Thursday, January 29, 2015

Penguatan Ekonomi dan Optimisme di Pasar Modal




Ekonomi Indonesia di kuartal II 2014 tumbuh terendah dalam hampir lima tahun terakhir, hanya 5,12% yoy. Dalam dua tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung terus menurun. Penurunan nilai eskpor ekspor seiring dengan melemahnya pasar global dan pelarangan ekspor mineral bahan baku mentah sejalan dengan kebijakan hilirasi industri pertambangan, merupakan salah satu penyebab utamanya. Di lain pihak, impor bahan bakar minyak membengkak seiring dengan melambungnya konsumsi di dalam negeri, sementara produksi minyak terus turun.

Kebijakan pengetatan moneter oleh Bank Indonesia terutama melalui kenaikan suku bunga dan pengetatan penyaluran kredit, serta meningkatnya ketidakpastian politik sejalan dengan diselenggarakannya pemilihan umum, memberikan dampak pada menurunnya aktivitas bisnis secara nyata. Pemerintah bahkan juga melakukan pengetatan fiskal melalui pengurangan belanja negara, meskipun selama 8 tahun terakhir penyerapan anggaran masih kurang efektif, dengan sisa lebih anggaran yang cukup besar tiap tahunnya.

Di lain pihak, kondisi perekonomian global juga masih cukup rapuh meskipun mulai menunjukkan perbaikan. Meskipun AS dan UK mulai menunjukkan perbaikan ekonomi, tetapi sebagian besar negara maju masih berjuang untuk kembali meningkatkan aktivitas ekonominya. Di Tiongkok, meski ekspor membaik, tetapi konsumsi domestik masih cukup lemah. Sementara Jepang mengalami kontraksi setelah peningkatan pajak penjualan.

Perkembangan nilai beli asing bersih dan kapitalisasi IHSG

                               Sumber: BEI

Optimisme di Pasar Modal

Meski sepertinya banyak tantangan bagi ekonomi Indonesia di tahun ini, investasi asing bersih yang masuk ke pasar saham sampai akhir Juli 2014 telah mencapai lebih dari Rp55 triliun. Pada tahun ini, meskipun kebijakan tapering off The Fed AS benar-benar dilakukan sejak awal tahun, suku bunga acuan BI telah naik menjadi 7,5%, dan berlangsungnya pesta politik, IHSG tumbuh hampir mencapai 20% ytd di akhir Juli 2014.

Setelah pengumuman pemenang pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), IHSG terus diperdagangkan di atas 5.000, meskipun keputusan final masih harus menunggu persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK). Harapan kepada Pemerintah baru yang akan melakukan reformasi ekonomi yang lebih terstruktur, masih menjaga optimisme hingga saat ini.

Perkembangan positif juga ditunjukkan di pasar obligasi. Hingga semester I-2014, volume perdagangan obligasi pemerintah naik 44% yoy. Bahkan minat investor asing terhadap surat utang pemerintah Indonesia terus meningkat. Di awal Agustus, rasio kepemilikan asing mencatatkan rekor tertinggi mencapai 37%.

Mendorong Pertumbuhan

Optimisme yang terefleksi di pasar modal, diharapkan dapat terwujud melalui program-progam nyata penguatan ekonomi domestik oleh Pemerintah baru. Dalam upaya penguatan ekonomi, belajar dari kasus Argentina dan Italia, paling tidak Pemerintah perlu memberikan perhatian pada pemberantasan korupsi, kepastian politik, kepastian hukum, dan penguatan sistem keuangan.

Lebih lanjut, tiga hal utama yang menurut kami perlu mendapat perhatian segera oleh Pemerintah baru untuk mendorong pertumbuhan adalah i) pengurangan subsidi energi, ii) intensifikasi pembangunan infrastruktur, dan iii) peningkatan investasi. Dengan subsidi energi sudah terlalu tinggi, mencapai 18% APBN, ketergantungan terhadap konsumsi minyak perlu dikurangi, dan diversifikasi kepada sumber energi lainnya yang lebih murah.

Intensifikasi pembangunan infrastruktur seperti jalan, pembangkit listrik, pelabuhan, bandara, dan rel kereta, sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan. Konektivitas antar wilayah di Indonesia menjadi sangat penting untuk menstimulus ekonomi. Untuk hal ini realisasi program Masterplan Percepatan Perluasan perlu dipercepat. Masuknya Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia, dapat dimanfaatkan untuk mendorong peran investasi bagi pertumbuhan. Untuk hal ini, kondusivitas iklim investasi dan iklim bisnis dalam negeri perlu ditingkatkan.

Perkembangan pasar modal sangat berhubungan dengan fundamental perekonomian Indonesia. Secara resiprokal, pasar modal yang maju, tentunya juga akan memberikan kontribusi yang positif bagi perekonomian. Saat ini IHSG terus berusaha mencatatkan rekor tertingginya sepanjang sejarah dan kami perkirakan hingga akhir tahun dapat menembus 5.300. Bahkan, bukan tidak mungkin IHSG akan terus terbang lebih tinggi bila fundamental ekonomi Indonesia menjadi semakin kuat.



Ekonomi Indonesia di kuartal II 2014 tumbuh terendah dalam hampir lima tahun terakhir, hanya 5,12% yoy. Dalam dua tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung terus menurun. Penurunan nilai eskpor ekspor seiring dengan melemahnya pasar global dan pelarangan ekspor mineral bahan baku mentah sejalan dengan kebijakan hilirasi industri pertambangan, merupakan salah satu penyebab utamanya. Di lain pihak, impor bahan bakar minyak membengkak seiring dengan melambungnya konsumsi di dalam negeri, sementara produksi minyak terus turun.

Kebijakan pengetatan moneter oleh Bank Indonesia terutama melalui kenaikan suku bunga dan pengetatan penyaluran kredit, serta meningkatnya ketidakpastian politik sejalan dengan diselenggarakannya pemilihan umum, memberikan dampak pada menurunnya aktivitas bisnis secara nyata. Pemerintah bahkan juga melakukan pengetatan fiskal melalui pengurangan belanja negara, meskipun selama 8 tahun terakhir penyerapan anggaran masih kurang efektif, dengan sisa lebih anggaran yang cukup besar tiap tahunnya.

Di lain pihak, kondisi perekonomian global juga masih cukup rapuh meskipun mulai menunjukkan perbaikan. Meskipun AS dan UK mulai menunjukkan perbaikan ekonomi, tetapi sebagian besar negara maju masih berjuang untuk kembali meningkatkan aktivitas ekonominya. Di Tiongkok, meski ekspor membaik, tetapi konsumsi domestik masih cukup lemah. Sementara Jepang mengalami kontraksi setelah peningkatan pajak penjualan.

Optimisme di Pasar Modal

Meski sepertinya banyak tantangan bagi ekonomi Indonesia di tahun ini, investasi asing bersih yang masuk ke pasar saham sampai akhir Juli 2014 telah mencapai lebih dari Rp55 triliun. Pada tahun ini, meskipun kebijakan tapering off The Fed AS benar-benar dilakukan sejak awal tahun, suku bunga acuan BI telah naik menjadi 7,5%, dan berlangsungnya pesta politik, IHSG tumbuh hampir mencapai 20% ytd di akhir Juli 2014.

Setelah pengumuman pemenang pemilu oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), IHSG terus diperdagangkan di atas 5.000, meskipun keputusan final masih harus menunggu persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK). Harapan kepada Pemerintah baru yang akan melakukan reformasi ekonomi yang lebih terstruktur, masih menjaga optimisme hingga saat ini.

Perkembangan positif juga ditunjukkan di pasar obligasi. Hingga semester I-2014, volume perdagangan obligasi pemerintah naik 44% yoy. Bahkan minat investor asing terhadap surat utang pemerintah Indonesia terus meningkat. Di awal Agustus, rasio kepemilikan asing mencatatkan rekor tertinggi mencapai 37%.

Mendorong Pertumbuhan

Optimisme yang terefleksi di pasar modal, diharapkan dapat terwujud melalui program-progam nyata penguatan ekonomi domestik oleh Pemerintah baru. Dalam upaya penguatan ekonomi, belajar dari kasus Argentina dan Italia, paling tidak Pemerintah perlu memberikan perhatian pada pemberantasan korupsi, kepastian politik, kepastian hukum, dan penguatan sistem keuangan.

Lebih lanjut, tiga hal utama yang menurut kami perlu mendapat perhatian segera oleh Pemerintah baru untuk mendorong pertumbuhan adalah i) pengurangan subsidi energi, ii) intensifikasi pembangunan infrastruktur, dan iii) peningkatan investasi. Dengan subsidi energi sudah terlalu tinggi, mencapai 18% APBN, ketergantungan terhadap konsumsi minyak perlu dikurangi, dan diversifikasi kepada sumber energi lainnya yang lebih murah.

Intensifikasi pembangunan infrastruktur seperti jalan, pembangkit listrik, pelabuhan, bandara, dan rel kereta, sangat dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan. Konektivitas antar wilayah di Indonesia menjadi sangat penting untuk menstimulus ekonomi. Untuk hal ini realisasi program Masterplan Percepatan Perluasan perlu dipercepat. Masuknya Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia, dapat dimanfaatkan untuk mendorong peran investasi bagi pertumbuhan. Untuk hal ini, kondusivitas iklim investasi dan iklim bisnis dalam negeri perlu ditingkatkan.

Perkembangan pasar modal sangat berhubungan dengan fundamental perekonomian Indonesia. Secara resiprokal, pasar modal yang maju, tentunya juga akan memberikan kontribusi yang positif bagi perekonomian. Saat ini IHSG terus berusaha mencatatkan rekor tertingginya sepanjang sejarah dan kami perkirakan hingga akhir tahun dapat menembus 5.300. Bahkan, bukan tidak mungkin IHSG akan terus terbang lebih tinggi bila fundamental ekonomi Indonesia menjadi semakin kuat.


Guntur Tri Hariyanto, CSA
PEFINDO Newsletter, Agustus 2014

Thursday, January 22, 2015

Pefindo proyeksikan prospek Catur Sentosa positif



ekbis.sindonews.com,  Dana Aditiasari
Senin,  24 Maret 2014  −  15:47 WIB


Sindonews.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan bahwa PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) sebagai perusahaan distribusi dan logistik serta ritel modern bahan bangunan pada tahun ini memiliki prospek positif didukung tetap tumbuhnya industri properti.

Analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto menilai, meski industri properti pada tahun ini menghadapi kompetisi ketat, di mana pertumbuhannya diperkirakan hanya sekitar 10 persen, namun kondisi tersebut hanya bersifat sementara.

"Pertumbuhan industri properti akan kembali rebound, terutama mengingat bahwa backlog perumahan di Indonesia diperkirakan mencapai 15 juta unit tahun ini," kata dia dalam risetnya, Senin (24/3/2014).

Sejalan dengan prospek industri properti itu, dia memperkirakan permintaan cat dan ubin keramik akan melemah. Kendati demikian, permintaan masih berpeluang naik didukung perekonomian Indonesia yang terus tumbuh.

Di samping itu, kegiatan pemilihan umum (pemilu) diharapkan mampu menopang penjualan barang konsumen. Berdasarkan survei Bank Indoensia (BI), konsumsi rumah tangga pada kuartal IV tahun lalu tetap kuat, dengan indeks penjualan ritel naik 27 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya di tengah tingginya inflasi. Sementara penjualan ritel modern nasional diperkirakan juga meningkat sekitar 10 persen menjadi Rp163 triliun.

Meningkatnya jumlah penduduk usia muda dengan kelas menengah, yang diperkirakan akan tumbuh 10 persen setiap tahunnya secara rata-rata hingga 2016 akan mendorong belanja konsumen lebih cepat. Pada saat yang sama, pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur, seperti jalan, bandara, pelabuhan, rel kereta, pembangkit listrik dan lainnya, sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, begitu juga pertumbuhan CSAP.

"Bisnis perusahaan telah menunjukkan perkembangan yang baik dan kami optimis untuk prospek CSAP ke depannya," ujar dia.

Pada kuartal III/2013 di tengah banyaknya tantangan ekonomi, pertumbuhan pendapatan CSAP sebesar 28 persen melebihi perkiraan Pefindo. Melihat capaian itu, Pefindo merevisi target pendapatan untuk CSAP pada tahun ini menjadi Rp7,8 triliun, meningkat dibanding proyeksi pendapatan akhir tahun lalu senilai Rp6,41 triliun.

Adapun, laba bersih tahun ini diprediksi bisa mencapai Rp132 miliar atau meningkat 32 persen dibanding proyeksi akhir tahun lalu senilai Rp100 miliar. Sementara target harga saham CSAP berada di kisaran Rp396-464 per saham.


(rna)

Kinerja Menurun, GDST Disarankan Dagang Baja di Dalam Negeri




economy.okezone.com, Petrus Paulus Lelyemin

JAKARTA - PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) tercatat menurun kinerja ekspornya pada tahun 2013. Penjualan ekspor GDST 2013 tercatat turun 89 persen year on year (yoy) setelah penurunan tahun 2012 yang mencapai 64 persen yoy.

Analis Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Guntur Tri Hariyanto mengungkapkan, perusahaan baja tersebut perlu segera mengubah strategi dengan berfokus pada pasar dalam negeri yang terus bertumbuh.

"Strategi untuk beralih fokus ke pasar domestik adalah pilihan yang tepat," tutur Guntur dalam keterangan tertulisnya, Minggu (16/4/2014).

Dia menjelasikan, pasar dalam negeri terus bertumbuh dengan pesat dengan perolehan 27 persen yoy, meskipun sempat melambat pada tahun 2012 pada level 40 persen yoy.

Pefindo sendiri mencatat, papar Guntur, pada tahun 2013, marjin harga pokok produksi (HPP) GDST menurun akibat melemahnya harga baja karena lingkungan HPP yang ketat di tahun sebelumnya.

"Marjin HPP GDST turun menjadi 85,3 persen di kuartal ketiga tahun 2013 dibandingkan 90,8 persen di kuartal ketiga 2013, yang menyebabkan margin laba kotor meningkat 39 persen" terangnya.

Menurut Guntur, penurunan penjualan ekspor telah menyebabkan beban transportasi ekspor turun sehingga menyebabkan beban penjualan turun 40 persen. Ini mengakibatkan laba bersih di 9M13 yang melebihi laba bersih 2012.

"Pada periode tersebut juga mencatat marjin laba bersih yang lebih baik sebesar 5,1 persen dibandingkan dengan hanya 2,8 persen pada tahun 2012," pungkasnya.
(rzk)

Sunday, January 11, 2015

Konsumsi baja domestik kuat, GDST berprospek positif



http://ekbis.sindonews.com/   J Erna
Jum'at,  14 Maret 2014  −  15:54 WIB



TRIBUNNEWSBATAM.COM, JAKARTA- Harga batubara semakin tertekan seiring perlambatan perekonomian China. Harga emas hitam ini anjlok ke level terendahnya selama lima tahun terakhir.
Data Bloomberg menunjukkan, Selasa (11/3), harga batubara untuk kontrak pengiriman Mei 2014 di Bursa ICE Futures naik tipis 1,60% dari hari sebelumnya menjadi US$ 72,75 per metrik ton (MT). Ini merupakan harga terendah sejak Maret 2009. Bahkan, sejak akhir tahun 2013 harganya sudah terpangkas sebesar 13,64%. Harga batubara juga sempat mencapai level terendah di 71,60 per metrik ton (MT) (10/3).

Analis PT Megagrowth Futures, Wahyu Tribowo Laksono memperikan harga batubara masih akan terus tertekan hingga akhir kuartal pertama 2014. "Batubara kini oversold dan berpotensi hingga ke level US$ 70.00 per metrik ton," kata Wahyu

Pemicu utama melemahnya harga batubara, selain permintaan yang minim juga disebabkan oleh perlambatan perekonomian China. Asal tahu saja, Negeri Panda ini adalah importir terbesar batubara di dunia. Beberapa bulan lalu China juga mengurangi pembangunan pembangkit listrik berbasis batubara, dan mengalihkan ke energi yang lebih bersih, seperti air, angin, dan nuklir. Di sisi lain, China masih memiliki stok batubara yang cukup banyak. "Karena hal tersebut, permintaan batubara kian merosot," imbuh Wahyu.

Sementara, analis PT Pefindo, Guntur Tri Hariyanto mengatakan melemahnya harga batubara saat ini disebabkan rilis data ekspor China pada Februari 2014 turun 18%. Terlebih terdapat indikasi bahwa angka ekspor tahun lalu yang fiktif, yang membuat keraguan akan kemampuan Cina untuk dapat memenuhi target pertumbuhan ekonominya sebesar 7,5%. Dengan demikian, ada kekhawatiran penurunan konsumsi batubara yang signifikan di China.

Secara teknikal, Wahyu bilang harga saat ini sedang mengalami jenuh jual (oversold). Hal itu terlihat dari indikator relative strenght index (RSI) menginjak level 36,7% dan stochastick sudah di level 28,5% yang berarti akan rebound terbatas. Sedangkan, indikator moving average convergence divergence (MACD) berada di area negatif, minus 1,5. Adapun harga bergerak di bawah moving average (MA) 50 (72.00), MA 100 (80.00) dan MA 200 (80.90).

Wahyu memprediksi harga batubara akan cenderung konsolidasi di kisaran US$ 70-US$ 75 per ton dalam sepekan. Adapun, hingga akhir kuartal pertama tahun ini, harga batubara akan bergulir di US$ 68- US$ 77 per MT. Sedangkan, Guntur memprediksi harga sepekan ke depan di kisaran US$ 72-74 per ton. Dan hingga akhir kuartal pertama tahun ini, batubara bergulir di US$ 72-US$ 75 per ton.

Wednesday, February 19, 2014

Meyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN?




Di akhir tahun 2015 mendatang, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan diterapkan sebagaimana telah didahului oleh kesepakatan negara-negara ASEAN di tahun 2004 silam, atau kurang lebih 10 tahun lalu. Dalam kurun waktu satu dekade itu, Indonesia masih belum sepenuhnya siap untuk menghadapi MEA. Seperti digambarkan oleh sikap pesimis Pemerintah tentang kesiapan Indonesia.

Pemerintah berencana hanya akan membuka sejumlah sektor yang dianggap siap, dan berusaha untuk "melindungi" sektor-sektor yang dianggap belum siap. Berdasarkan ukuran kesiapan yang disampaikan Pemerintah, kesiapan Indonesia hanya sekitar 80an%. Meskipun Pemerintah mengklaim bahwa pencapaian Indonesia di atas rata-rata seluruh negara, namun menjadi keprihatinan bahwa pada kenyataannya daya saing ekonomi dan bisnis negara kita masih meragukan untuk berkompetisi dengaan negara-negara tetangga.

Indonesia memiliki sumber kekayaan alam yang besar, pasar yang besar, dan populasi tenaga kerja muda yang besar pula. Namun demikian, banyak sekali memang pembangunan di hampir semua sektor kita begitu lemah. Terutama misalnya kita lihat pada sektor pendidikan baik formal maupun informal yang diharapkan akan menjadi sumber penghasil tenaga kerja terdidik dan memiliki keterampilan yang tinggi. Lainnya adalah pembangunan infrastruktur yang begitu lemah yang menyebabkan konektivitas, integrasi, dan perkembangan ekonomi masyarakat terhambat serta cenderung terpusat di wilayah tertentu.

Pada dasarnya MEA bersifat sukarela dan hanya akan berjalan apabila ada dua negara yang melakukan kesepakatan di salah satu dari lima pilar. Walau demikian, momentum ini sebenarnya dapat digunakan oleh Indonesia untuk terus membenahi berbagai hal yang lemah dan memperkuat hal-hal yang telah menjadi daya saing utama sejak lama.

Tetapi bila berkaca pada sektor agribisnis, dimana Indonesia merupakan penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia memiliki tingkat produktifitas lahan yang jauh lebih rendah dari Malaysia, industri hilir CPO pun jauh tertinggal di belakang. Kemudian hilirisasi di sektor tambang pun baru mulai digalakkan dan prosesnya pun masih tersendat-sendat. Lainnya, nilai neraca perdagangan Indonesia dengan negara ASEAN justru mengalami defisit sejak tahun 2012 yang memberikan gambaran lemahnya daya saing produk dan jasa Indonesia walau hanya di tingkat regional.

Berkaca pada kenyataan seperti yang telah disebutkan, saya mengajak untuk semua pihak ikut berperan serta dalam memperkuat daya saing bangsa kita. Apabila setiap individu, perusahaan, organisasi, dan semua komponen masyarakat secara aktif melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas diri, tentunya hal tersebut dapat berkontribusi bagi peningkatan daya saing negara. Walau tentunya peran Pemerintah akan sangat signifikan bagi hal ini, terlebih bila terkait dengan kebijakan dan peraturan. Semoga dengan keaktifan seluruh komponen masyarkat, Pemerintah dapat termotivasi untuk ikut mendukung dan mendorong iklim yang lebih kondusif bagi peningkatan kemampuan bangsa untuk dapat berkompetisi dan berprestasi di kancah global.

Oleh: Guntur Tri Hariyanto

Monday, February 3, 2014

Mengkilatnya Prospek Lautan Luas



imq21.com, 30 Jan 2014 10:34 WIB

IMQ, Jakarta —  Melalui model bisnis yang terintegrasi, PT Lautan Luas Tbk (LTLS) terus mengembangkan bisnisnya ke seluruh penjuru negeri sebagai pemain regional yang terkemuka dalam hal distribusi dan manufaktur bahan kimia dasar dan khusus.

Bisnis perusahaan saat ini sudah tersebar tidak hanya di Indonesia, tapi juga diluar negeri seperti China, Thailand dan Vietnam yang berkoordinasi dengan kantor pusat urusan regional yang berbasis di Singapura.

Didirikan pada tahun 1951 portofolio perusahaan saat ini mencakup jenis produk kimia yang sangat beragam dan banyak produknya yang memiliki posisi dominan di pasar. Melayani berbagai segmen industri selaras dengan aplikasi bahan kimia yang luas juga melindungi LTLS dari volatilitas dalam industri tertentu.

Dalam 10 tahun terakhir, perseroan telah mendirikan lima fasilitas produksi di Indonesia dan luar negeri, di mana yang terbaru adalah fasilitas produksi PT Lautan Natural Krimerindo (LNK) yang menghasilkan non-dairy creamer.

LTLS juga telah berhasil mengubah divisi logistik menjadi anak usaha yang independen setelah merestrukturisasi divisi tersebut pada 2001 dan bisnisnya telah berkembang pesat. Bisnis logistik saat ini telah menghasilkan pendapatan lebih dari Rp400 miliar dan terus bertumbuh.

Hal tersebut mendorong pendapatan LTLS terus bertumbuh dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) 18% selama empat tahun terakhir.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Guntur Tri Hariyanto dalam risetnya mengungkapkan berdasarkan estimasi pihaknya optimis LTLS dapat mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang menguntungkan sebesar CAGR 13% sepanjang 2013-2016.

"Penghapusan high-speed diesel dari portofolio produk LTLS menguntungkan marjin laba kotor perusahaan, naik menjadi 15,3% pada kuartal III-2013 dari hanya 13,2% pada 2012," terangnya.

Guntur juga memprediksi laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) perseroan akan menjadi lebih kuat di tahun-tahun mendatang, sehingga LTLS diperkirakan akan mengalami peningkatan rasio EBITDA to net-interest mencapai lebih dari 5,0x pada 2015.

Dari hal tersebut analis menilai harga saham untuk 12 bulan akan berada pada posisi Rp1.635– Rp2.000 per saham. 
Author: Irwen Azhari

Saturday, February 1, 2014

Bisnis Papercore dan Distribusi Kimia yang Menjanjikan


imq21.com, 30 Sep 2013 05:09 WIB 


IMQ, Jakarta —  Ekonomi global masih dibayangi oleh melemahnya permintaan terutama dari pasar berkembang dan resesi Eropa yang berlarut-larut.

Perekonomian Indonesia, di sisi lain, mengalami kesulitan memenuhi target pertumbuhan tahun ini disebabkan melebarnya defisit neraca berjalan dan tingginya inflasi.

IMF telah merevisi turun proyeksi ekonomi global akibat melambatnya permintaan domestik dan kredit di pasar berkembang utama, seperti China dan India, berlarut-larut resesi di zona Eropa, dan kuatnya kontraksi fiskal di Amerika Serikat.

Pada saat yang sama, perekonomian Indonesia berjuang untuk tumbuh lebih dari 6% tahun ini, sebagai akibat dari melebarnya defisit transaksi berjalan, meskipun defisit impor minyak diperkirakan menurun dan neraca keuangan diharapkan dapat memberikan kontribusi yang positif.

Selain itu, inflasi yang tinggi sekitar 8,9% pada Agustus 2013 akan diikuti oleh kenaikan suku bunga dan meningkatnya biaya tenaga kerja dan listrik akan memberikan tekanan pada profitabilitas.

Meskipun terjadi penyusutan permintaan di AS dan Eropa sekitar 70-75% ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT), Pefindo memperkirakan ekspor industri ini masih akan bertumbuh sekitar CAGR 9% selama 2009-2013. Terpuruknya tekstil Bangladesh juga akan menguntungkan ekspor TPT Indonesia.

Lebih lanjut, pemerintah telah menyalurkan sekitar Rp552 miliar sejak 2010 hingga semester pertama tahun ini untuk program revitalisasi mesin industri TPT dan industri alas kaki, sehingga Pefindo percaya akan meningkatkan daya saing dan output industri-industri tersebut.

Selain itu, permintaan properti residensial di Indonesia dengan jumlah 800.000 unit atau hampir dua kali lipat kapasitas pasokan pengembang. Diperkirakan bahwa properti komersial akan tumbuh 200% sepanjang 2011-2021 dengan total kontribusi properti Indonesia mencapai 2,5% pasar global.

Khusus untuk Jakarta, tahun ini mendapat predikat kota paling menguntungkan baik untuk investasi maupun pengembangan properti. Selain itu, tumbuhnya harga perubahan hige-end di Jakarta merupakan yang tertinggi di Asia Pasifik pada kuartal dua tahun ini.

Penjualan mobil domestik mencapai 1,1 juta unit pada 2012. Pasar ASEAN diperkirakan menjadi pasar otomotif terbesar kelima di dunia dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun sekitar 5,8%. Sejalan dengan perkembangan ini, pasar mobil Indonesia diperkirakan mencapai penjualan lebih dari dua juta unit per tahun pada 2019.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan akan terdapat lebih banyak investasi di industri otomatis untuk melayani permintaan domestik," kata analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto.

Pasar kimia global diperkirakan akan tumbuh sekitar 4-5% per tahun secara rata-rata sampai dengan 2015, dengan pasar Asia yang mengalami tingkat pertumbuhan paling cepat di sekitar 7%. Sementara itu, konsumsi bahan kimia Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara maju.

Industri kimia merupakan kontributor penting dalam penciptaan nilai tambah untuk industri berukuran besar dan menengah di Indonesia, dan diperkiraan tumbuh sekitar 6-7% per tahun.

Saat ini, PT Alkondi Naratama Tbk (ALDO) sedang mempersiapakan diri memenuhi meningkatnya permintaan dari Indorama pada 2014 mendatang dengan memperbesar kapasitas produksi papertube. Pada tahun ini, manajemen menargetkan peningkatan 5% dalam kapasitas produksi papertube, atau 1.000 ton kapasitas tambahan.

"Kami memperkirakan volume penjualan papertumbe akan menurun 3% pada tahun ini sebagai akibat dari pergeseran dan papertube tipe draw textured yarn ke tipe partially oriented yarn. Namun, kami memperkirakan nilai penjualan akan sedikit meningkat, yang menunjukkan nilai tambah dan struktur biaya yang lebih baik," paparnya.

Papertube ALDO sebagian besar diserap oleh industri benang polyester dan perusahaan pendukung otomotif, seperti perusahaan ban dan jok mobil. Selain papertube, ALDo memiliki bisnis papercore yang secara luas digunakan di industri kemasan fleksibel, terutama kemasan makanan ringan.

Pendapatan papercore tumbuh 35% pada tahun lalu dan diperkirakan bisa tumbuh lebih dari 50% tahun ini, sekalan dengan investasi yang lebih besar untuk peningkatan kapasitas produksi di tahun-tahun sebelumnya.

Tahun ini, ALDO berencana untuk meningkatkan kapasitas produksi papercore sekitar 31% menjadi 6.800 ton. Perusahaan juga bermaksud terlibat dalam produksi filmcore, yang digunakan untuk kemasan fleksibel, namun memiliki aplikasi yang luas termasuk untuk kertas, kain, dan kertas timah.

ALDO telah berhasil menjadikan Indopoly dan Indofood sebagai pelanggan filmcore.

"Kami memperkirakan bahwa pendapatan papercore akan tumbuh 44% CAGR 2011-2014 dan kontribusinya terhadap total pendapatan akan terus naik menjadi 11% pada tahun depan," urainya.

ALDO juga memiliki bisnis honeycomb, terbuat dari karton berbentuk seperti sarang lebah dengan struktur heksagonal yang memiliki berbagai kualitas unggul seperti lebih kuat, lebih tingan, dan serbaguna. Honeycomb dapat digunakan untuk perabotan, pintu, partisi, kemasan, dan palet kertas.

Saat ini, ALDo merencanakan untuk memasang mesin honeycomb yang lebih terintegrasi pada 2014. Diharapkan dapat mengurangi sampah serta memiliki efisiensi dan keluaran yang lebih tinggi. Untuk tahun ini, rencanana meningkatkan kapasitas produksi menjadi 4.000 ton dari 3.500 ton pada 2012.

"Walaupun demikian, kami memperkirakan pendapatan honeycomb tahun ini akan cenderung sama dengan tahun lalu dan kontribusinya terhadap total pendapatan akan berada di sekitar 5%," kata dia.

Sementara produk 'edge protector' atau produk pendukung hanya berkontribusi kecil terhadap total pendapatan.

Meskipun kondisi ekonomi sedang meredup, Pefindo tetap optimis tentang prospek ALDO dengan mempertimbangkan kuatnya segmen kelas menengah di Indonesia yang terus berkembang, gencarnya pembangunan infrastruktur, dan meningkatnya investasi asing.

Pada semester pertama tahun ini, pertumbuhan perusahaan didukung oleh papercore 56% dan bahan kimia 45%. Mengingat papercore dan bahan kimia kemungkinan terus memberikan pertumbuahn yang kuat dan prospek lainnya tetap positif, maka kinerja perusahaan diperkirakan terus meningkat.

"Oleh karena itu, kami memperkirakan ALDO akan membukukan pendapatan sekitar Rp338 miliar pada tahun ini dan akan terus mencatat pertumbuhan yang positif dengan CAGR sekitar 16% untuk 2010-2014," ujarnya.

"Dengan melihat meningkatnya permintaan bahan kimia seiring dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi negara ini yang stabil, kami menilai segmen kimia ALDO memiliki prospek yang menjanjikan," terangnya.

Untuk memperkaya portofolio produknya, ALDO berencana melakukan diversifikasi produk ke kimia non tekstil.

Pefindo memperkirakan tingkat utang ALDO akan melanjutkan tren penurunannya sejalan dengan EBITDA yang lebih kuat dari tahun ke tahun. Pada 2012, rasio modal terhadap utang meningkat menjadi 0,8 kali dibandingkan 0,4 kali pada 2010.

"Namun kami memperkirakan rasio menguat ke 0,9 kali pada tahun ini dan target harga Rp750-890," tuturnya.
Author: Susan Silaban