Sunday, January 31, 2010

Meneropong Kinerja Emiten 2009

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 18 Januari 2010




Awal tahun 2009 sebenarnya masih merupakan masa-masa kelam bagi pasar keuangan Indonesia. Krisis subprime mortgage yang dimulai pada pertengahan 2007 semakin kelihatan berdampak buruk sepanjang tahun 2008. Bahkan perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai akhir September 2008 hingga pertengah April 2009 menjadi sangat sepi. Volume perdagangan menjadi turun drastis. Rata-rata nilai perdagangan per hari pada waktu itu hanya berada di bawah 1 triliun rupiah. Jauh di bawah biasanya di sekitar 4-5 triliun rupiah.

Namun, setelah melewati masa-masa suram tersebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 2.534. Yang membawa BEI menjadi salah satu pasar modal dengan kinerja yang terbaik di dunia dari tingkat imbal hasil yang diberikan.

Seiring dengan kinerja IHSG, kinerja keseluruhan reksa dana hingga akhir November 2009 juga menunjukkan peningkatan nilai aktiva bersih hingga 47,71%.

Sepanjang 2009, BI rate bergerak terus menurun dari 8,75% sejak awal tahun hingga mencapai level terendahnya 6,5% pada penghujung tahun. Tingkat suku bunga simpanan berjangka rupiah bank-bank berada di kisaran 7%-10%. Dengan didorong oleh terjadinya penurunan harga minyak dunia dan berbagai komoditas lainnya, tingkat inflasi pun terus menurun sepanjang tahun.

Jadi, kondisi ekonomi tahun 2009 secara keseluruhan berdampak positif bagi kinerja emiten-emiten, terlebih bila dibandingkan dengan tahun 2008.

Mari kita teropong lebih jauh tentang kinerja berbagai emiten di BEI berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh CAPITAL PRICE. Penjabaran berikut ini didasari dan dikembangkan dari hasil riset yang ada dalam buku Capital Market Trends (CMT), terutama emiten-emiten non-finansial. Kami harapkan penjabaran yang diberikan dapat mewakili gambaran umum emiten-emiten pada Bursa Efek Indonesia.

Pertumbuhan Keuntungan Emiten

Pada tahun 2008, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia yang tinggi telah membantu dalam penyerapan produk dan jasa. Oleh karenanya, rerata pertumbuhan penjualan (sales growth) emiten-emiten dapat mencapai sekitar 30%.

Nilai ini lebih tinggi dibandingkan rerata pertumbuhan penjualan emiten-emiten pada tahun 2007 (merupakan salah satu tahun terbaik dalam kinerja emiten dan pasar modal). Namun, rerata pertumbuhan penjualan yang tinggi ini tidak diikuti dengan pertumbuhan tingkat keuntungan emiten-emiten.

Rerata keuntungan operasional (operating profit) tahun 2008 justru menurun drastis dibandingkan tahun 2007, pertumbuhannya hanya sekitar 7%. Kemungkinan pemicunya adalah tingginya tingkat inflasi pada tahun 2008 yang sempat mencapai dua digit, bahkan tertingginya menyentuh lebih dari 12%.

Selain itu, tingginya harga minyak mentah dunia hingga menembus lebih dari US$ 140 per barel-nya dan beberapa harga komoditas lainnya juga ikut berperan penting. Di lain pihak, kondisi krisis keuangan global juga berdampak luas pada sektor riil di berbagai negara maju. Perekonomian dunia pun menjadi lesu.

Kombinasi berbagai faktor tersebut menyebabkan biaya produksi menjadi jauh lebih mahal. Terlebih industri di Indonesia masih banyak menggantungkan supply material dari luar negeri. Bahkan bottom line profit (keuntungan bersih atau net income) emiten-emiten pada tahun 2008 secara rata-rata mengalami penurunan hingga mencapai sekitar 15% dari tahun sebelumnya.




CAPITAL PRICE telah memperkirakan untuk tahun 2009 terjadi peningkatan rerata pertumbuhan penjualan emiten-emiten yang 25%-35%.

Di sisi lain, rerata pertumbuhan tingkat keuntungan baik dari sisi keuntungan operasi maupun keuntungan bersih diperkirakan akan meningkat cukup tinggi. Belum lagi berbagai faktor seperti rendahnya tingkat inflasi dan menurunnya tingkat suku bunga pinjaman dapat mendukung emiten-emiten lebih efisien dalam struktur biaya produksinya. Diperkirakan rerata pertumbuhan keuntungan operasional dapat mencapai 40%-50%.

Kenaikan Harga Saham 2009: Too Good To Be True?

Kenaikan IHSG yang cukup fantastis sepanjang tahun 2009, yaitu lebih dari 85%, menimbulkan banyak pertanyaan apakah ini too good to be true? Atau apakah ini hanya “bubble” yang kemudian akan terkoreksi tajam kembali pada beberapa waktu ke depan? Seperti yang pernah terjadi pada tahun 2007.




Sebelum membicarakannya lebih lanjut, mari kita bahas tentang tahun 2007 terlebih dahulu. Sesuai hasil riset dalam CMT, CAPITAL PRICE mengidentifikasi hadirnya suatu over expectation (ekspektasi berlebihan) terhadap kinerja pasar emiten-emiten di BEI. Ekspektasi berlebihan ini terkait dengan persepsi berlebihan investor terhadap kinerja keuangan emiten-emiten.

Pada tahun 2006 kondisi pertumbuhan dan kinerja keuangan emiten-emiten sesungguhnya tidak terlalu baik. Namun, tahun 2006 memberikan gambaran bahwa pada tahun 2007 kondisi perekonomian Indonesia akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Terlebih, bila dibandingkan dengan tahun 2005 yang menghadirkan inflasi hingga tembus 17% dan kenaikan harga BBM yang cukup tinggi.

Kemudian, ada beberapa hal lain yang memliki pengaruh signifikan. Seperti ekspektasi atas membaiknya kondisi makroekonomi pada tahun 2007, stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dollar dalam kisaran antara 9000-9500, serta peningkatan tren IHSG dan harga-harga saham sebagian besar emiten yang terus meningkat sejak tahun 2004/2005. Belum lagi “demam” sektor komoditas yang waktu itu sangat menggoda. Kesemua faktor tersebut akhirnya mengantarkan pasar modal Indonesia pada situasi yang dapat disebut “bubble”.

Bukti adanya “bubble” ini ternyata teridentifikasi melalui hasil penelitian yang dilakukan CAPITAL PRICE dari rerata PER emiten-emiten berada di level 18-19 kali, suatu nilai yang cukup tinggi untuk pasar modal Indonesia saat itu.

Sampai akhir Desember 2009, kinerja pasar emiten-emiten mendekati seperti pada April 2008. Hal ini dapat digunakan sebagai konfirmasi bahwa kenaikan IHSG dan harga saham emiten-emiten adalah kondisi kembalinya pendulum pada posisi yang sebelumnya pernah dicapai. Juga dapat dikatakan bahwa telah terjadi titik balik atas kondisi krisis yang dialami oleh pasar modal Indonesia.

Demikian pula nilai PER 14-15 kali masih dapat dikatakan cukup rasional. Kita bisa melihatnya melalui faktor-faktor pendukung lain seperti optimisme atas pulihnya pasar keuangan dan ekonomi Eropa dan Amerika. Juga, positifnya sentimen perekonomian Indonesia di tahun 2010.

Namun demikian, tentunya kita tetap harus selalu waspada dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi, dan berpikir rasional dalam menentukan keputusan investasi. Selamat Berinvestasi!



Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel




Tuesday, January 26, 2010

Prospek Ekonomi dan Pasar Modal Indonesia 2010

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 11 Januari 2010




Tren Ekonomi dan Pasar Modal 2009


Awal tahun dimulai dengan rasa pesimis dan kekhawatiran karena subprime mortgage crisis baru saja menunjukkan tajinya pada kuartal IV 2008. Rasa trauma investor akibat runtuhnya pasar modal dunia, termasuk Indonesia, masih membekas. Rontoknya IHSG sebesar 52% dari titik tertinggi 2.830 pada minggu kedua Januari 2008 menjadi 1.355 pada akhir tahun 2008 (bahkan sempat anjlok ke level 1.111 pada akhir Oktober 2008) membuat banyak investor harus merenung dan menarik napas panjang pada awal 2009.

Hingga bulan terakhir 2009, perekonomian Indonesia secara umum menunjukkan kinerja yang baik. Di satu pihak, memang tercapai stabilitas, yang ditunjukkan oleh kinerja kurs rupiah (berada di kisaran Rp 9.450/USD), dan inflasi berada di level 2-3% dari awal hingga akhir 2009. Sementara itu, kinerja ekspor dan neraca perdagangan (balance of trade) juga mulai membaik pasca krisis global akhir 2008. Hingga akhir Oktober 2009, ekspor total tercatat USD 95,96 miliar, sedangkan impor hanya USD 74,89 miliar, yang berarti telah terjadi surplus neraca perdagangan USD 21,07 miliar (hingga Oktober 2009).



Sumber: Departemen Perdagangan


Kinerja bagus neraca perdagangan ini juga diikuti dengan capital inflow yang deras, yang tercermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun 2009 yang ditutup pada level 2.534.

Menurut hasil riset CAPITAL PRICE yang terangkum dalam bundel Capital Market Trends 2009/2010, rata-rata (CAGR) profitabilitas perusahaan dari sisi operating profit meningkat sebesar 23-26% selama periode 2002-2009. Begitu juga dengan persepsi pasar (market perception) 2009-2010 yang ikut meningkat, terbukti dengan peningkatan modal perusahaan yang rata-rata tumbuh sebesar 21-24%.

Kombinasi keduanya telah menghasilkan penumpukan cadangan devisa (exchange reserves) mencapai lebih dari USD60 miliar pada akhir 2009. Sebagai perbandingan, cadangan devisa di saat perekonomian Indonesia mengalami krisis 1997−1998 terdahulu hanya USD 21 miliar. Hal ini mengindikasikan bahwa cadangan devisa berada di level yang relatif aman, dan menjadi modal penting untuk menyongsong 2010.

Alasan Ekonomi dan Pasar Modal 2010 Lebih Baik

Konsensus para ekonom dan analis memperkirakan bahwa perekonomian Indonesia dan dunia 2010 akan lebih baik daripada 2009. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi (produk domestik bruto (PDB)) dunia diperkirakan akan meningkat menjadi 3,1%, sedangkan ekonomi Indonesia 2010 menurut Bank Indonesia diperkirakan akan tumbuh sebesar 5% (atau lebih tinggi daripada estimasi IMF sebesar 4,8% (Oktober 2009). Kondisi pasar domestik yang cukup kuat dan pasar ekspor global yang semakin pulih adalah pemicunya.


Indikator Makroekonomi
* perkiraan akhir tahun
Sumber: Bank Indonesia, The Economist, IMF, CAPITAL PRICE


BI rate pada Desember 2009 telah berada pada level single digit sebesar 6,5%. Kinerja ekspor 2009 (di atas USD 95 miliar) dan surplus neraca perdagangan yang impresif (USD21.07 miliar) pada 2009 menyebabkan cadangan devisa aman di level lebih dari USD60 miliar, serta rencana perbaikan peringkat kredit Indonesia (yang saat ini di level Speculative Grade BB) mendekati peringkat layak investasi (Investment Grade BBB). Faktor-faktor ini akan menyangga kurs rupiah di level Rp 9.000-an hingga maksimal Rp 9.500/USD.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,5% (2010), atau lebih tinggi daripada target tahun sebelumnya 3,9-4% (2009) yang sudah tercapai. Proyeksi ini masuk akal, karena pengalaman 2009 menunjukkan bahwa sumber-sumber pertumbuhan ekonomi, yakni C (consumption), I (investment) dan G (government spending), sempat bermasalah, tetapi GDP Indonesia masih dapat tumbuh sebesar 4.3%.


Sumber: Badan Pusat Statistik


Pertumbuhan ekonomi yang sehat dan kestabilan kurs membuat PDB per kapita Indonesia bisa naik menembus level USD2550 per kapita di tahun 2010. Sementara itu, IHSG diperkirakan akan tumbuh dengan angka pertumbuhan yang kembali ke level normal (rata-rata jangka panjang per tahun/CAGR) yaitu sekitar 20% per tahun, ke level 2.900-3.000.

Faktor-faktor yang Perlu Diperhatikan

Terdapat tanda-tanda pemulihan global, walaupun bagi ekonomi negara-negara maju (seperti G7), kualitas pemulihannya masih diperdebatkan mengingat rata-rata tingkat pengangguran yang masih tinggi. Di negara-negara berkembang, optimisme mulai muncul, namun masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa resesi sudah berakhir. Proses pemulihan justru bisa lebih lemah daripada biasanya, dan bahkan beberapa analis di AS meramalkan double-dip recession sebagai dampak dari stimulus fiskal pemerintah AS yang belum efektif. Selain itu, kenyataan bahwa hutang AS yang meningkat (sehingga beban bunga semakin tinggi) dan defisit yang masih besar menimbulkan keraguan bahwa fondasi pemulihan global masih belum cukup kuat.

Pada awal tahun 2010 ini mulai diberlakukannya FTA (Free Trade Agreement) ASEAN-China. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa pelaku usaha belum siap mengingat masih banyak kendala internal yang belum dibenahi seperti infastuktur yang masih belum memadai, birokrasi dan korupsi. Good governance pada level mikro perusahaan, industri, dan makro (pasar finansial dan pemerintahan) sudah saatnya direalisasikan dalam langkah nyata. Skandal ekonomi dan politik yang meresahkan masyarakat seperti skandal KPK, Bank Century, dll, perlu segera dituntaskan agar momentum pemulihan ekonomi tetap berlajut dan tidak kandas di tengah jalan.

Selamat Tahun Baru 2010! Salam Investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto, Roy Sembel, dan Deddy Ertanto





Tuesday, August 4, 2009

DEA Sebagai Alternatif Ukuran Kinerja Reksa Dana



Setidaknya telah tiga dekade ini para akademisi dan praktisi telah mencoba untuk melakukan pengukuran kinerja investasi reksa dana dan juga tipe-tipe portfolio lainnya yang dikelola secara profesional. Sebagaimana kita ketahui, dalam tahun-tahun pertama ilmu keuangan, konsentrasi para investor hampir melulu hanya tertuju pada pengukuran rate of return (laju pengembalian) suatu investasi sebagai indikasi seberapa baiknya investasi dilakukan. Pada tahun 1950-an hasil studi Markowitz (1952) dan Tobin (1958) menyediakan alat bagi para investor untuk mengukur risiko dengan menggunakan variabilitas return.

Kemudian pada tahun 1960-an dan 1970-an para peneliti mengajukan beberapa alternatif pengukuran kinerja portfolio dengan berdasarkan pada capital asset pricing model (CAPM). Ukuran-ukuran baru yang mereka tawarkan meliputi dua faktor yang mempengaruhi kinerja, sebagaimana mereka memasukkan komponen tingkat pengembalian (return) investasi dan juga tingkat risiko (risk) yang tepat. Diantara ukuran yang terkenal dan telah sangat umum digunakan dalam mengukur kinerja portfolio adalah indeks Sharpe (Sharpe, 1966), indeks Treynor (Treynor, 1965) dan alpha Jensen (Jensen, 1968), indeks reward to half-variance (Ang, Chua, 1979). Ukuran-ukuran kinerja tersebut secara mendasar sebenarnya mencoba untuk menentukan apakah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh para profesional manajer dana telah memberikan tingkat pengembalian (return) tambahan terhadap dana yang dikelolanya dibandingkan dengan benchmark yang pasifnya atau portofolio yang menjadi benchmark yang tidak dikelola secara aktif. Ukuran-ukuran tradisional tersebut telah terbukti sangat berguna, namun sesungguhnya mereka menghadapi permasalahan dalam menentukan hal-hal yang menjadi faktor utama dalam mengukur kinerja portofolio seperti dalam hal identifikasi benchmark yang tepat dan jika memasukkan faktor biaya-biaya.

Jika kita amati perkembangan industri keuangan saat ini, pengukuran dan pembandingan kinerja portfolio yang dikelola secara profesional seperti reksa dana, dana pensiun dan lainnya, telah menjadi isu yang sangat penting bagi para manajer dan investor. Hal demikian telah memberikan tekanan yang besar akan pentingnya suatu ukuran yang kredibel dalam upaya untuk mengukur dan memeringkatkan kinerja portofolio yang dikelola tersebut. Bagi industri keuangan di Indonesia, salah satu pengelolaan protofolio yang populer dan diminati oleh para investor adalah reksa dana, hal ini menurut penulis paling tidak disebabkan oleh beberapa faktor berikut: (1) diversifikasi portofolio yang dapat meminimalkan tingkat risiko investasi, (2) pengelolaan dana yang profesional sehingga investor tidak perlu mengelola sendiri danaya, (3) adanya pilihan-pilihan jenis investasi yang dapat disesuaikan dengan karakter dan tingkat kepentingan investor, dan (4) kemudahan likuiditas bagi investor. Dengan demikian evaluasi kinerja reksa dana dapat digunakan sebagai landasan bagi keputusan investasi investor atau pun menjadi benchmark bagi posisi kinerja reksa dana yang satu dengan yang lainnya. Secara sekilas, jika kita telaah lebih lanjut, perkembangan reksa dana di Indonesia memiliki tren yang terus meningkat, baik jika dilihat dari jumlah reksa dana yang ada, jumlah investor, jumlah unit/saham yang beredar dan nilai aktiva bersih (NAB).

Ukuran kinerja reksa dana yang telah biasanya digunakan atau biasanya disebut sebagai ukuran tradisional, seperti yang telah dijelaskan sebelumya, memiliki permasalahan validitas terutama dalam hal asumsi dasar CAPM. Selain itu faktor yang diikutsertakan dalam ukuran tradisional hanya mencakup tingkat risiko (risk) dan tingkat pengembalian (return), sedangkan sangat masuk akal jika kita berpikir bahwa faktor-faktor lain dapat juga dilibatkan seperti faktor biaya transaksi dan biaya informasi. Salah satu ukuran yang telah dikembangkan oleh para peneliti untuk mengatasi hal tersebut adalah ukuran dengan menggunakan data envelopement analysis (DEA) yang secara mendasar berusaha untuk mengukur tingkat efisiensi reksa dana.

Sejak diperkenalkannya pertama kali oleh Charnes, Cooper dan Rhode pada tahun 1978, para peneliti dalam sejumlah bidang secara cepat menerima metode tersebut dengan melihat keunggulan dan kemudahan metodologi yang digunakan (Greogoriou, 2006). DEA merupakan metodologi non-parametrik yang didasarkan pada linear programming dan digunakan untuk menganalisis fungsi produksi melalui suatu pemetaan frontier produksi (Andersen, 2004). DEA telah banyak digunakan untuk dalam berbagai bidang dimana metode ini berakar dari bidang manajemen operasi yang digunakan untuk memberikan ukuran relatif efisiensi (Galadera dan Silvapulle, 2002; Andersen et. al, 2004). DEA tidak membutuhkan model teoritik seperti CAPM atau model arbitrage pricing theory (APT) sebagai benchmark-nya dan mengukur kinerja relatif suatu reksa dana terhadap reksa dana yang optimal atau yang paling efisien dalam sampel.

DEA mengizinkan hubungan antara multiple inputs dan multiple outputs digambarkan dalam kombinasi yang paling efisien dari input untuk menghasilkan output tertentu dan dapat dapat digunakan dalam menaksir kinerja relatif setiap unit yang membuat keputusan yang dapat mempengaruhi kinerja atau efisiensi. Pembuat keputusan biasanya disebut sebagai decision making units (DMU). DEA dapat digunakan untuk membantu investor dan manajer dalam proses pembuatan keputusan. Input dan output dapat memiliki unit ukuran yang sama tanpa membutuhkan a priori tradeoff antara keduanya (Rouse, 1995). Secara mendasar, DEA membangun suatu efficient frontrier yang terdiri dari kombinasi linier reksa dana yang efisien dari sampel yang digunakan dan menentukan penyimpangan dari efficient frontier, yang merepresentasikan ketidakefisienan kinerja. Penyimpangan dari efficient frontier menunjukkan ketidakefisienan manajerial atau lainnya yang merupakan fungsi dari kegagalan untuk meminimalisasi input dan atau memaksimalkan output.

Menurut Seiford dan Thrall (1990) DEA merupakan teknik yang superior jika dibandingkan dengan teknik lain seperti regresi, karena yang diukur oleh DEA adalah kinerja relatif bukan kinerja rata-rata dan tidak dipengaruhi oleh permasalahan multikolinieritas yang berhubungan dengan model-model regresi berganda. Dengan menggunakan DEA kita dapat memeringkatkan suatu set reksadana dari yang paling efesien hingga yang paling tidak efisien dan menentukan bagaimana kinerja reksa dana terhadap basis relatifnya. Hal ini tentunya memberikan informasi reksa dana mana yang paling baik jika dibandingkan dengan kelompok yang digunakan. DEA juga dapat memberikan informasi faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketidakefisienan reksa dana. Dengan demikian, hal tersebut dapat digunakan oleh manajer reksa dana untuk memperbaiki ketidakefisienan reksa dana, atau berusaha untuk menandingi reksadana yang efisien sehingga reksa dana tersebut dapat menjadi efisien.

Model-model penilaian kinerja reksadana tradisional memiliki beberapa keterbatasan utama dalam aplikasinya, diantaranya penggunaan variabel proksi atau benchmark dari portofolio pasar teoritis yang tidak tepat, pengukuran kinerja reksadana lebih untuk periode jangka panjang daripada jangka pendek, validitas teori CAPM, dan adanya reksadana yang memiliki kinerja secara persisten dalam jangka panjang. Selain itu penilaian kinerja reksadana hanya mengikutsertakan satu ukuran risiko atau mengasumsikan fungsi hubungan tertentu untuk berbagai macam ukuran reksadana.

Diantara ukuran-ukuran kinerja tradisional tidak jelas mana yang merepresentasikan ukuran kinerja yang terbaik, belum ada konsensus selama ini. Masing-masing ukuran tersebut dapat dikatakan valid dalam beberapa asumsi, namun dapat juga diungguli oleh indikator lain dalam konteks yang berbeda, atau untuk investor yang berbeda.

Model penilai kinerja yang didasarkan metode parametrik seperti penilaian dengan analisis regresi mengaproksimasi efisiensi relatif terhadap kinerja rata-rata. Selain itu analisis regresi tidak mampu untuk mengidentifikasi tiap-tiap reksadana selain apakah titik yang diamati berada di atas atau di bawah nilai regresi. Hasil-hasil yang diperoleh dari analisis regresi tidak dapat memberikan kepada manajer investasi suatu pengetahuan bagaimana mereka meningkatkan kinerja.

Hal lain yang utama dalam studi kinerja reksadana adalah, ukuran kinerja tradisional hanya mempertimbangkan komponen risk-return, tidak mempertimbangkan juga komponen lainnya seperti biaya subscription dan biaya redemption yang dibutuhkan oleh suatu kegiatan investasi di reksadana, dan bahkan sesungguhnya keseluruhan return investasi dipengaruhi oleh biaya-biaya tersebut.

Gambar 1 dan Gambar 2 memberikan informasi tentang tingkat efisiensi masing-masing reksa dana yang digunakan dalam contoh sampel perhitungan. Terlihat bahwa reksa dana yang efisien memiliki nilai target yang sama dengan nilai awal sehingga kumpulan reksa dana tersebut membentuk suatu efficient frontieri yang jelas (hitam), yang membedakan dengan kumpulan reksa dana yang tidak efisien (merah). Gambar 1 memberikan informasi bahwa reksa dana yang efisien memiliki nilai annualized return (tingkat pengembalian tahunan) yang lebih tinggi dibandingkan reksa dana yang tidak efisien. Sedangkan Gambar 2 memberikan informasi bahwa reksa dana yang efisien memiliki annualized standard deviation (tingkat fluktuasi tahunan) yang lebih rendah dibandingkan reksa dana yang tidak efisien.


Gambar 1. Hubungan antara nilai target dengan nilai awal, kasus untuk annualized return


Gambar 2. Hubungan antara nilai target dengan nilai awal, kasus untuk annualized standard deviation

Friday, July 17, 2009

Probabilitas dan Complex Systems



Pergerakan pasar masa depan tidak dipengaruhi oleh pergerakan masa lalu, namun hanya dipengaruhi oleh kejadian-kejadian nyata seperti kerugian dan keuntungan yang diperoleh oleh suatu perusahaan. Dengan pola pikir seperti ini, merupakan pola pikir ekonomi standar, maka studi pola-pola pergerakan pasar masa lalu tidak akan menghasilkan apa pun. Namun, banyak ekonom tidak percaya akan hal tersebut, beberapa beragumen bahwa ada kemungkinan hadir pengaruh secara halus (subtle) pergerakan pasar masa lalu terhadap pergerakan pasar masa depan.

Probabilitas perubahan harga yang memiliki bentuk kurva bel atau berdistribuisi Gaussian telah sangat melekat bagi kalangan ekonomi untuk waktu yang cukup lama. Menjadi pertanyaan yang menarik adalah konsep probabilitas itu sendiri. Kehadiran konsep ini merupakan bentuk revolusioner dalam pola pikir manusia yang cukup lama dipengaruhi oleh pola pikir mekanistik Newton-Laplace.

Pada pola pikir klasik tersebut prediksi adalah sesuatu cukup terbukti dan tidak perlu diperjelas lebih lanjut. Dengan kondisi awal yang sama, maka akan diperoleh hasil yang sama. Namun pada kenyataannya, banyak sistem yang sulit dipandang dengan cara klasik tersebut, terutama sistem dengan ukuran yang besar. Sistem-sistem ini memiliki tingkat kesulitan matematika yang tinggi ketika ingin menggambarkannya dan kesulitan eksperimental untuk membuktikan ketepatan dengan akurasi yang tinggi. Sistem-sistem tersebut memiliki kemungkinan terprediksinya kuantitas-kuantitasnya dalam jangkauan yang kecil, namun juga beberapa kuantitasnya tidak selalu berada pada nilai yang sama. Untuk yang terakhir dimungkinkan akan konsep probabilitas prediksi, prediksi yang tidak pasti.

Pada sistem chaotic yang memiliki derajat kebebasan yang tidak besar, perbedaan kondisi awal yang sangat kecil saja dapat memberikan perbedaan hasil akhir yang sangat berbeda pada jangka waktu yang lama. Prediksi deterministik masih dapat dilakukan untuk sistem ini pada jangka waktu pendek, lebih pendek dari waktu karakteristiknya. Oleh karenanya studi tentang distribusi probabilitas sistem-sistem pada waktu yang lama lebih dimungkinkan karena pengetahuan yang tepat akan kondisi awal akan membawa pada evolusi sistem-sistem tersebut dengan tepat pula. Perilaku sistem-sitem tersebut dapat dihitung dengan menggunakan persamaan geraknya.

Pada sistem mekanik klasik dan chaotic dimungkinkan untuk melakukan prediksi perilaku sistem dengan menggunakan pengetahuan tentang persamaan geraknya. Namun untuk complex system prediksi tersebut gagal. Complex system didefinisikan sebagai:

“A system is complex if its behaviour crucially depends on the details of the systems (Parisi, 2002)"

Dapat dikatakan juga perilaku sistem tersebut sangat sensitif terhadap bentuk persamaan-persamaan gerak dan variasi kecil pada persamaan-persamaan tersebut akan membawa pada variasi yang besar pada sistem. Dengan demikian hal ini memerlukan studi tentang distribusi probabilitas perilaku sistem tersebut. Dengan mengetahui kondisi awal yang tepat, maka dapat pula ditentukan perilakunya. Distribusi probabilitas perilaku dapat dihitung dengan menggunakan distribusi probabilitas persamaan-persamaan gerak. Hal ini memungkinkan prediksi dapat dilakukan pada complex system, namun prediksi terhadap perilakunya, tentunya prediksi ini secara alamiah berbentuk probabilitas.

Bersamaan dengan berkembangnya complex system ini kita tidak diharuskan untuk mempertanyakan bagaimana sebuah sistem tertentu berperilaku, namun kita harus bertanya manakah ciri-ciri umum perilaku sebuah sistem pada kelas yang ada (Parisi, 2002).

Lebih Jauh tentang Complex Systems

Untuk lebih memahaminya, berikut adalah beberapa sifat-sifat yang dimiliki oleh complex system (Parisi, 2002):
  1. Memiliki lebih dari sedikit dan kurang dari banyak sekali bagian-bagian/elemen-elemen.
  2. Bagian-bagian/elemen-elemen complex system bersifat heterogen dan berinteraksi dalam interaksi yang non-linier.
  3. Memiliki tujuan, obyektif dan fungsi yang tertentu (definite).
  4. Tidak beroperasi dalam kesetimbangan, dengan kata lain bersifat adaptif, dinamis dan selalu berubah.
  5. Memiliki perilaku kolektif yang tidak diambil kesimpulannya dari perilaku bagian-bagian/elemen-elemen sistem tersebut.

Untuk lebih jelasnya dapat dengan melihat perbedaan antara simple system, complex system dan complicated system. Simple system adalah sistem yang dapat dimengerti dengan menjelaskan sifat-sifat sebuah bagian/elemen atau interaksi beberapa bagian/komponen. Contoh sistem ini adalah pergerakan bumi mengelilingi matahari. Compicated system sebenarnya merupakan sistem yang sederhana tetapi menyamar sebagai sesuatu yang lebih kompleks. Contoh sistem ini gerak Brownian gas dalam vakum yang dapat diterangkan dengan hukum-hukum Termodinamika konvensional. Sistem dengan banyak bagian/elemen tetapi dengan kompleksitas yang rendah.

Hal mendasar yang membedakan sistem-sistem tersebut adalah sifat emergence, yaitu sifat yang hadir pada kelompok-kelompok dalam complex sytem. Sifat emergence ini terdiri dapat dibedakan menjadi local emergence dan global emergence. Local emergence menunjukkan kesamaan sifat sistem tersebut baik dengan jumlah kecil maupun jumlah besar elemen-elemennya. Hal ini ditunjukkan oleh sifat tekanan dan temperatur pada gas. Global emergence menunjukkan sifat yang hadir hanya jika dalam keseluruhan sistem atau kelompok-kelompok elemen. Sifat ini ditunjukkan jelas oleh cara kerja otak kita dengan neuron-neuronnya. Sebuah complex system yang sesungguhnya dapat memiliki kedua bentuk emergence tersebut.

Orang lebih senang menyebut bagian/elemen dalam complex system dengan agen. Disebut demikian karena agen-agen dapat dibedakan dengan aturan-aturan dan atribut-atribut tertentu. Agen-agen ini dikategorikan ke dalam tipe-tipe yang spesifik, seperti nitrogen dan uap air dalam molekul-molekul gas, juga dikatakan agen-agen tersebut secara bersama-sama membentuk sebuah populasi. Interaksi antar agen dapat dalam kontruksi strategi-strategi dan atribut-atribut yang sederhana maupun complicated dengan aturan-aturan yang bervariasi baik linier dan nonlinier. Sehingga secara umum, untuk setiap aksi yang diberikan pada sistem tersebut, sebuah agen akan menunjukkan perilaku, dan kadang perilaku yang ditunjukkan berada diluar proporsi aksi yang diberikan. Dalam complex system dimungkinkan sebuah agen tidak menunjukkan reaksi ketika aksi diberikan kepadanya untuk pertama kali, namun kemudian pada pemberian aksi yang kedua menunjukkan reaksi yang dua kali lebih besar dari aksi yang diberikan.

Kinerja Jangka Panjang Emiten dI BEI



Selama sepuluh tahun sejak krisis multidimensi 1998, pasar saham Indonesia mengalami perkembangan yang menarik untuk dicermati. Setelah mencapai titik terendah di 255 pada Bulan September 1998, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik secara pesat ke level tertinggi 2830 (intrahari mencapai tertinggi 2838) pada minggu kedua Januari 2008. Krisis finansial global memaksa koreksi IHSG ke level terendah di tahun 2008, yaitu 1111, sebelum akhirnya kembali ke level 1355 di akhir tahun 2008. Jadi sejak level terendahnya di tahun 1998, IHSG telah bertumbuh (Compound Annual Growth Rate) sebesar 17,9% per tahun.

Pasar modal, khususnya pasar saham telah menjadi lahan investasi yang tidak bisa diabaikan. Total nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) saat IHSG pada akhir tahun 2008 telah mencapai sekitar 25% dari Produk Domestik Brutto (PDB) Indonesia di tahun 2008. Bahkan, saat IHSG mencapai titik tertinggi di bulan Januari 2008, nilai kapitalisasi pasar saham BEI telah mencapai sekitar Rp 2000 trilyun (sudah sempat melampaui total dana pihak ketiga yang ada di perbankan Indonesia).

Volatilitas jangka pendek dari harga saham di bursa efek kembali mengingatkan investor untuk berpikir jangka panjang dalam berinvestasi saham. Untuk mendukung keputusan investasi jangka panjang, diperlukan informasi komprehensif tentang kinerja jangka panjang dari emiten di BEI. Dalam konteks ini, Majalah Investor telah berkontribusi signifikan dengan melakukan penilaian tahunan terhadap emiten-emiten di BEI (100 Emiten Terbaik), dan hasilnya dipublikasikan tiap tahun dalam edisi 100 Emiten Terbaik.

Aktivitas penilaian kinerja tahunan 100 Emiten terbaik dari Majalah Investor sejalan dengan riset kami (CAPITAL MARKET Trends 2008/2009) di CAPITAL PRICE. Analisis dalam tulisan ini sebagian besar disarikan dari hasil riset tersebut, yang pada intinya berisi analisis terhadap kinerja finansial (laporan keuangan dan pergerakan harga saham di bursa saham) jangka panjang 82 emiten yang mewakili sektor non keuangan di BEI selama periode 2002-2008.

Pertumbuhan Tahunan Aset dan Ekuitas

Pertumbuhan aset dan ekuitas dari gabungan sampel 82 perusahaan setiap tahun dan perbandingannya dengan pertumbuhan sales ditunjukkan oleh Gambar 1. Sepanjang tahun 2003-2007 pertumbuhan total ekuitas konsisten lebih tinggi dibandingkan total aset, walaupun pada tahun 2006 dan 2007 pertumbuhan keduanya cenderung seimbang.

Pada tahun 2004 terjadi kesenjangan (gap) yang cukup besar antara pertumbuhan total aset dan pertumbuhan total ekuitas yang dapat dijadikan spotlight tersendiri. Terjadinya kondisi ini dipicu oleh pertumbuhan sales yang signifikan, mencapai hampir 25% year-on-year (yoy). Kesenjangan pertumbuhan total ekuitas tersebut mulai berkurang pada tahun 2005, seiring dengan menurunnya pertumbuhan sales. Sejak tahun 2003 hingga tahun 2005 pertumbuhan sales komposit perusahaan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total aset, namun kemudian pada tahun 2006 dan 2007 pertumbuhan sales lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total aset. Sedangkan pertumbuhan sales komposit perusahaan cenderung lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total ekuitas, kecuali pada tahun 2006.

Pada tahun 2007 pertumbuhan total aset, total ekuitas dan sales mencapai kinerja tertingginya, yaitu pada kisaran 25%. IHSG juga mencatatkan rekor tertinggi pada tahun 2007 hingga mencapai level 2.745,8; dengan pertumbuhan nilai transaksi 58,9% yoy.

Pertumbuhan Ekuitas vs Pertumbuhan Aset

Analisis hubungan pertumbuhan ekuitas terhadap pertumbuhan aset akan dibahas lebih rinci terutama terkait dengan pola hubungan jangka panjang. Seperti yang ditampilkan pada Gambar 2, terlihat adanya pola hubungan antara pertumbuhan total ekuitas dengan total aset. Tanpa memperhitungkan tahun 2005, pertumbuhan total ekuitas memiliki hubungan yang tidak linier tetapi cenderung kuadratik dengan pertumbuhan total aset. Garis hubungan antara keduanya dapat digunakan untuk mendeteksi hadirnya anomali pada tahun tertentu relatif terhadap tahun lainnya dalam periode pengamatan.

Keberadaan tahun 2005 di luar dari garis hubungan tersebut (Gambar 2) menunjukkan kepada para investor dan pengambil keputusan finansial adanya anomali pada tahun tersebut. Seperti yang diketahui, pada tahun 2005 terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak dan peningkatan inflasi yang tinggi sehingga memberikan tekanan yang besar pada pertumbuhan perusahaan. Ini salah satu temuan penting bagi investor jangka panjang.


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 1. Pertumbuhan Tahunan Aset dan Ekuitas Komposit 82 Perusahaan dan Perbandingannya dengan Pertumbuhan Tahunan Penjualan


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 2. Hubungan antara Pertumbuhan Total Ekuitas dengan Pertumbuhan Total Aset


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 3. Hubungan antara Pertumbuhan Total Aset dengan Pertumbuhan Penjualan


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 4. Hubungan antara Pertumbuhan Total Ekuitas dengan Pertumbuhan Penjualan


Pertumbuhan Aset vs Pertumbuhan Penjualan


Pada Gambar 3 ditunjukkan hubungan antara pertumbuhan total aset dan pertumbuhan sales. Tanpa memperhitungkan tahun 2006 dan 2007, pertumbuhan total aset memiliki hubungan yang linier positif terhadap pertumbuhan sales, dengan pertumbuhan sales lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total aset. Secara rata-rata (tanpa tahun 2006 dan 2007) rasio antara pertumbuhan sales dengan pertumbuhan aset berada di nilai 2,30. Artinya, jika total aset tumbuh 1%, maka sales tumbuh 2,30%, atau sebaliknya. Pada tahun 2006 dan 2007 pertumbuhan sales menjadi lebih rendah dibandingkan pertumbuhan total aset.

Seperti yang terlihat pada Gambar 1, pada tahun 2006 terjadi penurunan pertumbuhan sales yang cukup tajam, dibandingkan dua tahun sebelumnya. Sedangkan pada tahun 2007 pertumbuhan sales mencapai yang tertinggi di antara periode pengamatan, demikian pula terjadinya keseimbangan antara pertumbuhan total aset, total ekuitas, dan sales. Dapat disimpulkan bahwa tahun 2007 adalah tahun terbaik dalam kinerja perusahaan terutama jika dilihat dari sisi pertumbuhannya.

Pertumbuhan Ekuitas vs Pertumbuhan Penjualan

Hubungan antara pertumbuhan total ekuitas dengan pertumbuhan sales juga berbentuk kuadratik seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4. Tahun 2007 ternyata terletak di daerah puncak garis parabola hubungan antara pertumbuhan total ekuitas dan pertumbuhan sales. Sedikit mengupas kondisi pasar, tahun 2007 dapat dikatakan sebagai flying high-nya IHSG yang mencapai rekor tertinggi pada level 2.745,90, dan year-on-year return hingga mencapai 52,1%. Tampaknya ada hubungan antara letak tahun 2007 di puncak garis parabola pada Gambar 4 dan sangat baiknya kinerja pasar pada saat itu. Riset lanjutan terhadap data ini mengungkapkan gambaran bahwa tahun 2007 juga terjadi ekspektasi yang berlebihan terhadap prospek pertumbuhan masa depan perusahaan-perusahaan.

Situasi tersebut sangat pas bila dihubungkan dengan konsekuensi logisnya yang menjadi kenyataan, yaitu pada tahun 2008 terjadi penurunan besar-besaran kinerja pasar perusahaan-perusahaan, dan menciptakan kerugian yang luar biasa bagi para investor.

Sektor Finansial

Kinerja bank umum di Indonesia berdasarkan pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga), kredit, dan NII (net interest income) ternyata menunjukkan pola yang hampir sama dengan kinerja komposit 82 emiten yang dianalisis oleh CAPITAL PRICE, yaitu dengan kinerja pertumbuhan sales dan profit komposit perusahaan, terutama bila dibandingkan antara pertumbuhan NII bank umum dengan pertumbuhan net income komposit perusahaan. NII bank umum pada tahun 2003 dan 2005 mengalami pertumbuhan yang negatif, demikian pula pertumbuhan net income komposit perusahaan. Pada tahun 2004 pertumbuhan NII bank umum mencapai nilai tertinggi, demikian pula pertumbuhan net income komposit perusahaan. Namun pada tahun 2007 NII bank umum mengalami penurunan pertumbuhan, sebaliknya net income komposit perusahaan mengalami lonjakan pertumbuhan. Kondisi ini memberikan gambaran kinerja sektor perbankan pada tahun 2007 tidak mengikuti kinerja sektor non finansial yang cemerlang.

Pada tahun 2006 terjadi penurunan pertumbuhan DPK dan penurunan pertumbuhan kredit yang disalurkan bank-bank, dan sepertinya memberikan dampak pada turunnya kinerja pertumbuhan perusahaan-perusahaan pada tahun 2006. Kemudian pada tahun 2007 terjadi peningkatan pertumbuhan DPK dan pertumbuhan kredit bank-bank, dan membawa dampak pada membaiknya kinerja pertumbuhan perusahaan-perusahaan.

Sementara itu total aset keseluruhan perusahaan pembiayaan sepanjang tahun 2006 dan 2007 juga terus bertumbuh, yaitu sebesar 12,81% dan 16,87%. Laba tahun berjalan perusahaan pembiayaan mengalami pertumbuhan negatif pada tahun 2006 (-10,04%), walau kemudian pada tahun 2007 mengalami pertumbuhan positif sebesar 39,79%.

Menarik untuk juga dicermati adalah adanya perubahan portofolio investasi yang dikelola oleh dana pensiun. Pada tahun 2002 porsi portofolio investasi dana pensiun hingga hampir 70% dialokasikan ke dalam deposito, sisanya diinvestasikan ke dalam obligasi korporasi. Sejak diterbitkannya obligasi pemerintah (surat utang negara), porsi deposito semakin menurun. Pada tahun 2003 porsi deposito menjadi sekitar 56%, setelah itu sejak tahun 2004 berada di kisaran 30%. Seiring dengan penurunan porsi deposito, porsi obligasi korporasi dan obligasi pemerintah juga semakin meningkat, hingga masing-masing mencapai di atas 20%. Fenomena pergeseran alokasi investasi tersebut kembali mendukung trend semakin meningkatnya peran pasar modal sebagai wadah investasi bagi para investor.


Sumber: Bank Indonesia

Gambar 5. Pertumbuhan Tahunan Dana Pihak Ketiga, Kredit, dan Net Interest Income Bank Umum


Sumber: CAPITAL MARKET Trends 2008/2009

Gambar 6. Pertumbuhan Tahunan Penjualan dan Profitabilitas Komposit 82 Perusahaan


Penutup

Peralihan tahun 2008/2009 ditandai dengan memburuknya dampak krisis finansial dunia. BEI, sebagai bagian dari sistem pasar finansial yang semakin mengglobal, tidak imun terhadap krisis tersebut. Berdasarkan hasil riset yang telah dipaparkan dalam tulisan ini, koreksi 2008 memang perlu terjadi untuk mengembalikan BEI ke trajektori normal jangka panjangnya. Oleh karena itu, kami yakin bahwa prospek jangka panjang investasi saham di BEI akan kembali ke level normalnya, yaitu memberikan rata-rata return tahunan yang normal sebesar 15%-20%. Selamat berinvestasi saham di BEI dengan menggunakan horison investasi jangka panjang.


Oleh:
Roy Sembel, Guntur Tri Hariyanto, dan Perdana Wahyu Santosa

Learning Organization



Learning
dan learning organization seringkali disebut-sebut sebagai pembawa perubahan yang sukses. Studi-studi tentang inovasi menekankan pentingnya organizational memory dan proses knowledge-acqusition (Drew dan Smith, 1995; hal.5).

Learning organization didefinisikan sebagai kapasitas untuk beajar (learn) dan menghasilkan keluaran/hasil dari learning tersebut (Wilcoxon, 2002). Menurut Senge, learning organization memiliki orientasi humanis yang kuat, yaitu:

"people continually expand their capacity to create the results they truly desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning how to learn together (Senge 1990, p. 2)."

Learning organization secara sengaja menggunakan proses learning pada level individu, kelompok dan sistem untuk mentransformasikan organisasi ke arah jalan yang meningkatkan kepuasan stakeholder-nya (Dixon, 1994 dalam Wilcoxon, 2002).





















Gambar 12. Model organizational learning
Sumber: McElroy (2000)


Gambar 12 menggambarkan model organizational learning oleh Daniel Kim. Model ini dibentuk oleh dua learning cycles yang berbeda namun berhubungan, yaitu individual learning dan organizational learning. Model Kim ini mengkombinasikan dua learning cycle untuk menyampaikan pentingnya saling mempengaruhi antara keduanya jika learning pada masing-masing levelnya ingin terjadi. Individual learning diinformasikan organizational knowledge (mental models) dan sebaliknya, organizational knowledge dibentuk secara kolektif oleh individu-individu. Ide ini mirip pada model Knowledge Management (Gambar 11), terlihat pada proses knowledge organisasi, yang secara eksplisit menunjukan pengaruh dari learning oleh individu dan kelompok pada formulasi knowledge claim dalam produksi knowledge. Ketika dibandingkan dengan model Complex Adaptive System (Gambar 8), komponen-komponen model OADI/SMM oleh Kim(Kim, 1994) memiliki persamaan kira-kira seperti berikut:
+ observe (pengalaman konkrit)
+ assess (refleksi dari observasi)
+ design (bentuk konsep abstrak)
(McElroy, 2002; hal. 203)

Seperti pada model Kim (1994), McKee (1992) menghubungkan inovasi secara umum dengan organizational learning dan mengajukan tiga level proses learning:
Single loop learning terkait dengan inovasi produk yang incremental.
Double loop learning terkait dengan inovasi produk yang diskontinu.
Meta learning terkait dengan menginstitusionalkan inovasi dalam organisasi

Kemampuan untuk belajar, self-organize, dan beradaptasi merupakan elemen-elemen utama dari complexity theory. Dunia bisnis telah memasuki knowledge era dimana informasi merupakan kekuatan dan learning dengan cepat dan tangkas merupakan necessary condition jika ingin sukses. Keirman (2000) berargumen tentang hal ini seperti berikut:

Learning will become the only viable alternative to corporate extinction.

Namun sifat dan derajat kontribusi dari learning ini dipengaruhi oleh struktur, budaya, dan komunikasi dalam organisasi. Dengan demikian elemen utama untuk sukses sepertinya timbul menjadi beberapa hal dibawah ini :
Learning orientation
Shared vision
Open-mindedness
Inter-organizational knowledge sharing

Knowledge Management



Manajemen telah menjadi area penelitian yang menarik selama bertahun-tahun. Salah satu fokus penelitian dalam manajemen saat ini adalah apakah proses manajemen dapat adaptif dan self-organize.

Dari pendekatan knowledge management, manajemen dapat dikatakan didasari oleh pengumpulan dan transformasi knowledge menjadi produk dan jasa yang dapat dijual. Dengan demikian, majemen dari koleksi knowledge yang dimiliki oleh organisasi dan transformasinya menjadi sangat penting bagi kesuksesan organisasi (Dann dan Barclay, 2006).

Knowlegde management telah menjadi suatu kebutuhan strategis suatu perusahaan untuk tetap mempertahankan competitive advantage-nya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Snowden dan Stanbrid (2004), bahwa kebutuhan strategis bagi perusahaan atau organisasi akan knowledge management telah diterima oleh banyak pihak. Contohnya seperti semakin bertumbuhnya permintaan akan inovasi dan meningkatnya intensitas knowledge di banyak area bisnis. Sedangkan oleh McElroy (2000) dikatakan knowledge perusahaan atau sering disebut dengan istilah lain intellectual capital, intellectual property, knowledge assets, atau business intelligence, saat ini dilihat sebagai yang paling akhir dan satu-satunya sumber keunggulan kompetitif dalam bisnis yang berkelanjutan dan tidak dapat “ditiru”.





















Gambar 9. The knowledge lifecycle.
Sumber: McElroy (2000)


Gambar 9 merupakan model knowledge lifecycle. Model ini diciptakan oleh KM Standards Committee of Knowledge Management Consortium. Terdapat tiga tingkatan dasar dalam knowledge lifecycle: produksi knowledge, validasi knowledge, dan integrasi knowlegde. Jika diperhatikan terlihat kemiripan model ini dengan model CAS dalam hal role of feedback. Merupakan hal yang lazim juga bagi kedua model dalam hal intepretasi knowledge sebagai rules dan rule sets yang ada yang ditunjukkan disini dalam bentuk organizatioal knowledge. Sedangkan “knowledge claim” merupakan rule yang baru atau knowledge yang baru dalam tahap perkembangannya (formative) (McElroy, 2002; hal 202).

Dann dan Barclay (2006) membangun sebuah complexity representation model (CRM) untuk proses manajemen. Proses manajemen dalam hal ini lebih diartikan secara mendasar dan generik terkait dengan proses manajemen secara umum.
















Gambar 10. Proses-proses Complexity Representation Model (CRM)
Sumber: Dann dan Barclay (2006), hal. 23


Mereka menggambarkan CRM dengan mengelompokkan sifat-sifat complexity dalam proses manajemen. Dibawah ini adalah pengelompokkan sifat-sifat complexity dalam proses manajemen yang mereka lakukan:


Tabel 2. Sifat-sifat complexity berdasarkan kelompoknya






















Penciptaan, penyebaran, dan penggunaan knowledge dalam suatu organisasi tergantung oleh perubahan dari tacit knowledge menjadi explicit knowledge. Nonaka dan Takuechi (1995) dalam Dann dan Barclay (2006) megajukan empat cara supaya hal tersebut dapat terjadi:
• Sosialisasi (tacit ke tacit)
• Eksternalisasi (tacit ke eksplisit)
• Internalisasi (eksplisit ke tacit)
• Kombinasi (eksplisit ke eksplisit)

Dalam hal knowledge gaps yaitu knowledge yang tidak diketahui dari yang perlu diketahui oeleh suatu organisasi, Koulopoulos (1997) dalam Dann dan barclay (2006) mengajukan proses evaluasi knowledge gaps dengan menggunakan “knowledge chain” yang terdiri dari:
Internal awareness yang membawa ke
Internal responsiveness
External awareness yang membawa ke
External responsiveness

Dalam organisasi terdapat critical knowledge functions, yaitu berdasarkan definisi Wiig (1995) merupakan domain kunci knowledge suatu organisasi. Sebagian hal tersebut diperoleh oleh organisasi melalui sistem formal, namun skala dan complexity dari proses akumulasi, konversi dan penyebaran knowledge menyebabkan critical knowlegde functions diperoleh mealui proses informal. Dengan demikian diperlukan adanya keseimbangan antara kebebasan dan kontrol dalam organisasi agar hal tersebut menjadi optimal.



















Gambar 11. Complexity Application Model
Sumber: Dann dan Barclay (2006), hal. 26


Complexity application model (CAM) menggunakan basis dari “alur” complexity theory, yaitu dari Organisai ke Evolusi, yang berinteraksi dengan sistem formal dan non-formal dan proses-proses dari organisasi. Dibawah ini dijelaskan fungsi-fungsi dari model CAM pada Gambar 11:

Aspek formal
Aspek formal merepresentasikan knowledge, proses, sistem dan prosedur organisasi yang formal yang terkait dengan kemampuan melihat dan memprediksi kejadian yang potensial terjadi melalui rencana dan sistem yang contingent. Dalam hal ini potensial “ketidakcocokan” dapat diprediksi dan kemampuan untuk mengatasi seharusnya dapat timbul dan dibangun kedalam sistem. Proses formal berlaku hingga terjadinya “ketidakcocokan” yang serius yang menuntut perubahan yang signifikan.

Aspek informal
Aspek informal merepresentasikan knowledge dan proses learning yang bersifat informal di organisasi, berhubungan dengan kejadian-kejadian yang tidak dapat dilihat melalui kemampuan orang-orang dan budaya yang terdapat dalam organisasi. Dalam hal ini “ketidakcocokan” tidak dapat dan didasari oleh proses learning, adaptasi dan evolusi dalam complexity theory. “Ketidakcocokan” minor dapat berhubungan dengan informal proses yang tanpa memerlukan perubahan dalam sistem formal. Ketika “ketidakcocokan” menjadi serius, hasil dari tindakan sistem informal dapat disatukan dengan proses formal.

Konfirmasi knowledge
Hal in memiliki dua dimensi. Jika kejadian-kejadian “cocok” dari yang dibutuhkan dan/atau dari yang diprediksi, maka knowledge yang telah ada valid dan dipertegas. Jika kejadian-kejadian menciptakan “ketidakcocokan”, maka knowledge yang baru dan lebih tepat harus disatukan, divalidasi dan dipertegas. Dalam kedua kasus new learning mungkin saja diserap.

Penyatuan proses learning
Hal ini juga memiliki dua dimensi. Baik pada kejadian yang ‘’cocok’’ maupun yang ‘’tidak cocok’’ proses learning yang baru dan lebih tepat dapat saja disatukan kedalam organisasi sebagaimana dibutuhkan untuk peningkatan.

Pengembangan organisasi
Dalam hal ini terdapat dua titik ekstrim. Jika proses bekerja berjalan dengan baik, maka knowledge organisasi menjadi dipertegas sebagai dasar yang benar (yaitu “cocok”). Minor perturbations terkait dengan sistem informal yang mampu mengatasinya. Jika proses formal tidak bekerja dengan baik (“tidak cocok”), maka proses learning dari proses informal dapat dibangun kedalam proses formal.