Thursday, January 30, 2014

Harga saham INTA diproyeksi Rp350-500/saham



J Erna
Selasa,  10 Desember 2013  −  14:52 WIB
Sindonews.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan harga saham PT Intraco Penta Tbk (INTA) untuk 12 bulan sekitar Rp350-500 per lembar saham. Harga saham INTA saat ini di level Rp260 per lembar saham.

Proyeksi harga saham tersebut didukung dimulainya tren peningkatan harga batu bara sejak akhir Oktober tahun ini, dimana harga komoditas tambang itu kembali berada di atas USD80 per ton.

"Selain itu, datangnya musim dingin mendatang di sejumlah negara yang dapat meningkatkan permintaan batu bara," kata analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto dalam risetnya, Selasa (10/12/2013).

Di samping itu, meski produksi alat berat menurun sebesar 28 persen sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini seiring dengan menurunnya produksi yang diperkirakan sekitar 20 persen, namun jasa penyewaan INTA menyediakan alternatif bagi pemilik bisnis.

"Hal itu memungkinkan mereka untuk mengantisipasi siklus bisnis yang lemah," ujar dia.

Perseroan berencana memperkuat bisnis jasa penyewaan dan menambah sekitar 30-40 unit alat berat untuk disewakan pada tahun ini. Pendapatan sewa tercatat melonjak 45 persen sepanjang sembilan bulan pertama 2013.

Agka itu lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang naik 77 persen, namun kontribusi bisnis meningkat menjadi 5,3 persen dibanding 2011 sekitar 2,5 persen.

"Meskipun pendapatan menurun 14 persen di 2012 dan turun 5 persen di sembilan bulan pertama tahun ini, kami memperkirakan INTA membukukan pertumbuhan moderat sekitar 6 persen," prediksi Guntur.

Hal itu mempertimbangkan adanya indikasi permintaan alat berat akan sedikit rebound. Selain itu, bisnis sewa guna usaha (leasing), suku cadang (spareparts) dan pemeliharaan alat berat (maintenance) diprediksi akan tumbuh positif.

Pefindo memproyeksikan, pendapatan INTA di penghujung tahun bisa mencapai Rp2,74 triliun atau naik 5,4 persen dibanding tahun lalu senilai Rp2,6 triliun.

Akibat menyusutnya permintaan global dan jatuhnya harga komoditas yang berlangsung lama, perseroan diprediksi akan membukukan kerugian sebesar Rp222 miliar di akhir 2013, sedangkan tahun lalu mencatat laba bersih senilai Rp30 miliar.

Sementara pada kuartal III/2013, perseroan mencatat rugi Rp165 miliar dengan pendapatan tercatat sebesar Rp1,96 triliun.

Namun mulai membaiknya harga batu bara dan permintaan akan memberi imbas positif pada tahun depan. Diprediksi laba bersih perseroan pada 2014 bisa sama dengan tahun lalu, yakni Rp30 miliar, dengan pendapatan meningkat menjadi Rp3,16 triliun.

(rna)

Prospek Selamat Sempurna diproyeksi menjanjikan



J Erna
Kamis,  2 Januari 2014  −  15:02 WIB
Sindonews.com - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) pada tahun ini memiliki prospek yang menjanjikan seiring meningkatnya pertumbuhan penjualan mobil. 

Analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan akan turun di bawah 6 persen karena diterpa isu defisit transaksi berjalan, tingginya inflasi dan depresiasi rupiah, namun penjualan mobil akan sama dengan tahun lalu atau sekitar 1,2 juta unit.

"Program LCGC (low cost green car) diharapkan dapat meningkatkan volume penjualan mobil, dimana pada November sudah terjual hampir 37.000 unit," kata dia dalam risetnya, Kamis (2/1/2013).

Di samping itu, menurut Guntur, kegiatan investasi emiten yang bergerak di bidang suku cadang automotif ini cenderung meningkat. Pada 2012-2013, perseroan melakukan investasi Rp237 miliar.

Pada tahun itu, perseroan mengakuisisi perusahaan afiliasinya yang memproduksi karoseri, PT Hydraxle Perkasa (HP) dan tahun lalu kembali mengakuisisi perusahaan afiliasi lainnnya, yakni PT Selamat Sempana Perkasa (SSP) yang merupakan pemasok komponen karet dan lainnya dan PT Prapat Tungga Cipta (PTC) yang menjadi distributor tunggal SMSM di pasar domestik.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, akusisi SSP dan PTC memberi kontribusi sekitar 5 persen terhadap pendapatan dan 8 persen untuk laba bersih perusahaan.

Selain itu, perseroan juga berencana memperluas segmen pasar konstruksi bekerja sama dengan Sueyoshi Co Ltd untuk memproduksi tangki bahan bakar dan tangki hidrolik untuk segmen konstruksi.

"Kami mengekspektasikan SMSM akan meneruskan pertumbuhan pendapatan yang positif, meski pertumbuhan tahun ini terutama dengan cara anorganik," ujar dia.

Sementara dengan membaiknya ekonomi global, terutama Amerika Serikat (AS) dan negara berkembang di Asia, dia memperkirakan, penjualan ekspor akan tumbuh 8 persen pada tahun ini. Sedangkan di pasar domestik, LCGC akan mendorong penjualan suku cadang mobil SMSM di tengah memanasnya suhu politik di Tanah Air. Pefindo optimistis industri automotif Tanah Air masih tetap terjaga.

"Kami percaya bisnis SMSM memiliki msa depan yang cerah dengan berbagai peluang di depan, terlebih didukung kemampuan dalam mengelola lingkungan bisnis yang menguntungkan," tutur dia.

Hingga penghujung 2013, Pefindo memproyeksikan SMSM bisa membukukan penjualan sebesar Rp2,33 triliun dengan laba bersih Rp261 miliar. Kinerja ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, dimana SMSM membukukan penjualan Rp2,16 triliun dengan laba bersih Rp233 miliar.

Sementara pada tahun ini, Pefindo memprediksi bahwa SMS bisa membukukan penjualan mencapai Rp2,59 triliun, dengan laba bersih meningkat menjadi Rp405 miliar.

Harga saham perseroan untuk 12 bulan diperkirakan akan berada pada kisaran Rp3.500-3.800 per saham. Pada perdagangan hari ini, harga SMSM dibuka pada level Rp3.550 per saham dan pada pukul 15.00 WIB, harga saham perseroan meningkat menjadi Rp3.625 per saham.   

(rna)

Indeks Pefindo 25 Ditargetkan Tumbuh 15%




neraca.co.id, Selasa, 28/01/2014

NERACA

Jakarta – Tahun ini, Lembaga Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mengincar pertumbuhan indeksnya yaitu Pefindo 25 dapat tumbuh 12%-15% atau diharapkan dapat tumbuh seiring kenaikan target pertumbuhan IHSG.

Analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto mengungkapkan, sepanjang tahun 2013 lalu, kinerja indeks Pefindo 25 mengalami penurunan sangat drastis dari pada indeks-indeks lainnya yang ada di bursa. Pada tahun lalu posisi Indeks Pefindo25 tercatat di level 358.5 atau anjlok 23,7% jika dibanding posisi akhir tahun 2012 di level 469.9,”Pergerakan indeks Pefindo 25 turun dibandingkan indeks lain di 2013 karena memang saham-saham di indeks ini karakternya tampak turun cukup dalam presentasenya. Namun, kami optimis pada 2014 IHSG akan bagus dan indeks kita juga akan ikut bagus dan melebihi indeks lainnya”, ungkapnya di Jakarta, Senin (27/1).

Secara historikal, kegiatan pemilu selalu memberi dampak positif bagi indeks. Kendati pada 2013 lalu, indeks Pefindo mengalami penurunan yang paling anjlok dari indeks lainnya, namun dia yakin tahun Pemilu 2014 akan membantu indeks Pefindo 25 kembali naik.

Berdasarkan data Pefindo, IHSG tercatat turun sebanyak 0,99% ke level 4274,2 dibandingkan tahun sebelumnya yakni 4316,7. Indeks LQ 45 menurun sebanyak 3,25% dari 735,0 ke level 711,4 sepanjang tahun lalu. Sementara Kompas 100 mengalami penurunan sebanyak 3,83% dari 946,3 ke level 910,1.

SMI Infra 18 dan Bisnis 27 masing-masing menurun 1,55% dan 1,86%. Sedangkan Infobank 15 dan MNC 36 masing-masing mengalami penurunan sebesar 2,38% dan 0,48%. Hanya indeks Sri Kehati yang mencatat kenaikan 0,94%, dari level 231,1 pada 2012 ke level 233,3 hingga akhir 2013.

Lebih rinci analis Pefindo lainnya, Achmad Kurniawan Sudjatmiko menjelaskan, saham emiten yang tercatat di indeks Pefindo 25 sensitif terhadap sentimen negatif pasar selama 2013. Meski begitu, dia cukup yakin investor tetap dapat menjadikan Pefindo 25 sebagai acuan alternatif untuk melakukan investasi.

Dalam kurun waktu dari 2010 hingga 2012, indeks Pefindo 25 memiliki return hingga 40%. Namun, senada dengan Guntur, dia mengakui bahwa pada 2013 kemarin, saham Pefindo 25 turun karena memang saham-saham yang masuk kategori Pefindo 25 bukanlah saham-saham yang nilainya mahal.

Saham emiten yang menempati indeks Pefindo 25 terdiri dari perusahaan kecil dan menengah yang diseleksi dengan kriteria tertentu. Adapun proses seleksi saham Indeks Pefindo 25, aset tidak melebihi Rp5 triliun, tingkat pengembalian modal sekurang-kurangnya sama dengan rata-rata ROE seluruh emiten, memperoleh opini akuntan berupa wajar tanpa pengecualian, dan telah tercatat di bursa sekurang-kurangnya 6 bulan.

Sementara sisanya dilihat berdasarkan likuiditas seperti volume transaksi, frekuensi transaksi, nilai transaksi, jumlah hari perdagangan, dan jumlah floating share. Adapun saham baru yang masuk pada periode 1 Februari 2014-31 Juli 2014 adalah PT Bisi International Tbk, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk, PT Nippon Indosari Corporindo Tbk, PT Sarana Mediatama Metropolitan Tbk, PT Surya Citra Media Tbk, PT Wismilak Inti Makmur Tbk. (nurul)

Saturday, July 6, 2013

Melirik Prospek Intiland Development



imq21.com, 3 Jul 2013 10:26 WIB

IMQ, Jakarta —  Kebutuhan properti yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya memberikan ruang bagi emiten properti, PT Intiland Development Tbk (DILD) untuk menggenjot kinerjanya.

Sebagai pengembang, Intiland dikenal inovator dan penggagas trend di industri properti Indonesia, dimana dalam beberapa tahun perseroan mengembangkan banyak gedung yang menjadi ikon nasional diantaranya melalui Intiland Tower dua gedung di Jakarta dan Surabaya yang dirancang oleh Paul Rudolph dan The Regatta, kondominium tepi pantai yang mewah di Pluit, Jakarta Utara dirancang oleh Tom Wright (perancang Burj Al Arab).

Perseroan memiliki portofolio produk properti beragam, termasuk kawasan pemukiman, gedung perkantoran, apartemen, pengelolaan gedung, kawasan industri, serta pengelolaan sarana olah raga dan golf.

Mengalami tahun yang menggembirakan pada 2012, pendapatan emiten Bursa Efek Indonesia berkode saham DILD naik 34% menjadi Rp1,26 triliun.

Meskipun proyek baru mendominasi selama dua tahun terakhir, perseroan memiliki marjin laba kotor yang tetap kompetitif pada tingkat 38% -39%.

Terlebih, marjin laba kotor naik menjadi 47% pada kuartal I-2013 disebabkan oleh melonjaknya bisnis kawasan industri, menandai permulaan dari sebuah fase baru yang menguntungkan bagi perseroan .

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Guntur Tri Hariyanto dalam risetnya mengungkapkan pihaknya melihat DILD memiliki cadangan lahan yang memadai untuk pertumbuhan di masa depan, dengan saat ini memiliki sekitar 1.900 hektar.

“Terlebih, leverage DILD masih rendah dengan rasio net debt to equity hanya 0,2x,” jelasnya.

Lebih lanjut untuk ekspansi, perseroan merencanakan belanja modal (capex) sekitar Rp1,85 triliun pada tahun ini dan Rp2,61 triliun pada 2014.

“Berfokus pada properti kelas atas dan dengan proyek-proyek baru dan menarik di dalam pipeline, kami memandang DILD memiliki prospek yang cerah di masa depan,” paparnya.

Dari hal tersebut analis memprediksi target harga saham perseroan untuk 12 bulan adalah Rp710- Rp1.040 per lembar saham. 

Menilik Hasil Pengalihan Pasar Gunawan Steel



Bisnis Indonesia, Selasa, 18 Juni 2013
Herdiyan, herdiyan@bisnis.co.id



Harga saham PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk (GDST) di proyeksikan naik menjadi Rp125-Rp135 tahun ini. Dengan posisi Rp98 per saham pada penutupan Senin (17/6), saatnya jual atau beli?

Didirikan pada 1989, Gunawan Steel baru memulai produksi komersial pada 1993. Perusahaan tersebut menjadi salah satu produsen rolling mill steel plate terkemuka di Asia Tenggara.

Setelah melakukan penggantian motor utama rolling machine pada September 2012, kapasitas produksi perseroan meningkat menjadi 400.000 ton per tahun. Saat ini kapasitas produksinya 480.000 ton per tahun. Secara bertahap, produksi akan ditingkatkan menjadi 550.000 ton per tahun.

Setelah melewati masa sulit tahun lalu, konsumsi baja global tahun inidiproyeksi tumbuh 2,9% dari capaian tahun lalu 1,2%. Menurut World Steel Association, konsumsi baja 2013 berdasarkan apparent steel use akan naik menjadi 1.454 ton dan naik lagi jadi 1.500 ton tahun depan atau tumbuh 3,2%. Di pasar domestik, konsumsi baja tumbuh 7% pada tahun lalu dan di perkirakan akan tumbuh sebesar 8,5%-9,5% di tahun ini. Meskipun konsumsi baja per kapita Indonesia sebesar 44 kg, Indonesia termasuk sa lah satu yang terendah di Asia Tenggara.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan konsumsi domestik akan meningkat dengan dukungan dari pembangunan sejumlah proyek pemerintah serta ekspansi yang agresif dari sektor properti dan otomotif.

Oleh karena itu, Pefindo menilai strategi perseroan untuk meningkatkan kapasitas produksi sebesar 20% atau setara dengan 480.000 ton per tahun sangat tepat, melihat per tumbuhan industri baja nasional di prediksi sebesar 7% tahun ini.

TUMBUH KONSISTEN

Dengan pandangan tersebut dan ditambah dengan kinerja Gunawan Steel di industri ini, Pefindo optimistis pendapatan perseroan secara tahunan akan tumbuh konsisten sebesar 15% hingga 2015. Pefindo juga membuat beberapa penyesuaian terhadap proyeksi sebelumnya dan menyesuaikan target harga berkisar Rp125-Rp135 per saham. Proyeksi itu didasarkan atas pergeseran segmen pasar dari ekspor ke domestik.

“Kendati begitu, pasar baja lokal diprediksi tetap tumbuh,” tutur analis Pefindo Guntur Tri Hariyanto.
Sejak awal 2012 Gunawan Steel telah mengubah strategi dengan mengalihkan target pasarnya ke dalam negeri. Hal ini terbukti sukses karena pendapatan Gunawan Steel dari pasar dalam negeri tumbuh 31% menjadi Rp591 miliar pada pertengahan 2012.

Pefindo optimistis pendapatan perseroan akan mulai tumbuh positif sekitar 14% pada tahun ini. Meski begitu, kondisi tahun lalu yang sulit menyebabkan penjualan Gunawan Steel turun 21%, ditandai oleh penurunan ekspor 64%. Koreksi itu pun berlanjut hingga kuartal I 2013, saat penjualan turun 29%.

Untuk mengatasi hal ini, Gunawan Steel berhasil mengalihkan fokus ke pasar domestik hingga membaiknya pasar ekspor. Sepanjang tahun lalu, laba kotor perusahaan turun 45% dan margin kotor turun dari 11,8% menjadi 8,2%.

Perseroan lalu memutuskan tetap menjual produknya meskipun margin keuntungan menurun. Setali tiga uang, akhirnya terjadi rebound di kuartal I 2013. Sejalan dengan peningkatan harga baja akhir tahun lalu, laba kotor perseroan tumbuh 31% dan margin laba kotor naik menjadi 12,6%.

Kendati demikian, laba tahun ini akan terkena dampak penaikan harga harga bahan bakar minyak (BBM) yang berada di kisaran 30%-40%. Akan tetapi, Pefindo yakin Gunawan Steel dapat mengatasinya melalui efisiensi dan penguatan posisinya di pasar domestik.

Sejalan dengan itu, perseroan berencana membangun lini produksi baru dengan kapasitas 1 juta ton pelat baja per tahun, dengan belanja modal US$100 juta. Terletak di sebelah fasilitas produksi saat ini, manajemen memperkirakan proyek itu akan dimulai awal 2014 dan beroperasi komersial 2015.

Atas rencana ekspansi, Pefindo melihat neraca perusahaan tetap kuat, yang tercermin dari rasio lancar 2,0 kali dan rasio debt to equity 0,4 kali. Perseroan diharapkan bisa mempertahankan kondisi tersebut seraya melanjutkan rencana ekspansinya.


Sunday, June 30, 2013

PT Intraco Penta Tbk: Menanti Kebangkitan Harga Batubara



Investor.co.id, Harso Kurniawan | Rabu, 2 Januari 2013 | 15:35

Penjualan alat berat domestik diperkirakan meningkat pada 2013, seiring ekspektasi membaiknya harga batubara dan penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Suku bunga kredit yang rendah dan melonjaknya realisasi investasi juga menjadi katalis kuat pertumbuhan penjualan alat berat.

SEBAGAI salah satu pemain alat berat domestik, PT Intraco Penta Tbk (INTA) diyakini dapat memanfaatkan peluang itu. Distributor alat berat merek Volvo, Bobcat, Ingersoll-Rand, SDLG, Mahindra, dan Sinotruk itu diprediksi mampu  menuai kinerja positif sepanjang tahun ini.

Berdasarkan kalkulasi PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), sepanjang 2011-2016, rata-rata pertumbuhan per tahun (CAGR) pendapatan Intraco diproyeksikan mencapai 15%. Hal itu tentunya dapat berdampak positif terhadap saham Intraco berkode INTA.

Guntur Tri Hariyanto, analis Pefindo, menyatakan, harga batubara tahun lalu anjlok hingga 40%. Hal itu dipicu perlambatan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Imbasnya, penjualan alat berat domestik merosot tajam.

Per September 2012, volume penjualan hanya mencapai 71% dari total penjualan selama 2011. Sampai akhir 2012, penjualan alat berat diperkirakan turun.

Selama ini, alat berat digunakan untuk menambang batubara. Ketika harga batubara merosot, perusahaan tambang batubara menurunkan volume produksi, sehingga permintaan alat berat berkurang. “Penurunan harga batubara dibarengi dengan depresiasi rupiah terhadap dolar AS. Sejak akhir Agustus 2012, nilai tukar rupiah mencapai Rp 9.500 per dolar AS,” tulis Guntur dalam laporan risetnya, belum lama ini.

Meski begitu, dia menyatakan, ekspektasi membaiknya perekonomian Eropa, AS, dan negara maju lainnya diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap harga batubara.  Nilai tukar rupiah pun diperkirakan menguat tahun ini.

Dia memperkirakan harga batubara naik moderat ke level US$ 100-105 per ton selama 2013. Sementara itu, nilai tukar rupiah diperkirakan menguat menjadi berkisar Rp 9.200-9.300 per dolar AS.

“Kami percaya kondisi tersebut akan mendorong penjualan alat berat pada 2013,” kata Guntur.

Di tengah tren penurunan industri pertambangan, Intraco mampu menghindari kemerosotan kinerja keuangan. Per September 2012, pendapatan stabil, yakni Rp 2,07 triliun. Namun, laba bersih anjlok 54% menjadi Rp 31 miliar, dibandingkan periode sama 2011 Rp 68 miliar.

Mempertimbangkan kinerja selama sembilan bulan 2012, Guntur perkirakan perseroan dapat membukukan total pendapatan sekitar Rp 3,05 triliun atau tumbuh 1,5% dari 2011 Rp 2,06 triliun.

Pendapatan Intraco masih bisa positif, karena dibantu segmen usaha penjualan suku cadang, pemeliharaan, dan pembiayaan alat berat. Segmen itu diperkirakan bertumbuh 10%, sedangkan pendapatan perdagangan alat berat ditaksir terpangkas 2%.

Selanjutnya pada 2013, Guntur menaksir pendapatan Intraco tumbuh 21% menjadi Rp 3,69 triliun. Laba bersih ditaksir melonjak 74% menjadi Rp 134 miliar.
Intraco Penta menargetkan penjualan alat berat pada 2012 mencapai 1.900 unit atau meningkat 20% dibandingkan 2011 sebanyak 1.585 unit.

Intraco menerapkan model bisnis yang terintegrasi. Perseroan merangsek ke bisnis yang ada kaitannya dengan alat berat. Saat ini, perseroan dan sejumlah anak perusahaannya bergerak di sektor pembiayaan (termasuk pembiayaan syariah) dan perdagangan alat berat, distribusi, sewa, manufaktur, kontraktor pertambangan, dan bisnis batubara.

Intraco Penta berniat mengakuisisi tambang batubara di Kalimantan Timur pada 2012. Perseroan telah membentuk anak usaha bidang tambang batubara, PT INTA Resources. Namun, rencana itu dibatalkan, menyusul amblesnya harga batubara.

Perseroan mengelola 44 jaringan distribusi yang tersebar di Indonesia dan mempekerjakan lebih dari 2.300 orang. Pada 2011, perseroan mencatat sejarah baru dengan mencetak pendapatan Rp 3 triliun dan aset Rp 3,7 triliun, tumbuh masing-masing 64% dan 129%.

“Di masa yang akan datang, kami berharap perseroan dapat terus tumbuh dengan laju yang baik, dengan didukung oleh model bisnis terintegrasi. Melalui strategi itu, Intraco dapat memberikan one stop business solution kepada pelanggannya,” kata Guntur.

Pefindo menetapkan target harga saham INTA berkisar Rp 520- ...
Baca selengkapnya di Investor Daily versi digital di http://www.investor.co.id/pages/investordailyku/paidsubscription.php

Saturday, June 29, 2013

Kinerja Emiten Batu Bara Masih Bisa Membaik



Medanbisnisdaily.com, Senin, 06 Mei 2013 06:27 WIB

 MedanBisnis – Jakarta. Kinerja keuangan emiten perusahaan pertambangan, khususnya batu bara diperkirakan pada tahun ini masih bisa membaik. Meskipun, harga batu bara dan ekonomi negara tujuan ekspor masih belum stabil.
Analis Pefindo, Guntur Tri Hariyanto mengatakan, tidak cemerlangnya laba perusahaan batu bara bukan saja karena harganya yang mengalami penurunan, tetapi permintaannya juga menurun.
"China merupakan tujuan ekspor batu bara terbesar bagi perusahaan batu bara di Indonesia, karena perekonomian di sana masih belum stabil," kata Guntur di Jakarta, Minggu (5/5).

Menurut dia, harga batu bara diperkirakan akan membaik di kuartal tiga atau empat pada tahun ini. Namun, kenaikan harga tersebut tidak seperti di tahun sebelumnya.

"Yang jelas, awal tahun 2014 harga batu bara sudah bisa membaik, dengan didukung perekonomian negara tujuan ekspor batu bara juga ikut stabil," ungkap Guntur.

Diketahui, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) salah satu emiten pertambangan batu bara membukukan laba bersih turun 66% menjadi US$ 41,6 juta pada kuartal pertama 2013 dari periode sama tahun sebelumnya US$ 121,8 juta. Harga jual rerata turun 18% (yoy) pada kuartal pertama 2013. Hal itu karena pengaruh melemahnya indeks harga batu bara global. (inh)