Friday, June 25, 2010

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk : Mengejar Pendapatan Berkelanjutan

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 3 Mei 2010




PT Kawasan Industri Jababeka Tbk merupakan perusahaan swasta pertama yang memperoleh izin untuk membangun suatu kawasan industri di Indonesia pada tahun 1989. Demikian pula merupakan perusahaan pengembang kawasan industri yang pertama kali menjadi perusahaan publik pada tahun 1994. Segmen bisnis perusahaan hingga saat ini terbagi dalam lima area, yaitu: 1) kawasan industri, 2) kawasan perumahan, 3) kawasan komersial, 4) infrastruktur, dan 5) golf.

Sebagian besar bisnis perusahaan terpusat di kawasan Jababeka, Cikarang. Beberapa bisnis perusahaan yang berada di luar Cikarang adalah kawasan industri Cilegon, Borobudur International Golf and Country Club di Magelang, dan perkantoran Menara Batavia di Jakarta.

Pada kawasan industri perusahaan menyediakan kavling industri dan pabrik siap pakai bagi perusahaan berskala kecil hinggal perusahaan multinasional berskala besar. Pada kawasan perumahan perusahaan menawarkan rumah dengan konsep kluster serta kondominium. Pada kawasan komersial perusahaan menyediakan ruko, ruang perkantoran, area komersial, dan kelab eksekutif. Sedangkan dalam bisnis infrastruktur perusahaan memberikan pelayanan pengelolaan air bersih, pengelolaan limbah, serta manajemen kawasan.

Kinerja Keuangan

Pendapatan perusahaan mengalami peningkatan pesat pada tahun 2005 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dengan pendapatan tercatat sebesar Rp 567,4 miliar, tertinggi sepanjang berdirinya perusahaan. Hal ini didorong oleh keberhasilan dalam usaha pemasaran kawasan industri di Cilegon untuk pertama kalinya. Namun, pada tahun-tahun berikutnya pendapatan perusahaan tidak dapat melebihi tahun 2005, dan berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009, perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 392,6 miliar.




Laba usaha perusahaan pada tahun 2009 tercatat sebesar Rp 46,8 miliar, menurun cukup tinggi dibandingkan tahun 2008 yang mencapai Rp 107,2 miliar. Perusahaan membukukan laba bersih pada tahun 2009 sebesar Rp 16,4 miliar, sedangkan pada tahun 2008 perusahaan membukukan rugi bersih sebesar Rp 62,4 miliar. Kerugian ini disebabkan oleh adanya rugi dari selisih kurs sebesar Rp 144,6 miliar dan pembayaran bunga pinjaman sebesar Rp 94,9 miliar. Laba perusahaan pada tahun 2009 terutama dibantu oleh adanya laba dari selisih kurs sebesar Rp 105,1 miliar, sebab pada tahun ini perusahaan masih melakukan pembayaran bunga pinjaman yang tinggi sebesar Rp 114,5 miliar dan terjadinya penuruan pendapatan sekitar 15% dari tahun sebelumnya.

Besarnya biaya bunga yang ditanggung oleh perusahaan terutama berasal dari pinjaman bridging loan facility yang digunakan untuk pembangunan pembangkit listrik. Sementara itu nilai hutang perusahaan kembali meningkat pada tahun 2007 hingga 2009, setelah mengalami tren penurunan sejak tahun 2003 hingga 2006. Pada tahun 2009 nilai debt-to-assets ratio (DAR) perusahaan mencapai senilai 49,70%, meningkat cukup tinggi dibandingkan tahun 2006 yang hanya sebesar 14,98%. Peningkatan hutang perusahaan terkait dengan pendanaan bagi pembangunan berbagai proyek pengembangan yang sedang dilakukan perusahaan.

Pendapatan perusahaan untuk segmen kawasan industri dan perumahan pada tahun 2009 mengalami penurunan cukup tinggi, yaitu antara 30% – 60% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren stagnan dan kecenderungan penurunan pendapatan dari bisnis kawasan industri dan perumahan mendorong perusahaan untuk melakukan inovasi seperti melakukan pembangunan pembangkit listrik, dry port, movie land, dan medical city. Dalam hal ini dapat dikatakan perusahaan sedang berupaya menciptakan blue ocean bagi bisnisnya serta semakin mengintegrasikan produk dan jasanya.

Saat ini perusahaan memfokuskan diri untuk meningkatkan recurring revenue dengan lebih mengembangkan bisnis dengan produk dan jasa yang dibutuhkan secara berkelanjutan oleh pelanggannya. Data menunjukkan bahwa tiga segmen pendapatan perusahaan yaitu, jasa dan pemeliharaan, penyewaan ruang kantor dan ruko, dan golf terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Di lain pihak, bisnis pembangkit listrik perusahaan telah menghasilkan pendapatan pada tahun 2009 mencapai 5,87% dari total pendapatan, walaupun masih mengalami kerugian.

Kinerja Saham

Pada tahun 2005 – 2008, nilai risiko pasar (beta) perusahaan cukup tinggi, yaitu antara 1,4 – 1,8. Pada tanggal 24 September 2007 saham perusahaan mencapai harga tertinggi dengan harga penutupan sebesar Rp 285 per lembar saham. Pada akhir November 2008 hingga awal April 2009, harga saham perusahaan stagnan di level Rp 50 per lembar saham. Harga saham perusahaan relatif terhadap IHSG mengalami tren penurunan sejak bulan November 2007. Fluktuasi harga saham perusahaan cukup tinggi dan berada di kisaran 50% hingga 80% dalam ukuran deviasi standar yang disetahunkan.

Sedangkan tingkat return saham perusahaan cukup lumayan terutama antara tahun 2004 hingga 2007 dan tahun 2009, dengan rerata return yang disetahunkan dapat berada di atas 50%. Sementara itu, persepsi pasar tentang current performance dan future growth opportunity masih di bawah rata-rata perusahaan lainnya. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel




PT Elnusa Tbk: Fokus Bisnis dan Peluang Pertumbuhan

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 26 Apr 2010




PT Elnusa Tbk merupakan perusahaan swasta nasional dengan bisnis yang melingkupi jasa hulu dan hilir migas, pengelolaan aset lapangan migas, serta manajemen data dan teknologi informasi. Core competency perusahaan terletak pada jasa layananan hulu yang terdiri dari tiga backbone competency, yaitu jasa seismik (geoscience), jasa pengeboran (drilling), dan jasa produksi ladang minyak (oilfield production).

Tahun 2007 adalah salah satu tahun terpenting dalam perkembangan bisnis perusahaan. Dengan melakukan penggabungan vertikal dan horisontal, perusahaan melakukan restrukturisasi dengan tujuan untuk menjadi perusahaan jasa migas yang terintegrasi dengan core business di bidang jasa hulu migas. Peluang pertumbuhan dan kebutuhan akan ekspansi mendorong perusahaan melakukan penawaran saham perdana (IPO) di pasar modal. Pada tanggal 6 Februari 2008 saham perusahaan pertama kali tercatat di Bursa Efek Indonesia. Sebagai bagian dalam fokus pada strategi jangka panjang, pada tahun 2009 perusahaan melakukan divestasi terhadap anak perusahaan PT Infomedia Nusantara yang bergerak di bidang jasa pelayanan direktori telepon, contact center dan content.

Pemilik saham terbesar perusahaan adalah PT Pertamina (Persero) dengan kepemilikan sebesar 41,10%. Sedangkan kepemilikan besar lainnya, yaitu sebesar 37,15% sedang dalam proses pengalihan dari PT Tridaya Esta kepada PT Benakat Petroleum Energy Tbk. Kondisi ini diharapkan tidak mengganggu jalannya bisnis perusahaan, dan ke depannya justru diharapkan dapat memberikan peluang karena kedua pemilik perusahaan memiliki eksposur yang luas dalam industri migas.

Kinerja Keuangan

Pendapatan dan laba perusahaan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pendapatan perusahaan pada tahun 2006 sebesar Rp 1,88 triliun, kemudian pada tahun 2009 mencapai Rp 3,66 triliun. Rerata pertumbuhan pendapatan tahunan (CAGR) sebesar 24,94%. Sedangkan laba operasi perusahaan pada tahun 2006 sebesar Rp 115,33 miliar dan di tahun 2009 mencapai Rp 276,29 miliar, dengan CAGR sebesar 33,80%.

Kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2009 diwarnai dengan lonjakan laba bersih sebesar 248,53%. Hal ini didorong oleh laba perusahaan dari penjualan saham PT Infomedia Nusantara. Namun demikian, tahun 2009 perusahaan membukukan peningkatan pendapatan dan laba usaha dibanding tahun sebelumnya masing-masing sebesar 43,96% dan 53,16%.




Pada tahun 2009 pendapatan perusahaan sekitar 60% disumbang oleh bisnis jasa hulu migas, kemudian diikuiti oleh jasa & perdagangan hilir migas (30%). Sisanya disumbang oleh bisnis jasa & perdagangan penunjang hulu dan manajemen data & teknologi informasi. Laba usaha terbesar disumbang oleh bisnis jasa hulu migas dengan porsi lebih dari 80% terhadap total laba usaha. Sedangkan pengelolaan aset lapangan migas yang dimiliki perusahaan, yaitu Blok Bengkanai (gas) dan Blok Ramba (minyak) dapat dikatakan masih belum memberikan kontribusi bagi pendapatan perusahaan.

Pada tahun 2009, bisnis jasa hulu migas, jasa & perdagangan penunjang hulu migas, serta jasa & perdagangan hilir migas perusahaan mengalami peningkatan pendapatan dan laba usaha yang cukup tinggi. Peningkatan tertinggi terjadi pada bisnis jasa & perdagangan hilir migas dengan pertumbuhan pedapatan dan laba usaha dibandingkan tahun sebelumnya masing-masing sebesar 89,72% dan 295,98%. Namun, bisnis manajemen data dan teknologi informasi justru mengalami pertumbuhan negatif, yaitu -11,88% untuk pendapatan, dan -43,03% untuk laba usaha.

ada tahun 2009, penerimaan pelanggan tertinggi disumbang oleh Grup Pertamina dan perusahaan swasta, masing-masing menyumbang 42,41% dan 37,41%. Pendapatan dari kedua kelompok meningkat dibandingkan tahun 2008, baik dari nilai uang maupun dari persentase terhadap total pendapatan pelanggan. Pendapatan dari Grup Pertamina mengalami peningkatan tajam pada kebutuhan jasa yang terkait dengan pengembangan energi geotermal dan gas. Kelompok pelanggan perusahaan swasta yang menggunakan jasa perusahaan diantaranya adalah Exxon, Petrochina, Chevron, Vico, Total, dan Medco.

Kinerja Saham

Pada hari pertama di pasar sekunder, harga saham perusahaan ditutup pada harga Rp 515 per lembar saham. Seiring dengan penurunan pasar, harga saham perusahaan juga menurun hingga tahun 2009. Kemudian meningkat pada tahun 2009 sejalan pula dengan peningkatan pasar. Ukuran risiko pasar (beta) saham perusahaan terletak relatif stabil antara 1,1-1,3.

Sejak pertama kali listing di pasar, rasio harga saham perusahaan dibandingkan dengan IHSG terus mengalami penurunan hingga bulan Maret 2009. Namun, sejak bulan Maret hingga Juni 2009, peningkatan harga saham perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan IHSG. Setelah itu, hingga bulan April 2010 rasio harga saham terhadap IHSG kembali mengalami penurunan. Kondisi ini terjadi karena harga saham perusahaan cenderung stagnan tetapi IHSG terus meningkat. Harga saham perusahaan mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan periode sebelumnya setelah keluarnya laporan keuangan tahunan 2009. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel




Friday, June 4, 2010

PT Medco Energi Internasional Tbk: Berjuang untuk Pertumbuhan

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 12 Apr 2010




PT Medco Energi Internasional Tbk (Medco) adalah salah satu perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang ekplorasi dan produksi minyak dan gas. Kegiatan perusahaan tidak terbatas di Indonesia tetapi telah menjadi perusahaan dengan kegiatan internasional. Di Indonesia, perusahaan memiliki 7 blok produksi, 1 blok pengembangan, 6 blok eksplorasi, dan 1 blok partisipasi ekonomis. Untuk kegiatan internasional, perusahaan mengelola 20 blok yang tersebar di Amerika, Oman, Yaman, Libya, Tunisia dan Kamboja. Perusahaan merupakan nomor empat penghasil minyak dan gas di Indonesia setelah Chevron, Pertamina, dan CNOOC.

Perusahaan beroperasi dalam industri yang sangat strategis baik secara ekonomis maupun sosial, karena berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan energi, bahan baku industri, dan pemasukan devisa bagi negara. Tetapi industi minyak dan gas menghadapi tantangan yang cukup berat, diantaranya adalah: 1) tingginya volatilitas harga minyak dunia beberapa waktu belakangan ini, 2)nilai cadangan dan produksi yang terus menurun, 3) perubahan hukum dan peraturan terutama terkait dengan cost recovery dan pola kontrak kerja sama, 4) tuntutan pengusaan teknologi yang semakin tinggi terutama untuk optimalisasi sumur tua dan daerah operasi di lepas pantai, dan 5) isu lingkungan yang semakin mendesak untuk dilakukannya clean operation.

Tren yang terjadi di industri minyak dan gas Indonesia adalah terus menurunnya produksi minyak, sementara produksi gas cenderung stagnan. Kondisi ini erat kaitannya dengan lemahnya usaha eksplorasi dan produksi yang dilakukan. Banyak sumur minyak dan gas Indonesia telah berumur tua dengan cadangan yang terus menipis. Sejak tahun 2005 rerata produksi minyak Indonesia telah mencapai di bawah 1 juta barel per hari, sedangkan produksi gas cenderung tidak ada peningkatan dari 8 juta MSCF per hari. Situasi semakin diperburuk dengan ketegangan yang ada antara kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dengan pemerintah terkait dengan cost recovery kegiatan ekplorasi-produksi minyak dan gas.



* data produksi gas, hingga Oktober 2009

Sumber: Departemen ESDM


Hingga tahun 2009 cadangan terbukti (dengan tingkat kepercayaan 90%) Medco sebesar 89,14 MMBOE (juta barel minyak ekuivalen per hari), cadangan terbukti dan terduga (dengan tingkat kepercayaan 50%) sebesar 172,77 MMBOE, dan cadangan kontijen sebesar 379,75 MMBOE. Sehubungan dengan cadangan yang dimiliki, kemampuan perusahaan dalam memproduksi minyak dan gas terus menurun dengan lifting cost yang terus meningkat.

Pada tahun 2005 produksi minyak dan gas perusahaan sebesar 76,0 MBOEPD (ribu barel minyak ekuivalen per hari) dengan lifting cost sebesar US$ 2,88 per BOE (barel minyak ekuivalen). Namun, pada tahun 2009 produksi minyak menurun menjadi 52,8 MBOEPD sedangkan lifting cost menjadi US$ 8,60 BOE. Meskipun demikian, berdasarkan laporan WoodMackenzie lifting cost perusahaan pada tahun 2009 cukup rendah dibandingkan rerata perusahaan lainnya.

Selain bergerak di bidang ekplorasi dan produksi minyak dan gas, perusahaan juga bergerak dalam pembangkit tenaga listrik dan industri hilir. Saat ini perusahaan memiliki lima pembangkit listrik, beberapa kilang pengolahan LPG, ethanol, serta fasilitas penyimpanan dan distribusi bahan bakar. Sekitar 30-35% pendapatan di sumbang oleh bisnis di luar kegiatan ekplorasi dan produksi minyak dan gas.

Kinerja Keuangan dan Saham

Nilai pendapatan Medco terus mengalami peningkatan, dengan rerata pertumbuhan tahunan (CAGR) 2002-2008 sebesar 24,70%. Sementara CAGR ekuitas dan aset perusahaan masing-masing adalah 10,90% dan 21,60%. Pertumbuhan perusahaan diikuti dengan tingkat hutang yang semakin meningkat hingga tahun 2007 dengan rasio hutang terhadap aset (DAR) perusahaan hingga mencapai lebih dari 75%, dan kemudian menurun pada tahun 2008 (63%).




Pertumbuhan perusahaan yang konsisten hingga tahun 2008 sayangnya tidak diikuti oleh tingkat keuntungannya. Marjin laba bersih (NPM) dan rasio laba terhadap ekuitas (ROE) perusahaan berfluktuasi dengan posisi terendah pada tahun 2007 dengan NPM 0,67% dan ROE 1,25%. Pada tahun 2008 perusahaan mencetak pendapatan dan laba tertinggi yang pernah dicapai. Perusahaan mampu meraih pendapatan hingga mencapai US$ 1.283,8 NPM mencapai 21,78% dan ROE hampir menyentuh 40%.

Tetapi, kinerja cemerlang tahun 2008 tidak berlanjut pada tahun 2009. Pendapatan perusahaan turun hingga di nilai US$ 667,8 (menurun 47,98%), sedangkan NPM dan ROE perusahaan tidak mencapai 3%. Tidak stabilnya tingkat keuntungan dan kecenderungannya untuk berada di nilai yang rendah (kecuali tahun 2008) menimbulkan pertanyaan atas kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pengembalian bagi pemegang saham.

Tingkat volatilitas harga saham perusahaan cenderung stabil, namun rerata return perusahaan sejak tahun 2007 kurang baik. Perbandingan harga saham perusahaan terhadap IHSG terus menurun sejak tahun 2006 (di atas 3), sedangkan saat ini berada di sekitar 1,5. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan harga saham perusahaan cukup rendah dibandingkan dengan IHSG. Bahkan dapat dikatakan bahwa harga saham perusahaan cenderung mengalami penurunan dibandingkan dengan saham-saham lainnya. Kinerja saham yang kurang baik sepertinya sejalan dengan fundamental perusahaan. Salam Investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel




Sunday, May 30, 2010

PT Indosat Tbk: Di Tengah Ketatnya Persaingan Industri

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 05 Apr 2010



Infrastruktur telekomunikasi memainkan peran yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi. Jumlah penduduk yang besar dengan struktur geografis yang terdiri dari ribuan pulau memberikan peluang yang besar namun juga tantangan dalam memberikan pelayanan terhadap kebutuhan telekomunikasi.

Sektor telekomunikasi memiliki tiga jasa utama, yaitu telepon tetap (PSTN), telepon dengan mobilitas terbatas (FWA), dan telepon selular. Jumlah sambungan telepon tetap cenderung tidak mengalami pertumbuhan, sedangkan telepon dengan mobilitas terbatas dan telepon selular memiliki pertumbuhan yang tinggi, dengan rerata pertumbuhan tahunan (CAGR) jumlah pengguna sejak 2004 diperkirakan mencapai 65% dan 40%.

Peraturan pemerintah tentang izin pembangunan menara, kewajiban penggunaan bersama menara dengan operator lainnya, serta kontrak dan kepemilikan menara yang 100% harus lokal memberikan tantangan sendiri. Terutama pengaruhnya terhadap kualitas layanan, tingkat daya saing, dan biaya tambahan atas penyesesuaian pembangunan dan penggunaan menara terhadap peraturan tersebut.

Saat ini persaingan dalam industri telekomunikasi menjadi sangat ketat, terutama untuk jasa telepon selular. Sekitar 85% pasar selular adalah pengguna GSM, sedangkan sisanya pengguna CDMA. Pasar GSM masih dikuasai oleh tiga besar perusahaan, yaitu Telkomsel, Indosat, dan XL. Sedangkan pasar CDMA dikuasai oleh Telkomsel, Bakrie Telecom, dan Mobile-8. Setidaknya ada empat hal yang menjadi penyebab dalam ketatnya persaingan industri telekomunikasi, yaitu: 1) tren semakin rendahnya biaya jasa yang diberikan, 2) hadirnya perusahaan-perusahaan baru, 3) semakin tingginya tuntutan inovasi produk dan jasa, dan 4) cepat usangnya teknologi yang digunakan.

Kinerja Bisnis dan Keuangan

PT Indosat Tbk merupakan satu dari sekian banyak perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Sebagai salah satu pionir perusahaan telekomunikasi dengan perjalanan panjang yang telah dilalui, perusahaan telah berevolusi menjadi perusahaan telekomunikasi dengan jasa yang terlengkap di Indonesia. Produk dan layanan yang diberikan perusahaan mencakup jasa selular dan broadband 3.5G, jasa telepon tetap, dan jasa MIDI (multimedia, komunikasi data dan internet).


Tabel Pendapatan Bisnis Perusahaan


Penjualan perusahaan memiliki tren meningkat sejak tahun 2002, dengan rerata pertumbuhan tahunan (CAGR) sebesar 18,42%. Kontribusi pendapatan perusahaan terutama disumbang oleh jasa selular (76%), kemudian diikuti oleh MIDI (14%), dan sisanya disumbang oleh jasa telepon tetap (10%).

Marjin laba bersih (NPM) perusahaan mengalami penurunan sejak tahun 2004. Pada tahun 2003 NPM perusahaan mencapai 19,06%, namun pada tahun 2009 hanya mencapai 8,15%. Di lain pihak nilai hutang perusahaan semakin meningkat. Pada tahun 2002 debt-to-assets ratio (DAR) perusahaan berada di nilai 51,81%, kemudian pada tahun 2008 telah mencapai 66,32%. Sementara itu, antara tahun 2010 hingga 2013, rerata hutang perusahaan yang jatuh tempo adalah sebesar Rp 462,75 miliar.




Perusahaan mengeluarkan belanja modal atau capital expenditure (CAPEX) sebesar Rp 9,276 triliun (2007), Rp 12,342 (2008) dan Rp 11,585 (2009). Rasio belanja modal terhadap penjualan cukup tinggi, dengan rasio sebesar 59% (2007), 66% (2008), dan 63% (2009). Tingkat belanja modal perusahaan yang cukup tinggi dan penurunan laba bersih perusahaan, memberikan pengaruh pada menurunnya arus kas dari operasi tahun 2009 hingga sebesar 38% dibandingkan tahun 2008. Sementara pada tahun 2008, arus kas dari operasi juga telah menurun sebesar 21% dari tahun 2007.

Pada tanggal 31 Desember 2008, Qatar Telecom (Qtel) resmi memiliki kendali terhadap 40,81% saham perusahaan dan menjadi pemegang saham mayoritas. Pada tahun 2009 perusahaan melakukan restrukturisasi organisasi, manajemen, dan bisnis yang diharapkan dapat merefleksikan kebutuhan pelanggan dan sejalan dengan best practice internasional. Program restrukturisasi bisnis perusahaan yang dilakukan salah satunya adalah pengurangan pelanggan jasa selular yang bernilai rendah (low value) bagi perusahaan serta perluasan dan peningkatan jaringan. Hal ini memberikan dampak pada penurunan pendapatan dan tingkat keuntungan perusahaan pada tahun 2009.

Kinerja Saham

Kinerja saham perusahaan dilihat dari rerata return terhadap volatilitas harga saham secara umum di bawah kinerja IHSG. Sejak tahun 2005 rerata return disetahunkan perusahaan tidak terlalu menggembirakan, walaupun tingkat volatilitas harga saham cenderung tidak terlalu tinggi. Sementara sejak tahun 2007 cenderung terjadi penurunan risiko pasar perusahaan, yang berada di sekitar 0,80 – 1,05.

Pasar melihat bahwa future growth opportunity perusahaan masih lebih baik dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan lainnya, namun untuk current performance perusahaan tidak diekspektasi dengan tinggi oleh pasar. Hal ini sejalan dengan kinerja keuangan perusahaan yang masih belum menunjukkan nilai yang cukup baik, dan masih besarnya nilai investasi yang perlu dilakukan perusahaan untuk melakukan pengembangan usaha.

Dapat dikatakan bahwa kondisi fundamental perusahaan cenderung sejalan dengan ekspektasi pasar terhadap perusahaan. Tantangan tren penurunan harga jasa, semakin kompetitifnya persaingan dalam industri telekomunikasi, serta kebutuhan investasi yang besar perlu dijawab oleh perusahaan sehingga ekspektasi pasar terhadap perusahaan dapat meningkat. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel





Wednesday, May 26, 2010

PT PP London Sumatra Tbk: Komitmen pada Sustainability

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 15 Mar 2010




Subsektor perkebunan Indonesia secara rerata memberikan kontribusi bagi PDB sebesar 2%, dengan perkiraan nilai pada tahun 2009 mencapai 112,5 triliun. Berdasarkan data Ditjen Perkebunan, tanaman perkebunan Indonesia didominasi oleh 12 komoditas utama, tiga besar diantaranya adalah kelapa sawit, kelapa, dan karet. Ketiga komoditas tersebut memiliki areal tanam masing-masing sebesar 7,32 juta hektar; 3,80 juta hektar; dan 3,52 juta hektar. Lima komoditas yang mengalami pertumbuhan areal tanam dan jumlah produksi yang paling tinggi selama tahun 2005-2009 adalah kelapa sawit, karet, kakao, tebu, dan kapas. Sementara itu, sepanjang tahun 2005-2009, komoditas yang mengalami pertumbuhan produktivitas tertinggi adalah kelapa sawit, karet, dan kapas.

Untuk pasar ekspor, yang menjadi komoditas unggulan Indonesia diantaranya adalah kelapa sawit, kakao, kopi, karet, dan lada. Sedangkan komoditas untuk kebutuhan dalam negeri diantaranya adalah tebu, teh, kapas, dan cengkeh. Namun masih disayangkan ekspor perkebunan Indonesia sebagian besar masih dalam bentuk komoditas primer, bukan produk yang bernilai tambah tinggi. Krisis global tahun 2008 memberikan pembelajaran tersendiri bagi para pelaku industri perkebunan. Terjadinya penurunan drastis harga-harga komoditas pada waktu itu membuat industri ini menjadi muram, terlebih apabila pendapatan terutama diperoleh dari penjualan komoditas primer.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan perkebunan untuk meningkatkan daya saing dan ketahanan bisnisnya, yaitu: peningkatan produktivitas lahan, peningkatan kualitas produksi, mengembangkan produk turunan yang bernilai tambah tinggi, pengembangan bisnis ke arah hilir, dan progam kepedulian lingkungan. Untuk melakukan hal tersebut perusahaan perkebunan membutuhkan komitmen dan dukungan penggunaan teknologi yang mendukung operasional, research & development, dan permodalan yang memadai.

Bisnis Perusahaan

Produk-produk yang dijual oleh PT PP London Sumatra Tbk adalah minyak kelapa sawit (CPO), bibit kelapa sawit, tandan buah segar, benih, produk-produk karet, kakao, dan teh. Produk sawit mendominasi penjualan perusahaan hingga mencapai kisaran 80% dari nilai penjualan.

Perkebunan kelapa sawit perusahaan 90% berada di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan, sedangkan sisanya berada di Kalimantan Timur. Perusahaan memiliki perkebunan inti dan perkebunan plasma sebagai penunjang produksinya, masing-masing berjumlah 38 dan 14, dan tersebar di pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara itu, 21 pabrik pengolahan produk perkebunan perusahaan juga tersebar di berbagai pulau untuk mengolah produk primer menjadi produk yang bernilai ekonomis lebih tinggi.

Pada bulan April 2009, seluruh perkebunan dan pabrik pengolahan CPO milik perusahaan di Sumatera Utara memperoleh sertifikasi Roundtable on Sustainability Palm Oil. Hal ini memberikan gambaran bahwa perusahaan memberikan komitmen nyata dalam menghasilkan produk yang berkelanjutan dan bersahabat dengan lingkungan.

Perusahaan memberikan perhatian yang tinggi bagi research & development. Ini diwujudkan dengan didirikanya Bah Lias Research Station yang terletak di Sumatera Utara dengan fokus penelitian pada pembibitan, agronomi, dan perlindungan tanaman. Selain itu perusahaan juga membangun kerjasama dengan lembaga penelitian pemerintah Ghana untuk mengembangkan dan mengekplorasi budidaya bibit dan pemuliaan kelapa sawit di Afrika.

Kinerja Perusahaan

Seiring dengan pertumbuhan subsektor perkebunan, penjualan perusahaan terus meningkat setiap tahunnya, ditunjukkan dengan pertumbuhan rerata tahunan tahun 2002-2008 sebesar 23,23%. Pada tahun 2008 perusahaan banyak diuntungkan oleh kenaikan harga-harga komoditas terutama penjualan ekspor. Sementara itu penjualan tahun 2009 menurun sebesar 16,81% dibandingkan tahun sebelumnya, dari 3,85 triliun menjadi 3,20 triliun. Penurunan ini disebabkan oleh terpangkasnya nilai penjualan ekspor hingga mencapai 54,87%.




Pada tahun 2004 perusahaan mengalami ROIC (return on invested capital) negatif, demikian pula laba bersih perusahaan pada tahun tersebut. Kerugian perusahaan pada tahun 2004 disebabkan oleh penyelesaian restrukturisasi hutang. Total hutang perusahaan sebelum restrukturisasi sebesar US$ 228 juta, yang terdiri dari: promissory notes sebesar US$ 20 juta, pinjaman sindikasi bank sebesar US$ 122 juta, dan kontrak berjangka sebesar US$ 86 juta lebih. Sebagian hutang kemudian dikonversi menjadi saham perusahaan.

Setelah tahun 2004 kinerja keuangan perusahaan terus meningkat, ditunjukkan dengan peningkatan ROIC sepanjang tahun 2005 hingga 2008, dari 10,49% hingga mencapai 20,65% pada tahun 2008. Kinerja positif perusahaan juga diiringi dengan komitmen untuk menurunkan tingkat hutangnya, ditandai dengan terus menurunnya debt-to-assets ratio (DAR) menjadi sekitar 35% pada tahun 2008. Untuk diketahui pada tahun 2002 DAR perusahaan mencapai lebih dari 100%.

Seperti pada perusahaan perkebunan yang lain, pada tahun 2008 harga saham perusahaan mengalami penurunan yang sangat tajam, walau kinerja keuangannya justru menunjukkan hal sebaliknya. Sebelum terjadinya krisis, saham perusahaan memberikan average annualized return yang cukup baik, dengan volatilitas harga saham yang cukup stabil. Risiko pasar perusahaan juga cenderung stabil, dengan kinerja keuangan dan potensi perusahaan yang dipersepsikan baik oleh pasar. Salam Investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel





PT Gajah Tunggal Tbk: Masalah dengan Financial Risk Exposure

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 15 Februari 2010




Indonesia memiliki 13 produsen ban dalam negeri dengan kapasitas produksi 45 juta ban roda empat dan 32 juta ban roda dua. PT Gajah Tunggal Tbk masih menjadi penguasa pasar ban Indonesia, kemudian diikuti oleh PT Bridgestone Tire Indonesia dan PT Goodyear Indonesia Tbk. Pasar dalam negeri hanya menyerap 25%-30% dari kapasitas produksi, sedangkan sisanya diekspor ke berbagai negara Amerika, Eropa, Asia, Afrika, Timur Tengah dan Australia. Nilai total produk ban Indonesia yang diekspor terus bertumbuh setiap tahunnya. Pada tahun 2006, nilai ekspor mencapai US$ 764,5 juta; tahun 2007 mencapai US$ 885,3 juta; dan tahun 2008 mencapai US$ 1,053 miliar. Sedangkan untuk tahun 2009, nilainya diperkirakan mencapai US$ 1-1,2 miliar.

Penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diakui dunia internasional dapat mendorong industri ban nasional untuk terus menghasilkan produk yang lebih berkualitas dengan harga yang kompetitif. Di balik cemerlangnya keberhasilan ekspor, industri ban Indonesia masih mengalami permasalahan mendasar terkait persentase impor bahan baku (raw material) pembuatan ban yang hingga saat ini dapat mencapai 60%-70%.

Perkembangan Bisnis dan Keuangan

Perjalanan panjang PT Gajah Tunggal Tbk dan strategi pengembangan yang terus dilakukan, telah membawa perusahaan menjadi produsen ban yang memiliki kekuatan integrasi vertikal pada lini produksinya. Strategi ini dimulai sejak tahun 1991 ketika perusahaan melakukan akuisisi terhadap GT Petrochem Industries, perusahaan yang memproduksi kain ban dan benang nilon. Sampai tahun 1996, perusahaan terus melakukan strategi akuisisi perusahaan yang mendukung supply bahan baku. Namun krisis keuangan Asia memukul perusahaan cukup telak, yang kemudian merubah struktur bisnis perusahaan. Beberapa perusahaan yang sebelumnya diakuisisi kemudian didivestasi sebagai bagian dari program restrukturisasi hutang.

Salah satu kerjasama strategis yang dimiliki perusahaan adalah kerjasama off-take dengan Michelin untuk memproduksi ban, dengan rencana produksi sebesar 5 juta ban per tahun. Selain itu, kerjasama jangka panjang dengan Inou Rubber Company (Jepang) masih terus dilanjutkan dengan model pembayaran royalti atas setiap penjualan yang terjadi. Sedangkan untuk pemasaran dan promosi di Eropa, perusahaan bekerjasama dengan GITI Tire (Europe) BV.

Selama tahun 2006 hingga 2008, penjualan perusahaan terus meningkat setelah sebelumnya terjadi penurunan penjualan pada tahun 2005. Pada tahun 2008, total penjualan perusahaan tercatat sebesar Rp 7,96 triliun, meningkat hampir 20% dari tahun sebelumnya. Pasar ekspor menyumbang sekitar 55% dari total penjualan, dan 45% disumbang dari pasar lokal.




Berdasarkan data Capital Market Trends, tren return on equity (ROE) dan return on assets (ROA) perusahaan mengalami penurunan antara tahun 2003-2008 seiring dengan penurunan laba bersih perusahaan. Sejalan dengan peningkatan penjualan, sejak tahun 2006, rasio total asset turnover (TAT) terus meningkat, walaupun masih belum maksimal (masih di bawah satu). Sementara itu, tingkat hutang perusahaan masih cukup tinggi, ditunjukkan oleh debt-to-assets ratio di atas 80% pada tahun 2008

Financial Risk Exposure

Perusahaan memiliki financial risk exposure yang signifikan terhadap terjadinya krisis pada pasar keuangan, fluktuasi harga komoditas, kurs mata uang dan suku bunga. Semua faktor risiko tersebut memberikan pengaruh signifikan pada kinerja keuangan perusahaan dan kinerja sahamnya. Berdasarkan laporan tahunan 2008, perusahaan mengalami peningkatan biaya material sebesar 38,12% dibandingkan dengan tahun 2007, sehingga total cost of sales meningkat sebesar 24,50% pada tahun 2008. Perusahaan juga mengalami peningkatan beban bunga dan keuangan untuk obligasi sebesar 15,86%. Di lain pihak, perusahaan mengalami peningkatan kerugian kurs mata uang asing pada 2008 hingga mencapai 495,14%, atau senilai Rp 786 miliar. Bahkan nilai total ekuitas perusahaan mengalami penurunan 30,87% dibandingkan tahun 2007.




Risiko pasar modal juga memberikan pengaruh yang cukup besar bagi perusahaan dalam melakukan pendanaan untuk kepentingan operasional dan kebutuhan strategi pertumbuhan perusahaan. Pada tahun 2007, perusahaan melakukan right issue dan penerbitan obligasi, namun krisis pasar keuangan memberikan dampak penurunan nilai saham dan obligasi perusahaan, sehingga menyebabkan perusahaan memutuskan untuk tidak melakukan pendanaan melalui aksi pasar pada tahun 2008.

Berdasarkan informasi yang termuat dalam Capital Market Trends, nilai saham perusahaan sejak tahun 2005 mengalami tren penurunan sejalan dengan penurunan earnings per share (EPS). Walaupun volatilitas harga saham perusahaan termasuk dalam kategori moderat, namun market risk (beta) saham perusahaan berfluktuasi cukup tinggi (antara 0,88-2,11). Sementara itu, persepsi pasar terhadap kinerja perusahaan, baik dari sisi kinerja saat ini maupun kinerja di masa yang akan datang, dinilai cukup rendah dan berada di bawah rata-rata perusahaan-perusahaan dalam pengamatan CAPITAL PRICE.


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel





PT Kalbe Farma Tbk: Kinerja yang Kurang Didukung Penguatan Riset

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 08 Februari 2010



Industri farmasi adalah industri manufaktur yang sangat padat akan pengetahuan dengan tingkat penelitian yang paling tinggi dan inovatif dibandingkan industri manufaktur lainnya. Beberapa penelitian mengkonfirmasi bahwa perusahaan-perusahaan dengan alokasi dana penelitian dan pengembangan (R&D) yang besar dan konsisten akan menjadi pemimpin di industrinya.

Perkembangan globalisasi industri farmasi memberikan tantangan tersendiri bagi industri farmasi Indonesia. Terlebih dengan berjalannya harmonisasi regulasi farmasi ASEAN yang menciptakan pasar tunggal farmasi di ASEAN, memberikan peta persaingan industri farmasi yang lebih kompleks dan lebih ketat. Perusahaan-perusahaan farmasi di Indonesia dituntut untuk mampu meningkatkan competitive advantage-nya, paling tidak melalui tiga hal berikut: mempertahankan pasar domestik, mengembangkan pasar ekspor, dan membangun aliansi strategis yang tepat.

Walaupun konsumsi obat per kapita Indonesia masih paling rendah di antara negara-negara ASEAN, namun rerata pertumbuhan industri farmasi Indonesia berada di kisaran 13%-15% per tahun dan merupakan potensi pasar farmasi terbesar di ASEAN. Pada tahun 2004 pemerintah mulai menggalakkan program asuransi kesehatan bagi masyarakat, yang berdampak pada jumlah belanja produk-produk kesehatan oleh masyarakat terus meningkat. Pada tahun 2009 pasar farmasi Indonesia mencapai kisaran Rp 30 triliun, dengan struktur sekitar 30% produk farmasi asing dan 70% produk farmasi domestik.

Kinerja Keuangan Perusahaan


PT Kalbe Farma Tbk memiliki empat (4) segmen bisnis, yaitu: obat resep, produk kesehatan, produk nutrisi, dan, distribusi dan kemasan. Keempat segmen bisnis ini memberikan kontribusi yang hampir berimbang dengan pertumbuhan penjualan perusahaan yang terus meningkat setiap tahunnya. Kondisi ini memberikan gambaran kemampuan perusahaan dalam membangun segmen bisnisnya, bahkan saat ini perusahaan telah melakukan ekspansi ke negara-negara ASEAN. Walaupun nilai total ekspor yang diperoleh masih cukup kecil, sekitar 4%-6% dari total penjualan.


Seperti kebanyakan perusahaan farmasi Indonesia, PT Kalbe Farma Tbk terutama mengandalkan pada produksi dan pemasaran branded generic, obat generik, dan obat lisensi dari perusahaan farmasi luar negeri. Walaupun saat ini perusahaan memiliki penjualan dan tingkat keuntungan yang baik, tetapi alokasi R&D perusahaan hanya di bawah 1% dari total penjualan. Nilai ini sangat kecil jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan farmasi internasional, yang dapat mencapai 15%-20% dari total penjualan perusahaan.


Sumber: Capital Market Trends, CAPITAL PRICE


Sejak tahun 2006 perusahaan telah menurunkan tingkat hutangnya, debt-to-assets ratio (DAR) perusahaan stabil di kisaran 35%. Sedangkan net profit margin perusahaan cenderung stabil di kisaran 10%-12%, kecuali tahun 2008. Kontras dengan penurunan hutang, peningkatan penjualan, dan stabilnya marjin laba bersih; return on equity (ROE) perusahaan menurun secara konsisten dari tahun ke tahun. Hal ini lebih disebabkan oleh pertumbuhan ekuitas perusahaan yang tinggi dari kontribusi keuntungan perusahaan.


Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2009, total investasi perusahaan adalah sebesar Rp 1,08 triliun (1,5 kali dari nilai yang diinvestasikan pada tahun 2008). Terbagi atas Rp 374,74 miliar untuk investasi jangka pendek dan deposito berjangka, Rp 519,90 miliar untuk penambahan investasi pada anak perusahaan, dan Rp 187,34 miliar untuk perolehan aktiva tetap. Dengan demikian, walaupun alokasi R&D perusahaan terlihat kecil, tetapi perusahaan tetap memberikan perhatian kepada pengembangan bisnis perusahaan ke depan dengan nilai investasi pada anak perusahaan dan aset yang cukup besar.


Kinerja Saham dan Persepsi Pasar


Harga saham perusahaan terus mengalami peningkatan sepanjang tahun 2002 hingga tahun 2005, dan cenderung stabil dalam kurun waktu 2006 sampai akhir tahun 2008. Pada saat terjadi krisis keuangan global, harga saham perusahaan terus mengalami penurunan hingga akhir tahun 2009, dan kembali menguat seiring dengan penguatan pasar.


Sumber: Capital Market Trends, CAPITAL PRICE


Secara umum kinerja saham perusahaan masih kalah dibandingkan kinerja pasar, didasarkan pada perbandingan tingkat volatilitas terhadap rerata return tahunan perusahaan yang seringkali dibawah IHSG. Tingkat volatilitas tahunan harga saham perusahaan cenderung stabil dan mulai meningkat sejak awal 2009, seiring dengan peningkatan kembali harga sahamnya.


Sesuai pengamatan CAPITAL PRICE, pasar masih mempersepsikan perusahaan ini sebagai perusahaan yang lebih baik dibandingkan perusahaan-perusahaan lainnya. Hal ini dicerminkan oleh persepsi pasar terhadap kinerja perusahaan saat ini (current performance) dan persepsi pasar terhadap kinerjanya di masa depan (future growth opportunity) yang lebih tinggi dari rata-rata perusahaan lainnya. Salam Investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel