Friday, July 17, 2009

Knowledge Management



Manajemen telah menjadi area penelitian yang menarik selama bertahun-tahun. Salah satu fokus penelitian dalam manajemen saat ini adalah apakah proses manajemen dapat adaptif dan self-organize.

Dari pendekatan knowledge management, manajemen dapat dikatakan didasari oleh pengumpulan dan transformasi knowledge menjadi produk dan jasa yang dapat dijual. Dengan demikian, majemen dari koleksi knowledge yang dimiliki oleh organisasi dan transformasinya menjadi sangat penting bagi kesuksesan organisasi (Dann dan Barclay, 2006).

Knowlegde management telah menjadi suatu kebutuhan strategis suatu perusahaan untuk tetap mempertahankan competitive advantage-nya. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Snowden dan Stanbrid (2004), bahwa kebutuhan strategis bagi perusahaan atau organisasi akan knowledge management telah diterima oleh banyak pihak. Contohnya seperti semakin bertumbuhnya permintaan akan inovasi dan meningkatnya intensitas knowledge di banyak area bisnis. Sedangkan oleh McElroy (2000) dikatakan knowledge perusahaan atau sering disebut dengan istilah lain intellectual capital, intellectual property, knowledge assets, atau business intelligence, saat ini dilihat sebagai yang paling akhir dan satu-satunya sumber keunggulan kompetitif dalam bisnis yang berkelanjutan dan tidak dapat “ditiru”.





















Gambar 9. The knowledge lifecycle.
Sumber: McElroy (2000)


Gambar 9 merupakan model knowledge lifecycle. Model ini diciptakan oleh KM Standards Committee of Knowledge Management Consortium. Terdapat tiga tingkatan dasar dalam knowledge lifecycle: produksi knowledge, validasi knowledge, dan integrasi knowlegde. Jika diperhatikan terlihat kemiripan model ini dengan model CAS dalam hal role of feedback. Merupakan hal yang lazim juga bagi kedua model dalam hal intepretasi knowledge sebagai rules dan rule sets yang ada yang ditunjukkan disini dalam bentuk organizatioal knowledge. Sedangkan “knowledge claim” merupakan rule yang baru atau knowledge yang baru dalam tahap perkembangannya (formative) (McElroy, 2002; hal 202).

Dann dan Barclay (2006) membangun sebuah complexity representation model (CRM) untuk proses manajemen. Proses manajemen dalam hal ini lebih diartikan secara mendasar dan generik terkait dengan proses manajemen secara umum.
















Gambar 10. Proses-proses Complexity Representation Model (CRM)
Sumber: Dann dan Barclay (2006), hal. 23


Mereka menggambarkan CRM dengan mengelompokkan sifat-sifat complexity dalam proses manajemen. Dibawah ini adalah pengelompokkan sifat-sifat complexity dalam proses manajemen yang mereka lakukan:


Tabel 2. Sifat-sifat complexity berdasarkan kelompoknya






















Penciptaan, penyebaran, dan penggunaan knowledge dalam suatu organisasi tergantung oleh perubahan dari tacit knowledge menjadi explicit knowledge. Nonaka dan Takuechi (1995) dalam Dann dan Barclay (2006) megajukan empat cara supaya hal tersebut dapat terjadi:
• Sosialisasi (tacit ke tacit)
• Eksternalisasi (tacit ke eksplisit)
• Internalisasi (eksplisit ke tacit)
• Kombinasi (eksplisit ke eksplisit)

Dalam hal knowledge gaps yaitu knowledge yang tidak diketahui dari yang perlu diketahui oeleh suatu organisasi, Koulopoulos (1997) dalam Dann dan barclay (2006) mengajukan proses evaluasi knowledge gaps dengan menggunakan “knowledge chain” yang terdiri dari:
Internal awareness yang membawa ke
Internal responsiveness
External awareness yang membawa ke
External responsiveness

Dalam organisasi terdapat critical knowledge functions, yaitu berdasarkan definisi Wiig (1995) merupakan domain kunci knowledge suatu organisasi. Sebagian hal tersebut diperoleh oleh organisasi melalui sistem formal, namun skala dan complexity dari proses akumulasi, konversi dan penyebaran knowledge menyebabkan critical knowlegde functions diperoleh mealui proses informal. Dengan demikian diperlukan adanya keseimbangan antara kebebasan dan kontrol dalam organisasi agar hal tersebut menjadi optimal.



















Gambar 11. Complexity Application Model
Sumber: Dann dan Barclay (2006), hal. 26


Complexity application model (CAM) menggunakan basis dari “alur” complexity theory, yaitu dari Organisai ke Evolusi, yang berinteraksi dengan sistem formal dan non-formal dan proses-proses dari organisasi. Dibawah ini dijelaskan fungsi-fungsi dari model CAM pada Gambar 11:

Aspek formal
Aspek formal merepresentasikan knowledge, proses, sistem dan prosedur organisasi yang formal yang terkait dengan kemampuan melihat dan memprediksi kejadian yang potensial terjadi melalui rencana dan sistem yang contingent. Dalam hal ini potensial “ketidakcocokan” dapat diprediksi dan kemampuan untuk mengatasi seharusnya dapat timbul dan dibangun kedalam sistem. Proses formal berlaku hingga terjadinya “ketidakcocokan” yang serius yang menuntut perubahan yang signifikan.

Aspek informal
Aspek informal merepresentasikan knowledge dan proses learning yang bersifat informal di organisasi, berhubungan dengan kejadian-kejadian yang tidak dapat dilihat melalui kemampuan orang-orang dan budaya yang terdapat dalam organisasi. Dalam hal ini “ketidakcocokan” tidak dapat dan didasari oleh proses learning, adaptasi dan evolusi dalam complexity theory. “Ketidakcocokan” minor dapat berhubungan dengan informal proses yang tanpa memerlukan perubahan dalam sistem formal. Ketika “ketidakcocokan” menjadi serius, hasil dari tindakan sistem informal dapat disatukan dengan proses formal.

Konfirmasi knowledge
Hal in memiliki dua dimensi. Jika kejadian-kejadian “cocok” dari yang dibutuhkan dan/atau dari yang diprediksi, maka knowledge yang telah ada valid dan dipertegas. Jika kejadian-kejadian menciptakan “ketidakcocokan”, maka knowledge yang baru dan lebih tepat harus disatukan, divalidasi dan dipertegas. Dalam kedua kasus new learning mungkin saja diserap.

Penyatuan proses learning
Hal ini juga memiliki dua dimensi. Baik pada kejadian yang ‘’cocok’’ maupun yang ‘’tidak cocok’’ proses learning yang baru dan lebih tepat dapat saja disatukan kedalam organisasi sebagaimana dibutuhkan untuk peningkatan.

Pengembangan organisasi
Dalam hal ini terdapat dua titik ekstrim. Jika proses bekerja berjalan dengan baik, maka knowledge organisasi menjadi dipertegas sebagai dasar yang benar (yaitu “cocok”). Minor perturbations terkait dengan sistem informal yang mampu mengatasinya. Jika proses formal tidak bekerja dengan baik (“tidak cocok”), maka proses learning dari proses informal dapat dibangun kedalam proses formal.

Complex Adaptive System (CAS) Model



Salah satu teori yang telah dibangun dalam complexity science adalah Complex Adaptive Systems (CAS). Terminologi ini pertama kali digunakan oleh Santa Fe Institute untuk menggambarkan suatu sistem yang dapat beradaptasi melalui proses yang disebut “self-adaptation” dan pemilihan dalam perilaku baru yang koheren, terstruktur serta terpola.

Gambar 8. memberikan suatu visualisasi yang sangat jelas tentang model CAS. Fakta-fakta menarik dari representasi complex living system adalah peran yang dimainkan oleh knowledge yang digambarkan oleh ”rule system”, dan ”rules” yang dihasilkan. Ketika sistem menemukan stimuli yang masuk dari lingkungannya (informasi, energi atau matter), sistem merespon dengan memanggil knowledge yang berhubungan dengan stimuli tersebut yang dimuat dalam set-set rules. Tindakan akan dilakukan, jika ada efek yang dihasilkan di dalam sistem itu sendiri atau di luar sistem itu, hasilnya akan dikembalikan (feed back) ke dalam sistem secara segera dan sebagai rekomendasi bagi masa depan. Rules atau knowlegde akan disegarkan kembali pada saat prosesnya. Feed back dan rules pada ilmu complexity mirip pada peran yang dimainkan oleh ”experiential feedback” dan ”organizational knowledge” sebagaimana yang muncul pada model Knowlege Management, lihat Gambar 11. (McElroy, 2000; hal 202)



















Gambar 8. Model Complex Adaptive Sytems (CAS)
Sumber: www.necsi.org


Ketika orang berusaha untuk menggambarkan tentang complex adaptive system (CAS), biasanya mereka memasukkan sifat-sifat seperti berikut:

• Agen-agen dengan schemata
Agen-agen saling berinteraksi satu sama lain dan merekonstruksi schemata (tujuan, asumsi, ekspektasi, nilai, dan kebiasaan) yang mengorganisasi hubungan mereka dalam tingkatan lokal. Mereka bersama-sama membentuk pengertian tentang dunia dan tentang satu sama lain, membentuk penilaian (judgements), fashion the future, dan menjaga hubungan mereka. Tindakan mereka merupakan reaksi dan intepretasi dari pengalaman mereka yang melibatkan konstruksi, merekonstruksi dan memodifikasi schemata mereka.

• Timbulnya pola perilaku global (emergence) dari relasi/hubungan
Sebagaimana agen-agen berinteraksi secara lokal, mengadaptasi satu sama lain, dan menciptakan variasi dan kompleksitas dalam schemata mereka, mereka mengkonstruksi pola perilaku yang koheren dan global yang saling berinteraksi. Pola perilaku yang koheren dan global tersebut dapat terlihat pada ritual-ritual, hubungan yang terstruktur, sistem komunikasi, kriteria umum dalam pengambilan keputusan (operating values), tujuan bersama, dan terakhir tentunya organisasi itu sendiri. Timbulnya pola perilaku global ini terjadi secara self-adaptation yang dapat terjadi dalam jangkuan dari terciptanya valuable innovation hingga terjadinya kecelakaan (accidents) yang tidak diharapkan. Kesalahpahaman dan kekeliruan menawarkan berbagai cara interaksi dan kesempatan untuk membentuk kembali schemata yang telah menjadi pola perilaku global, dimana hal ini memberikan kontribusi bagi perubahan yang kontinu bagi organisasi. Setiap saat anggota-anggota organisasi meneyelesaikan permasalahan secara individu dan bersama-sama melakukan self-organized, dan menciptakan keberagaman dalam sistem. Sistem akan mengalami kemunduran kecuali mengisi kembali dirinya dengan energi yang ditimbulkan dari hubungan di dalam dan di luar sistem dan inovasi dan kesalahan yang akan terjadi pada tahap selajutnya.

Coevolution at the edge of chaos
Complex Adaptive Systems (CAS) berada di daerah-daerah perbatasan di dekat the edge of chaos, daerah dimana komponen-komponen keteraturan mulai tidak berlaku lagi dan agen-agen dalam sistem melakukan co-evolve supaya dapat bertahan dan mengoptimalkan diri mereka dalam lingkungan yang sedang berubah. Agen-agen seringkali memiliki tujuan-tujuan yang saling bertentangan sehingga mereka membutuhkan adaptasi terhadap perilaku mereka masing-masing. CAS secara konstan menciptakan keberagaman dan memiliki resiko untuk mati ketika mereka bergerak dari kesetimbangannya. Seseorang tidak dapat memprediksi variasi mana yang akan menyebabkan pengaruh yang paling besar. Dalam CAS seringkali variasi kecil menyebabkan efek yang sangat besar, namun usaha besar-besaran memiliki efek yang kecil. Pola perilaku yang sederhana dapat bergabung untuk menciptakan kompleksitas dan keberagaman yang tinggi, dan emerging complexity dapat menciptakan banyak kemungkinan-kemungkinan dan banyak kemungkinan masa depan. Dalam CAS terdapat banyak perubahan-perubahan kecil namun jarang terjadi dan perubahan-perubahan besar terjadi secara tidak teratur.

• Evolusi sistem berdasarkan pada rekombinasi
Dalam setiap interaksinya agen-agen memainkan perannya didasarkan pada pola perilaku historis–berdasarkan schemata yang telah dibentuk sebelumnya–dengan sedikit atau banyak variasinya. Agen-agen mampu mengenali pola-pola perilakunya, mampu merasakan perbedaan, dan mampu memilih untuk merekonstruksi atau mengkonstruksi pola perilaku baru. Sehingga dapat dikatakan terdapat pola perilaku konsistensi walaupun berbeda. Sistem ini juga memiliki resilience, yaitu fleksibel dan terbuka untuk belajar (learning) supaya dapat bertahan dan konsisten dengan schemata-nya.

Tabel 1. dibawah ini memberikan perbandingan antara complex adaptive systems dengan sistem tradisional yang banyak dianut pada era sebelumnya, terutama pada era industri.

Tabel 1. Perbandingan sifat-sifat sistem organisasi

Thursday, July 16, 2009

Complexity Science

Seperti yang dikatakan oleh Kathlin K. Ray bahwa dunia saat ini lingkungan yang ada bersifat chaotic dan turbulens, oleh karenanya memerlukan cara pandang berbeda tentanga dinamika sistem yang saat ini sedang terjadi. Capra (1996) seperti disampaikan dalam Dann dan Barclay (2006) melakukan penelusuran terhadap pemikir-pemikir tentang dinamika system yang berbeda dari dinamika system yang reduksionis, berikut adalah hasil penelusuran tersebut:


  • A system is an integrated whole, whose properties cannot be reduced to the sum of its parts.
  • All phenomena are interrelated yet independent thus each system forms part of a larger system, yet each has its own individual proper-ties. This is the idea of systems being nested or arranged in a hierarchy.
  • Each system exhibits properties that do not exist at lower levels within the hierarchy. These are called ‘emergent properties’ e.g. life, consciousness
  • The observer influences the determination of the system boundary i.e. what is be described as part of the system and what is excluded and the purpose of the system thus making definition of the system and its constituent parts critical.
  • Systems are subject to feedback i.e. the influence of one element on another within the sys-tem. The nature of this feedback can vary either being positive (amplifying and providing ‘gain’ in the system) or be negative (declining, ‘damping’ of the system). This is so called ‘non-linear’ behaviour.


Setelah sekian lama berada dalam sudut pandang mekanistik telah muncul sudut pandang baru yang disebut sebagai complexity science, sering juga disebut teori complexity. Untuk mengerti tentang complexity, dalam hal ini akan digunakan pengertian yang diberikan oleh Zimmerman dkk, yaitu:

Complexity is “a description of the complex phenomena demonstrated in systems characterized by nonlinear interactive components, emergent phenomena, continuous and discontinuous change, and unpredictable outcomes. Complexity is usually understood in contrast to simple, linear and equilibrium-based systems.”

Complexity systems merupakan sistem yang hidup, dibangun dari model-model biologis yang merupakan sistem yang non-linier dan dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Studi tentang complexity science sebenarnya ditujukan untuk memahami efek-efek yang tidak langsung. Masalah-masalah dalam sistem ini sulit untuk dipecahkan karena sulit untuk dimengerti yang disebabkan oleh sebab dan akibat yang tidak jelas hubungan antara keduanya. Pada system ini ketika kita memberikan perlakuan di tempat A, maka efeknya bisa saja di tempat F atau V, hal ini disebabkan ketergantungan bagian-bagian dalam system.

Complexity science berusaha untuk menggambarkan bagaimana suatu system yang kompleks, seperti organisasi, dapat menghasilkan keluaran-keluaran yang sederhana. Perilaku seperti ini seperti yang terjadi pada tubuh manusia, milyaran sel-sel saling berinteraksi dan bekerjasama dan membentuk tubuh manusia sebagai unit tunggal. Demikian pula dalam organisasi, bermacam-macam individu membentuk divisi, divisi-divisi kemudian membentuk departemen, dan departemen-departemen membentuk organisasi secara keseluruhan. Kumpulan bagian-bagian menjadi suatu emergence, mekanisme ini disebut sebagai self-organization. Dalam system ini sulit untuk hanya melihat pada satu sel atau satu orang yang kemudian kita mengatakan akan ada interaksi dengan yang lainnya dan membentuk tubuh atau organisasi.

Sudut pandang complexity science menggunakan penyelidikan yang sistematis untuk membangun representasi realitas yang bersifat fuzzy, multivalent, multi-level dan multi-disciplinary. Sistem dapat dimengerti dengan melihat pola perilaku dalam complexity, pola perilaku yang menggambarkan potensial evolusi dari sistem tersebut. Deskripsi-deskripsi dalam sistem bersifat indeterminate dan komplementer, dan tergantung oleh pengamat. Transisi sistem lazimnya antara titik-titik kesetimbangan hingga adaptasi lingkungan dan self-organization; kontrol dan keteraturan bersifat emergent dibandingkan predetermined (Dooley, 1996; hal. 1).

Bar-Yam mengatakan sistem berpikir yang lebih sistematis untuk dapat mengerti perilaku kolektif dapat menggunakan konsep complexity profile, yang fokus perhatiannya pada skala dimana perilaku tertentu dari suatu sistem dapat terlihat oleh pengamat atau luasnya pengaruh perilaku tersebut pada lingkungannya. Definisi skala yang dimaksudkan dalam hal ini mempertimbangkan faktor-faktor luasnya ruang, lamanya waktu, momentum dan energi dari suatu perilaku. Biasanya perilaku-perilaku dalam skala yang lebih besar melibatkan koordinasi antara bagian-bagian sistem atau melibatkan energi yang yang lebih besar.

Complexity profile memperhitungkan jumlah perilaku-perilaku yang dapat diamati pada skala tertentu yang juga termasuk semua perilaku-perilaku yang ditempatkan pada skala tersebut atau skala yang lebih besar. Ketika suatu sistem dibentuk oleh bagian-bagian yang saling independen, perilakunya berada dalam skala yang kecil. Ketika suatu sistem yang dibentuk oleh bagian-bagian yang saling bergerak pada arah yang sama, perilakunya berada dalam skala yang paling besar. Ketika suatu sistem dibentuk oleh bagian-bagian yang perilakunya terkorelasi sebagian dan partially independent, maka ketika kita melihat sistem pada skala yang semakin baik kita akan melihat lebih banyak detail dari sistem itu. Hal ini merupakan karakteristik dari complex systems yang dibentuk oleh bagian-bagian yang terspesialisasi dan terkorelasi. Sistem seperti ini memiliki complexity profile yang menurun secara gardual dengan semakin besarnya skala.




























Gambar 4. Complexity profile

Sumber: Yaneer Bar-Yam, Complexity Rising: From Human Beings to Human Civilization, A Complexity Profile


Complexity profile manusia digambarkan oleh Bar-Yam dalam kurva smooth yang menurun disebabkan oleh terdapat berbagai macam skala dimana detail dari perilaku internal manusia dari bagian-bagian dapat terlihat. Seperti contohnya, pada skala atomik pergerakan sebuah atom dapat terlihat, namun hampir semua pergerakan tersebut tidak dapat terlihat pada skala cellular. Bar-Yam menyarankan bila melihat perilaku kolektif dari kelompok manusia, akan lebih baik menggunakan referensi pada nilai complexity profile pada skala manusia (human), yaitu Cindividual. Hal ini menggambarkan complexity dari pengaruh seorang manusia yang mungkin timbul terhadap manusia lainnya.


















Gambar 5. Complexity profile manusia

Sumber: Yaneer Bar-Yam, Complexity Rising: From Human Beings to Human Civilization, A Complexity Profile
















Gambar 6. Complexity profile manusia

Sumber: Yaneer Bar-Yam, Complexity Rising: From Human Beings to Human Civilization, A Complexity Profile


Perilaku suatu sistem, oleh Bar-Yam, digambarkan terhubung dengan environmental demands. Hubungan ini dibentuk dari proses seleksi terhadap sistem-sistem yang secara kontinu dapat bertahan dalam lingkungan. Bentuk hubungan tersebut terutama, yaitu complexity dari environmental demands harus lebih rendah dari perilaku sistem organisme yang kemungkinan besar akan bertahan. Lingkungan dari organisasi manusia secara sebagian dibentuk oleh organisasi manusia lainnya. Melalui kompetisi peningkatan complexity dari satu organisasi akan menyebabkan peningkatan complexity organisasi lainnya. Dengan demikian hal ini memberi kesan sepanjang waktu sepanjang waktu complexity dari organisasi-organisasi semakin meningkat hingga perilaku kolektif menjadi semakin kompleks daripada perilaku seorang individu manusia.





















Gambar 7. Karakteristik dari Complex Systems

Sumber: www.necsi.org

Sunday, March 15, 2009

Perkembangan Abad 21: Kondisi Lingkungan Saat Ini

Perkembangan kondisi lingkungan tempat kita hidup saat ini boleh dikatakan perubahannya berada dalam kondisi yang memusingkan bagi organisasi-organisasi. Hadirnya teknologi-teknologi baru, krisis lingkungan dan ekonomi, terintegrasinya pasar, dan ketidakstabilan sosial dan politik, menghadirkan kesempatan dan ancaman bagi organisasi-organisasi. Aturan-aturan tradisional yang sebelumnya berlaku dalam organisasi-organsisasi, saat ini semakin bergeser menuju keusangan.

Teknologi-teknologi baru dalam bidang informasi dan komunikasi secara dramatis semakin cepat perkembangannya, demikian juga kekuatan komunikasi semakin powerful dan semakin murah pula harganya. Terintegrasinya pasar-pasar di seluruh dunia membuat semakin terkikisnya kekuatan kebijakan nasional negara-negara yang kemudian bergeser kepada peraturan-peraturan trans-nasional yang akan mengatur jalannya pasar-pasar global.

Banyak sekali perubahan yang telah dan sedang terjadi dalam abad 21 ini, dimana perubahan ini terjadi secara global dan juga mendasar. Hal tersebut memberikan kondisi yang ketidakseimbangan bagi banyak organisasi di dunia ini. Bagi organisasi jangan berharap banyak dapat setelah mencapai tingkat keseimbangan kembali menjadi berpuas diri, karena abad ini memiliki karakter perubahan yang semakin lama semakin cepat, sehingga ketika suatu organisasi telah mencapai kondisi yang diinginkan dari perubahan sebelumnya, perubahan baru telah terjadi dan semakin cepat lajunya. Bagaimanakah gambaran abad 21 sebenarnya? Berikut ini gambaran sekilas yang dianggap merupakan poin-poin penting untuk menggambarkan kondisi tersebut.

• Hilangnya kontrol akan informasi
Pada era industrialisasi informasi secara relatif adalah suatu sumber daya yang sulit dijangkau. Teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah meningkatkan kemampuan kita untuk menciptakan dan mendistribusikan informasi dalam jumlah yang besar dengan tingkat kecepatan yang tinggi dan tingkat audiens yang besar pula. Saat ini informasi dapat mengalir dengan bebasnya menuju belahan dunia mana saja, kontrol akan informasi semakin menghilang dengan hadirnya teknologi informasi dan komunikasi. Individu-individu semakin memiliki kesamaan dalam kemampuan mengakses dan mengintepretasikan informasi.

• Tingginya permintaan akan knowledge
Dengan bebasnya informasi dapat bergerak dan teknologi-teknologi baru membuat laju perubahan semakin cepat, maka knowledge-lah yang menjadi kunci akan kesuksesan bagi seseorang atau organisasi. Kapasitas untuk menciptakan dan mengerti knowledge yang dapat membawa seseorang atau organisasi beradaptasi dan berkembang dalam kondisi lingkungan yang turbulens. Organisasi perlu untuk melakukan integrasi akan knowledge yang berbeda-beda yand dimiliki anggotanya untuk dapat mencapai tujuannya.

• Semakin tingginya tingkat interkonekstitas dan ketergantungan
Saat ini globalisasi semakin cepat berlari didukung oleh perkembangan teknologi-teknologi baru. Kondisi ini menciptakan terjadinya interkoneksi dan ketergantungan antara komponen-komponen dalam dunia global. Berkurangnya penghalang dalam perdagangan dan investasi antara negara-negara telah mengikis pentingnya ekonomi dalam batasan nasional/negara. Teknologi telah menciptakan sistem produksi dan distribusi baru yang mengizinkan perusahaan-perusahaan menjual produk-produknya dimanapun di seluruh dunia secara virtual dengan kecepatan yang tinggi.

• Semakin tingginya diversity dan resiko
Globalisasi dan teknologi baru telah menciptakan pertukaran budaya setiap saatnya, dengan demikian masyarakat semakin diverse. Diversity dalam masyarakat termasuk dalam gaya hidup, identitas, pandangan hidup, dan lain-lain. Tingkat interdependensi transnasional yang semakin tinggi saat ini juga menyebabkan peningkatan tingkat resiko dari krisis ekonomi global, penyebaran penyakit, kejahatan transnasional dan imigrasi illegal.

Dari penjabaran diatas dapat disimpulkan salah satu ciri utama yang dapat kita lihat dengan jelas tentang kondisi lingkungan saat ini adalah semakin tingginya tingkat global interkoneksi dan ketergantungan. Hal ini menurut Bar-Yam (1997) menyebabkan semakin berkurangnya tingkat kontrol yang terpusat dalam organisasi-organisasi saat ini. Bar-Yam (1997) dalam bukunya yang berjudul Dynamics of Complex Systems menjabarkan bukti-bukti yang telah terjadi tentang semakin hilangnya tingkat kontrol yang terpusat, yaitu (hanya disajikan enam penjabaran dari sebelas penjabaran oleh Bar-Yam):

• Hilangnya pemerintahan diktator di dunia barat
Saat ini boleh dikatakan hanya Cuba yang masih menjalankan pemerintahan diktator, namun di semua negara-negara barat telah terjadi perubahan sistem pemerintahan yang tidak lagi diktator. Hilangnya pemerintahan yang diktator sebenarnya tidak hanya terjadi di negara-negara barat, namun juga negara-negara Asia dan Afrika yang belakangan ini juga telah banyak terjadi transisi, termasuk di Indonesia dan Filipina.

• Perubahan negara-negara komunis
Hal ini terutama tergambar dalam perubahan yang terjadi pada negara Uni Soviet. Dengan Uni Soviet tidak lagi menjadi negara komunis, kekuatan komunisme didunia menjadi jauh sangat berkurang, walaupun masih ada beberapa negara yang menganut komunisme seperti Korea Selatan, Cuba dan China. Saat ini China sendiri tidak dapat dikatakan sepenuhnya merupakan negara komunis terutama jika dilihat dari sisi ekonomi dan bisnisnya.

• Terjadinya privatisasi dalam negara-negara yang menganut demokrasi
Dalam banyak negara yang menganut demokrasi, pemerintah biasanya melakukan privatisasi akan industri yang sebelumnya di tangani oleh pemerintah, sehingga tinggal sedikit industri saja yang ditangani oleh pemerintah. Kontrol yang dilakukan pemerintah diubah menjadi dalam bentuk pajak dan peraturan-peraturan.

• Menciutnya ukuran perusahaan-perusahaan besar secara sistematis
Jika dilihat trennya, sejak tahun 1970 hingga 1995 perusahaan-perusahaan yang terdaftar dalam Fortune 500 (500 perusahaan terbesar di Amerika), proporsi jumlah pekerjanya dengan keseluruhan pekerja yang ada semakin menurun.

















Gambar 2. Total pekerja dari 500 perusahaan terbesar di Amerika seperti yang disusun oleh majalah Fortune.

Sumber: Bar-Yam (1997), hal. 802


• Terjadinya perubahan dalam menajemen korporat
Menciutnya ukuran perusahaan-perusahaan besar seringkali disebabkan oleh biaya birokrasi yang terlalu mahal bagi perusahaan. Pendekatan manajemen seperti total quality management (TQM) lebih didasari pada pengambilan keputusan yang timbul dari tim bukan dari keputusan yang diambil oleh pihak manajemen yang lebih tinggi.

• Hadirnya pori-pori pada batas perusahaan
Hal ini dimaksudkan bahwa batas perusahaan tidak lagi terlalu tegas, contohnya adalah penggunaan tenaga-tenaga outsorce dan tenaga kerja sementara (kontrak) dan juga konsultan bagi perusahaan. Sementara itu perusahaan hanya fokus pada teknologi dan kompetensi intinya saja.

William Bernquist seorang organizational theorist dalam Ray (2001, hal.1) menggambarkan tingkat perubahan dunia saat ini seperti dibawah ini

“…the present environment of unpredictable and perpetual change is not phase or period of transition but the new reality.”

Sedangkan Kathlin K. Ray (2001) mengatakannya dengan bahasa yang lain

“The relentless pace of change combined with increasing levels of complexity and ambiguity are creating chaotic and turbulent work environments.”

Uraian diatas sebelumnya memberikan gambaran akan organizational complexity yang sebenarnya saat ini semakin tinggi tingkatannya disebabkan oleh kondisi lingkungan yang terus berubah sehingga lingkungan semakin kompleks dan kecepatan perubahannya yang semakin cepat dan tidak beraturan. Banyak yang mengatakan organisasi yang hidup di era saat ini digambarkan dengan kondisi at the edge of chaos.

Penggambaran ini merupakan penggambaran yang ingin mengatakan dunia ini terkadang sangat terstruktur dan teratur dan pada lain waktu terlihat seperti chaotic dan tidak dapat diprediksi. Dapat dikatakan terdapat struktur yang cukup sehingga memberikan rasa akan kestabilan dan kontinuitas, namun juga terdapat cukup diversitas dan ketidakpastian yang membawa hal-hal baru dan tidak pernah diketahui timbul yang membawa pada peningkatan dan pertumbuhan. Kondisi edge of chaos merupakan titik keseimbangan dari kedua keadaan diatas, kondisi sesaat sebelum kita berada dalam chaos atau sesaat setelah berada dalam chaos. Kondisi ini juga dikatakan sebagai titik emergence, dimana timbulnya perilaku baru yang sebelumnya tidak diprediksi.










Gambar 3. Representasi kondisi at the edge of chaos, kondisi diantara tingkat keteraturan dan ketidakteraturan yang tinggi.

Sumber: Koivuaho dan Laihonen (2006), hal. 50.


Dengan demikian kita tidak dapat lagi untuk memodelkan atau melihat dunia yang sekarang ini seperti pada era Newtonian yang bersifat deterministik, memetaforakan dunia sebagai mesin yang mekanistik, terprediksi, memiliki keteraturan, dapat dikontrol, dan memiliki kepastian tertentu, logika berpikir yang melatarbelakangi juga pemikir-pemikir teori organisasi dari era modern.

Dengan kondisi lingkungan kita tinggal dan demikian pula bagi organisasi, maka diperlukan suatu sudut pandang atau teori baru untuk dijadikan suatu diskursus bagi organisasi dalam rangka mempertahankan hidup dan berkembang. Complexity science memberikan peluang bagi kita untuk dapat melihat dan menggambarkan sistem hidup kita dengan lebih jernih dan komprehensif, memberikan banyak kontradiksi dibandingkan pada era modern.

Organizational Complexity

Organisasi menjadi kompleks dapat dilihat dari sisi orang-orang yang membentuknya sendiri sudah kompleks, orang-orang tersebut memiliki perbedaan-perbedaan pada jenis kelamin, umur, latar belakang, pengalaman, kepercayaan, nilai-nilai dan keinginan. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa semua organisasi adalah kompleks tanpa perlu memperhatikan keragaman internalnya (internal diversity), namun disebabkan oleh perbedaan interpersonalnya.













































Gambar 1. Tingkat kompleksitas organisme dan lingkungannya dilihat dari komponen-komponen pembentuknya.

Sumber: www.idiagram.com







Gambar 1 diatas digambarkan secara jelas oleh Marshall Clemen tentang hadirnya kompleksitas suatu organisme hingga lingkungannya yang timbul dari komponen-komponen pembentuknya dari yang paling dasar adalah String dan Quark. String dan Quark hingga saat ini dipercaya sebagai pembentuk paling dasar dari materi yang ada didunia ini, jauh lebih mendasar dibandingkan dengan atom. Masing-masing bentuk tersebut memiliki tingkat kompleksitasnya. Sehingga ilustrasi ini menjadi pendukung dan penjelas kompleksitas organisasi yang dilihat dari interpersonalnya, dengan melihat seseorang dalam organisasi juga sebagai organisme.



Kompleksitas organisasi dari segi interpersoalnya juga dapat dilihat dari sisi kemampuan hampir semua orang mampu untuk memainkan berbagai peran yang berbeda-beda dalam organisasi. Hal ini dapat terlihat bagaimana dalam pemutaran tugas (rolling), seseorang mampu memainkan peran sesuai dengan kepercayaan dan norma-norma yang ada pada pada fungsi dan proyek tertentu yang diberikan padanya, pada waktu tertentu (Dooley, 2002; hal. 7).



Dari sudut pandang teori organisasi, organizational complexity merupakan respon dari tingkat kompleksitas baik didalam maupun diluar organisasi tersebut. Kompleksitas dari lingkungan internal dan eksternal dapat digambarkan dalam tiga dimensi yaitu diferensiasi atau variasinya, sifat-sifat dinamiknya, dan kompleksitas dari mekanisme dasar penyebabnya. (Dooley, 2002; hal. 7).



Teori contingency mengatakan kepada kita tentang bentuk dan perilaku suatu organisasi yang mengikuti kondisi lingkungan eksternalnya, atau dengan kata lain fit dengan lingkungannya. Dengan lingkungan eksternal yang kompleks organisasi juga akan menjadi kompleks. Dalam usaha untuk fit dengan lingkungan eksternalnya organisasi melakukannya dengan melakukan diferensiasi.



Organsisasi menjadi kompleks juga dapat disebabkan oleh kondisi internalnya, seperti apa yang diungkapkan oleh Thompson (1967) dalam Dooley (2002, hal.9) tentang organisasi teknologi. Dengan mengikutsertakan artifak fisik seperti prosedur, metode dan proses dalam organisasi tersebut, maka semakin kompleks teknologi suatu organisasi maka suatu organisasi akan cenderung semakin kompleks.



Perrow (1984) dalam bukunya Normal Accidents: Living with High-Risk Technologies berargumen bahwa sistem kita telah menjadi begitu kompleks dan closely coupled sehingga kecelakaan-kecelakaan telah menjadi sesuatu yang normal dan tidak dapat menjaminnya bahwa hal tersebut tidak akan terjadi. Disebabkan oleh sistem yang kompleks, maka diperlukan operasi yang sifatnya desentralisasi sehingga tercipta fleksibilitas jika terjadinya suatu kesalahan. Namun, sistem yang closely coupled memerlukan operasi yang sifatnye sentralisasi sehingga terciptanya kontrol dalam sistem. Dengan demikian Perrow berargumen bahwa kita tidak dapat memiliki kedua operasi desentralisasi dan sentralisasi, sehingga kecelakaan yang dianggap sebagai kejadian normal tidak dapat dihindari. Perrow membagi teknologi dalam organisasi dalam linier atau kompleks. Linier dalam hal ini menunjukkan sesuatu yang lebih sederhana dari mekanisme yang lebih kompleks, atau lebih mudah dimengerti.



Lingkungan institusional juga memberikan pengaruh terhadap organizational complexity. Seperti dikatakan oleh Powell (1988) dalam Dooley (2002, hal.10):



“located in environments in which conflicting demands are made upon them will be especially likely to generate complex organizational structures with disproportionately large administrative components and boundary spanning units” (p.126)



Hal ini mendukung seperti apa yang dikatakan juga oleh teori institusinalization.



Mitzberg (1993) dalam Dooley (2002, hal.13) menggambarkan perubahan struktur organisasi dengan adanya perubahan lingkungan, jika lingkungan semakin kompleks, maka organisasi akan semakin decentralized. Dalam hal lingkungan yang kompleks Mitzberg membagi lingkungan menjadi dua, yaitu i) kompleks tetapi stabil dan ii) kompleks tetapi turbulens. Dalam lingkungan i), organisasi akan memilih standarisasi dalam proses kerja dan keluarannya. Contohnya adalah organisasi manufaktur melakukan sistem kualitas seperti pada petunjuk dalam standar ISO 9000. Sedang dalam lingkungan ii), organisasi akan melakukan mutual adjustment. Hal ini dapat digambarkan dengan perusahaan-perusahaan yang terdapat dalam industri internet yang melakukan mutually co-evolve standar dengan tujuan untuk menjaga kompatibilitas dengan perusahaan lainnya.

Wednesday, February 25, 2009

A Tribute For Entrepreneur: A Financial Perspective



Dulu saya membayangkan menjadi entreprenuer itu enak, punya bisnis, punya penghasilan besar dan lain-lain yang enak-enak. Namun ternyata untuk mencapai itu semua tidak semudah itu. Salah satu hal yang sangat menyulitkan entrepreneur adalah masalah pendanaan, baik untuk kebutuhan investasi maupun modal kerja. Sepanjang pengamatan bagi perusahaan-perusahaan yang baru dibangun atau baru mau dibangun mencari pendanaan begitu sulit, pontang-panting namun terkadang tidak menghasilkan apa-apa. Terlebih bila mencari ke bank, sudah pasti ditolak apabila umur perusahaan belum mencapai 2 tahun (untuk Indonesia), belum lagi harus memiliki jaminan tertentu untuk pinjaman yang diajukan. Kecuali kalau sang entrepreneur dapat memperoleh fasilitas personal guarantee, maka walaupun umur perusahaan masih sangat baru namun bisa memperoleh pinjaman pendanaan dari bank. Tetapi hal ini seperti virtuous circle, untuk memperoleh fasilitas personal guarantee biasanya yang menjadi pegangan oleh bank adalah adanya perusahaan yang sudah establish yang menjadi penjamin perusahaan baru atau minimal jaminan aset yang cukup besar. Untuk perusahaan baru tentunya hal tersebut tidaklah mudah, terlebih bila perusahaan baru yang dibangun adalah benar-benar start dari nol, hanya bermodalkan mimpi dan semangat.

Secara umum pemodalan entrepreneur bertumpu pada kombinasi antara hutang dan ekuitas. Hutang modal akan membebani perusahaan dengan bunga dan berbagai persyaratan perjanjian yang membatasi perusahaan dalam kegiatan operasionalnya terutama dalam hal kinerja keuangan. Sedangkan ekuitas akan membebani perusahaan dengan dividend dan capital gain, belum termasuk keterlibatan pemberi modal dalam manajemen perusahaan. Pada akhirnya seorang entrepreneur harus berpikir cermat dan cerdas dalam memutuskan komposisi sumber pendanaan modal dengan mempertimbangkan sisi cost-benefit dan risk-return. Tentunya semua entrepreneur menginginkan cost dan risk yang serendah-rendahnya namun dapat memperoleh benefit dan return yang setinggi-tingginya. Namun benefit dan return yang diterima entrepreneur akan menjadi cost dan risk bagi pemberi modal, demikian pula sebaliknya.

Paling tidak ada tiga tahapan dalam perjalanan pertumbuhan perusahaan, yaitu start-up, growth dan internasionalisasi. Pada tahap start-up perusahaan telah menyelesaikan pembangunan produk dan initial marketing, memiliki sedikit pendapatan, membangun basis pelanggan, masih belum menguntungkan, membutuhkan pendanaan agar dapat beroperasi, dan memiliki risiko kegagalan yang tinggi. Sumber pendanaan bagi perusahaan start-up masih sulit, akses kepada bank masih sangat terbatas jika tidak ingin dibilang tidak ada, dan sumber pendanaan biasanya menuntut pinjaman yang dengan jaminan yang aman. Bila sumber pendanaan dapat diperoleh dari institusi keuangan, biasanya akan diminta bukti pencatatan transaksi keuangan yang telah berjalan terutama catatan keluar-masuk uang pada rekening bank. Untuk perusahaan yang telah memiliki permintaan (order) dari pelanggan (terutama untuk perusahaan yang memiliki aktifitas ekspor-impor) institusi keuangan biasanya mau memberikan fasilitas letter of credit dan trust receipt. Oleh karena itu, umumnya untuk perusahaan start-up pemodalan terutama diperoleh dari angel investor, yaitu investor yang memiliki dana namun mau menanamkannya pada perusahaan dengan risiko yang tinggi. Angel investor biasanya adalah entrepreneur yang telah sukses yang dahulunya juga mengalami hal yang sama pada waktu perusahaannya masih pada tahap start-up. Pada negara maju, perusahaan start-up dapat langsung memanfaatkan over-the-counter (OTC) market atau pasar yang memperdagangkan instrumen keuangan langsung antara pihak pembeli dan penjual dengan biasanya melalui perantaraan dealer.

Pada tahap growth perusahaan telah memiliki bisnis yang menguntungkan dengan basis pelanggan yang telah stabil. Perusahaan membutuhkan modal untuk mendukung pertumbuhan penjualan, dana yang diperoleh perusahaan biasanya digunakan untuk meningkatkan kapasitas produk, memperkuat brand, dan membangun bisnis yang lebih besar. Dengan kondisi ini institusi keuangan biasanya dapat membantu perusahaan dengan memberikan fasilitas-fasilitas seperti letter of credit dan trust receipt untuk pembelian, factoring untuk penjualan, dan pinjaman untuk fixed asset. Pada tahap growth fasilitas-fasilitas yang diberikan institusi keuangan dapat dikatakan berada dalam kondisi yang terjamin, sedangkan di lain pihak investor korporasi mau memberikan modal dalam bentuk kepemilikan saham. Pendanaan juga dapat diperoleh di pasar modal dengan perusahaan melakukan initial public offering (IPO) sehingga perusahaan dapat memperoleh modal dari masyarakat secara langsung, tentunya dengan memenuhi berbagai kondisi yang dipersyaratkan oleh regulator pasar modal.

Setelah berhasil melalui tahap growth, perusahaan dapat memasuki tahap insternasionalisasi. Sebelum memasuki tahap ini perusahaan berada dalam kondisi memiliki rekam jejak keuntungan yang baik dan telah secara sukses melakukan bisnis di pasar lokal atau dapat dikatakan telah mencapai pada kondisi yang establish (mapan). Pertumbuhan perusahaan dikejar dengan mengekplorasi kesempatan-kesempatan yang tersedia di pasar luar negeri. Beberapa strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah dengan melakukan joint venture, merger, acquisition, dan strategic alliance dengan perusahaan lainnya terutama perusahaan lain yang beroperasi di luar negeri. Institusi keuangan dapat membantu pendanaan operasional perusahaan seperti fasilitas pendanaan proyek dan syndicated loan bahkan dengan berbagai fasilitas produk keuangan yang lebih rumit seperti produk derivative dan produk structured finance lainnya. Untuk perusahaan yang masih private, akan lebih mudah untuk menjalani tahap ini jika melakukan IPO, sehingga pendanaan internasional dapat lebih mudah diperoleh. Bahkan perusahaan dapat mencatatkan diri di pasar modal luar negeri. Selain itu perusahaan juga dapat mengumpulkan uang dengan menerbitkan obligasi dan commercial paper selain berbagai corporate action yang dilakukan terkait dengan pencatatan sahamnya, seperti right issue dan lainnya.

Dari uraian tersebut di atas, tergambar bahwa banyak hal yang harus diperhatikan oleh seorang entreprenuer agar perusahaannya terus bertumbuh dan berkembang. Padahal yang dibahas baru dari sisi keuangan saja belum dari sisi operasional, organisasi, legal, sumber daya manusia, dan lainnya. Tulisan ini merupakan penghargaan bagi entrepreneur yang telah dengan susah payah mau mewujudkan visi dan misinya, membangun dari yang tidak ada menjadi ada, berani bermimpi dan berani mewujudkannya. Tentunya hal ini terlebih bagi entrepreneur dengan perusahaan yang memiliki good governance, ethical behavior, dan environmental concern sehingga memberikan nilai tambah bagi semua stakeholder-nya.

Siklus Pasar: Antara Ekspektasi dan Nilai



Sepanjang tahun 2006-2007 Bursa Efek Indonesia (BEI) dapat dikategorikan berada dalam bull market. Istilah bull market menggambarkan tingginya ekspektasi dan kepercayaan investor terhadap kinerja masa depan sehingga terjadi peningkatan harga-harga sekuritas. Kemudian pada tahun 2008/2009 terjadi perubahan siklus pasar, harga-harga saham di BEI mengalami penurunan tajam, BEI dapat dikategorikan berada dalam bear market. Istilah bear market menggambarkan terjadinya penurunan harga-harga sekuritas secara terus menerus, meluasnya pesimisme investor dan sentimen negatif di dalam pasar. Dalam bear market, kerugian lebih dalam diantisipasi dengan melakukan penjualan sekuritas, sehingga harga-harga sekuritas terus menerus menurun. Kondisi bear market saat ini yang juga terjadi di seluruh pasar keuangan dunia dengan penyebab utamanya adalah krisis subprime mortgage (krisis yang dipicu oleh surat utang yang berbasis perumahan bagi nasabah berisiko tinggi) di Amerika Serikat.

Growth Stock vs Value Stock

Pembagian karakteristik saham paling umum terbagi dalam dua kategori, yaitu growth stock dan value stock. Yang dimaksud dengan growth stock adalah saham dengan pertumbuhan pendapatannya melebihi rata-rata pasar, juga memiliki price-earnings ratio (PER, rasio antara harga saham dengan pendapatan) dan price-to-book ratio (PBV, rasio antara harga saham dengan nilai buku) melebihi rata-rata pasar. Sedangkan value stock adalah saham yang dipersepsikan memiliki pendapatan dan memberikan dividen yang stabil, juga memiliki PER dan PBV yang rendah. Seringkali value stock didefinisikan sebagai saham yang memiliki harga di bawah harga wajarnya (undervalued).

Pada saat bull market yang sering mendapat perhatian investor adalah saham-saham dalam kategori growth stock, karena dapat memberikan tingkat keuntungan investasi yang tinggi. Saham-saham dalam value stock seringkali diabaikan karena dianggap kurang menguntungkan, juga dipersepsikan membosankan untuk investasi dalam masa-masa peningkatan harga saham. Biasanya peningkatan harga saham value stock dalam bull market lebih rendah dibanding
kan growth stock sehingga menjadi tidak menarik bagi investor. Namun ketika bear market tiba, saham-saham dalam kategori value stock kembali menjadi perhatian investor, sementara saham-saham growth stock biasanya mengalami kejatuhan harga di atas rata-rata pasar.

Dutch Disease

Perhitungan nilai wajar (valuation) saham pada kondisi bull market seringkali keluar dari metode-metode umumnya. Contohnya seperti pada saat dotcom bubble tahun 2000 di Amerika, perusahaan dotcom yang baru saja dibentuk dapat memiliki nilai yang sangat tinggi, walaupun sebenarnya pendapatan perusahaan tersebut belum stabil bahkan belum ada. Adanya ekspektasi yang berlebihan terhadap masa depan perusahaan-perusahaan dotcom memancing untuk terbentuknya banyak sekali perusahaan yang bergerak pada industri yang sama, supply dan demand menjadi tidak seimbang.

Membandingkan dengan kondisi BEI tahun 2006-2007, kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) banyak didorong oleh peningkatan harga saham-saham sektor komoditas. Pasar memberikan ekspektasi yang tinggi pada sektor tersebut, namun tidak seimbang terhadap sektor lainnya. Dengan kondisi tersebut, jadi teringat dengan istilah Dutch disease, yang pertama kali dipopulerkan oleh majalah The Economist pada tahun 1977. Ducth disease adalah suatu kondisi yang menggambarkan hubungan antara terjadinya booming sektor sumber daya alam, sehingga memberikan revenue yang besar di sektor tersebut, namun di sisi lain sektor manufaktur menjadi kurang kompetitif. Terjadinya kenaikan harga-harga komoditas sumber daya alam yang tajam juga dapat termasuk dalam terminologi Dutch disease. Negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah-ruah akan memperoleh pemasukan dalam valuta asing yang sangat banyak, sehingga menyebabkan penguatan mata uang negara tersebut. Paling tidak ada dua efek utama dengan terjadinya Dustch disease, yaitu: 1) terjadinya penurunan daya saing harga di sektor manufaktur, dan 2) terjadinya peningkatan import.

Booming sektor komoditas yang terjadi dapat dikatakan didorong oleh peningkatan harga minyak dunia dan kemudian juga diikuti oleh komoditas yang lain. Bagi Indonesia membawa implikasi terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan bakar gas yang memberikan beban berat pada sektor manufaktur. Hasil kenaikan BBM dan bahan bakar gas membawa inflasi yang menjadi double digit yang semula prediksi inflasi tahun 2008 hanya di sekitar 6,5%. Dengan kondisi ini banyak industri di Indonesia mengalami kesulitan bahkan mengalami penurunan daya saing yang cukup tajam.

Terindikasi pula terjadi ekspektasi berlebihan tentang peluang pertumbuhan di masa depan beberapa perusahaan di BEI, terutama sektor komoditas, sehingga investor menilai harga-harga saham menjadi terlalu tinggi. Misalnya pada kasus BUMI (PT Bumi Resources), pada saat harga tertingginya dapat mencapai lebih dari Rp 8500, saat ini hanya di kisaran Rp 500, atau terjadi penurunan nilai lebih dari 90%.