Sunday, March 15, 2009

Perkembangan Abad 21: Kondisi Lingkungan Saat Ini

Perkembangan kondisi lingkungan tempat kita hidup saat ini boleh dikatakan perubahannya berada dalam kondisi yang memusingkan bagi organisasi-organisasi. Hadirnya teknologi-teknologi baru, krisis lingkungan dan ekonomi, terintegrasinya pasar, dan ketidakstabilan sosial dan politik, menghadirkan kesempatan dan ancaman bagi organisasi-organisasi. Aturan-aturan tradisional yang sebelumnya berlaku dalam organisasi-organsisasi, saat ini semakin bergeser menuju keusangan.

Teknologi-teknologi baru dalam bidang informasi dan komunikasi secara dramatis semakin cepat perkembangannya, demikian juga kekuatan komunikasi semakin powerful dan semakin murah pula harganya. Terintegrasinya pasar-pasar di seluruh dunia membuat semakin terkikisnya kekuatan kebijakan nasional negara-negara yang kemudian bergeser kepada peraturan-peraturan trans-nasional yang akan mengatur jalannya pasar-pasar global.

Banyak sekali perubahan yang telah dan sedang terjadi dalam abad 21 ini, dimana perubahan ini terjadi secara global dan juga mendasar. Hal tersebut memberikan kondisi yang ketidakseimbangan bagi banyak organisasi di dunia ini. Bagi organisasi jangan berharap banyak dapat setelah mencapai tingkat keseimbangan kembali menjadi berpuas diri, karena abad ini memiliki karakter perubahan yang semakin lama semakin cepat, sehingga ketika suatu organisasi telah mencapai kondisi yang diinginkan dari perubahan sebelumnya, perubahan baru telah terjadi dan semakin cepat lajunya. Bagaimanakah gambaran abad 21 sebenarnya? Berikut ini gambaran sekilas yang dianggap merupakan poin-poin penting untuk menggambarkan kondisi tersebut.

• Hilangnya kontrol akan informasi
Pada era industrialisasi informasi secara relatif adalah suatu sumber daya yang sulit dijangkau. Teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah meningkatkan kemampuan kita untuk menciptakan dan mendistribusikan informasi dalam jumlah yang besar dengan tingkat kecepatan yang tinggi dan tingkat audiens yang besar pula. Saat ini informasi dapat mengalir dengan bebasnya menuju belahan dunia mana saja, kontrol akan informasi semakin menghilang dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi. Individu-individu semakin memiliki kesamaan dalam kemampuan mengakses dan mengintepretasikan informasi.

• Tingginya permintaan akan knowledge
Dengan bebasnya informasi dapat bergerak dan teknologi-teknologi baru membuat laju perubahan semakin cepat, maka knowledge-lah yang menjadi kunci akan kesuksesan bagi seseorang atau organisasi. Kapasitas untuk menciptakan dan mengerti knowledge yang dapat membawa seseorang atau organisasi beradaptasi dan berkembang dalam kondisi lingkungan yang turbulens. Organisasi perlu untuk melakukan integrasi akan knowledge yang berbeda-beda yand dimiliki anggotanya untuk dapat mencapai tujuannya.

• Semakin tingginya tingkat interkonekstitas dan ketergantungan
Saat ini globalisasi semakin cepat berlari didukung oleh perkembangan teknologi-teknologi baru. Kondisi ini menciptakan terjadinya interkoneksi dan ketergantungan antara komponen-komponen dalam dunia global. Berkurangnya penghalang dalam perdagangan dan investasi antara negara-negara telah mengikis pentingnya ekonomi dalam batasan nasional/negara. Teknologi telah menciptakan sistem produksi dan distribusi baru yang mengizinkan perusahaan-perusahaan menjual produk-produknya dimanapun di seluruh dunia secara virtual dengan kecepatan yang tinggi.

• Semakin tingginya diversity dan resiko
Globalisasi dan teknologi baru telah menciptakan pertukaran budaya setiap saatnya, dengan demikian masyarakat semakin diverse. Diversity dalam masyarakat termasuk dalam gaya hidup, identitas, pandangan hidup, dan lain-lain. Tingkat interdependensi transnasional yang semakin tinggi saat ini juga menyebabkan peningkatan tingkat resiko dari krisis ekonomi global, penyebaran penyakit, kejahatan transnasional dan imigrasi illegal.

Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan salah satu ciri utama yang dapat kita lihat dengan jelas tentang kondisi lingkungan saat ini adalah semakin tingginya tingkat global interkoneksi dan ketergantungan. Hal ini menurut Bar-Yam (1997) menyebabkan semakin berkurangnya tingkat kontrol yang terpusat dalam organisasi-organisasi saat ini. Bar-Yam (1997) dalam bukunya yang berjudul Dynamics of Complex Systems menjabarkan bukti-bukti yang telah terjadi tentang semakin hilangnya tingkat kontrol yang terpusat, yaitu (hanya disajikan enam penjabaran dari sebelas penjabaran oleh Bar-Yam):

• Hilangnya pemerintahan diktator di dunia barat
Saat ini boleh dikatakan hanya Cuba yang masih menjalankan pemerintahan diktator, namun di semua negara-negara barat telah terjadi perubahan sistem pemerintahan yang tidak lagi diktator. Hilangnya pemerintahan yang diktator sebenarnya tidak hanya terjadi di negara-negara barat, namun juga negara-negara Asia dan Afrika yang belakangan ini juga telah banyak terjadi transisi, termasuk di Indonesia dan Filipina.

• Perubahan negara-negara komunis
Hal ini terutama tergambar dalam perubahan yang terjadi pada negara Uni Soviet. Dengan Uni Soviet tidak lagi menjadi negara komunis, kekuatan komunisme didunia menjadi jauh sangat berkurang, walaupun masih ada beberapa negara yang menganut komunisme seperti Korea Selatan, Cuba dan China. Saat ini China sendiri tidak dapat dikatakan sepenuhnya merupakan negara komunis terutama jika dilihat dari sisi ekonomi dan bisnisnya.

• Terjadinya privatisasi dalam negara-negara yang menganut demokrasi
Dalam banyak negara yang menganut demokrasi, pemerintah biasanya melakukan privatisasi akan industri yang sebelumnya di tangani oleh pemerintah, sehingga tinggal sedikit industri saja yang ditangani oleh pemerintah. Kontrol yang dilakukan pemerintah diubah menjadi dalam bentuk pajak dan peraturan-peraturan.

• Menciutnya ukuran perusahaan-perusahaan besar secara sistematis
Jika dilihat trennya, sejak tahun 1970 hingga 1995 perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam Fortune 500 (500 perusahaan terbesar di Amerika), proporsi jumlah pekerjanya dengan keseluruhan pekerja yang ada semakin menurun.

















Gambar 2. Total pekerja dari 500 perusahaan terbesar di Amerika seperti yang disusun oleh majalah Fortune.

Sumber: Bar-Yam (1997), hal. 802


• Terjadinya perubahan dalam menajemen korporat
Menciutnya ukuran perusahaan-perusahaan besar seringkali disebabkan oleh biaya birokrasi yang terlalu mahal bagi perusahaan. Pendekatan manajemen seperti total quality management (TQM) lebih didasari pada pengambilan keputusan yang timbul dari tim bukan dari keputusan yang diambil oleh pihak manajemen yang lebih tinggi.

• Hadirnya pori-pori pada batas perusahaan
Hal ini dimaksudkan bahwa batas perusahaan tidak lagi terlalu tegas, contohnya adalah penggunaan tenaga-tenaga outsorce dan tenaga kerja sementara (kontrak) dan juga konsultan bagi perusahaan. Sementara itu perusahaan hanya fokus pada teknologi dan kompetensi intinya saja.

William Bernquist seorang organizational theorist dalam Ray (2001, hal.1) menggambarkan tingkat perubahan dunia saat ini seperti dibawah ini

“…the present environment of unpredictable and perpetual change is not phase or period of transition but the new reality.”

Sedangkan Kathlin K. Ray (2001) mengatakannya dengan bahasa yang lain

“The relentless pace of change combined with increasing levels of complexity and ambiguity are creating chaotic and turbulent work environments.”

Uraian diatas sebelumnya memberikan gambaran akan organizational complexity yang sebenarnya saat ini semakin tinggi tingkatannya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang terus berubah sehingga lingkungan semakin kompleks dan kecepatan perubahannya yang semakin cepat dan tidak beraturan. Banyak yang mengatakan organisasi yang hidup di era saat ini digambarkan dengan kondisi at the edge of chaos.

Penggambaran ini merupakan penggambaran yang ingin mengatakan dunia ini terkadang sangat terstruktur dan teratur dan pada lain waktu terlihat seperti chaotic dan tidak dapat diprediksi. Dapat dikatakan terdapat struktur yang cukup sehingga memberikan rasa akan kestabilan dan kontinuitas, namun juga terdapat cukup diversitas dan ketidakpastian yang membawa hal-hal baru dan tidak pernah diketahui timbul yang membawa pada peningkatan dan pertumbuhan. Kondisi edge of chaos merupakan titik keseimbangan dari kedua keadaan diatas, kondisi sesaat sebelum kita berada dalam chaos atau sesaat setelah berada dalam chaos. Kondisi ini juga dikatakan sebagai titik emergence, dimana timbulnya perilaku baru yang sebelumnya tidak diprediksi.










Gambar 3. Representasi kondisi at the edge of chaos, kondisi diantara tingkat keteraturan dan ketidakteraturan yang tinggi.

Sumber: Koivuaho dan Laihonen (2006), hal. 50.


Dengan demikian kita tidak dapat lagi untuk memodelkan atau melihat dunia yang sekarang ini seperti pada era Newtonian yang bersifat deterministik, memetaforakan dunia sebagai mesin yang mekanistik, terprediksi, memiliki keteraturan, dapat dikontrol, dan memiliki kepastian tertentu, logika berpikir yang melatarbelakangi juga pemikir-pemikir teori organisasi dari era modern.

Dengan kondisi lingkungan kita tinggal dan demikian pula bagi organisasi, maka diperlukan suatu sudut pandang atau teori baru untuk dijadikan suatu diskursus bagi organisasi dalam rangka mempertahankan hidup dan berkembang. Complexity science memberikan peluang bagi kita untuk dapat melihat dan menggambarkan sistem hidup kita dengan lebih jernih dan komprehensif, memberikan banyak kontradiksi dibandingkan pada era modern.

Organizational Complexity

Organisasi menjadi kompleks dapat dilihat dari sisi orang-orang yang membentuknya sendiri sudah kompleks, orang-orang tersebut memiliki perbedaan-perbedaan pada jenis kelamin, umur, latar belakang, pengalaman, kepercayaan, nilai-nilai dan keinginan. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa semua organisasi adalah kompleks tanpa perlu memperhatikan keragaman internalnya (internal diversity), namun disebabkan oleh perbedaan interpersonalnya.













































Gambar 1. Tingkat kompleksitas organisme dan lingkungannya dilihat dari komponen-komponen pembentuknya.

Sumber: www.idiagram.com







Gambar 1 diatas digambarkan secara jelas oleh Marshall Clemen tentang hadirnya kompleksitas suatu organisme hingga lingkungannya yang timbul dari komponen-komponen pembentuknya dari yang paling dasar adalah String dan Quark. String dan Quark hingga saat ini dipercaya sebagai pembentuk paling dasar dari materi yang ada didunia ini, jauh lebih mendasar dibandingkan dengan atom. Masing-masing bentuk tersebut memiliki tingkat kompleksitasnya. Sehingga ilustrasi ini menjadi pendukung dan penjelas kompleksitas organisasi yang dilihat dari interpersonalnya, dengan melihat seseorang dalam organisasi juga sebagai organisme.



Kompleksitas organisasi dari segi interpersoalnya juga dapat dilihat dari sisi kemampuan hampir semua orang mampu untuk memainkan berbagai peran yang berbeda-beda dalam organisasi. Hal ini dapat terlihat bagaimana dalam pemutaran tugas (rolling), seseorang mampu memainkan peran sesuai dengan kepercayaan dan norma-norma yang ada pada pada fungsi dan proyek tertentu yang diberikan padanya, pada waktu tertentu (Dooley, 2002; hal. 7).



Dari sudut pandang teori organisasi, organizational complexity merupakan respon dari tingkat kompleksitas baik didalam maupun diluar organisasi tersebut. Kompleksitas dari lingkungan internal dan eksternal dapat digambarkan dalam tiga dimensi yaitu diferensiasi atau variasinya, sifat-sifat dinamiknya, dan kompleksitas dari mekanisme dasar penyebabnya. (Dooley, 2002; hal. 7).



Teori contingency mengatakan kepada kita tentang bentuk dan perilaku suatu organisasi yang mengikuti kondisi lingkungan eksternalnya, atau dengan kata lain fit dengan lingkungannya. Dengan lingkungan eksternal yang kompleks organisasi juga akan menjadi kompleks. Dalam usaha untuk fit dengan lingkungan eksternalnya organisasi melakukannya dengan melakukan diferensiasi.



Organsisasi menjadi kompleks juga dapat disebabkan oleh kondisi internalnya, seperti apa yang diungkapkan oleh Thompson (1967) dalam Dooley (2002, hal.9) tentang organisasi teknologi. Dengan mengikutsertakan artifak fisik seperti prosedur, metode dan proses dalam organisasi tersebut, maka semakin kompleks teknologi suatu organisasi maka suatu organisasi akan cenderung semakin kompleks.



Perrow (1984) dalam bukunya Normal Accidents: Living with High-Risk Technologies berargumen bahwa sistem kita telah menjadi begitu kompleks dan closely coupled sehingga kecelakaan-kecelakaan telah menjadi sesuatu yang normal dan tidak dapat menjaminnya bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Disebabkan oleh sistem yang kompleks, maka diperlukan operasi yang sifatnya desentralisasi sehingga tercipta fleksibilitas jika terjadinya suatu kesalahan. Namun, sistem yang closely coupled memerlukan operasi yang sifatnye sentralisasi sehingga terciptanya kontrol dalam sistem. Dengan demikian Perrow berargumen bahwa kita tidak dapat memiliki kedua operasi desentralisasi dan sentralisasi, sehingga kecelakaan yang dianggap sebagai kejadian normal tidak dapat dihindari. Perrow membagi teknologi dalam organisasi dalam linier atau kompleks. Linier dalam hal ini menunjukkan sesuatu yang lebih sederhana dari mekanisme yang lebih kompleks, atau lebih mudah dimengerti.



Lingkungan institusional juga memberikan pengaruh terhadap organizational complexity. Seperti dikatakan oleh Powell (1988) dalam Dooley (2002, hal.10):



“located in environments in which conflicting demands are made upon them will be especially likely to generate complex organizational structures with disproportionately large administrative components and boundary spanning units” (p.126)



Hal ini mendukung seperti apa yang dikatakan juga oleh teori institusinalization.



Mitzberg (1993) dalam Dooley (2002, hal.13) menggambarkan perubahan struktur organisasi dengan adanya perubahan lingkungan, jika lingkungan semakin kompleks, maka organisasi akan semakin decentralized. Dalam hal lingkungan yang kompleks Mitzberg membagi lingkungan menjadi dua, yaitu i) kompleks tetapi stabil dan ii) kompleks tetapi turbulens. Dalam lingkungan i), organisasi akan memilih standarisasi dalam proses kerja dan keluarannya. Contohnya adalah organisasi manufaktur melakukan sistem kualitas seperti pada petunjuk dalam standar ISO 9000. Sedang dalam lingkungan ii), organisasi akan melakukan mutual adjustment. Hal ini dapat digambarkan dengan perusahaan-perusahaan yang terdapat dalam industri internet yang melakukan mutually co-evolve standar dengan tujuan untuk menjaga kompatibilitas dengan perusahaan lainnya.

Wednesday, February 25, 2009

A Tribute For Entrepreneur: A Financial Perspective



Dulu saya membayangkan menjadi entreprenuer itu enak, punya bisnis, punya penghasilan besar dan lain-lain yang enak-enak. Namun ternyata untuk mencapai itu semua tidak semudah itu. Salah satu hal yang sangat menyulitkan entrepreneur adalah masalah pendanaan, baik untuk kebutuhan investasi maupun modal kerja. Sepanjang pengamatan bagi perusahaan-perusahaan yang baru dibangun atau baru mau dibangun mencari pendanaan begitu sulit, pontang-panting namun terkadang tidak menghasilkan apa-apa. Terlebih bila mencari ke bank, sudah pasti ditolak apabila umur perusahaan belum mencapai 2 tahun (untuk Indonesia), belum lagi harus memiliki jaminan tertentu untuk pinjaman yang diajukan. Kecuali kalau sang entrepreneur dapat memperoleh fasilitas personal guarantee, maka walaupun umur perusahaan masih sangat baru namun bisa memperoleh pinjaman pendanaan dari bank. Tetapi hal ini seperti virtuous circle, untuk memperoleh fasilitas personal guarantee biasanya yang menjadi pegangan oleh bank adalah adanya perusahaan yang sudah establish yang menjadi penjamin perusahaan baru atau minimal jaminan aset yang cukup besar. Untuk perusahaan baru tentunya hal tersebut tidaklah mudah, terlebih bila perusahaan baru yang dibangun adalah benar-benar start dari nol, hanya bermodalkan mimpi dan semangat.

Secara umum pemodalan entrepreneur bertumpu pada kombinasi antara hutang dan ekuitas. Hutang modal akan membebani perusahaan dengan bunga dan berbagai persyaratan perjanjian yang membatasi perusahaan dalam kegiatan operasionalnya terutama dalam hal kinerja keuangan. Sedangkan ekuitas akan membebani perusahaan dengan dividend dan capital gain, belum termasuk keterlibatan pemberi modal dalam manajemen perusahaan. Pada akhirnya seorang entrepreneur harus berpikir cermat dan cerdas dalam memutuskan komposisi sumber pendanaan modal dengan mempertimbangkan sisi cost-benefit dan risk-return. Tentunya semua entrepreneur menginginkan cost dan risk yang serendah-rendahnya namun dapat memperoleh benefit dan return yang setinggi-tingginya. Namun benefit dan return yang diterima entrepreneur akan menjadi cost dan risk bagi pemberi modal, demikian pula sebaliknya.

Paling tidak ada tiga tahapan dalam perjalanan pertumbuhan perusahaan, yaitu start-up, growth dan internasionalisasi. Pada tahap start-up perusahaan telah menyelesaikan pembangunan produk dan initial marketing, memiliki sedikit pendapatan, membangun basis pelanggan, masih belum menguntungkan, membutuhkan pendanaan agar dapat beroperasi, dan memiliki risiko kegagalan yang tinggi. Sumber pendanaan bagi perusahaan start-up masih sulit, akses kepada bank masih sangat terbatas jika tidak ingin dibilang tidak ada, dan sumber pendanaan biasanya menuntut pinjaman yang dengan jaminan yang aman. Bila sumber pendanaan dapat diperoleh dari institusi keuangan, biasanya akan diminta bukti pencatatan transaksi keuangan yang telah berjalan terutama catatan keluar-masuk uang pada rekening bank. Untuk perusahaan yang telah memiliki permintaan (order) dari pelanggan (terutama untuk perusahaan yang memiliki aktifitas ekspor-impor) institusi keuangan biasanya mau memberikan fasilitas letter of credit dan trust receipt. Oleh karena itu, umumnya untuk perusahaan start-up pemodalan terutama diperoleh dari angel investor, yaitu investor yang memiliki dana namun mau menanamkannya pada perusahaan dengan risiko yang tinggi. Angel investor biasanya adalah entrepreneur yang telah sukses yang dahulunya juga mengalami hal yang sama pada waktu perusahaannya masih pada tahap start-up. Pada negara maju, perusahaan start-up dapat langsung memanfaatkan over-the-counter (OTC) market atau pasar yang memperdagangkan instrumen keuangan langsung antara pihak pembeli dan penjual dengan biasanya melalui perantaraan dealer.

Pada tahap growth perusahaan telah memiliki bisnis yang menguntungkan dengan basis pelanggan yang telah stabil. Perusahaan membutuhkan modal untuk mendukung pertumbuhan penjualan, dana yang diperoleh perusahaan biasanya digunakan untuk meningkatkan kapasitas produk, memperkuat brand, dan membangun bisnis yang lebih besar. Dengan kondisi ini institusi keuangan biasanya dapat membantu perusahaan dengan memberikan fasilitas-fasilitas seperti letter of credit dan trust receipt untuk pembelian, factoring untuk penjualan, dan pinjaman untuk fixed asset. Pada tahap growth fasilitas-fasilitas yang diberikan institusi keuangan dapat dikatakan berada dalam kondisi yang terjamin, sedangkan di lain pihak investor korporasi mau memberikan modal dalam bentuk kepemilikan saham. Pendanaan juga dapat diperoleh di pasar modal dengan perusahaan melakukan initial public offering (IPO) sehingga perusahaan dapat memperoleh modal dari masyarakat secara langsung, tentunya dengan memenuhi berbagai kondisi yang dipersyaratkan oleh regulator pasar modal.

Setelah berhasil melalui tahap growth, perusahaan dapat memasuki tahap insternasionalisasi. Sebelum memasuki tahap ini perusahaan berada dalam kondisi memiliki rekam jejak keuntungan yang baik dan telah secara sukses melakukan bisnis di pasar lokal atau dapat dikatakan telah mencapai pada kondisi yang establish (mapan). Pertumbuhan perusahaan dikejar dengan mengekplorasi kesempatan-kesempatan yang tersedia di pasar luar negeri. Beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan melakukan joint venture, merger, acquisition, dan strategic alliance dengan perusahaan lainnya terutama perusahaan lain yang beroperasi di luar negeri. Institusi keuangan dapat membantu pendanaan operasional perusahaan seperti fasilitas pendanaan proyek dan syndicated loan bahkan dengan berbagai fasilitas produk keuangan yang lebih rumit seperti produk derivative dan produk structured finance lainnya. Untuk perusahaan yang masih private, akan lebih mudah untuk menjalani tahap ini jika melakukan IPO, sehingga pendanaan internasional dapat lebih mudah diperoleh. Bahkan perusahaan dapat mencatatkan diri di pasar modal luar negeri. Selain itu perusahaan juga dapat mengumpulkan uang dengan menerbitkan obligasi dan commercial paper selain berbagai corporate action yang dilakukan terkait dengan pencatatan sahamnya, seperti right issue dan lainnya.

Dari uraian tersebut di atas, tergambar bahwa banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang entreprenuer agar perusahaannya terus bertumbuh dan berkembang. Padahal yang dibahas baru dari sisi keuangan saja belum dari sisi operasional, organisasi, legal, sumber daya manusia, dan lainnya. Tulisan ini merupakan penghargaan bagi entrepreneur yang telah dengan susah payah mau mewujudkan visi dan misinya, membangun dari yang tidak ada menjadi ada, berani bermimpi dan berani mewujudkannya. Tentunya hal ini terlebih bagi entrepreneur dengan perusahaan yang memiliki good governance, ethical behavior, dan environmental concern sehingga memberikan nilai tambah bagi semua stakeholder-nya.

Siklus Pasar: Antara Ekspektasi dan Nilai



Sepanjang tahun 2006-2007 Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat dikategorikan berada dalam bull market. Istilah bull market menggambarkan tingginya ekspektasi dan kepercayaan investor terhadap kinerja masa depan sehingga terjadi peningkatan harga-harga sekuritas. Kemudian pada tahun 2008/2009 terjadi perubahan siklus pasar, harga-harga saham di BEI mengalami penurunan tajam, BEI dapat dikategorikan berada dalam bear market. Istilah bear market menggambarkan terjadinya penurunan harga-harga sekuritas secara terus menerus, meluasnya pesimisme investor dan sentimen negatif di dalam pasar. Dalam bear market, kerugian lebih dalam diantisipasi dengan melakukan penjualan sekuritas, sehingga harga-harga sekuritas terus menerus menurun. Kondisi bear market saat ini yang juga terjadi di seluruh pasar keuangan dunia dengan penyebab utamanya adalah krisis subprime mortgage (krisis yang dipicu oleh surat utang yang berbasis perumahan bagi nasabah berisiko tinggi) di Amerika Serikat.

Growth Stock vs Value Stock

Pembagian karakteristik saham paling umum terbagi dalam dua kategori, yaitu growth stock dan value stock. Yang dimaksud dengan growth stock adalah saham dengan pertumbuhan pendapatannya melebihi rata-rata pasar, juga memiliki price-earnings ratio (PER, rasio antara harga saham dengan pendapatan) dan price-to-book ratio (PBV, rasio antara harga saham dengan nilai buku) melebihi rata-rata pasar. Sedangkan value stock adalah saham yang dipersepsikan memiliki pendapatan dan memberikan dividen yang stabil, juga memiliki PER dan PBV yang rendah. Seringkali value stock didefinisikan sebagai saham yang memiliki harga di bawah harga wajarnya (undervalued).

Pada saat bull market yang sering mendapat perhatian investor adalah saham-saham dalam kategori growth stock, karena dapat memberikan tingkat keuntungan investasi yang tinggi. Saham-saham dalam value stock seringkali diabaikan karena dianggap kurang menguntungkan, juga dipersepsikan membosankan untuk investasi dalam masa-masa peningkatan harga saham. Biasanya peningkatan harga saham value stock dalam bull market lebih rendah dibanding
kan growth stock sehingga menjadi tidak menarik bagi investor. Namun ketika bear market tiba, saham-saham dalam kategori value stock kembali menjadi perhatian investor, sementara saham-saham growth stock biasanya mengalami kejatuhan harga di atas rata-rata pasar.

Dutch Disease

Perhitungan nilai wajar (valuation) saham pada kondisi bull market seringkali keluar dari metode-metode umumnya. Contohnya seperti pada saat dotcom bubble tahun 2000 di Amerika, perusahaan dotcom yang baru saja dibentuk dapat memiliki nilai yang sangat tinggi, walaupun sebenarnya pendapatan perusahaan tersebut belum stabil bahkan belum ada. Adanya ekspektasi yang berlebihan terhadap masa depan perusahaan-perusahaan dotcom memancing untuk terbentuknya banyak sekali perusahaan yang bergerak pada industri yang sama, supply dan demand menjadi tidak seimbang.

Membandingkan dengan kondisi BEI tahun 2006-2007, kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) banyak didorong oleh peningkatan harga saham-saham sektor komoditas. Pasar memberikan ekspektasi yang tinggi pada sektor tersebut, namun tidak seimbang terhadap sektor lainnya. Dengan kondisi tersebut, jadi teringat dengan istilah Dutch disease, yang pertama kali dipopulerkan oleh majalah The Economist pada tahun 1977. Ducth disease adalah suatu kondisi yang menggambarkan hubungan antara terjadinya booming sektor sumber daya alam, sehingga memberikan revenue yang besar di sektor tersebut, namun di sisi lain sektor manufaktur menjadi kurang kompetitif. Terjadinya kenaikan harga-harga komoditas sumber daya alam yang tajam juga dapat termasuk dalam terminologi Dutch disease. Negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah-ruah akan memperoleh pemasukan dalam valuta asing yang sangat banyak, sehingga menyebabkan penguatan mata uang negara tersebut. Paling tidak ada dua efek utama dengan terjadinya Dustch disease, yaitu: 1) terjadinya penurunan daya saing harga di sektor manufaktur, dan 2) terjadinya peningkatan import.

Booming sektor komoditas yang terjadi dapat dikatakan didorong oleh peningkatan harga minyak dunia dan kemudian juga diikuti oleh komoditas yang lain. Bagi Indonesia membawa implikasi terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas yang memberikan beban berat pada sektor manufaktur. Hasil kenaikan BBM dan bahan bakar gas membawa inflasi yang menjadi double digit yang semula prediksi inflasi tahun 2008 hanya di sekitar 6,5%. Dengan kondisi ini banyak industri di Indonesia mengalami kesulitan bahkan mengalami penurunan daya saing yang cukup tajam.

Terindikasi pula terjadi ekspektasi berlebihan tentang peluang pertumbuhan di masa depan beberapa perusahaan di BEI, terutama sektor komoditas, sehingga investor menilai harga-harga saham menjadi terlalu tinggi. Misalnya pada kasus BUMI (PT Bumi Resources), pada saat harga tertingginya dapat mencapai lebih dari Rp 8500, saat ini hanya di kisaran Rp 500, atau terjadi penurunan nilai lebih dari 90%.

Sunday, January 25, 2009

Menjadi Investor Individu yang Sukses



Menjadi seorang investor individu yang sukses adalah impian banyak orang. Hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan, namun tentunya bisa menjadi kenyataan. Bahkan, bila mampu mewujudkannya, kinerja seorang investor individu dapat melebihi kinerja para professional dan kinerja pasar. Hal ini berarti seorang investor mampu menjadi penasihat dan pengelola dana bagi investasinya sendiri. Apa saja yang harus menjadi perhatian investor individu untuk dapat mencapai kesuksesan berinvestasi? Berikut ini adalah beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

Keseimbangan antara emosi dan logika

Emosi seringkali terkait dengan keberanian seseorang dalam mengambil keputusan. Dalam berinvestasi keberanian sangat dibutuhkan, terlebih bila kesempatan yang datang mengharuskan untuk mengambil keputusan dengan cepat dengan informasi yang kurang memadai. Namun, bila seorang investor membiasakan diri mengambil keputusan tanpa perhitungan dan informasi yang memadai akan memberikan nilai tambah bagi risiko yang ditanggung dari keputusan yang dibuat. Salah-salah membuat keputusan, bisa saja yang diperoleh adalah kerugian yang amat besar. Oleh karenanya seorang investor harus mampu membangun sistem logika dalam mengambil keputusan sehingga tidak dikuasai oleh emosi, dengan demikian keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan yang logis antara risiko dan peluang tingkat pengembalian yang diharapkan.

Kedisiplinan diri

Membangun kedisiplinan diri dalam berinvestasi menjadi syarat yang mutlak. Agar tidak dikuasai oleh emosi, sistem logika yang dibangun oleh seorang investor harus dilakukan dengan disiplin. Banyak hal yang menggoda seorang investor untuk tidak berdisiplin terhadap sistem logika investasinya, berbagai iming-iming keuntungan dan atau peluang seringkali menggiurkan, terutama dalam jangka pendek. Perolehan keuntungan dalam waktu singkat dan cepat tentu sangat menggoda untuk dapat diraih, namun kiranya perlu hati-hati dengan kondisi seperti itu. Akan jauh lebih menguntungkan bila seorang investor tetap berpendirian teguh dengan prinsip investasi yang sesuai dengan karakteristiknya, karena setiap orang memiliki karakteristik investasi yang berbeda-beda dan peluang yang datang belum tentu cocok dengan karakteristiknya.

Kemampuan membaca angka

Dunia keuangan dan investasi penuh dengan angka. Laporan keuangan perusahaan berisi angka-angka yang harus mampu diekstrak sehingga dapat menggambarkan perusahaan yang sebenarnya. Data obligasi, kinerja reksa dana, indikator pasar, indikator ekonomi makro dan lainnya disajikan dengan angka-angka. Menjadi hal yang sangat penting bagi seorang investor individu untuk mengembangkan kemampuannya dalam membaca dan mengintepretasikan angka-angka dalam dunia keuangan dan investasi. Dengan demikian keputusan yang dibuat tentunya akan menjadi lebih baik.

Pengakuan atas keterbatasan diri

Seorang investor memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya, seorang investor baru mengetahui seluk-beluk tentang saham, maka perlu diakui secara jujur bahwa pengetahuan tentang pasar obligasi, valuta asing dan lainnya masih lemah. Bidang tertentu yang dipahami dengan baik akan menimbulkan kepercayaan diri dan keputusan yang dibuat berdasarkan pengetahuan yang baik pula. Bidang yang belum dipahami dengan baik perlu dibangun secara bertahap, atau dapat juga mengandalkan informasi dari pihak-pihak yang memang expert dalam bidang tersebut, misalnya lembaga riset tertentu. Namun tentunya perlu dalam membaca informasi suatu lembaga perlu ada pembandingya sehingga seorang investor dapat membuat keputusan yang berimbang.

Menjadikan investasi sebagai hobi

Sudah banyak bukti yang menggambarkan dari hobi dapat mendatangkan kesuksesan. Agar sukses berinvestasi, maka perlu dijadikan sebagai hobi. Dengan hobi biasanya seseorang menjadi penuh perhatian dan menyenangi apa yang dilakukan. Energi, perhatian, dan fokus diberikan pada hobi tersebut dengan senang gembira. Energi positif dan konsentrasi tersebut akan membawa pada proses pembelajaran yang cepat, kematangan emosi dan logika, serta kedisiplinan diri yang tinggi.

Menghindari mentalitas mengekor

Mungkin tidak asing lagi bagi kita melihat fenomena bila seseorang berhasil dengan suatu bisnis, maka akan ada banyak orang yang mengikutinya. Fenomena ini bisa disebut sebagai mentalitas mengekor. Didalam pasar juga terjadi hal seperti itu. Investor-investor sering mengikuti pergerakan investor yang menjadi acuan, walaupun sebenarnya pergerakan investor acuan tersebut belum tentu tepat bagi investor individu. Sebaiknya investor individu melakukan keputusan investasi berdasarkan keputusan sendiri sesuai dengan karakteristik, kemampuan, dan informasi yang dimilikinya. Sudah banyak bukti bisnis yang ikut-ikutan akan menimbulkan ketidakcocokan dan kerugian bagi pelakunya, demikian pula dalam berinvestasi. Lakukanlah dengan pertimbangan yang matang jika memang ingin melakukan ‘pengekoran’, dan jadikanlah sebagai pelajaran sehingga di kemudian hari tidak perlu lagi melakukan hal tersebut.

Melakukan sesuatu dengan senang hati, menjadi diri sendiri, dan belajar dari kesalahan akan membawa pada kematangan pribadi. Bercermin pada Warren Buffet, yang membedakannya dengan investor yang lain adalah kemampuannya dalam mengendalikan diri sendiri. Selamat berinvestasi!

Sunday, January 11, 2009

Optimisme dI Tengah Gelombang Ketidakpastian

Tulisan ini dipublikasikan di 'Media Perkebunan' edisi 67 (21 Oktober-22 November 2008)


Kondisi perekonomian Indonesia pasca kuartal kedua diwarnai oleh inflasi setahun terakhir (year-on-year / y.o.y) sebesar 12,14% untuk bulan September, dan 10,47% sepanjang tahun (Januari-September) 2008. Sementara itu nilai suku bunga acuan Bank Indonesia (SBI) ditingkatkan menjadi 9,50%, SBI terus ditingkatkan secara bertahap oleh BI sepanjang tahun ini. Setidaknya telah terjadi lima kali peningkatan SBI dalam tahun ini. Di sisi lain, permasalahan ketatnya likuiditas perbankan nasional juga memberikan sentuhan tersendiri bagi perekonomian saat ini, ekpansi kredit perbankan yang meningkat pesat namun kurang diimbangi dengan penghimpunan dana masyarakat yang memadai.

Dari dunia internasional, sektor keuangan internasional yang mengalami krisis hebat memberikan memberikan efek pada semakin tingginya volatilitas (gejolak) sektor keuangan, perlambatan ekonomi dunia dan permasalahan inflasi global yang merata di hampir seluruh negara. Di tengah gonjang-ganjing pasar keuangan global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia ternyata masih mengalami pertumbuhan yang tinggi. Tercatat pada kuartal kedua 2008 produk domestik bruto (PDB) Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 6,3% y.o.y. Sementara itu untuk kuartal ketiga di prediksi akan tumbuh sebesar 6,4% y.o.y. Namun di sisi lain, harga penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup drastis dalam beberapa minggu terakhir memberikan sedikit kelonggaran terhadap tekanan yang dihadapi oleh perekonomian dunia. Pada saat tertingginya, harga minyak mentah dunia sempat menyentuh US $ 147 / barel, namun saat ini bergerak di sekitar US $ 70 / barel. Penurunan harga minyak mentah dunia juga diikuti oleh penurunan beberapa komoditas, terumata komoditas yang berkaitan erat dengan minyak mentah, seperti crude palm oil.

Nilai tukar mata uang rupiah masih dapat dikatakan relatif tahan terhadap tekanan krisis, walaupun pada beberapa minggu terakhir sempat mengalami tekanan hebat. Krisis dunia pada sektor perbankan dan pasar modal yang telah menelan korban bank-bank besar dunia yang ada di Amerika dan Eropa telah merembet ke berbagai negara, termasuk Indonesia, dan menyebabkan kepanikan global bagi iklim investasi dan keuangan. Beberapa langkah penanganan krisis telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia, termasuk penyiapan berbagai perangkat untuk mengatasinya. Termasuk oleh Bank Indonesia yang selalu memonitor pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah, sehingga tidak terdevaluasi terlalu tajam yang dapat memberikan efek negatif bagi sektor usaha di Indonesia.

Bila menengok perkembangan pasar modal Indonesia, awal Oktober 2008, Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan aktivitas perdagangannya selama beberapa hari menyusul kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar lebih dari 10% hanya dalam waktu beberapa jam setelah perdagangan di buka. Saat tulisan ini dibuat IHSG berada di sekitar level 1400-an, paling tidak telah terjadi penurunan nilai lebih dari 50% sejak nilai tertingginya (di atas 2800) pada minggu kedua Januari 2008. Demikian pula nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia yang dalam per hari secara rata-rata sempat mencapai 4-5 trilyun rupiah, namun saat ini hanya di sekitar 2-3 trilyun rupiah.

Kinerja Saham Sektor Perkebunan

Gejolak pasar keuangan dunia dan dalam negeri juga memberikan efek bagi sektor perkebunan. Beberapa emiten perkebunan besar yang tercatat dalam bursa seperti PT. Astra Argo Lestari Tbk (AALI), PT London Sumatera Tbk (LSIP), dan PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) juga terkena imbasnya. Bila dibandingkan dengan awal tahun 2008, hingga harga terakhir pada tanggal 6 Oktober 2008, masing-masing saham tersebut telah mengalami penyusutan harga sebesar 68,33% (AALI), 78,93% (LSIP), dan 81.78% (UNSP).

Bila diperhatikan angka-angka tersebut, ternyata penurunan saham-saham perkebunan jauh lebih besar dibandingkan dengan penurunan IHSG. Kondisi ini sangat kontras jika dibandingkan pada tahun 2006 dan 2007, ketiga saham tersebut mengalami peningkatan harga yang tinggi, dengan sepanjang dua tahun tren harganya selalu meningkat. Namun semenjak Februari 2008 harga saham mereka mengalami tren menurun dari waktu ke waktu.















Penurunan harga-harga saham sektor perkebunan semakin diperparah oleh penurunan harga minyak dunia dan harga-harga komoditas perkebunan, seperti harga CPO. Harga minyak dunia mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan paling tidak semenjak bulan Juli 2008. Sementara itu harga CPO sudah mulai menurun semenjak bulan Maret 2008. Berdasarkan data average spot month settlement price of CPO Futures di Bursa Malaysia, semenjak bulan Maret 2008 hingga Oktober 2008 telah terjadi penurunan harga lebih dari 50%.

Secara fundamental, berdasarkan data laporan keuangan kuartal kedua, ketiga perusahaan tersebut memiliki kinerja keuangan yang baik. Masing-masing perusahaan mampu menghasilkan net profit margin (NPM) di atas 20%, sementara ROE itu ROE ketiganya masih lumayan. Bahkan AALI dan LSIP mampu memberikan ROE di atas 25% untuk kuartal kedua tahun 2008. Namun, jika diperhatikan harga saham mereka, hanya AALI yang masih memiliki harga masih cukup jauh dibandingkan dengan nilai buku perusahaan. Sementara harga saham LSIP sudah mendekati nilai bukunya, sedangkan UNSP bahkan telah berada di bawah nilai bukunya.

Prospek Sektor Perkebunan

Sejalan dengan pertumbuhan PDB. subsektor perkebunan mempunyai peran srategis terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika Indonesia mengalami krisis ekonomi yang dimulai tahun 1997, subsektor perkebunan kembali menujukkan peran strategisnya. Pada saat itu, kebanyakan sektor ekonomi mengalami kemunduran bahkan kelumpuhan dimana ekonomi Indonesia mengalami krisis dengan laju pertumbuhan –13% pada tahun 1998. Dalam situasi tersebut, subsektor perkebunan kembali menunjukkan kontribusinya dengan laju pertumbuhan antara 4%-6% per tahun. Demikian pula pada awal tahun ketika perekonomian Indonesia mulai membaik, laju pertumbuhan sektor perkebunan terus bertumbuh berada di atas pertumbuhan perekonomian negara.

Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang terjadi pada kuartal I dan II tahun ini di tengah-tengah pelemahan perekonomian dunia salah satunya didorong oleh peningkatan harga ekspor berbagai komoditas perkebunan, seperti CPO dan turunannya, karet dan produk karet, kopi, teh, dan kakao. Ekspor Indonesia secara total pada periode Januari-Juni 2008 mencapai nilai US $ 70,45 milyar, dengan demikian hingga kuartal II tahun 2008 Indonesia mengalami surplus sebesar US $ 5,4 milyar. Surplus perdagangan ini banyak disebabkan oleh kinerja ekspor produk komoditas, terutama CPO yang mengalami peningkatan harga yang tinggi. Nilai ekspor CPO dan turunannya mencapai US $ 9,16 milyar, nilai ini sama dengan 16,9% nilai total ekspor non-migas Indonesia. Kondisi ini sepertinya akan berubah pada kuartal berikutnya karena telah terjadi penurunan harga yang tajam produk-produk komoditas, demikian pula produk komoditas perkebunan. Namun, dengan memperhatikan perkembangan historis sektor pertanian di Indonesia, hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan, mengingat produk komoditas pertanian merupakan bagian dari produk yang berkontribusi langsung bagi ketahanan pangan dunia.

Berbagai peluang ekspor produk komoditas sektor pertanian masih terbuka sangat lebar. Dengan semakin majunya perekonomian China dan India, paling tidak kedua negara ini memiliki tingkat kebutuhan atas produk komoditas perkebunan yang tinggi. Demikian pula adanya kecenderungan kebutuhan energi terbarukan untuk menggantikan energi fosil, memberikan potensi produk komoditas perkebunan Indonesia akan banyak diminati. Hal ini seperti yang telah ditunjukkan oleh beberapa komoditas perkebunan, seperti CPO yang dapat digunakan sebagai bioenergi. Demikian pula pasar Afrika juga memberikan potensi yang luar biasa besar dan belum banyak tergali bagi ekspor produk komoditas perkebunan Indonesia.

Prospek produk komoditas Indonesia akan terus semakin meningkat jika kita mampu untuk meningkatkan nilai tambah produk. Dengan demikian produk yang dihasilkan tidak hanya diekspor mentah-mentah namun sudah diolah menjadi produk jadi yang bernilai tambah tinggi. Bila satu komoditas dapat dijadikan ratusan bahkan ribuan produk turunan yang memiliki nilai tambah tinggi, maka penghasilan yang diperoleh akan semakin tinggi. Selain itu pengaruh volatilitas harga komoditas mentah terhadap pendapatan perusahaan menjadi semakin dapat direduksi. Produk yang memiliki nilai tambah tinggi cenderung tahan terhadap perubahan harga dalam jangka pendek.

Faktor lainnya yang dapat mendukung prospek sektor perkebunan Indonesia tersedianya alternatif pembiayaan non-bank bagi sektor perkebunan, seperti tersedianya bursa berjangka bagi produk komoditas perkebunan. Kabar gembiranya, Bursa Berjangka Jakarta sudah memberikan angin segar untuk menyelenggarakan perdagangan fisik sejumlah komoditas andalan sektor pertanian dan pertambangan Indonesia, di antaranya adalah kopi, karet, kakao, beras dan CPO. Diharapkan ke depannya hal tersebut dapat menjadi pasar berjangka yang maju yang dapat mendorong perkembangan sektor perkebunan Indonesia. Dengan demikian modal dari masyarakat dapat mengalir lebih efisien dan tepat guna bagi perkembangan sektor perkebunan Indonesia, dan sebaliknya pertumbuhan sektor perkebunan Indonesia akan memberikan dampak signifikan bagi perkembangan perekonomian masyarakat.

Maju terus perkebunan Indonesia!


Oleh:

Roy Sembel dan Guntur Tri Hariyanto

Wednesday, October 22, 2008

Ayo ke Bank?

Anda pernah melihat logo ini?






Kemungkinan besar Anda pernah melihatnya. Entah di bank, ATM, spanduk di jalan raya, mobil-mobil khusus, iklan di televisi atau tempat lain. Logo ini terkait dengan pencanangan gerakan edukasi nasabah bank oleh Bank Indonesia, secara resmi dicanangkan pada hari Minggu, 27 Januari 2008 di Lapangan Monumen Nasional[1]. Paling tidak ada dua tujuan atas digagasnya gerakan ini, yaitu (berdasarkan penjelasan Deputi Gubernur BI, Muliaman Hadad)[2]: 1) terciptanya masyarakat yang mampu mengelola keuangan dengan bijaksana sehingga meningkatkan kualitas hidup, 2) meningkatkan minat maupun pemahaman masyarakat pada produk dan jasa perbankan.

Sebelum membahas lebih lanjut, mari sejenak kita perhatikan topik permasalahan yang paling sering diungkap terkait dengan bank, yaitu tabungan. Bunga tabungan secara rata-rata yang diberikan oleh bank-bank terhadap nasabahnya berada di sekitar 2-4% per tahun. Nilai bunga ini belum mampu untuk menutupi inflasi yang secara rata-rata di Indonesia berkisar lebih dari 5% per tahun. Sehingga banyak orang yang berpikiran nilai uang yang ditabung justru semakin menurun daya belinya. Keberatan lainnya yang cukup banyak dibicarakan[3] adalah tingkat potongan yang dilakukan oleh bank terhadap dana tabungan masyarakat yang sering disebut biaya administrasi. Biaya administrasi nilainya bervariasi setiap bank, secara umum berada di sekitar Rp. 5.000 - Rp. 10.000 tiap bulan, jika disetahunkan nilainya menjadi Rp. 60.000 - Rp. 120.00. Walaupun tingkat biaya adminitrasi ini dapat ditutup dengan saldo minimal tertentu, namun bagi kebanyakan masyarakat Indonesia masih dirasakan cukup berat. Lebih-lebih saat ini masyarakat dibebani oleh kenaikan BBM dan menggilanya inflasi secara global.

Terkait dengan potongan biaya administrasi, bahkan Bank Indonesia dalam brosur kampanye Ayo ke Bank menuliskan[4]: "Jaga saldo tabungan Anda agar bunga yang diperoleh setiap bulanya lebih besar dari biaya administrasi bulanan sehingga tabungan anda tidak berkurang". Sudah menjadi rahasia umum bahwa bank menjadikan biaya administrasi tabungan sebagai fee-based income atau pendapatan bank yang bukan dari bunga. Persepsi yang timbul pada banyak masyarkat adalah tabungan di bank cenderung ditujukan bagi masyarakat dengan tingkat penghasilan tertentu, namun tidak berpihak pada masyarakat pada pengahasilan yang rendah, yang secara statistik merupakan sebagian besar masyarakat Indonesia.

Memang kita tidak bisa hanya melihat tabungan dari tingkat bunga dan potongan biaya administrasi, namun juga fungsinya. Berbagai hal kemudahan telah diciptakan menjadi kesatuan dalam tabungan tersebut, seperti untuk pembayaran berbagai tagihan rutin rumah tangga, transfer uang, transaksi bisnis, dan lain sebagainya. Terlebih saat ini layanan tabungan telah dilengkapi dengan ATM 24 jam dan tersebar di banyak tempat, SMS banking, mobile banking, internet banking, phone banking dan call center. Dengan berbagai fitur-fitur yang telah dikembangkan tabungan mampu memberikan kemudahan bagi penggunanya.

Selain tabungan, yang juga paling sering menjadi isu tentang bank di masyarakat adalah sulitnya memperoleh kredit, terutama bagi usaha kecil dan menengah. Berita terbaru terkait dengan hal ini adalah ketika sejumlah petani mengeluh kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla tentang penerapan sistem pengambilan kredit di bank yang terkadang dinilai mempersulit para petani[5]. Persepsi yang timbul secara umum adalah banyaknya aturan yang memberatkan masyarakat ketika hendak mengambil kredit, dan masyarakat merasa bank-banak hanya memberikan pinjaman kepada pebisnis besar. Kasus lainnya yang cukup menarik dan masih hangat adalah masih enggannya bank-bank di Bireuen untuk memberikan kredit usaha rakyat (KUR) yang telah diprogramkan oleh pemerintah, yang diungkapkan oleh Ir. Bustami Hamid, Kadis Pertanian dan Tanaman Pangan Hortikultura Bireuen[6].

Demikian pula jika menengok kembali tulisan Prof. Mubiyarto yang berjudul "Mengapa Bank Sulit Memberdayakan Ekonomi Rakyat?", diterbitkan pada tahun 2004 di Jurnal Ekonomi Rakyat.[7] Ilustrasi yang menarik diungkapkan oleh Prof. Mubyarto adalah permohonan pinjaman Yulius Seran seorang penyandang cacat yang menjadi pedangan "rupa-rupa", hanya disetujui setengah dari permintaannya, walaupun Yulius adalah orang yang jujur dan patuh mengangsur kreditnya. Demikian pula Prof. Mubyarto memberikan ilustrasi tentang keengganan 2 bank yang ada di Melak (daerah yang memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi) memberikan kredit kepada pengusaha-pengusaha, dengan ditunjukkannya data tidak seimbangnya peningkatan dana masyarakat yang disimpan dengan jumlah kredit yang diberikan.

Dari penjabaran tentang tabungan dan kredit tersebut, sebenarnya dapat mewakili fenomena yang timbul di masyarakat terkait dengan penggunaan produk dan jasa bank. Paling tidak, dari gambaran tersebut tercermin masih adanya gap yang cukup besar antara dunia perbankan dan masyarakat. Kiranya tujuan program Ayo ke Bank yang digagas Bank Indonesia menjadi sangat relevan.

Bank perlu mengedukasi masyarakat agar melek finansial

Bagi masyarakat dengan penghasilan tinggi, permasalahan melek finansial mungkin tidak terlalu besar. Namun sebaliknya, untuk masyarakat dengan penghasilan rendah, melek finansial menjadi permasalahan yang serius. Dari ilustrasi sebelumnya juga telah tergambarkan, seringkali yang mengalami permasalahan atas produk dan jasa perbankan adalah masyarakat dengan penghasilan rendah.

Dibandingkan dengan masyarakat berpenghasilan tinggi, masyarakat penghasilan rendah seringkali kurang memperoleh informasi yang relevan tentang akses terhadap bank dan kesempatan-kesempatan yang dapat dimanfaatkan demi membangun kesejahteraan keuangan. Ketika beralih kepada institusi keuangan lainnya, yang dihadapi adalah biaya yang lebih tinggi atas jasa yang diperoleh, seperti lembaga ijon yang terkenal digolongan petani di Indonesia.

Berikut ini disajikan data-data dari berbagai negara, mengapa melek finansial menjadi sangat penting[8]:

  • Sebuah survei di Australia menemukan 50% responden tidak dapat mengintepretasikan rekening bank.
  • Sebuah survei di Australia menemukan 30% dari siswa kelas 9 dan 26% siswa kelas 10 tidak dapat menghitung harga termurah saat berbelanja.
  • Sebuah survei di Inggris menemukan bahwa konsumen tidak aktif mencari informasi finansial. Informasi yang mereka terima diperoleh secara kebetulan, misalnya dengan mengambil brosur di bank atau berbicara dengan pegawai di bank.
  • Sebuah survei di Canada menemukan bahwa responden merasa memilih investasi yang tepat itu lebih stress daripada pergi ke dokter gigi.
  • Sebuah survei di Amerika menemukan 4 dari 10 karyawan tidak menabung untuk masa pension.

Melek finansial pada dasarnya adalah memahami uang, bank, kredit, investasi dan bagaimana menggunaka aset-aset keuangan untuk menciptakan kesejahteraan dan meningkatkan kualitas hidup. Melek finansial menjadi skill wajib yang harus dimiliki oleh setiap rumah tangga. Dengan kemampuan melek finansial rumah tangga dapat mengelola anggaran rumah tangga, membuat perencanaan tabungan, mengelola hutang, dan membuat keputusan investasi strategis yang baik. Dengan demikian rumah tangga memiliki keseimbangan dalam persepektif keuangan jangka pendek dan jangka panjang.

Edukasi melek keuangan dapat dilakukan dengan pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh bank terhadap masyarakat yang masih belum melek finansial. Pelatihan-pelatihan dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan organisasi-organisasi yang ada dalam masyarakat, badan-badan pemerintah yang seringkali terlibat dalam pendidikan masyarkat baik formal maupun non-formal, dan perusahaan-perusahaan tempat masyarakat bekerja.

Agar tingkat keberhasilan yang diperoleh baik, maka pelatihan yang diberikan harus memperhatikan budaya dan kebutuhan masyarakat. Dalam mendisain kurikulum perlu menjawab kebutuhan mendasar masyarakat tentang skill finansial yang perlu dimiliki, demikian pula penyesuaian dengan budaya yang ada, sehingga tidak terjadi pertentangan antara tujuan pelatihan dengan budaya masyarakat.

Bank perlu memberikan pelayanan yang terjangkau dan rutin pada masyarakat berpenghasilan rendah

Masyarakat berpenghasilan rendah merupakan masyarakat dengan jumlah yang sangat besar dan memiliki potensi yang besar juga bagi bank. Masyarakat berpengasilan rendah seringkali tidak terjamah oleh bank, sehingga menjadi tergantung pada jasa keuangan yang terdekat mereka temui dari lokasi aktivitasnya. Apresiasi yang tinggi perlu diberikan pada bank-bank yang mau mendekatkan diri pada masyarakat penghasilan rendah seperti yang telah dilakukan oleh Bank Rakyat Indonesia sejak lama dengan membuka banyak cabang di berbagai pelosok daerah di nusantara, demikian pula pengembangan kredit mikro yang dilakukan Bank Danamon, dan salah satu contoh yang cukup unik adalah layanan kas terapung di Kalimantan Selatan oleh Bank BNI.

Untuk dapat menjamah masyarakat yang jauh lebih luas bank-bank dapat melakukan partnership dengan lembaga-lembaga yang berkembang di masyarakat yang dapat dipercaya. Layanan bank selain terjangkau letaknya juga perlu dilakukan secara terus-menerus, sehingga masyarakat memiliki akses yang mudah bagi kebutuhan keuangannya. Gerakan proaktif bank juga perlu ditingkatkan, misalnya dengan mencontoh pada keberhasilan Grameen Bank yang dimotori oleh peraih Nobel Muhammad Yunus, dengan mendatangi masyarakat berpenghasilan rendah dan memberikan pendidikan dan solusi finansial mereka.

Kondisi selama ini yang terjadi adalah masyarakat kurang mengetahui dan mengikuti inovasi pengembangan produk dan jasa perbankan, oleh karenanya perlu direncanakan suatu kegiatan-kegiatan yang aktif bagi bank untuk mendekatkan diri dengan masyarakat. Tentunya perlu juga keaktifan masyarakat untuk mengenali dan menggunakan produk dan jasa perbankan untuk kepentingan kesejahteraannya. Namun, sekali lagi, masyarakat yang aktif biasanya berhubungan linier dengan kecerdasannya. Oleh karenanya, mencerdaskan masyarakat secara finansial menjadi sangat penting bagi perkembangan perbankan itu sendiri dan perkembangan ekonomi nasional secara keseluruhan.

Keterbukaan informasi, kejujuran pelayanan bank, dan melibatkan masyarakat secara aktif menjadi kunci utama bagi keberhasilan program "Ayo ke Bank".

Jadi, Ayo ke Bank agar semakin sejahtera dan meningkatnya kualitas hidup!.



[1] www.ayokebank.com, "Ayo ke Bank", Agar Masyarakat Melek Keuangan, tertanggal 29 Januari 2008.

[2] www.okezone.com, 2008, BI Canangkan "Ayo ke Bank", tertanggal 22 Januari 2008.

[3] Dapat diperhatikan pada koran-koran terutama pada kolom surat pembaca, atau pun dapat dilihat pada forum-forum di internet.

[4] www.bi.go.or.id, dapat dilihat pada bagian ‘EDUKASI PERBANKAN' dengan judul "Ayo ke Bank: Mengenal Tabungan"

[5] www.kompas.com, Petani Sulsel: Pak Wapres, Ambil Kredit Bank kok Sulit?, tertanggal 9 Agustus 2008.

[6] www.serambionlinenews.com, Kredit Masih Sulit Diperoleh di Bireuen, tertanggal 30 Juni 2008.

[7] www.ekonomirakyat.org

[8] www.youngbizindonesia.com