 yang mencapai 64 persen yoy.

Analis Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Guntur Tri Hariyanto mengungkapkan, perusahaan baja tersebut perlu segera mengubah strategi dengan berfokus pada pasar dalam negeri yang terus bertumbuh.

"Strategi untuk beralih fokus ke pasar domestik adalah pilihan yang tepat," tutur Guntur dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/4/2014).

Dia menjelasikan, pasar dalam negeri terus bertumbuh dengan pesat dengan perolehan 27 persen yoy, meskipun sempat melambat pada tahun 2012 pada level 40 persen yoy.

Pefindo sendiri mencatat, papar Guntur, pada tahun 2013, marjin harga pokok produksi (HPP) GDST menurun akibat melemahnya harga baja karena lingkungan HPP yang ketat di tahun sebelumnya.

"Marjin HPP GDST turun menjadi 85,3 persen di kuartal ketiga tahun 2013 dibandingkan 90,8 persen di kuartal ketiga 2013, yang menyebabkan margin laba kotor meningkat 39 persen" terangnya.

Menurut Guntur, penurunan penjualan ekspor telah menyebabkan beban transportasi ekspor turun sehingga menyebabkan beban penjualan turun 40 persen. Ini mengakibatkan laba bersih di 9M13 yang melebihi laba bersih 2012.

"Pada periode tersebut juga mencatat marjin laba bersih yang lebih baik sebesar 5,1 persen dibandingkan dengan hanya 2,8 persen pada tahun 2012," pungkasnya.
(rzk)

Sunday, January 11, 2015

Konsumsi baja domestik kuat, GDST berprospek positif



http://ekbis.sindonews.com/   J Erna
Jum'at,  14 Maret 2014  −  15:54 WIB



TRIBUNNEWSBATAM.COM, JAKARTA- Harga batubara semakin tertekan seiring perlambatan perekonomian China. Harga emas hitam ini anjlok ke level terendahnya selama lima tahun terakhir.
Data Bloomberg menunjukkan, Selasa (11/3), harga batubara untuk kontrak pengiriman Mei 2014 di Bursa ICE Futures naik tipis 1,60% dari hari sebelumnya menjadi US$ 72,75 per metrik ton (MT). Ini merupakan harga terendah sejak Maret 2009. Bahkan, sejak akhir tahun 2013 harganya sudah terpangkas sebesar 13,64%. Harga batubara juga sempat mencapai level terendah di 71,60 per metrik ton (MT) (10/3).

Analis PT Megagrowth Futures, Wahyu Tribowo Laksono memperikan harga batubara masih akan terus tertekan hingga akhir kuartal pertama 2014. "Batubara kini oversold dan berpotensi hingga ke level US$ 70.00 per metrik ton," kata Wahyu
. 
Pemicu utama melemahnya harga batubara, selain permintaan yang minim juga disebabkan oleh perlambatan perekonomian China. Asal tahu saja, Negeri Panda ini adalah importir terbesar batubara di dunia. Beberapa bulan lalu China juga mengurangi pembangunan pembangkit listrik berbasis batubara, dan mengalihkan ke energi yang lebih bersih, seperti air, angin, dan nuklir. Di sisi lain, China masih memiliki stok batubara yang cukup banyak. "Karena hal tersebut, permintaan batubara kian merosot," imbuh Wahyu.

Sementara, analis PT Pefindo, Guntur Tri Hariyanto mengatakan melemahnya harga batubara saat ini disebabkan rilis data ekspor China pada Februari 2014 turun 18%. Terlebih terdapat indikasi bahwa angka ekspor tahun lalu yang fiktif, yang membuat keraguan akan kemampuan Cina untuk dapat memenuhi target pertumbuhan ekonominya sebesar 7,5%. Dengan demikian, ada kekhawatiran penurunan konsumsi batubara yang signifikan di China.

Secara teknikal, Wahyu bilang harga saat ini sedang mengalami jenuh jual (oversold). Hal itu terlihat dari indikator relative strenght index (RSI) menginjak level 36,7% dan stochastick sudah di level 28,5% yang berarti akan rebound terbatas. Sedangkan, indikator moving average convergence divergence (MACD) berada di area negatif, minus 1,5. Adapun harga bergerak di bawah moving average (MA) 50 (72.00), MA 100 (80.00) dan MA 200 (80.90).

Wahyu memprediksi harga batubara akan cenderung konsolidasi di kisaran US$ 70-US$ 75 per ton dalam sepekan. Adapun, hingga akhir kuartal pertama tahun ini, harga batubara akan bergulir di US$ 68- US$ 77 per MT. Sedangkan, Guntur memprediksi harga sepekan ke depan di kisaran US$ 72-74 per ton. Dan hingga akhir kuartal pertama tahun ini, batubara bergulir di US$ 72-US$ 75 per ton.

Monday, February 3, 2014

Mengkilatnya Prospek Lautan Luas



imq21.com, 30 Jan 2014 10:34 WIB

IMQ, Jakarta —  Melalui model bisnis yang terintegrasi, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) terus mengembangkan bisnisnya ke seluruh penjuru negeri sebagai pemain regional yang terkemuka dalam hal distribusi dan manufaktur bahan kimia dasar dan khusus.

Bisnis perusahaan saat ini sudah tersebar tidak hanya di Indonesia, tapi juga diluar negeri seperti China, Thailand dan Vietnam yang berkoordinasi dengan kantor pusat urusan regional yang berbasis di Singapura.

Didirikan pada tahun 1951 portofolio perusahaan saat ini mencakup jenis produk kimia yang sangat beragam dan banyak produknya yang memiliki posisi dominan di pasar. Melayani berbagai segmen industri selaras dengan aplikasi bahan kimia yang luas juga melindungi LTLS dari volatilitas dalam industri tertentu.

Dalam 10 tahun terakhir, perseroan telah mendirikan lima fasilitas produksi di Indonesia dan luar negeri, di mana yang terbaru adalah fasilitas produksi PT Lautan Natural Krimerindo (LNK) yang menghasilkan non-dairy creamer.

LTLS juga telah berhasil mengubah divisi logistik menjadi anak usaha yang independen setelah merestrukturisasi divisi tersebut pada 2001 dan bisnisnya telah berkembang pesat. Bisnis logistik saat ini telah menghasilkan pendapatan lebih dari Rp400 miliar dan terus bertumbuh.

Hal tersebut mendorong pendapatan LTLS terus bertumbuh dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) 18% selama empat tahun terakhir.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Guntur Tri Hariyanto dalam risetnya mengungkapkan berdasarkan estimasi pihaknya optimis LTLS dapat mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang menguntungkan sebesar CAGR 13% sepanjang 2013-2016.

"Penghapusan high-speed diesel dari portofolio produk LTLS menguntungkan marjin laba kotor perusahaan, naik menjadi 15,3% pada kuartal III-2013 dari hanya 13,2% pada 2012," terangnya.

Guntur juga memprediksi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan akan menjadi lebih kuat di tahun-tahun mendatang, sehingga LTLS diperkirakan akan mengalami peningkatan rasio EBITDA to net-interest mencapai lebih dari 5,0x pada 2015.

Dari hal tersebut analis menilai harga saham untuk 12 bulan akan berada pada posisi Rp1.635– Rp2.000 per saham. 
Author: Irwen Azhari

Saturday, February 1, 2014

Bisnis Papercore dan Distribusi Kimia yang Menjanjikan


imq21.com, 30 Sep 2013 05:09 WIB 


IMQ, Jakarta —  Ekonomi global masih dibayangi oleh melemahnya permintaan terutama dari pasar berkembang dan resesi Eropa yang berlarut-larut.

Perekonomian Indonesia, di sisi lain, mengalami kesulitan memenuhi target pertumbuhan tahun ini disebabkan melebarnya defisit neraca berjalan dan tingginya inflasi.

IMF telah merevisi turun proyeksi ekonomi global akibat melambatnya permintaan domestik dan kredit di pasar berkembang utama, seperti China dan India, berlarut-larut resesi di zona Eropa, dan kuatnya kontraksi fiskal di Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, perekonomian Indonesia berjuang untuk tumbuh lebih dari 6% tahun ini, sebagai akibat dari melebarnya defisit transaksi berjalan, meskipun defisit impor minyak diperkirakan menurun dan neraca keuangan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif.

Selain itu, inflasi yang tinggi sekitar 8,9% pada Agustus 2013 akan diikuti oleh kenaikan suku bunga dan meningkatnya biaya tenaga kerja dan listrik akan memberikan tekanan pada profitabilitas.

Meskipun terjadi penyusutan permintaan di AS dan Eropa sekitar 70-75% ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT), Pefindo memperkirakan ekspor industri ini masih akan bertumbuh sekitar CAGR 9% selama 2009-2013. Terpuruknya tekstil Bangladesh juga akan menguntungkan ekspor TPT Indonesia.

Lebih lanjut, pemerintah telah menyalurkan sekitar Rp552 miliar sejak 2010 hingga semester pertama tahun ini untuk program revitalisasi mesin industri TPT dan industri alas kaki, sehingga Pefindo percaya akan meningkatkan daya saing dan output industri-industri tersebut.

Selain itu, permintaan properti residensial di Indonesia dengan jumlah 800.000 unit atau hampir dua kali lipat kapasitas pasokan pengembang. Diperkirakan bahwa properti komersial akan tumbuh 200% sepanjang 2011-2021 dengan total kontribusi properti Indonesia mencapai 2,5% pasar global.

Khusus untuk Jakarta, tahun ini mendapat predikat kota paling menguntungkan baik untuk investasi maupun pengembangan properti. Selain itu, tumbuhnya harga perubahan hige-end di Jakarta merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik pada kuartal dua tahun ini.

Penjualan mobil domestik mencapai 1,1 juta unit pada 2012. Pasar ASEAN diperkirakan menjadi pasar otomotif terbesar kelima di dunia dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun sekitar 5,8%. Sejalan dengan perkembangan ini, pasar mobil Indonesia diperkirakan mencapai penjualan lebih dari dua juta unit per tahun pada 2019.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan akan terdapat lebih banyak investasi di industri otomatis untuk melayani permintaan domestik," kata analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto.

Pasar kimia global diperkirakan akan tumbuh sekitar 4-5% per tahun secara rata-rata sampai dengan 2015, dengan pasar Asia yang mengalami tingkat pertumbuhan paling cepat di sekitar 7%. Sementara itu, konsumsi bahan kimia Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara maju.

Industri kimia merupakan kontributor penting dalam penciptaan nilai tambah untuk industri berukuran besar dan menengah di Indonesia, dan diperkiraan tumbuh sekitar 6-7% per tahun.

Saat ini, PT Alkondi Naratama Tbk (ALDO) sedang mempersiapakan diri memenuhi meningkatnya permintaan dari Indorama pada 2014 mendatang dengan memperbesar kapasitas produksi papertube. Pada tahun ini, manajemen menargetkan peningkatan 5% dalam kapasitas produksi papertube, atau 1.000 ton kapasitas tambahan.

"Kami memperkirakan volume penjualan papertumbe akan menurun 3% pada tahun ini sebagai akibat dari pergeseran dan papertube tipe draw textured yarn ke tipe partially oriented yarn. Namun, kami memperkirakan nilai penjualan akan sedikit meningkat, yang menunjukkan nilai tambah dan struktur biaya yang lebih baik," paparnya.

Papertube ALDO sebagian besar diserap oleh industri benang polyester dan perusahaan pendukung otomotif, seperti perusahaan ban dan jok mobil. Selain papertube, ALDo memiliki bisnis papercore yang secara luas digunakan di industri kemasan fleksibel, terutama kemasan makanan ringan.

Pendapatan papercore tumbuh 35% pada tahun lalu dan diperkirakan bisa tumbuh lebih dari 50% tahun ini, sekalan dengan investasi yang lebih besar untuk peningkatan kapasitas produksi di tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, ALDO berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi papercore sekitar 31% menjadi 6.800 ton. Perusahaan juga bermaksud terlibat dalam produksi filmcore, yang digunakan untuk kemasan fleksibel, namun memiliki aplikasi yang luas termasuk untuk kertas, kain, dan kertas timah.

ALDO telah berhasil menjadikan Indopoly dan Indofood sebagai pelanggan filmcore.

"Kami memperkirakan bahwa pendapatan papercore akan tumbuh 44% CAGR 2011-2014 dan kontribusinya terhadap total pendapatan akan terus naik menjadi 11% pada tahun depan," urainya.

ALDO juga memiliki bisnis honeycomb, terbuat dari karton berbentuk seperti sarang lebah dengan struktur heksagonal yang memiliki berbagai kualitas unggul seperti lebih kuat, lebih tingan, dan serbaguna. Honeycomb dapat digunakan untuk perabotan, pintu, partisi, kemasan, dan palet kertas.

Saat ini, ALDo merencanakan untuk memasang mesin honeycomb yang lebih terintegrasi pada 2014. Diharapkan dapat mengurangi sampah serta memiliki efisiensi dan keluaran yang lebih tinggi. Untuk tahun ini, rencanana meningkatkan kapasitas produksi menjadi 4.000 ton dari 3.500 ton pada 2012.

"Walaupun demikian, kami memperkirakan pendapatan honeycomb tahun ini akan cenderung sama dengan tahun lalu dan kontribusinya terhadap total pendapatan akan berada di sekitar 5%," kata dia.

Sementara produk 'edge protector' atau produk pendukung hanya berkontribusi kecil terhadap total pendapatan.

Meskipun kondisi ekonomi sedang meredup, Pefindo tetap optimis tentang prospek ALDO dengan mempertimbangkan kuatnya segmen kelas menengah di Indonesia yang terus berkembang, gencarnya pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya investasi asing.

Pada semester pertama tahun ini, pertumbuhan perusahaan didukung oleh papercore 56% dan bahan kimia 45%. Mengingat papercore dan bahan kimia kemungkinan terus memberikan pertumbuahn yang kuat dan prospek lainnya tetap positif, maka kinerja perusahaan diperkirakan terus meningkat.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan ALDO akan membukukan pendapatan sekitar Rp338 miliar pada tahun ini dan akan terus mencatat pertumbuhan yang positif dengan CAGR sekitar 16% untuk 2010-2014," ujarnya.

"Dengan melihat meningkatnya permintaan bahan kimia seiring dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi negara ini yang stabil, kami menilai segmen kimia ALDO memiliki prospek yang menjanjikan," terangnya.

Untuk memperkaya portofolio produknya, ALDO berencana melakukan diversifikasi produk ke kimia non tekstil.

Pefindo memperkirakan tingkat utang ALDO akan melanjutkan tren penurunannya sejalan dengan EBITDA yang lebih kuat dari tahun ke tahun. Pada 2012, rasio modal terhadap utang meningkat menjadi 0,8 kali dibandingkan 0,4 kali pada 2010.

"Namun kami memperkirakan rasio menguat ke 0,9 kali pada tahun ini dan target harga Rp750-890," tuturnya.
Author: Susan Silaban

Thursday, January 30, 2014

Harga saham INTA diproyeksi Rp350-500/saham



J Erna
Selasa,  10 Desember 2013  −  14:52 WIB
Sindonews.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan harga saham PT Intraco Penta Tbk (INTA) untuk 12 bulan sekitar Rp350-500 per lembar saham. Harga saham INTA saat ini di level Rp260 per lembar saham.

Proyeksi harga saham tersebut didukung dimulainya tren peningkatan harga batu bara sejak akhir Oktober tahun ini, dimana harga komoditas tambang itu kembali berada di atas USD80 per ton.

"Selain itu, datangnya musim dingin mendatang di sejumlah negara yang dapat meningkatkan permintaan batu bara," kata analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto dalam risetnya, Selasa (10/12/2013).

Di samping itu, meski produksi alat berat menurun sebesar 28 persen sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini seiring dengan menurunnya produksi yang diperkirakan sekitar 20 persen, namun jasa penyewaan INTA menyediakan alternatif bagi pemilik bisnis.

"Hal itu memungkinkan mereka untuk mengantisipasi siklus bisnis yang lemah," ujar dia.

Perseroan berencana memperkuat bisnis jasa penyewaan dan menambah sekitar 30-40 unit alat berat untuk disewakan pada tahun ini. Pendapatan sewa tercatat melonjak 45 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2013.

Agka itu lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang naik 77 persen, namun kontribusi bisnis meningkat menjadi 5,3 persen dibanding 2011 sekitar 2,5 persen.

"Meskipun pendapatan menurun 14 persen di 2012 dan turun 5 persen di sembilan bulan pertama tahun ini, kami memperkirakan INTA membukukan pertumbuhan moderat sekitar 6 persen," prediksi Guntur.

Hal itu mempertimbangkan adanya indikasi permintaan alat berat akan sedikit rebound. Selain itu, bisnis sewa guna usaha (leasing), suku cadang (spareparts) dan pemeliharaan alat berat (maintenance) diprediksi akan tumbuh positif.

Pefindo memproyeksikan, pendapatan INTA di penghujung tahun bisa mencapai Rp2,74 triliun atau naik 5,4 persen dibanding tahun lalu senilai Rp2,6 triliun.

Akibat menyusutnya permintaan global dan jatuhnya harga komoditas yang berlangsung lama, perseroan diprediksi akan membukukan kerugian sebesar Rp222 miliar di akhir 2013, sedangkan tahun lalu mencatat laba bersih senilai Rp30 miliar.

Sementara pada kuartal III/2013, perseroan mencatat rugi Rp165 miliar dengan pendapatan tercatat sebesar Rp1,96 triliun.

Namun mulai membaiknya harga batu bara dan permintaan akan memberi imbas positif pada tahun depan. Diprediksi laba bersih perseroan pada 2014 bisa sama dengan tahun lalu, yakni Rp30 miliar, dengan pendapatan meningkat menjadi Rp3,16 triliun.

(rna)

Prospek Selamat Sempurna diproyeksi menjanjikan



J Erna
Kamis,  2 Januari 2014  −  15:02 WIB
Sindonews.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) pada tahun ini memiliki prospek yang menjanjikan seiring meningkatnya pertumbuhan penjualan mobil. 

Analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan akan turun di bawah 6 persen karena diterpa isu defisit transaksi berjalan, tingginya inflasi dan depresiasi rupiah, namun penjualan mobil akan sama dengan tahun lalu atau sekitar 1,2 juta unit.

"Program LCGC (low cost green car) diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan mobil, dimana pada November sudah terjual hampir 37.000 unit," kata dia dalam risetnya, Kamis (2/1/2013).

Di samping itu, menurut Guntur, kegiatan investasi emiten yang bergerak di bidang suku cadang automotif ini cenderung meningkat. Pada 2012-2013, perseroan melakukan investasi Rp237 miliar.

Pada tahun itu, perseroan mengakuisisi perusahaan afiliasinya yang memproduksi karoseri, PT Hydraxle Perkasa (HP) dan tahun lalu kembali mengakuisisi perusahaan afiliasi lainnnya, yakni PT Selamat Sempana Perkasa (SSP) yang merupakan pemasok komponen karet dan lainnya dan PT Prapat Tungga Cipta (PTC) yang menjadi distributor tunggal SMSM di pasar domestik.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, akusisi SSP dan PTC memberi kontribusi sekitar 5 persen terhadap pendapatan dan 8 persen untuk laba bersih perusahaan.

Selain itu, perseroan juga berencana memperluas segmen pasar konstruksi bekerja sama dengan Sueyoshi Co Ltd untuk memproduksi tangki bahan bakar dan tangki hidrolik untuk segmen konstruksi.

"Kami mengekspektasikan SMSM akan meneruskan pertumbuhan pendapatan yang positif, meski pertumbuhan tahun ini terutama dengan cara anorganik," ujar dia.

Sementara dengan membaiknya ekonomi global, terutama Amerika Serikat (AS) dan negara berkembang di Asia, dia memperkirakan, penjualan ekspor akan tumbuh 8 persen pada tahun ini. Sedangkan di pasar domestik, LCGC akan mendorong penjualan suku cadang mobil SMSM di tengah memanasnya suhu politik di Tanah Air. Pefindo optimistis industri automotif Tanah Air masih tetap terjaga.

"Kami percaya bisnis SMSM memiliki msa depan yang cerah dengan berbagai peluang di depan, terlebih didukung kemampuan dalam mengelola lingkungan bisnis yang menguntungkan," tutur dia.

Hingga penghujung 2013, Pefindo memproyeksikan SMSM bisa membukukan penjualan sebesar Rp2,33 triliun dengan laba bersih Rp261 miliar. Kinerja ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, dimana SMSM membukukan penjualan Rp2,16 triliun dengan laba bersih Rp233 miliar.

Sementara pada tahun ini, Pefindo memprediksi bahwa SMS bisa membukukan penjualan mencapai Rp2,59 triliun, dengan laba bersih meningkat menjadi Rp405 miliar.

Harga saham perseroan untuk 12 bulan diperkirakan akan berada pada kisaran Rp3.500-3.800 per saham. Pada perdagangan hari ini, harga SMSM dibuka pada level Rp3.550 per saham dan pada pukul 15.00 WIB, harga saham perseroan meningkat menjadi Rp3.625 per saham.   

(rna)

Saturday, July 6, 2013

Melirik Prospek Intiland Development



imq21.com, 3 Jul 2013 10:26 WIB

IMQ, Jakarta —  Kebutuhan properti yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya memberikan ruang bagi emiten properti, PT Intiland Development Tbk (DILD) untuk menggenjot kinerjanya.

Sebagai pengembang, Intiland dikenal inovator dan penggagas trend di industri properti Indonesia, dimana dalam beberapa tahun perseroan mengembangkan banyak gedung yang menjadi ikon nasional diantaranya melalui Intiland Tower dua gedung di Jakarta dan Surabaya yang dirancang oleh Paul Rudolph dan The Regatta, kondominium tepi pantai yang mewah di Pluit, Jakarta Utara dirancang oleh Tom Wright (perancang Burj Al Arab).

Perseroan memiliki portofolio produk properti beragam, termasuk kawasan pemukiman, gedung perkantoran, apartemen, pengelolaan gedung, kawasan industri, serta pengelolaan sarana olah raga dan golf.

Mengalami tahun yang menggembirakan pada 2012, pendapatan emiten Bursa Efek Indonesia berkode saham DILD naik 34% menjadi Rp1,26 triliun.

Meskipun proyek baru mendominasi selama dua tahun terakhir, perseroan memiliki marjin laba kotor yang tetap kompetitif pada tingkat 38% -39%.

Terlebih, marjin laba kotor naik menjadi 47% pada kuartal I-2013 disebabkan oleh melonjaknya bisnis kawasan industri, menandai permulaan dari sebuah fase baru yang menguntungkan bagi perseroan .

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Guntur Tri Hariyanto dalam risetnya mengungkapkan pihaknya melihat DILD memiliki cadangan lahan yang memadai untuk pertumbuhan di masa depan, dengan saat ini memiliki sekitar 1.900 hektar.

“Terlebih, leverage DILD masih rendah dengan rasio net debt to equity hanya 0,2x,” jelasnya.

Lebih lanjut untuk ekspansi, perseroan merencanakan belanja modal (capex) sekitar Rp1,85 triliun pada tahun ini dan Rp2,61 triliun pada 2014.

“Berfokus pada properti kelas atas dan dengan proyek-proyek baru dan menarik di dalam pipeline, kami memandang DILD memiliki prospek yang cerah di masa depan,” paparnya.

Dari hal tersebut analis memprediksi target harga saham perseroan untuk 12 bulan adalah Rp710- Rp1.040 per lembar saham. 

Menilik Hasil Pengalihan Pasar Gunawan Steel



Bisnis Indonesia, Selasa, 18 Juni 2013
Herdiyan, herdiyan@bisnis.co.id



Harga saham PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) di proyeksikan naik menjadi Rp125-Rp135 tahun ini. Dengan posisi Rp98 per saham pada penutupan Senin (17/6), saatnya jual atau beli?

Didirikan pada 1989, Gunawan Steel baru memulai produksi komersial pada 1993. Perusahaan tersebut menjadi salah satu produsen rolling mill steel plate terkemuka di Asia Tenggara.

Setelah melakukan penggantian motor utama rolling machine pada September 2012, kapasitas produksi perseroan meningkat menjadi 400.000 ton per tahun. Saat ini kapasitas produksinya 480.000 ton per tahun. Secara bertahap, produksi akan ditingkatkan menjadi 550.000 ton per tahun.

Setelah melewati masa sulit tahun lalu, konsumsi baja global tahun inidiproyeksi tumbuh 2,9% dari capaian tahun lalu 1,2%. Menurut World Steel Association, konsumsi baja 2013 berdasarkan apparent steel use akan naik menjadi 1.454 ton dan naik lagi jadi 1.500 ton tahun depan atau tumbuh 3,2%. Di pasar domestik, konsumsi baja tumbuh 7% pada tahun lalu dan di perkirakan akan tumbuh sebesar 8,5%-9,5% di tahun ini. Meskipun konsumsi baja per kapita Indonesia sebesar 44 kg, Indonesia termasuk sa lah satu yang terendah di Asia Tenggara.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan konsumsi domestik akan meningkat dengan dukungan dari pembangunan sejumlah proyek pemerintah serta ekspansi yang agresif dari sektor properti dan otomotif.

Oleh karena itu, Pefindo menilai strategi perseroan untuk meningkatkan kapasitas produksi sebesar 20% atau setara dengan 480.000 ton per tahun sangat tepat, melihat per tumbuhan industri baja nasional di prediksi sebesar 7% tahun ini.

TUMBUH KONSISTEN

Dengan pandangan tersebut dan ditambah dengan kinerja Gunawan Steel di industri ini, Pefindo optimistis pendapatan perseroan secara tahunan akan tumbuh konsisten sebesar 15% hingga 2015. Pefindo juga membuat beberapa penyesuaian terhadap proyeksi sebelumnya dan menyesuaikan target harga berkisar Rp125-Rp135 per saham. Proyeksi itu didasarkan atas pergeseran segmen pasar dari ekspor ke domestik.

“Kendati begitu, pasar baja lokal diprediksi tetap tumbuh,” tutur analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto.
Sejak awal 2012 Gunawan Steel telah mengubah strategi dengan mengalihkan target pasarnya ke dalam negeri. Hal ini terbukti sukses karena pendapatan Gunawan Steel dari pasar dalam negeri tumbuh 31% menjadi Rp591 miliar pada pertengahan 2012.

Pefindo optimistis pendapatan perseroan akan mulai tumbuh positif sekitar 14% pada tahun ini. Meski begitu, kondisi tahun lalu yang sulit menyebabkan penjualan Gunawan Steel turun 21%, ditandai oleh penurunan ekspor 64%. Koreksi itu pun berlanjut hingga kuartal I 2013, saat penjualan turun 29%.

Untuk mengatasi hal ini, Gunawan Steel berhasil mengalihkan fokus ke pasar domestik hingga membaiknya pasar ekspor. Sepanjang tahun lalu, laba kotor perusahaan turun 45% dan margin kotor turun dari 11,8% menjadi 8,2%.

Perseroan lalu memutuskan tetap menjual produknya meskipun margin keuntungan menurun. Setali tiga uang, akhirnya terjadi rebound di kuartal I 2013. Sejalan dengan peningkatan harga baja akhir tahun lalu, laba kotor perseroan tumbuh 31% dan margin laba kotor naik menjadi 12,6%.

Kendati demikian, laba tahun ini akan terkena dampak penaikan harga harga bahan bakar minyak (BBM) yang berada di kisaran 30%-40%. Akan tetapi, Pefindo yakin Gunawan Steel dapat mengatasinya melalui efisiensi dan penguatan posisinya di pasar domestik.

Sejalan dengan itu, perseroan berencana membangun lini produksi baru dengan kapasitas 1 juta ton pelat baja per tahun, dengan belanja modal US$100 juta. Terletak di sebelah fasilitas produksi saat ini, manajemen memperkirakan proyek itu akan dimulai awal 2014 dan beroperasi komersial 2015.

Atas rencana ekspansi, Pefindo melihat neraca perusahaan tetap kuat, yang tercermin dari rasio lancar 2,0 kali dan rasio debt to equity 0,4 kali. Perseroan diharapkan bisa mempertahankan kondisi tersebut seraya melanjutkan rencana ekspansinya.


Sunday, June 30, 2013

PT Intraco Penta Tbk: Menanti Kebangkitan Harga Batubara



Investor.co.id, Harso Kurniawan | Rabu, 2 Januari 2013 | 15:35

Penjualan alat berat domestik diperkirakan meningkat pada 2013, seiring ekspektasi membaiknya harga batubara dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Suku bunga kredit yang rendah dan melonjaknya realisasi investasi juga menjadi katalis kuat pertumbuhan penjualan alat berat.

SEBAGAI salah satu pemain alat berat domestik, PT Intraco Penta Tbk (INTA) diyakini dapat memanfaatkan peluang itu. Distributor alat berat merek Volvo, Bobcat, Ingersoll-Rand, SDLG, Mahindra, dan Sinotruk itu diprediksi mampu  menuai kinerja positif sepanjang tahun ini.

Berdasarkan kalkulasi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), sepanjang 2011-2016, rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) pendapatan Intraco diproyeksikan mencapai 15%. Hal itu tentunya dapat berdampak positif terhadap saham Intraco berkode INTA.

Guntur Tri Hariyanto, analis Pefindo, menyatakan, harga batubara tahun lalu anjlok hingga 40%. Hal itu dipicu perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Imbasnya, penjualan alat berat domestik merosot tajam.

Per September 2012, volume penjualan hanya mencapai 71% dari total penjualan selama 2011. Sampai akhir 2012, penjualan alat berat diperkirakan turun.

Selama ini, alat berat digunakan untuk menambang batubara. Ketika harga batubara merosot, perusahaan tambang batubara menurunkan volume produksi, sehingga permintaan alat berat berkurang. “Penurunan harga batubara dibarengi dengan depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Sejak akhir Agustus 2012, nilai tukar rupiah mencapai Rp 9.500 per dolar AS,” tulis Guntur dalam laporan risetnya, belum lama ini.

Meski begitu, dia menyatakan, ekspektasi membaiknya perekonomian Eropa, AS, dan negara maju lainnya diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap harga batubara.  Nilai tukar rupiah pun diperkirakan menguat tahun ini.

Dia memperkirakan harga batubara naik moderat ke level US$ 100-105 per ton selama 2013. Sementara itu, nilai tukar rupiah diperkirakan menguat menjadi berkisar Rp 9.200-9.300 per dolar AS.

“Kami percaya kondisi tersebut akan mendorong penjualan alat berat pada 2013,” kata Guntur.

Di tengah tren penurunan industri pertambangan, Intraco mampu menghindari kemerosotan kinerja keuangan. Per September 2012, pendapatan stabil, yakni Rp 2,07 triliun. Namun, laba bersih anjlok 54% menjadi Rp 31 miliar, dibandingkan periode sama 2011 Rp 68 miliar.

Mempertimbangkan kinerja selama sembilan bulan 2012, Guntur perkirakan perseroan dapat membukukan total pendapatan sekitar Rp 3,05 triliun atau tumbuh 1,5% dari 2011 Rp 2,06 triliun.

Pendapatan Intraco masih bisa positif, karena dibantu segmen usaha penjualan suku cadang, pemeliharaan, dan pembiayaan alat berat. Segmen itu diperkirakan bertumbuh 10%, sedangkan pendapatan perdagangan alat berat ditaksir terpangkas 2%.

Selanjutnya pada 2013, Guntur menaksir pendapatan Intraco tumbuh 21% menjadi Rp 3,69 triliun. Laba bersih ditaksir melonjak 74% menjadi Rp 134 miliar.
Intraco Penta menargetkan penjualan alat berat pada 2012 mencapai 1.900 unit atau meningkat 20% dibandingkan 2011 sebanyak 1.585 unit.

Intraco menerapkan model bisnis yang terintegrasi. Perseroan merangsek ke bisnis yang ada kaitannya dengan alat berat. Saat ini, perseroan dan sejumlah anak perusahaannya bergerak di sektor pembiayaan (termasuk pembiayaan syariah) dan perdagangan alat berat, distribusi, sewa, manufaktur, kontraktor pertambangan, dan bisnis batubara.

Intraco Penta berniat mengakuisisi tambang batubara di Kalimantan Timur pada 2012. Perseroan telah membentuk anak usaha bidang tambang batubara, PT INTA Resources. Namun, rencana itu dibatalkan, menyusul amblesnya harga batubara.

Perseroan mengelola 44 jaringan distribusi yang tersebar di Indonesia dan mempekerjakan lebih dari 2.300 orang. Pada 2011, perseroan mencatat sejarah baru dengan mencetak pendapatan Rp 3 triliun dan aset Rp 3,7 triliun, tumbuh masing-masing 64% dan 129%.

“Di masa yang akan datang, kami berharap perseroan dapat terus tumbuh dengan laju yang baik, dengan didukung oleh model bisnis terintegrasi. Melalui strategi itu, Intraco dapat memberikan one stop business solution kepada pelanggannya,” kata Guntur.

Pefindo menetapkan target harga saham INTA berkisar Rp 520- ...
Baca selengkapnya di Investor Daily versi digital di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

Saturday, June 29, 2013

Kinerja Emiten Batu Bara Masih Bisa Membaik



Medanbisnisdaily.com, Senin, 06 Mei 2013 06:27 WIB

 MedanBisnis – Jakarta. Kinerja keuangan emiten perusahaan pertambangan, khususnya batu bara diperkirakan pada tahun ini masih bisa membaik. Meskipun, harga batu bara dan ekonomi negara tujuan ekspor masih belum stabil.
Analis Pefindo, Guntur Tri Hariyanto mengatakan, tidak cemerlangnya laba perusahaan batu bara bukan saja karena harganya yang mengalami penurunan, tetapi permintaannya juga menurun.
"China merupakan tujuan ekspor batu bara terbesar bagi perusahaan batu bara di Indonesia, karena perekonomian di sana masih belum stabil," kata Guntur di Jakarta, Minggu (5/5).

Menurut dia, harga batu bara diperkirakan akan membaik di kuartal tiga atau empat pada tahun ini. Namun, kenaikan harga tersebut tidak seperti di tahun sebelumnya.

"Yang jelas, awal tahun 2014 harga batu bara sudah bisa membaik, dengan didukung perekonomian negara tujuan ekspor batu bara juga ikut stabil," ungkap Guntur.

Diketahui, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) salah satu emiten pertambangan batu bara membukukan laba bersih turun 66% menjadi US$ 41,6 juta pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 121,8 juta. Harga jual rerata turun 18% (yoy) pada kuartal pertama 2013. Hal itu karena pengaruh melemahnya indeks harga batu bara global. (inh)

Tiga Pilar Lipat Gandakan Produksi Beras



Koran-jakarta.com, Rabu, 17 April 2013
JAKARTA – PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk (AISA) memastikan bakal mendongkrak produksi beras hingga dua kali lipat menjadi 480 ribu ton sepanjang tahun 2013 ini. Bisnis beras memang menjadi kontributor terbesar bagi bisnis perseroan, selain produksi makanan dan minyak sawit mentah.

Dari total belanja modal sebesar 808,9 miliar rupiah, jatah untuk produksi beras mencapai 369,5 miliar rupiah atau sebesar 45,68 persen dari capital expenditure tersebut. Realisasi produksi tahun lalu sebesar 240 ribu ton.

Demi mencapai raihan produksi beras yang dibidik, perseroan tengah membangun dua pabrik penggilingan beras di Jawa tengah. Rencananya, dua pabrik itu dapat dioptimalisasi penggunaannya tahun ini. "Total produksi pada tahun ini jadi 480 ribu ton per tahun," kata Presiden Direktur Perseroan, Joko Mokoginta, dalam paparan publik, Selasa (16/4).

Sementara itu, untuk produksi makanan, perseroan menganggarkan dana sebesar 136,4 miliar rupiah. Perseroan bakal mengembangkan produk yang telah ada maupun produk anyar. Beberapa merek andalan perseroan, antara lain makanan ringan Taro, Mie Kremez, dan mie kering Dua Telor.

Di sayap usaha minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), belanja modal yang disiapkan 303 miliar rupiah siap digelontorkan dari kantong internal untuk penambahan lahan tertanam seluas 7,7 ribu hektare (ha).

Tiga Pilar juga berencana mengakuisisi lahan baru untuk mendorong produktivitas CPO, namun perseroan belum bersedia memaparkan. Total konsesi lahan perkebunan kelapa sawit milik perseroan saat ini adalah seluas 93 ribu ha.

Perseroan juga akan melakukan penyesuaian harga basic food sebesar 5 persen karena adanya kenaikan upah pekerja, tarif dasar listrik dan kenaikan harga bahan baku. "Adjusment-nya baru akan dilaksanakan bulan depan," tambah Joko.

Omzet Rp5 Triliun
Perseroan menargetkan akan dapat meraih pendapatan pada tahun ini sebesar 5 triliun rupiah. Jika terwujud, Tiga Pilar mencetak pertumbuhan signifikan sebesar 85,19 persen dari capaian 2012 yang mencapai 2,75 triliun rupiah.

"Target laba sebesar 300 miliar rupiah untuk tahun ini," tambah Joko. Tahun lalu, perseroan mencetak keuntungan sebesar 211,2 miliar rupiah alias di tahun ini pertumbuhan yang diincar sebesar 42,05 persen.

Komposisinya, sebesar 2,8 triliun rupiah yang dihasilkan dari beras (56 persen), 2 triliun rupiah dari produksi makanan (40 persen), dan sisanya sebesar 200 miliar rupiah berasal dari hasil perkebunan kelapa sawit (4 persen).

Selain itu, perseroan mematok target angka dari hasil ekspor makanan ringan sebesar 200 miliar rupiah. Tiga Pilar Sejahtera akan merambah ke Eropa dan Timur Tengah tahun ini guna memperluas distribusi. Sejauh ini pasar yang digarap ialah AS dan Australia.

Analis dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Guntur Tri Hariyanto, mengatakan prospek bisnis emiten produsen makanan masih bagus di tahun ini, terutama Tiga Pilar Sejahtera. Dia juga meramalkan bahwa pertumbuhan emiten produsen makanan normalnya tumbuh 15 sampai 20 persen. "Untuk Tiga Pilar harusnya bisa tumbuh di atas itu," tambahnya.

Bisnis utama perseroan yang bergerak di bidang beras sebagai makanan pokok dan makanan ringan menjadi penopang keyakinan bakal terus melajunya kinerja Tiga Pilar. Mengenai rencana ekspansi ke regional lain, Guntur juga mengatakan ini adalah langkah positif dalam diversifikasi raihan pendapatan.

Dia juga menilai pelaku pasar modal juga menunjukkan kepercayaan terhadap geliat bisnis perseroan. "Reaksi positif masih didapatkan perseroan, hal ini terlihat dengan pertumbuhan harga saham yang saat ini menyentuh harga 1.300 rupiah. Melihat tren beberapa waku terakhir, harga saham cenderung naik, biasanya tidak sampai 1.000 rupiah, namun saat ini mencapai 1.300 rupiah. Artinya, pasar melihat yang dilakukan Tiga Pilar Sejahtera memiliki potensi yang baik," pungkasnya. git/e-7

Friday, June 25, 2010

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk: Besarnya Pengaruh Harga Bahan Baku

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 24 Mei 2010




PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk didirikan pada tahun 1972. Perusahaan memiliki ruang lingkup kegiatan usaha meliputi produksi dan perdagangan pakan ternak, peralatan peternakan dan pengolahan daging ayam serta penyertaan saham pada perusahaan lain. Saat ini, sebesar 55,45% kepemilikan saham perusahaan dimiliki oleh PT Central Agromina, sedangkan sisanya dimiliki oleh publik. Perusahaan masih merupakan bagian dari grup Charoen yang dikendalikan oleh keluarga Jiaravanon dari Thailand.

Dapat dikatakan bahwa perusahaan terutama bergerak dalam industri pakan ternak. Hal ini dapat terlihat dari 75% pendapatan perusahaan dikontribusi dari usaha pakan ternak, terutama pakan ternak unggas. Pakan ternak memiliki kontribusi hingga mencapai sekitar 70% dari total biaya produksi peternakan. Peternakan unggas menyerap sekitar 83% dari produksi pakan ternak, sedangkan sisanya diserap oleh peternakan babi, sapi perah, akuakultur, dan peternakan lainnya.

Industri pakan ternak adalah industri yang didominasi oleh perusahaan dengan modal asing. Beberapa perusahaan besar yang bermain dalam industri ini adalah Charoen Pokphand, Japfa Comfeed, Sierad Produce, CJ Feed, Gold Coin, dan Sentra Profeed. Diperkirakan kapasitas produksi pakan ternak saat ini sekitar 14-15 juta ton per tahun, namun daya serap industri peternakan terhadap pakan ternak diperkirakan hanya sekitar 8-9 juta ton per tahun.

Salah satu permasalah utama yang dihadapi oleh industri pakan ternak adalah kebutuhan bahan baku yang masih perlu diimpor terutama untuk bahan baku jangung, bungkil kedelai, tepung tulang & daging, serta tepung daging unggas. Kontribusi nilai bahan baku dapat mencapai 60% dari biaya produksi pakan ternak. Jagung sebagai bahan baku porsinya dalam pakan ternak dapat mencapai sekitar 50%. Selain itu, anacaman virus flu burung juga masih menghantui para peternak, sehingga dapat mengancam industri pakan ternak.

Bisnis dan Keuangan

Tiga sumber pendapat utama perusahaan adalah dari segmen bisnis pakan ternak, anak ayam usia sehari, dan ayam olahan. Masing-masing memberikan kontribusi pendapatan pada kisaran 75%, 15% dan 8%. Fasilitas produksi pakan ternak perusahaan tersebar di berbagai kota, yaitu: Medan, Lampung, Tangerang, Semarang, Sidoarjo dan Makasar. Sedangkan fasilitas produksi anak ayam usia sehari tersebar di berbagai pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Segmen bisnis ayam olahan perusahaan juga terus berkembang sejak dibangun pada tahun 2000, dan meningkat dari tahun ke tahun terutama sejak tahun 2006.

Pendapatan perusahaan bertumbuh secara konsisten setiap tahunnya. Rerata pertumbuhan per tahun (CAGR) perusahaan dalam periode 2003-2009 mencapai sekitar 20,58%. Pada tahun 2003 pendapatan perusahaan berada di nilai Rp 4,30 triliun, sedangkan pada 2009 telah menjelma menjadi Rp 14,56 triliun. Pertumbuhan pendapatan juga diikuti dengan pertumbuhan harga pokok produksi (COGS) dengan tingkat yang hampir sama.

Rerata COGS beberapa tahun terakhir berada di kisaran 85% terhadap penjualan, namun pada tahun 2009 perusahaan mampu mencatatkan hanya sebesar 80,29%. Penurunan COGS didorong oleh menurunnya bahan utama pakan ternak pada tahun 2009, terutama harga jagung. Tahun 2009, perusahaan diuntungkan selain harga bahan baku tetapi juga oleh penurunan nilai tukar dollar terhadap rupiah, dua faktor yang signifikan dalam memberikan pengaruh pada laba perusahaan.




Sejak tahun 2004 nilai rasio hutang terhadap aset (DAR) perusahaan berada di kisaran 73%-76%. Dengan hasil uang kas dari keuntungan operasional pada tahun 2009 yang cukup banyak, perusahaan menurunkan beban hutangnya, sehingga DAR perusahaan menjadi hanya sekitar 45%. Sementara itu, rasio laba terhadap ekuitas (ROE) perusahaan mencapai di kisaran 17%-20% sejak tahun 2006. Demikian pula rasio laba terhadap modal yang diinvestasikan (ROIC) juga meningkat sejak tahun 2006, dan berada di kisaran 5%-8% hingga tahun 2008. Pada tahun 2009, ROE perusahaan melonjak tajam hingga mencapai lebih dari 50%, demikian pula terjadi peningkatan pada ROIC perusahaan.

Kinerja Saham

Harga saham perusahaan memiliki nilai risiko pasar (beta) di bawah satu, saat ini beta perusahaan berada di kisaran 0,8-1,0. Rasio harga saham perusahaan dibandingkan dengan IHSG menunjukkan tren penurunan sejak bulan April 2003 dan meningkat kembali ketika memasuki bulan-bulan akhir tahun 2007. Harga tertinggi penutupan saham perusahaan dicapai pada penutupan bulan April 2010.

Peningkatan tajam harga saham perusahaan saham perusahaan mulai terjadi pada pertengahan tahun 2007 dan kemudian mengalami penurunan pada saat krisis 2008. Seiring dengan pulihnya pasar saham peningkatan saham perusahaan juga terjadi pada tahun 2009 dan diteruskan hingga kuartal pertama 2010. Namun, peningkatan kali ini cukup mengejutkan, dengan harga tertinggi 2010 dibandingkan harga tertinggi 2007/2008 mencapai sekitar 2,5 kali. Pada saat ini PER perusahaan berkisar antara 5-6 kali, masih cukup rendah dibanding historis yang pernah terjadi pada tahun 2008. Namun demikian, PBV perusahaan telah berada pada kisaran yang tinggi berdasarkan historis yang pernah ada, yaitu antara 2,8-3,4. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel

PT Bakrieland Development Tbk: Dibawah Kendali Perusahaan Investasi

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 10 Mei 2010




PT Bakrieland Development Tbk merupakan salah satu perusahaan properti yang berada dalam Kelompok Usaha Bakrie. Bidang usaha perusahaan terutama dalam bidang properti dan infrastruktur yang terkait dengan properti. Dalam bidang usaha properti, perusahaan memfokuskan pada tiga area, yaitu: city property, landed residential, dan hotel & resort. Sedangkan dalam bidang usaha infrastruktur, perusahaan beroperasi dalam area jalan tol dan pengelolaan & distribusi air.

Pemegang saham perusahaan terbesar (24,38%) adalah Avenue Luxembourg Sarl sebuah perusahaan investasi yang merupakan bagian dari Avenue Capital Group, New York. Pemegang saham terbesar kedua adalah PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR), dengan kepemilikan sebesar 11,19%, yang juga merupakan sebuah perusahaan investasi.

Kinerja Keuangan

Rerata pertumbuhan pendapatan perusahaan sejak tahun 2003 hingga tahun 2009 mencapai sebesar 74,03%. Pendapatan perusahaan pada tahun 2003 hanya sebesar Rp 38,12 miliar, kemudian pada tahun 2009 mencapai Rp 1,059 triliun. Pertumbuhan pendapatan perusahaan juga dibarengi dengan pertumbuhan aset dan ekuitasnya. Pada tahun 2003, aset dan ekuitas perusahaan masing-masing sebesar Rp 683,96 miliar dan Rp 477,11 miliar. Pada tahun 2009, aset dan ekuitas perusahaan telah menjelma menjadi masing-masing Rp 11,593 triliun dan Rp 4,642 triliun. Dengan CAGR untuk aset sebesar 60,27% dan ekuitas sebesar 46,11%.




Pertumbuhan ekuitas tertinggi terjadi pada tahun 2005 dan 2007, dengan masing-masing pertumbuhan sebesar 132% dan 213%. Peningkatan ekuitas ini sebagian besar disebabkan oleh aksi perusahaan yang melakukan penawaran saham umum terbatas pada tahun 2005 dan 2007. Sementara itu rasio hutang perusahaan yang diwakili oleh debt-to-asset ratio (DAR) mulai meningkat pada tahun 2008 hingga mencapai 45,92%. Kemudian meningkat kembali pada tahun 2009 hingga mencapai 59,95%. Peningkatan ini terjadi disebabkan perusahaan mengeluarkan Obligasi I dengan nilai dasar sebesar Rp 500 miliar (2008) dan Sukuk Ijarah I dengan nilai dasar sebesar Rp 150 miliar (2009).

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba usaha perusahaan terus mengalami peningkatan secara nominal maupun persentase terhadap penjualan. Pada tahun 2003 laba usaha perusahaan hanya sebesar Rp 657 juta, sedangkan pada tahun 2009 mencapai lebih dari Rp 331 miliar. Sedangkan marjin laba usaha perusahaan (OPM) juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 OPM perusahaan hanya sebesar 1,72%, sedangkan pada tahun 2009 perusahaan mampu mencatatkan OPM sebesar 31,29%.

Sementara itu, laba bersih perusahaan juga cenderung meningkat secara nominal, walaupun cukup berfluktuatif dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 202 miliar, sedangkan tahun 2009 hanya sebesar Rp 132 miliar. Marjin laba bersih perusahaan sejak tahun 2004 berfluktuasi antara 17%-26%, namun pada tahun 2009 hanya sebesar 12,49%. Di lain pihak, return on equity (ROE) perusahaan berada di kisaran 3%-8%, dan pada tahun 2009 ROE perusahaan hanya sebesar 2,85%.

Berfluktuasinya laba bersih perusahaan banyak disebabkan oleh akun penghasilan lain-lain perusahaan di luar penghasilan operasionalnya, seperti: 1) penghasilan bunga, 2) amortisasi selisih lebih nilai wajar terhadap harga perolehan anak perusahaan, 3) laba atas penjualan investasi anak perusahaan, 4) laba selisih kurs, dan 5) laba penjualan/penghapusan aset tetap. Pada tahun 2009, masing-masing akun tersebut memiliki nilai sebesar Rp 23,94 miliar, Rp 10,47 miliar, Rp 4,06 miliar, Rp 4,55 miliar, minus Rp 5,32 miliar, dan minus Rp 6,79 miliar.

Pada tahun 2009 perusahaan berhasil menyelesaikan beberapa pembangunan di beberapa kota, yaitu: Bakrie Tower dan Lifestyle Center di Rasuna Episentrum, Hotel Pullman Bali Legian Nirwana, dan jalan tol Kanci-Pejagan. Dengan diselesaikannya ruas tol Kanci-Pejadan pada bulan Desember 2009, perusahaan memiliki harapan bahwa ruas tol ini akan memberikan pendapatan yang berkelanjutan. Terlebih nilai investasi yang digelontorkan mencapai sekitar Rp 2,2 triliun.

Kinerja Saham

Harga saham penutupan perusahaan tertinggi pernah mencapai Rp 660 per lembar saham pada akhir Februari 2008. Secara umum, perbandingan rerata return terhadap volatilitas harga saham perusahaan relatif dibawah IHSG, baik untuk pasar sedang mengalami tren kenaikan harga maupun penurunan harga. Perbandingan harga saham perusahaan terhadap IHSG memiliki nilai tertinggi sepanjang periode Februari 2004 hingga Agustus 2005, dan kemudian tidak pernah mencapai kembali walaupun pada saat terjadi kenaikan kembali pada bulan Agustus 2008 hingga Maret 2009.

Risiko pasar (beta) perusahaan terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sejak tahun 2007, beta saham perusahaan berada di kisaran 1,6 – 1,9. Sementara itu persepsi pasar terhadap current performance sejak tahun 2005 berada di bawah rerata perusahaan lainnya, demikian pula untuk future growth opportunity perusahaan secara umum. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk : Mengejar Pendapatan Berkelanjutan

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 3 Mei 2010




PT Kawasan Industri Jababeka Tbk merupakan perusahaan swasta pertama yang memperoleh izin untuk membangun suatu kawasan industri di Indonesia pada tahun 1989. Demikian pula merupakan perusahaan pengembang kawasan industri yang pertama kali menjadi perusahaan publik pada tahun 1994. Segmen bisnis perusahaan hingga saat ini terbagi dalam lima area, yaitu: 1) kawasan industri, 2) kawasan perumahan, 3) kawasan komersial, 4) infrastruktur, dan 5) golf.

Sebagian besar bisnis perusahaan terpusat di kawasan Jababeka, Cikarang. Beberapa bisnis perusahaan yang berada di luar Cikarang adalah kawasan industri Cilegon, Borobudur International Golf and Country Club di Magelang, dan perkantoran Menara Batavia di Jakarta.

Pada kawasan industri perusahaan menyediakan kavling industri dan pabrik siap pakai bagi perusahaan berskala kecil hinggal perusahaan multinasional berskala besar. Pada kawasan perumahan perusahaan menawarkan rumah dengan konsep kluster serta kondominium. Pada kawasan komersial perusahaan menyediakan ruko, ruang perkantoran, area komersial, dan kelab eksekutif. Sedangkan dalam bisnis infrastruktur perusahaan memberikan pelayanan pengelolaan air bersih, pengelolaan limbah, serta manajemen kawasan.

Kinerja Keuangan

Pendapatan perusahaan mengalami peningkatan pesat pada tahun 2005 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan pendapatan tercatat sebesar Rp 567,4 miliar, tertinggi sepanjang berdirinya perusahaan. Hal ini didorong oleh keberhasilan dalam usaha pemasaran kawasan industri di Cilegon untuk pertama kalinya. Namun, pada tahun-tahun berikutnya pendapatan perusahaan tidak dapat melebihi tahun 2005, dan berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 392,6 miliar.




Laba usaha perusahaan pada tahun 2009 tercatat sebesar Rp 46,8 miliar, menurun cukup tinggi dibandingkan tahun 2008 yang mencapai Rp 107,2 miliar. Perusahaan membukukan laba bersih pada tahun 2009 sebesar Rp 16,4 miliar, sedangkan pada tahun 2008 perusahaan membukukan rugi bersih sebesar Rp 62,4 miliar. Kerugian ini disebabkan oleh adanya rugi dari selisih kurs sebesar Rp 144,6 miliar dan pembayaran bunga pinjaman sebesar Rp 94,9 miliar. Laba perusahaan pada tahun 2009 terutama dibantu oleh adanya laba dari selisih kurs sebesar Rp 105,1 miliar, sebab pada tahun ini perusahaan masih melakukan pembayaran bunga pinjaman yang tinggi sebesar Rp 114,5 miliar dan terjadinya penuruan pendapatan sekitar 15% dari tahun sebelumnya.

Besarnya biaya bunga yang ditanggung oleh perusahaan terutama berasal dari pinjaman bridging loan facility yang digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik. Sementara itu nilai hutang perusahaan kembali meningkat pada tahun 2007 hingga 2009, setelah mengalami tren penurunan sejak tahun 2003 hingga 2006. Pada tahun 2009 nilai debt-to-assets ratio (DAR) perusahaan mencapai senilai 49,70%, meningkat cukup tinggi dibandingkan tahun 2006 yang hanya sebesar 14,98%. Peningkatan hutang perusahaan terkait dengan pendanaan bagi pembangunan berbagai proyek pengembangan yang sedang dilakukan perusahaan.

Pendapatan perusahaan untuk segmen kawasan industri dan perumahan pada tahun 2009 mengalami penurunan cukup tinggi, yaitu antara 30% – 60% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren stagnan dan kecenderungan penurunan pendapatan dari bisnis kawasan industri dan perumahan mendorong perusahaan untuk melakukan inovasi seperti melakukan pembangunan pembangkit listrik, dry port, movie land, dan medical city. Dalam hal ini dapat dikatakan perusahaan sedang berupaya menciptakan blue ocean bagi bisnisnya serta semakin mengintegrasikan produk dan jasanya.

Saat ini perusahaan memfokuskan diri untuk meningkatkan recurring revenue dengan lebih mengembangkan bisnis dengan produk dan jasa yang dibutuhkan secara berkelanjutan oleh pelanggannya. Data menunjukkan bahwa tiga segmen pendapatan perusahaan yaitu, jasa dan pemeliharaan, penyewaan ruang kantor dan ruko, dan golf terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di lain pihak, bisnis pembangkit listrik perusahaan telah menghasilkan pendapatan pada tahun 2009 mencapai 5,87% dari total pendapatan, walaupun masih mengalami kerugian.

Kinerja Saham

Pada tahun 2005 – 2008, nilai risiko pasar (beta) perusahaan cukup tinggi, yaitu antara 1,4 – 1,8. Pada tanggal 24 September 2007 saham perusahaan mencapai harga tertinggi dengan harga penutupan sebesar Rp 285 per lembar saham. Pada akhir November 2008 hingga awal April 2009, harga saham perusahaan stagnan di level Rp 50 per lembar saham. Harga saham perusahaan relatif terhadap IHSG mengalami tren penurunan sejak bulan November 2007. Fluktuasi harga saham perusahaan cukup tinggi dan berada di kisaran 50% hingga 80% dalam ukuran deviasi standar yang disetahunkan.

Sedangkan tingkat return saham perusahaan cukup lumayan terutama antara tahun 2004 hingga 2007 dan tahun 2009, dengan rerata return yang disetahunkan dapat berada di atas 50%. Sementara itu, persepsi pasar tentang current performance dan future growth opportunity masih di bawah rata-rata perusahaan lainnya. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel




PT Elnusa Tbk: Fokus Bisnis dan Peluang Pertumbuhan

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 26 Apr 2010




PT Elnusa Tbk merupakan perusahaan swasta nasional dengan bisnis yang melingkupi jasa hulu dan hilir migas, pengelolaan aset lapangan migas, serta manajemen data dan teknologi informasi. Core competency perusahaan terletak pada jasa layananan hulu yang terdiri dari tiga backbone competency, yaitu jasa seismik (geoscience), jasa pengeboran (drilling), dan jasa produksi ladang minyak (oilfield production).

Tahun 2007 adalah salah satu tahun terpenting dalam perkembangan bisnis perusahaan. Dengan melakukan penggabungan vertikal dan horisontal, perusahaan melakukan restrukturisasi dengan tujuan untuk menjadi perusahaan jasa migas yang terintegrasi dengan core business di bidang jasa hulu migas. Peluang pertumbuhan dan kebutuhan akan ekspansi mendorong perusahaan melakukan penawaran saham perdana (IPO) di pasar modal. Pada tanggal 6 Februari 2008 saham perusahaan pertama kali tercatat di Bursa Efek Indonesia. Sebagai bagian dalam fokus pada strategi jangka panjang, pada tahun 2009 perusahaan melakukan divestasi terhadap anak perusahaan PT Infomedia Nusantara yang bergerak di bidang jasa pelayanan direktori telepon, contact center dan content.

Pemilik saham terbesar perusahaan adalah PT Pertamina (Persero) dengan kepemilikan sebesar 41,10%. Sedangkan kepemilikan besar lainnya, yaitu sebesar 37,15% sedang dalam proses pengalihan dari PT Tridaya Esta kepada PT Benakat Petroleum Energy Tbk. Kondisi ini diharapkan tidak mengganggu jalannya bisnis perusahaan, dan ke depannya justru diharapkan dapat memberikan peluang karena kedua pemilik perusahaan memiliki eksposur yang luas dalam industri migas.

Kinerja Keuangan

Pendapatan dan laba perusahaan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pendapatan perusahaan pada tahun 2006 sebesar Rp 1,88 triliun, kemudian pada tahun 2009 mencapai Rp 3,66 triliun. Rerata pertumbuhan pendapatan tahunan (CAGR) sebesar 24,94%. Sedangkan laba operasi perusahaan pada tahun 2006 sebesar Rp 115,33 miliar dan di tahun 2009 mencapai Rp 276,29 miliar, dengan CAGR sebesar 33,80%.

Kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2009 diwarnai dengan lonjakan laba bersih sebesar 248,53%. Hal ini didorong oleh laba perusahaan dari penjualan saham PT Infomedia Nusantara. Namun demikian, tahun 2009 perusahaan membukukan peningkatan pendapatan dan laba usaha dibanding tahun sebelumnya masing-masing sebesar 43,96% dan 53,16%.




Pada tahun 2009 pendapatan perusahaan sekitar 60% disumbang oleh bisnis jasa hulu migas, kemudian diikuiti oleh jasa & perdagangan hilir migas (30%). Sisanya disumbang oleh bisnis jasa & perdagangan penunjang hulu dan manajemen data & teknologi informasi. Laba usaha terbesar disumbang oleh bisnis jasa hulu migas dengan porsi lebih dari 80% terhadap total laba usaha. Sedangkan pengelolaan aset lapangan migas yang dimiliki perusahaan, yaitu Blok Bengkanai (gas) dan Blok Ramba (minyak) dapat dikatakan masih belum memberikan kontribusi bagi pendapatan perusahaan.

Pada tahun 2009, bisnis jasa hulu migas, jasa & perdagangan penunjang hulu migas, serta jasa & perdagangan hilir migas perusahaan mengalami peningkatan pendapatan dan laba usaha yang cukup tinggi. Peningkatan tertinggi terjadi pada bisnis jasa & perdagangan hilir migas dengan pertumbuhan pedapatan dan laba usaha dibandingkan tahun sebelumnya masing-masing sebesar 89,72% dan 295,98%. Namun, bisnis manajemen data dan teknologi informasi justru mengalami pertumbuhan negatif, yaitu -11,88% untuk pendapatan, dan -43,03% untuk laba usaha.

ada tahun 2009, penerimaan pelanggan tertinggi disumbang oleh Grup Pertamina dan perusahaan swasta, masing-masing menyumbang 42,41% dan 37,41%. Pendapatan dari kedua kelompok meningkat dibandingkan tahun 2008, baik dari nilai uang maupun dari persentase terhadap total pendapatan pelanggan. Pendapatan dari Grup Pertamina mengalami peningkatan tajam pada kebutuhan jasa yang terkait dengan pengembangan energi geotermal dan gas. Kelompok pelanggan perusahaan swasta yang menggunakan jasa perusahaan diantaranya adalah Exxon, Petrochina, Chevron, Vico, Total, dan Medco.

Kinerja Saham

Pada hari pertama di pasar sekunder, harga saham perusahaan ditutup pada harga Rp 515 per lembar saham. Seiring dengan penurunan pasar, harga saham perusahaan juga menurun hingga tahun 2009. Kemudian meningkat pada tahun 2009 sejalan pula dengan peningkatan pasar. Ukuran risiko pasar (beta) saham perusahaan terletak relatif stabil antara 1,1-1,3.

Sejak pertama kali listing di pasar, rasio harga saham perusahaan dibandingkan dengan IHSG terus mengalami penurunan hingga bulan Maret 2009. Namun, sejak bulan Maret hingga Juni 2009, peningkatan harga saham perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan IHSG. Setelah itu, hingga bulan April 2010 rasio harga saham terhadap IHSG kembali mengalami penurunan. Kondisi ini terjadi karena harga saham perusahaan cenderung stagnan tetapi IHSG terus meningkat. Harga saham perusahaan mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan periode sebelumnya setelah keluarnya laporan keuangan tahunan 2009. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel




Friday, June 4, 2010

PT Medco Energi Internasional Tbk: Berjuang untuk Pertumbuhan

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 12 Apr 2010




PT Medco Energi Internasional Tbk (Medco) adalah salah satu perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang ekplorasi dan produksi minyak dan gas. Kegiatan perusahaan tidak terbatas di Indonesia tetapi telah menjadi perusahaan dengan kegiatan internasional. Di Indonesia, perusahaan memiliki 7 blok produksi, 1 blok pengembangan, 6 blok eksplorasi, dan 1 blok partisipasi ekonomis. Untuk kegiatan internasional, perusahaan mengelola 20 blok yang tersebar di Amerika, Oman, Yaman, Libya, Tunisia dan Kamboja. Perusahaan merupakan nomor empat penghasil minyak dan gas di Indonesia setelah Chevron, Pertamina, dan CNOOC.

Perusahaan beroperasi dalam industri yang sangat strategis baik secara ekonomis maupun sosial, karena berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan energi, bahan baku industri, dan pemasukan devisa bagi negara. Tetapi industi minyak dan gas menghadapi tantangan yang cukup berat, diantaranya adalah: 1) tingginya volatilitas harga minyak dunia beberapa waktu belakangan ini, 2)nilai cadangan dan produksi yang terus menurun, 3) perubahan hukum dan peraturan terutama terkait dengan cost recovery dan pola kontrak kerja sama, 4) tuntutan pengusaan teknologi yang semakin tinggi terutama untuk optimalisasi sumur tua dan daerah operasi di lepas pantai, dan 5) isu lingkungan yang semakin mendesak untuk dilakukannya clean operation.

Tren yang terjadi di industri minyak dan gas Indonesia adalah terus menurunnya produksi minyak, sementara produksi gas cenderung stagnan. Kondisi ini erat kaitannya dengan lemahnya usaha eksplorasi dan produksi yang dilakukan. Banyak sumur minyak dan gas Indonesia telah berumur tua dengan cadangan yang terus menipis. Sejak tahun 2005 rerata produksi minyak Indonesia telah mencapai di bawah 1 juta barel per hari, sedangkan produksi gas cenderung tidak ada peningkatan dari 8 juta MSCF per hari. Situasi semakin diperburuk dengan ketegangan yang ada antara kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dengan pemerintah terkait dengan cost recovery kegiatan ekplorasi-produksi minyak dan gas.



* data produksi gas, hingga Oktober 2009

Sumber: Departemen ESDM


Hingga tahun 2009 cadangan terbukti (dengan tingkat kepercayaan 90%) Medco sebesar 89,14 MMBOE (juta barel minyak ekuivalen per hari), cadangan terbukti dan terduga (dengan tingkat kepercayaan 50%) sebesar 172,77 MMBOE, dan cadangan kontijen sebesar 379,75 MMBOE. Sehubungan dengan cadangan yang dimiliki, kemampuan perusahaan dalam memproduksi minyak dan gas terus menurun dengan lifting cost yang terus meningkat.

Pada tahun 2005 produksi minyak dan gas perusahaan sebesar 76,0 MBOEPD (ribu barel minyak ekuivalen per hari) dengan lifting cost sebesar US$ 2,88 per BOE (barel minyak ekuivalen). Namun, pada tahun 2009 produksi minyak menurun menjadi 52,8 MBOEPD sedangkan lifting cost menjadi US$ 8,60 BOE. Meskipun demikian, berdasarkan laporan WoodMackenzie lifting cost perusahaan pada tahun 2009 cukup rendah dibandingkan rerata perusahaan lainnya.

Selain bergerak di bidang ekplorasi dan produksi minyak dan gas, perusahaan juga bergerak dalam pembangkit tenaga listrik dan industri hilir. Saat ini perusahaan memiliki lima pembangkit listrik, beberapa kilang pengolahan LPG, ethanol, serta fasilitas penyimpanan dan distribusi bahan bakar. Sekitar 30-35% pendapatan di sumbang oleh bisnis di luar kegiatan ekplorasi dan produksi minyak dan gas.

Kinerja Keuangan dan Saham

Nilai pendapatan Medco terus mengalami peningkatan, dengan rerata pertumbuhan tahunan (CAGR) 2002-2008 sebesar 24,70%. Sementara CAGR ekuitas dan aset perusahaan masing-masing adalah 10,90% dan 21,60%. Pertumbuhan perusahaan diikuti dengan tingkat hutang yang semakin meningkat hingga tahun 2007 dengan rasio hutang terhadap aset (DAR) perusahaan hingga mencapai lebih dari 75%, dan kemudian menurun pada tahun 2008 (63%).




Pertumbuhan perusahaan yang konsisten hingga tahun 2008 sayangnya tidak diikuti oleh tingkat keuntungannya. Marjin laba bersih (NPM) dan rasio laba terhadap ekuitas (ROE) perusahaan berfluktuasi dengan posisi terendah pada tahun 2007 dengan NPM 0,67% dan ROE 1,25%. Pada tahun 2008 perusahaan mencetak pendapatan dan laba tertinggi yang pernah dicapai. Perusahaan mampu meraih pendapatan hingga mencapai US$ 1.283,8 NPM mencapai 21,78% dan ROE hampir menyentuh 40%.

Tetapi, kinerja cemerlang tahun 2008 tidak berlanjut pada tahun 2009. Pendapatan perusahaan turun hingga di nilai US$ 667,8 (menurun 47,98%), sedangkan NPM dan ROE perusahaan tidak mencapai 3%. Tidak stabilnya tingkat keuntungan dan kecenderungannya untuk berada di nilai yang rendah (kecuali tahun 2008) menimbulkan pertanyaan atas kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pengembalian bagi pemegang saham.

Tingkat volatilitas harga saham perusahaan cenderung stabil, namun rerata return perusahaan sejak tahun 2007 kurang baik. Perbandingan harga saham perusahaan terhadap IHSG terus menurun sejak tahun 2006 (di atas 3), sedangkan saat ini berada di sekitar 1,5. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan harga saham perusahaan cukup rendah dibandingkan dengan IHSG. Bahkan dapat dikatakan bahwa harga saham perusahaan cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan saham-saham lainnya. Kinerja saham yang kurang baik sepertinya sejalan dengan fundamental perusahaan. Salam Investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel




Sunday, May 30, 2010

PT Indosat Tbk: Di Tengah Ketatnya Persaingan Industri

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 05 Apr 2010



Infrastruktur telekomunikasi memainkan peran yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi. Jumlah penduduk yang besar dengan struktur geografis yang terdiri dari ribuan pulau memberikan peluang yang besar namun juga tantangan dalam memberikan pelayanan terhadap kebutuhan telekomunikasi.

Sektor telekomunikasi memiliki tiga jasa utama, yaitu telepon tetap (PSTN), telepon dengan mobilitas terbatas (FWA), dan telepon selular. Jumlah sambungan telepon tetap cenderung tidak mengalami pertumbuhan, sedangkan telepon dengan mobilitas terbatas dan telepon selular memiliki pertumbuhan yang tinggi, dengan rerata pertumbuhan tahunan (CAGR) jumlah pengguna sejak 2004 diperkirakan mencapai 65% dan 40%.

Peraturan pemerintah tentang izin pembangunan menara, kewajiban penggunaan bersama menara dengan operator lainnya, serta kontrak dan kepemilikan menara yang 100% harus lokal memberikan tantangan sendiri. Terutama pengaruhnya terhadap kualitas layanan, tingkat daya saing, dan biaya tambahan atas penyesesuaian pembangunan dan penggunaan menara terhadap peraturan tersebut.

Saat ini persaingan dalam industri telekomunikasi menjadi sangat ketat, terutama untuk jasa telepon selular. Sekitar 85% pasar selular adalah pengguna GSM, sedangkan sisanya pengguna CDMA. Pasar GSM masih dikuasai oleh tiga besar perusahaan, yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL. Sedangkan pasar CDMA dikuasai oleh Telkomsel, Bakrie Telecom, dan Mobile-8. Setidaknya ada empat hal yang menjadi penyebab dalam ketatnya persaingan industri telekomunikasi, yaitu: 1) tren semakin rendahnya biaya jasa yang diberikan, 2) hadirnya perusahaan-perusahaan baru, 3) semakin tingginya tuntutan inovasi produk dan jasa, dan 4) cepat usangnya teknologi yang digunakan.

Kinerja Bisnis dan Keuangan

PT Indosat Tbk merupakan satu dari sekian banyak perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Sebagai salah satu pionir perusahaan telekomunikasi dengan perjalanan panjang yang telah dilalui, perusahaan telah berevolusi menjadi perusahaan telekomunikasi dengan jasa yang terlengkap di Indonesia. Produk dan layanan yang diberikan perusahaan mencakup jasa selular dan broadband 3.5G, jasa telepon tetap, dan jasa MIDI (multimedia, komunikasi data dan internet).


Tabel Pendapatan Bisnis Perusahaan


Penjualan perusahaan memiliki tren meningkat sejak tahun 2002, dengan rerata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 18,42%. Kontribusi pendapatan perusahaan terutama disumbang oleh jasa selular (76%), kemudian diikuti oleh MIDI (14%), dan sisanya disumbang oleh jasa telepon tetap (10%).

Marjin laba bersih (NPM) perusahaan mengalami penurunan sejak tahun 2004. Pada tahun 2003 NPM perusahaan mencapai 19,06%, namun pada tahun 2009 hanya mencapai 8,15%. Di lain pihak nilai hutang perusahaan semakin meningkat. Pada tahun 2002 debt-to-assets ratio (DAR) perusahaan berada di nilai 51,81%, kemudian pada tahun 2008 telah mencapai 66,32%. Sementara itu, antara tahun 2010 hingga 2013, rerata hutang perusahaan yang jatuh tempo adalah sebesar Rp 462,75 miliar.




Perusahaan mengeluarkan belanja modal atau capital expenditure (CAPEX) sebesar Rp 9,276 triliun (2007), Rp 12,342 (2008) dan Rp 11,585 (2009). Rasio belanja modal terhadap penjualan cukup tinggi, dengan rasio sebesar 59% (2007), 66% (2008), dan 63% (2009). Tingkat belanja modal perusahaan yang cukup tinggi dan penurunan laba bersih perusahaan, memberikan pengaruh pada menurunnya arus kas dari operasi tahun 2009 hingga sebesar 38% dibandingkan tahun 2008. Sementara pada tahun 2008, arus kas dari operasi juga telah menurun sebesar 21% dari tahun 2007.

Pada tanggal 31 Desember 2008, Qatar Telecom (Qtel) resmi memiliki kendali terhadap 40,81% saham perusahaan dan menjadi pemegang saham mayoritas. Pada tahun 2009 perusahaan melakukan restrukturisasi organisasi, manajemen, dan bisnis yang diharapkan dapat merefleksikan kebutuhan pelanggan dan sejalan dengan best practice internasional. Program restrukturisasi bisnis perusahaan yang dilakukan salah satunya adalah pengurangan pelanggan jasa selular yang bernilai rendah (low value) bagi perusahaan serta perluasan dan peningkatan jaringan. Hal ini memberikan dampak pada penurunan pendapatan dan tingkat keuntungan perusahaan pada tahun 2009.

Kinerja Saham

Kinerja saham perusahaan dilihat dari rerata return terhadap volatilitas harga saham secara umum di bawah kinerja IHSG. Sejak tahun 2005 rerata return disetahunkan perusahaan tidak terlalu menggembirakan, walaupun tingkat volatilitas harga saham cenderung tidak terlalu tinggi. Sementara sejak tahun 2007 cenderung terjadi penurunan risiko pasar perusahaan, yang berada di sekitar 0,80 – 1,05.

Pasar melihat bahwa future growth opportunity perusahaan masih lebih baik dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lainnya, namun untuk current performance perusahaan tidak diekspektasi dengan tinggi oleh pasar. Hal ini sejalan dengan kinerja keuangan perusahaan yang masih belum menunjukkan nilai yang cukup baik, dan masih besarnya nilai investasi yang perlu dilakukan perusahaan untuk melakukan pengembangan usaha.

Dapat dikatakan bahwa kondisi fundamental perusahaan cenderung sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap perusahaan. Tantangan tren penurunan harga jasa, semakin kompetitifnya persaingan dalam industri telekomunikasi, serta kebutuhan investasi yang besar perlu dijawab oleh perusahaan sehingga ekspektasi pasar terhadap perusahaan dapat meningkat. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel